Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al An 'aam

Al An ‘aam (Hewan Ternak) surah 6 ayat 50


قُلۡ لَّاۤ اَقُوۡلُ لَکُمۡ عِنۡدِیۡ خَزَآئِنُ اللّٰہِ وَ لَاۤ اَعۡلَمُ الۡغَیۡبَ وَ لَاۤ اَقُوۡلُ لَکُمۡ اِنِّیۡ مَلَکٌ ۚ اِنۡ اَتَّبِعُ اِلَّا مَا یُوۡحٰۤی اِلَیَّ ؕ قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ ؕ اَفَلَا تَتَفَکَّرُوۡنَ
Qul laa aquulu lakum ‘indii khazaa-inullahi walaa a’lamul ghaiba walaa aquulu lakum innii malakun in attabi’u ilaa maa yuuha ilai-ya qul hal yastawiil a’ma wal bashiiru afalaa tatafakkaruun(a);

Katakanlah:
Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat.
Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.
Katakanlah:
“Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?”
Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?”
―QS. 6:50
Topik ▪ Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhirat
6:50, 6 50, 6-50, Al An ‘aam 50, AlAnaam 50, Al Anaam 50, Al Anam 50, AlAnam 50, Al An’am 50
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al An 'aam (6) : 50. Oleh Kementrian Agama RI

Para Rasul yang diutus adalah manusia biasa, mereka bertugas menyampaikan agama Allah kepada umat mereka masing-masing.
Berlainan dengan Nabi Muhammad ﷺ.
beliau bertugas menyampaikan agama Allah kepada seluruh umat manusia.
Mereka memberi kabar gembira kepada orang orang yang mengikuti seruannya dengan balasan pahala yang berlipat ganda dan Allah subhanahu wa ta'ala, memberi peringatan dan ancaman kepada orang yang mengingkari risalah dengan balasan azab yang besar.

Para Rasul itu bukanlah seperti para Rasul yang diinginkan oleh orang-orang kafir, yaitu orang-orang yang dapat melakukan keajaiban, mempunyai kemampuan di luar kemampuan manusia biasa, mempunyai ilmu yang melebihi ilmu manusia, ia bukan manusia tetapi seperti malaikat, atau mempunyai kekuasaan seperti kekuasaan Allah dan sebagainya.

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan agar nabi Muhammad ﷺ.
menerangkan kepada orang-orang musyrik itu bahwa dia adalah rasul yang diutus Allah, ia adalah manusia biasa, padanya tidak ada perbendaharaan Allah, ia tidak mengetahui yang gaib dan ia bukan pula malaikat.

Yang dimaksud dengan perbendaharaan ialah suatu tempat penyimpanan barang-barang atau uang terutama barang-barang berharga kepunyaan diri sendiri atau orang lain yang mengamanatkan kepada orang yang memegang perbendaharaan itu.
Karena itu bendahara berkewajiban dan berkuasa memelihara simpanan itu, mencegah dan menghalang-halangi orang lain yang hendak mempergunakan atau merusak simpanan itu.

Orang-orang kafir beranggapan bahwa Nabi Muhammad ﷺ.
jika ia benar-benar seorang rasul Allah tentu ia adalah bendahara Allah, karena itu mereka meminta agar Nabi Muhammad ﷺ.
memberi dan membagi-bagikan kepada mereka barang-barang yang berharga yang disimpan dalam perbendaharaan itu serta memanfaatkannya.
Anggapan orang-orang kafir itu adalah anggapan yang sangat jauh dari kebenaran karena Allah lah pemilik semesta alam ini, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta'ala

Kepunyaan Allah lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
(Q.S Al Ma'idah: 120)

Dalam mengurus dan mengatur milik-Nya itu Allah subhanahu wa ta'ala tidak memerlukan sesuatupun, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta'ala

...Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.
(Q.S Al Baqarah: 255)

Dan Allah subhanahu wa ta'ala menegaskan bahwa Dia lah yang memiliki perbendaharaan langit dan bumi, firman-Nya

Pada hal kepunyaan Allah lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami.
(Q.S Al Munafiqun: 7)

Karena Allah pemilik semesta alam, pemilik perbendaharaan langit dan bumi, maka Dia pulalah yang berhak memberikan sesuatu kepada siapa yang dikehendaki-Nya, menyampaikan dan melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya, menetapkan penggunaan dan kegunaan sesuatu, bukan Rasul sebagaimana yang dikehendaki orang-orang musyrik itu.

Tugas Rasul hanyalah menyampaikan agama Allah kepada manusia sesuai dengan kesanggupannya sebagai seorang manusia.
Dia tidak dapat melakukan sesuatu yang tidak sanggup manusia melakukannya, kecuali jika Allah menghendakinya.
Karena itu ia tidak akan dapat memberi rezki pengikut pengikutnya yang miskin tidak dapat memenangkan pengikut-pengikutnya dalam peperangan semata-mata karena kekuasaannya, ia tidak sanggup mengetahui apakah seseorang telah benar-benar beriman kepadanya atau belum dan ia tidak sanggup menjadikan seseorang beriman kepadanya setelah ditunjukinya atau menjadikan seseorang itu tetap di dalam kekafiran.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :

Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah lah yang memberi petunjuk, (memberi taufik) siapa yang dikehendaki-Nya.
(Q.S Al Baqarah: 272)

Dan firman Allah subhanahu wa ta'ala

Sesungguhnya kamu tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.
(Q.S Al Qasas: 56)

Dan Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar menegaskan kepada orang-orang kafir bahwa ia tidak pernah mengatakan ia mengetahui yang gaib yang tidak diketahui manusia, karena ia tidak diberi persediaan dan kesanggupan untuk mengetahuinya.
Barang yang gaib itu ada dua macam.

a.
Gaib yang hakiki yang tidak diketahui oleh suatu makhlukpun, termasuk malaikat.
Hanya Allah sajalah yang mengetahuinya.
Inilah gaib yang dimaksud dalam ayat di atas.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :

Katakanlah, "Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib kecuali Allah Dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan".
(Q.S An Naml: 65)

Jika Allah subhanahu wa ta'ala menghendaki, maka Dia memberi tahu yang gaib macam ini kepada para Rasulnya, seperti memberi tahu kepada Nabi Musa siapa orang Bani Israil yang membunuh saudaranya, setelah saudaranya yang terbunuh itu hidup kembali, setelah dipukul dengan bahagian dari sapi betina yang telah disembelih.
Orang yang terbunuh yang telah hidup kembali itu memberitahukan siapa yang membunuhnya.
Dan seperti memberi tahu kepada Nabi Isa as bahwa sesudah dia, Allah subhanahu wa ta'ala akan mengutus seorang Rasul dari keturunan Ismail dan sebagainya
b.
Gaib yang tidak hakiki, yaitu yang tidak diketahui oleh sebagian makhluk tetapi diketahui oleh yang lain.
Sebab-sebab sebagian makhluk mengetahuinya dan sebagian yang lain tidak mengetahuinya, di antaranya adalah karena:

1.
Persediaan ilmu pengetahuan.
Orang-orang yang berilmu lebih dapat mengetahui hakikat sesuatu sesuai dengan bidang ilmu pengetahuannya dibanding dengan orang yang tidak berilmu.

2.
Pengalaman mengerjakan sesuatu pekerjaan, seperti bergeraknya sesuatu menandakan ada tenaga yang menggerakkannya dan sebagainya.

3.
Firasat atau suara hati, tentang ada dan tidaknya sesuatu, Firasat atan suara hati ini diperoleh seseorang karena kebersihan jiwanya, atau karena latihan-latihan yang biasa dilakukannya untuk itu gaib yang tidak hakiki ini bukanlah termasuk gaib yang disebutkan di atas yang hanya Allah saja yang mengetahuinya.

Kemudian Allah memerintahkan pula agar Nabi Muhammad ﷺ mengatakan bahwa ia bukanlah Malaikat, sebagaimana Rasul yang dikehendaki oleh orang orang kafir itu.

Sebagian ahli tafsir, menjadikan ayat, "wala aqulu lakum inni malak" sebagai menguatkan pendapat mereka yang mengatakan bahwa malaikat itu lebih tinggi tingkatannya dari manusia.
Tetapi bila diperhatikan benar benar, nyatalah bahwa ayat ini maksudnya bukanlah untuk menerangkan mana yang lebih utama antara malaikat dengan manusia.
Ayat ini hanyalah menerangkan siapa dan bagaimana sebenarnya seorang Rasul itu.

Sebagaimana diketahui bahwa menurut kepercayaan orang-orang Arab Jahiliah waktu itu: malaikat adalah suatu makhluk Allah yang lebih tinggi tingkatannya dibanding dengan tingkatan manusia.
Malaikat mengetahui yang gaib dan yang tidak diketahui manusia bahwa di antara mereka ada yang mengatakan bahwa malaikat adalah anak Allah.
Karena itu mereka berpendapat bahwa Nabi dan Rasul itu bukanlah dari manusia biasa, hendaklah sekurang-kurangnya sama tingkatannya dengan tingkatan malaikat.
Dan mereka minta kepada Nabi Muhammad agar diperlihatkan kepada mereka malaikat itu dan hendaklah Allah mengutus malaikat kepada mereka.

Untuk membantah dan memberi penjelasan kepada orang-orang musyrik itu, maka seakan-akan Nabi Muhammad ﷺ menyuruh mengikuti pendapat mereka itu lebih dahulu dengan mengatakan, "wala aqulu lakum inni malak" (dan tidaklah aku mengatakan kepadamu bahwa aku ini adalah malaikat), kemudian membantahnya dengan mengatakan bahwa nabi itu tidak mempunyai kekuasaan dan pengetahuan seperti kekuasaan Allah dan pengetahuan-Nya, karena itu.
janganlah ditanyakan kepadanya apa yang tidak diketahuinya dan janganlah ditanyakan sesuatu yang gaib yang hanya Allah saja yang mengetahuinya, tetapi katakanlah bahwa Muhammad itu adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.
Tugas seorang hamba itu ialah taat dan patuh kepada Allah, sedang tugas seorang Rasul itu adalah menyampaikan agama Allah kepada manusia.
Karena itu tugasku ialah patuh dan taat kepada Allah serta menyampaikan agama-Nya.

Karena itu ayat di atas tidak bertentangan dengan ayat-ayat berikut

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
(Q.S At Tin: 4)

Dan firman Allah subhanahu wa ta'ala

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam.
Kami angkat mereka di daratan dan di lautan.
Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.

(Q.S Al Isra': 70)

Kemudian Allah memerintahkan agar Nabi Muhammad ﷺ menegaskan kepada orang-orang musyrik itu bahwa yang disampaikannya itu tidak lain hanyalah wahyu dari Allah, bukan sesuatu yang dibuat-buat oleh Nabi.

Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala menegaskan bahwa tidak sama antara oang yang buta dengan orang yang melihat, orang yang mendapat petunjuk dengan orang yang tidak mendapat petunjuk, tidak sama sifat Allah dengan sifat manusia, demikian pula antara sifat dan tugas malaikat dengan sifat dan tugas Rasul.
Hendaklah perhatikan perbedaan-perbedaan yang demikian, agar nyata mana yang benar, mana yang salah, mana yang harus diikuti dan mana yang harus dihindari.
Hanya orang-orang yang tidak mau menggunakan akallah yang tidak dapat melihat perbedaan-perbedaan itu.

Al An 'aam (6) ayat 50 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al An 'aam (6) ayat 50 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al An 'aam (6) ayat 50 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Katakan kepada orang-orang kafir itu, wahai Rasul, "Aku tidak mengatakan kepada kalian bahwa aku mempunyai wewenang untuk mengatur segala sesuatu yang dimiliki oleh Allah, hingga dapat mengabulkan apa-apa yang kalian minta.
Aku juga tidak mengaku bahwa aku mengetahui hal-hal gaib yang tidak diberitahukan oleh Allah.
Aku tidak mengatakan bahwa aku seorang malaikat yang bisa naik ke langit.
Aku hanyalah seorang manusia yang hanya mengikuti sesuatu yang diwahyukan Allah kepadaku." Katakan pula, wahai Nabi, "Apakah sama orang yang tersesat dan yang mendapat petunjuk dalam mengetahui kebenaran- kebenaran ini?
Apakah pantas kalian berpaling dari petunjuk yang aku bawa kepada kalian, hingga tidak merenungkannya dengan akal pikiran supaya menjadi jelas kebenaran itu bagi kalian?"

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Katakanlah) kepada mereka ("Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku) yang di antaranya ialah rezeki yang diberikan kepadanya (dan tidak) pula bahwa aku (mengetahui yang gaib) hal-hal yang gaib dariku dan tidak diwahyukan kepadaku (dan tidak pula aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat) di antara malaikat-malaikat lainnya.
(Tidaklah) tiada lain (aku hanya mengikut apa yang diwahyukan kepadaku." Katakanlah, "Apakah sama orang yang buta) orang kafir (dengan orang yang melihat?") orang yang beriman, tentu saja tidak.
(Maka apakah kamu tidak memikirkan) tentang hal itu, kemudian kamu beriman.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Katakan wahai Rasul kepada orang-orang musyrikin :
Aku tidak pernah mengaku bahwa aku menguasai perbendaharaan langit dan bumi lalu aku mengaturnya.
Aku juga tidak mengaku mengetahui ilmu ghaib.
Aku tidak mengaku bahwa aku adalah malaikat.
Akan tetapi aku adalah seorang utusan dari Allah.
Aku mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan menyampaikannya kepada manusia.
Katakan wahai Rasul kepada orang-orang musyrikin :
Apakah sama antara orang kafir yang buta terhadap ayat-ayat Allah dan dia tidak beriman kepadanya, dengan orang Mukmin yang menyaksikan ayat-ayat Allah lalu dia beriman kepadanya?
Apakah kalian tidak memikirkan ayat-ayat Allah sehingga kalian bisa melihat kebenaran dan beriman kepadanya?

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta'ala.
berfirman kepada Rasul-Nya:

Katakanlah, "Aku tidak mengatakan kepada kalian, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku."

Dengan kata lain, aku tidak memilikinya dan tidak pula mengaturnya.

dan tidak (pula) aku mengetahui yang gaib.

Yakni aku pun tidak mengatakan kepada kalian bahwa sesungguhnya aku mengetahui perkara yang gaib, karena sesungguhnya hal yang gaib itu hanya diketahui oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
saja, dan aku tidak dapat mengetahuinya kecuali sebatas apa yang telah diperlihatkan oleh Allah kepadaku.

dan tidak (pula) aku mengatakan kepada kalian bahwa aku adalah malaikat.

Artinya, aku tidak mendakwakan diri bahwa diriku adalah malaikat, melainkan hanyalah seorang manusia yang diberi wahyu oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
Allah subhanahu wa ta'ala.
telah memuliakan diriku dengan wahyu itu dan mengaruniaiku dengannya sebagai nikmat dari-Nya.
Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.

Yakni aku tidak pernah menyimpang darinya barang sejengkal pun, tidak pula kurang dari itu.

Katakanlah, "Apakah sama orang yang buta dan orang yang melihat?”

Maksudnya, apakah orang yang mengikuti kebenaran dan mendapat petunjuk kepada perkara yang benar sama dengan orang yang sesat darinya dan tidak mau mengikutinya?

Maka apakah kalian tidak memikirkannya)

Ayat ini semakna dengan ayat lain yang menyebutkan melalui firman-Nya:

Adakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta?
Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.
(Ar Ra'du:19)

Kata Pilihan Dalam Surah Al An 'aam (6) Ayat 50

A'MAA
أَعْمَىٰ

Lafaz ini adalah kata nama mufrad dari kata kerja 'amiya yang berarti menjadi buta, jamaknya adalah 'amya.

A'ma ar rajula maknanya menjadikannya buta, atau mendapatinya buta, atau jahil. Jika lafaz ini disandarkan pada hati atau dikatakan maa a'maahu maka maknanya ialah betapa buta hatinya karena disebabkan banyak kesesatannya. Sebab itu, ungkapan makaan a'ma bermaksud tempat yang tidak diberi petunjuk di dalamnya.

Kata ini disebut 13 kali di dalam Al­ Quran yaitu dalam surah:
-Al An'aam (6), ayat 50;
-Ar Ra'd (13), ayat 16, 19;
-Hud (11), ayat 24;
-Al Israa' (17), ayat 72;
-Thaa Haa (20), ayat 124, 125;
-An Nuur (24), ayat 61;
-Faathir (35), ayat 19;
-Al Mu'min (40), ayat 58;
-Muhammad (47), ayat 23;
-Al Fath (48), ayat 17;
-'Abasa (80), ayat 2.

Al Qasim menafsirkan lafaz a'maa dalam surah Al An'aam (6), ayat 50 dengan katanya, ''Ayat ini mengandung perumpamaan orang sesat dan yang mendapat petunjuk. Maksudnya, perumpamaan antara orang yang tidak mengetahui perkara yang benar dan orang yang mengetahuinya, dan ini memberikan pesan supaya menjauhkan diri dari kesesatan dan mendekatkan diri kepada petunjuk'"

Az Zuhaili menafsirkan, perkataan al­ a'maa wal bashiir adalah "orang kafir dan orang yang beriman; atau "yang sesat dan yang mendapat petunjuk." Sedangkan tafsiran al a'maa dalam surah Al­ Fath adalah "buta," karena dikaitkan dengan jihad, ketika diterangkan tiada dosa bagi mereka meninggalkan jihad, disebabkan ada keuzuran yang nyata yaitu buta.

Dalam menafsirkan surah Thaa Haa, ayat 124, Ibn Katsir menukilkan dari Mujahid, Abu Salih dan As Suddi mengenai makna a'maa dalam ayat tersebut, yaitu "tidak ada hujah baginya"

Sedangkan Ikrimah menjelaskan orang yang dimaksudkan buta itu tidak nampak segala sesuatu selain neraka. Ini bermakna, dia dibangkitkan dan diseret ke neraka dalam keadaan buta mata dan hatinya." Yang dimaksudkan dengan a'maa dalam surah Abasa ialah 'Abdullah bin Umm Maktum,

A'isyah meriwayatkan, "Abasa watawallaa" diturunkan kepada Ibn Umm Maktum yang buta, ketika beliau datang kepada Nabi Muhammad dan berkata,
'Wahai Rasulullah, berilah bimbingan dan ajaran kepadaku tentang apa yang diajarkan oleh Allah". Pada saat itu, nabi sibuk menyampaikan dakwah kepada pembesar-pembesar musyrik, lalu nabi pun berpaling darinya dan menghadap kepada mereka. Karena peristiwa inilah ayat itu diturunkan. Kemudian setelah itu nabi pun memuliakannya dan setiap kali nabi berjumpa dengannya, nabi berkata,
"Salam sejahtera, wahai orang yang membuatku ditegur oleh Allah" Lalu nabi memakaikan jubahnya kepada beliau."

Kesimpulannya, lafaz a'maa dalam ayat-ayat di atas mengandung tiga makna.

Pertama, bermakna buta mata sebagaimana pada surah An Nuur, Al Fath dan Thaa Haa.

Kedua, bermakna buta hati atau dalam kesesatan yaitu yang terdapat dalam surah Al An'aam, Hud, Ar Ra'd, Al Israa, Thaa Haa, Faathir,Al Mu'min dan Muhammad.

Ketiga, bermaksud Abdullah bin Umm Maktum, ini terdapat dalam surah 'Abasa.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal: 4-5

Informasi Surah Al An 'aam (الانعام)
Surat Al An'aam (binatang ternak:
unta, sapi, biri-biri dan kambing) yang terdiri atas 165 ayat, termasuk golongan surat Makkiyyah, karena hampir seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Mekah dekat sebelum hijrah.

Dinamakan Al An'aam karena di dalamnya disebut kata "An'aam" dalam hubungan dengan adat istiadat kaum musyrikin, yang menurut mereka binatang­ binatang temak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Juga dalam surat ini disebutkan hukum-hukum yang berkenaan dengan binatang ternak itu.

Keimanan:

Bukti-bukti keesaan Allah serta kesempumaan sifat-sifat-Nya
kebenaran kena­bian Nabi Muhammad ﷺ
penyaksian Allah atas kenabian Ibrahim, Ishaq, Ya' qub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun, Zakaria, Yahya, 'Isa, Ilyas, Alyasa', Yunus dan Luth
penegasan tentang adanya risalah dan wahyu serta hari pembalasan dan hari kebangkitan kepalsuan kepercayaan orang-orang musy­rik dan keingkaran mereka terhadap hari kiamat.

Hukum:

Larangan mengikuti adat istiadat yang dibuat-buat oleh kaum Jahiliyah
makanan yang halal dan yang haram
wasiat yang sepuluh dari Al Qur'an
tentang tauhid keadilan dan hukum-hukum
larangan mencaci maki berhala orang musyrik karena mereka akan membalas dengan mencaci maki Allah.

Kisah:

Kisah umat-umat yang menentang rasul-rasul
kisah pengalaman Nabi Muhammad ﷺ dan para nabi pada umumnya
cerita Nabi Ibrahim a.s. membimbing kaum­ nya kepada tauhid.

Lain-lain:

Sikap kepala batu kaum musyrikin
cara seorang nabi memimpin umatnya
bi­dang-bidang kerasulan dan tugas rasul-rasul
tantangan kaum musyrikin untuk melemahkan rasul
kepercayaan orang-orang musyrik terhadap jin, syaitan dan malaikat
beberapa prinsip keagamaan dan kemasyarakatan
nilai hidup duniawi.


Gambar Kutipan Surah Al An ‘aam Ayat 50 *beta

Surah Al An 'aam Ayat 50



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al An 'aam

Surah Al-An'am (bahasa Arab:الانعام, al-An'ām, "Binatang Ternak") adalah surah ke-6 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 165 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah, karena hampir seluruh ayat surah ini diturunkan di Mekkah sebelum hijrah.
Dinamakan Al-An'am (hewan ternak) karena di dalamnya disebut kata An'am dalam hubungan dengan adat-istiadat kaum musyrik, yang menurut mereka binatang-binatang ternak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Dalam surah ini juga dikemukakan hukum berkenaan dengan hewan ternak tersebut.

Dalam surah al-An'am ini, terdapat do'a Iftitah yang disunnahkan untuk membacanya dengan tidak bersuara.
Doa ini dibaca pada saat setelah takbir dan sebelum bacaan surah Al-Fatihah.
Sebagian ayat-ayat yang dibaca adalah ayat 79 dan 163.

Nomor Surah 6
Nama Surah Al An 'aam
Arab الانعام
Arti Hewan Ternak
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 55
Juz Juz 3 (ayat 1-91),
juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 165
Jumlah kata 3055
Jumlah huruf -
Surah sebelumnya Surah Al-Ma'idah
Surah selanjutnya Surah Al-A’raf
4.8
Rating Pembaca: 4.8 (20 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku