Search
Generic filters
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Langsung kunjungi https://risalahmuslim.id/2-255 atau cari dengan ketik nomer_surah:nomer_ayat. Contoh: 2:255

Al An 'aam

Al An ‘aam (Hewan Ternak) surah 6 ayat 33


قَدۡ نَعۡلَمُ اِنَّہٗ لَیَحۡزُنُکَ الَّذِیۡ یَقُوۡلُوۡنَ فَاِنَّہُمۡ لَا یُکَذِّبُوۡنَکَ وَ لٰکِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ بِاٰیٰتِ اللّٰہِ یَجۡحَدُوۡنَ
Qad na’lamu innahu layahzunukal-ladzii yaquuluuna fa-innahum laa yukadz-dzibuunaka walakinnazh-zhaalimiina biaayaatillahi yajhaduun(a);

Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.
―QS. 6:33
Topik ▪ Kekufuran manusia akan nikmat Allah
6:33, 6 33, 6-33, Al An ‘aam 33, AlAnaam 33, Al Anaam 33, Al Anam 33, AlAnam 33, Al An’am 33
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al An 'aam (6) : 33. Oleh Kementrian Agama RI

Allah subhanahu wa ta'ala menyatakan, Dia mengetahui bahwa perkataan-perkataan musyrik Mekah itu menyedihkan hati Nabi Muhammad ﷺ.
seperti mereka mengatakan, "Muhammad seorang pendusta, tukang sihir, seorang penyair, seorang tukang tenung dan sebagainya",
serta mereka berusaha menjauhkan Muhammad dari kaumnya.
Timbulnya kesedihan itu adalah wajar bagi Nabi, karena jiwa dan pikirannya yang bersih lagi suci itu tidak tega melihat kesesatan dan kemungkaran yang ada pada kaumnya, padahal ia selalu mengajak dan menyeru mereka kepada jalan yang benar.
Dengan ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala melarang Nabi Muhammad ﷺ bersedih hati dan berduka cita karena perbuatan-perbuatan dan tindakan-tindakan orang kafir itu.
Larangan ini dikuatkan Allah dengan firman-Nya yang lain:

Janganlah kamu sedih oleh perkataan mereka.
Sesungguhnya kekuasaan itu seluruhnya adalah kepunyaan Allah.
Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".

(Q.S Yunus: 65)

Dan firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Maka janganlah jawaban mereka menyedihkan kamu Sesungguhnya Kami mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka nyatakan.
(Q.S Yasin: 76)

Dan Allah subhanahu wa ta'ala melarang juga Nabi Muhammad bersedih hati karena mereka tidak beriman, dalam firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Bersabarlah (hai Muhammad), dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan".
(Q.S An Nahl: 127)

Dan firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan janganlah kamu berduka cita terhadap mereka dan janganlah (dadamu) merasa sempit terhadap apa yang mereka tipudayakan.
(Q.S An Naml: 70)

Allah subhanahu wa ta'ala menyatakan bahwa sebenarnya orang-orang kafir Mekah itu percaya kepada Nabi Muhammad, bahkan mereka telah menyerahkan kepada Muhammad urusan menyelesaikan perselisihan yang sangat berbahaya seperti urusan meletakkan kembali batu hitam (Hajar Aswad) ke tempatnya pada Kakbah dan sebagainya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari As Suddy, ia berkata, "telah bertemu Akhnas bin Syuraiq dengan Abu Jahal bin Hisyam, maka berkata Akhnas kepada Abu Jahal, "Hai Abul Hakam! Terangkanlah kepadaku tentang Muhammad, apakah ia seorang yang benar atau seorang pendusta.
Sesungguhnya tidak ada orang yang lain di sini mendengar perkataanmu selain aku".
Abu Jahal menjawab, "Demi Allah, sesungguhnya Muhammad adalah seorang yang benar, tidak pernah ia berdusta.
Tetapi apabila Banu Qusay telah menguasai panji-panji, pelayanan air minum, urusan kunci Kakbah, urusan permusyawaratan (Nadwah) dan kenabian, maka apa lagi yang akan dimiliki orang-orang Quraisy yang lain".
Maka Allah menurunkan ayat ini.

Dari Abu Maisarah, ia berkata, "Sesungguhnya Rasulullah ﷺ lewat di hadapan Abu Jahal dan teman-temannya, mereka berkata, 'Hai Muhammad! Demi Allah, tidaklah kami mendustakan engkau dan sesungguhnya engkau menurut kami adalah orang yang benar tetapi kami mendustakan risalah yang engkau bawa'".
Maka turunlah ayat ini.

Yang sebenarnya ialah orang-orang kafir itu tidak mempercayai kenabian Muhammad ﷺ.
Ayat-ayat Alquran yang diturunkan Allah, adanya hari kiamat, hari berbangkit serta semua yang dibawa dan disampaikan Muhammad.

Ar Razi dalam tafsirnya menerangkan empat macam bentuk keingkaran orang-orang kafir Mekah itu, yaitu:

1.
Hati mereka mengaku Muhammad sebagai seorang yang dapat dipercaya, tetapi mulut mereka mendustakannya, karena mereka mengingkari Alquran dan kenabian Muhammad ﷺ.

2.
Mereka tidak mau menyatakan bahwa Muhammad seorang pendusta karena mereka mengetahui betul keadaan Muhammad yang sebenarnya yang tidak pernah berdusta.
Menurut mereka Muhammad sendirilah yang mengkhayalkan di dalam pikirannya bahwa Allah telah mengangkatnya menjadi nabi dan rasul, lalu ia menyeru manusia.

3.
Mereka selalu mendustakan kenabian dan risalah, sekalipun telah dikemukakan mukjizat-mukjizat dan dalil-dalil yang kuat mereka tetap mendustakan ayat-ayat Allah.

4.
Mereka tidak mau percaya kepada mukjizat dan dalil-dalil itu, bahkan mereka mengatakan bahwa mukjizat itu adalah sihir belaka.
Dari susunan kalimat ayat ini dipahami bahwa Allah subhanahu wa ta'ala meninggikan derajat Nabi Muhammad ﷺ.
Derajat itu tidak akan turun walaupun orang kafir Mekah mendustakan dan mengingkarinya.
Ketinggian derajat itu dipahami dari firman Allah subhanahu wa ta'ala yang menyebutkan perintah mengikuti Muhammad disebut sesudah perintah mengikuti Allah subhanahu wa ta'ala

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman

Barang siapa yang menaati rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah.
Dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.

(Q.S An Nisa': 80)

Dan firman Allah subhanahu wa ta'ala

Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepadamu.
sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah.....

(Q.S Al Fath: 10)

Al An 'aam (6) ayat 33 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al An 'aam (6) ayat 33 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al An 'aam (6) ayat 33 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Sungguh Kami mengetahui, wahai Muhammad, bahwa tuduhan yang orang-orang kafir katakan itu sangat menyedihkanmu.
Jangan bersedih atas hal itu.
Karena sebenarnya mereka tidak menuduhmu berbohong.
Tetapi, karena aniaya mereka terhadap diri mereka sendiri dan terhadap kebenaran, mereka menjadi keras kepala.
Dari itu mereka mengingkari bukti-bukti dan tanda-tanda kebenaran dan kenabianmu.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Sesungguhnya) untuk penegasan (Kami mengetahui bahwasanya) perihal itu (apa yang mereka katakan itu membuat kamu bersedih hati) berupa kedustaan yang ditujukan kepadamu (karena mereka sebenarnya tidak mendustakan kamu) secara sembunyi-sembunyi oleh sebab pengetahuan mereka tentang dirimu yang dapat dipercaya itu.
Dan di dalam suatu qiraat dibaca dengan takhfif atau ringan, artinya mereka tidak menuduhmu berbuat dusta (akan tetapi orang-orang yang zalim itu) azh-zhaalimiina diletakkan pada tempatnya dhamir (terhadap ayat-ayat Allah) Alquran (mereka ingkar) mereka mendustakannya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sesungguhnya Kami mengetahui bahwa hatimu bersedih karena pendustaan kaummu kepadamu secara lahir.
Sabar dan tenanglah, karena mereka tidak akan mendustakanmu dalam hati mereka yang dalam, akan tetapi mereka meyakini kebenaranmu.
Namun karena kezhaliman dan pelanggaran, maka mereka mengingkari bukti-bukti dan hujjah-hujjah yang menetapkan kebenaranmu, lalu mereka mendustakan apa yang kamu bawa.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.
Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka.
Tak ada seorang pun yang dapat mengubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah.
Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebagian dari berita rasul-rasul itu.
Dan jika perpalingan mereka (darimu) terasa amat berat bagimu, maka jika kamu dapat membuat lubang di bumi atau tangga ke langit, lalu kamu dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka (maka buatlah).
Kalau Allah menghendaki, tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk.
Sebab itu, janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang jahil.
Hanya orang-orang yang mendengar sajalah yang memenuhi (seruan Allah), dan orang-orang yang mati (hatinya) akan dibangkitkan oleh Allah, kemudian kepada-Nyalah mereka dikembalikan.

Allah subhanahu wa ta'ala.
berfirman menghibur nabi-Nya dalam menghadapi pendusta­an kaumnya terhadap dirinya dan pertentangan mereka terhadapnya:

Sesungguhnya Kami mengetahui bahwa apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu.

Maksudnya,pengetahuan Kami benar-benar telah meliputi pendustaan mereka terhadapmu dan kesedihan serta kekecewaanmu terhadap sikap mereka.
Hal ini semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain:

maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka.
(Faathir':8)

Sama dengan apa yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
dalam firman-Nya yang lain:

Boleh jadi kamu (Muhammad) akan membinasakan dirimu, karena mereka tidak beriman.
(Asy Syu'ara:3)

Sama pula dengan firman-Nya:

Maka barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Qur'an).
(Al Kahfi:6)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.

Artinya mereka sama sekali tidak menuduhmu sebagai seorang pendusta dalam hal tersebut, tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah (Al An'am:33) Yakni 'tetapi mereka mengingkari perkara yang hak dan menolaknya dengan dada mereka', seperti yang diriwayatkan oleh Sufyan As-Sauri, dari Abu Ishaq, dari Najiyah ibnu Ka'b, dari Ali yang menceritakan bahwa Abu Jahal pernah berkata kepada Nabi ﷺ, "Sesungguhnya kami tidak menuduh dirimu pendusta, tetapi kamu hanya mendustakan apa yang kamu sampaikan itu." Maka Allah subhanahu wa ta'ala.
menurunkan firman-Nya: Karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.
(Al An'am:33)

Imam Hakim meriwayatkannya melalui jalur Israil, dari Abu Ishaq, kemudian Imam Hakim mengatakan bahwa hadis ini sahih dengan syarat Syaikhain (Imam Bukhari dan Imam Muslim), tetapi keduanya tidak mengetengahkannya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Wazir Al-Wasiti di Mekah, telah menceritakan kepada kami Bisyr ibnul Mubasysyir Al-Wasiti, dari Salam ibnu Miskin, dari Abu Yazid Al-Madani, bahwa Nabi ﷺ bersua dengan Abu Jahal, lalu berjabat tangan dengannya.
Kemudian ada seorang lelaki berkata kepada Abu Jahal, "Kalau tidak salah aku pernah melihatmu berjabat tangan dengan orang yang sabi ini (maksudnya Nabi Muhammad ﷺ)." Abu Jahal menjawab, "Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar mengetahui bahwa dia adalah seorang nabi, tetapi bilakah bagi kami kalangan Bani' Abdu Manaf mau mengikutinya?"
Lalu Abu Yazid membacakan firman-Nya:

...karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.

Menurut takwil Abu Saleh dan Qatadah disebutkan, "Mereka mengetahui bahwa engkau adalah Rasulullah, tetapi mereka mengingkari(nya)."

Muhammad ibnu Ishaq menuturkan dari Az-Zuhri kisah Abu Jahal ketika datang mendengar bacaan Al-Qur'an Nabi ﷺ di malam hari, dan datang pula mendengarkannya Abu Sufyan ibnu Harb dan Al-Akhnas ibnu Syuraiq, tetapi ketiga orang tersebut masing-masing tidak mengetahui keberadaan yang lainnya.
Lalu mereka mendengarkannya sampai subuh.
Dan ketika hari telah subuh, mereka bubar, lalu dalam perjalanan pulangnya mereka bersua di tengah jalan.
Maka masing-masing dari mereka berkata kepada yang lainnya, "Apakah yang kamu dapatkan?"
Lalu masing-masing orang mengemukakan apa yang telah didapat (dipahami)nya.

Kemudian mereka saling berjanji bahwa mereka tidak akan mendengarkannya lagi, karena khawatir perbuatan mereka diketahui oleh para pemuda Quraisy, yang dampaknya nanti para pemuda Quraisy menjadi tertarik kepada Nabi ﷺ dengan kedatangan mereka.

Pada malam keduanya masing-masing dari mereka datang lagi dengan dugaan bahwa kedua temannya pasti tidak akan datang mengingat perjanjian yang telah mereka sepakati bersama.
Tetapi pada pagi harinya mereka bersua di tengah jalan dalam perjalanan pulangnya, maka mereka saling mencela.
Akhirnya mereka mengadakan perjanjian lagi bahwa mereka tidak akan mendengarkannya lagi.

Pada malam ketiganya ternyata mereka datang lagi dan pagi harinya mereka bersua kembali, lalu berjanji tidak akan melakukan hal yang serupa, kemudian pulang ke rumahnya masing-masing.
Pada pagi hari­nya Al-Akhnas ibnu Syuraiq mengambil tongkatnya, lalu pergi ke rumah Abu Sufyan.
Setelah sampai di rumah Abu Sufyan, ia bertanya, "Hai Abu Hanzalah, ceritakanlah kepadaku kesan yang kamu simpulkan setelah mendengar bacaan Muhammad itu." Abu Sufyan menjawab, "Hai Abu Sa'labah, demi Allah, sesungguhnya aku telah mendengar banyak hal yang kuketahui dan kuketahui pula makna yang dimaksud darinya, tetapi aku telah mendengar pula banyak hal yang tidak kumengerti maknanya dan apa yang dimaksud olehnya." Al-Akhnas berkata mengiakan, "Aku pun berani sumpah seperti kamu, bahwa aku mempunyai pemahaman yang sama denganmu."

Lalu Al-Akhnas keluar dari rumah Abu Sufyan dan langsung menuju ke rumah Abu Jahal.
Ia langsung masuk ke dalam rumah Abu Jahal dan berkata, "Hai Abul Hakam, bagaimanakah pendapatmu tentang apa yang telah kamu dengar dari (bacaan) Muhammad?"
Abu Jahal menjawab, "Sama seperti yang kamu dengar." Abu Jahal melanjutkan perkataannya, "Kami bersaing dengan Bani Abdu Manaf dalam hal kedudukan yang terhormat, mereka memberi makan, maka kami pun memberi makan, mereka membantu mengadakan angkutan, maka kami pun berbuat hal yang sama: dan mereka memberi, maka kami pun memberi pula, hingga manakala kami berlutut di atas kendaraan dalam keadaan lemah dan tersandera, mereka mengatakan bahwa dari kalangan kami ada seorang nabi yang selalu didatangi oleh wahyu dari langit.
Maka bilamana kami menjumpai ini, demi Allah, kami tidak akan beriman kepadanya selama-lamanya dan tidak akan percaya kepadanya." Maka Al-Akhnas bangkit meninggalkannya.

Ibnu Jarir telah meriwayatkan melalui Asbat, dari As-saddi sehu­bungan dengan makna firman-Nya:

Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.

Ketika Perang Badar, Al-Akhnas ibnu Syuraiq berkata kepada Bani Zahrah, "Hai Bani Zahrah, sesungguhnya Muhammad adalah anak lelaki saudara perempuan kalian.
Maka kalian adalah orang yang lebih berhak untuk melindungi anak saudara perempuan kalian.
Karena sesungguhnya jika dia memang seorang nabi, janganlah kalian memeranginya hari ini, dan jika dia dusta, maka kalian adalah orang yang paling berhak untuk menghentikan anak saudara perempuan kalian.
Berhentilah kalian, sebelum aku bersua lebih dahulu dengan Abul Hakam (Abu Jahal).
Jika Muhammad menang, kalian tetap kembali dengan selamat, dan jika Muhammad dikalahkan, maka sesungguhnya kaum kalian belum pernah berbuat sesuatu pun kepada kalian."

Sejak saat itu ia diberi nama Al-Akhnas, sebelum itu namanya adalah Ubay.
Lalu Al-Akhnas menjumpai Abu Jahal, kemudian mem­bawanya menyendiri hanya berduaan dengannya.
Al-Akhnas bertanya, "Hai Abul Hakam, ceritakanlah kepadaku tentang Muhammad, apakah dia benar ataukah dusta?
Karena sesungguhnya di tempat ini sekarang tidak ada seorang Quraisy pun selain aku dan kamu yang dapat men­dengar pembicaraan kita."

Abu Jahal menjawab, "Celakalah kamu, demi Allah, sesungguhnya Muhammad memang orang yang benar, Muhammad sama sekali tidak pernah dusta.
Tetapi apabila Abi Qusai memborong semua jabatan, yaitu liwa, siqayah, hijabah, dan kenabian, maka apa lagi yang tersisa buat kaum Quraisy lainnya?"

Yang demikian itulah maksud dari firman-Nya:

Karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.

Ayat-ayat Allah adalah Nabi Muhammad ﷺ

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al An 'aam (6) Ayat 33

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan al-Hakim, yang bersumber dari ‘Ali bin Abi Thalib bahwa Abu Jahl berkata kepada Nabi ﷺ: “Kami bukan tidak mempercayaimu, akan tetapi kami tidak percaya kepada apa yang kamu bawa.” Maka Allah menurunkan ayat ini (al-An’am: 33) sebagai penjelasan bahwa orang-orang seperti itu tidak perlu disesali, karena hanya orang yang dzalim yang menentang ayat-ayat Allah.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Al An 'aam (الانعام)
Surat Al An'aam (binatang ternak:
unta, sapi, biri-biri dan kambing) yang terdiri atas 165 ayat, termasuk golongan surat Makkiyyah, karena hampir seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Mekah dekat sebelum hijrah.

Dinamakan Al An'aam karena di dalamnya disebut kata "An'aam" dalam hubungan dengan adat istiadat kaum musyrikin, yang menurut mereka binatang­ binatang temak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Juga dalam surat ini disebutkan hukum-hukum yang berkenaan dengan binatang ternak itu.

Keimanan:

Bukti-bukti keesaan Allah serta kesempumaan sifat-sifat-Nya
kebenaran kena­bian Nabi Muhammad ﷺ
penyaksian Allah atas kenabian Ibrahim, Ishaq, Ya' qub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun, Zakaria, Yahya, 'Isa, Ilyas, Alyasa', Yunus dan Luth
penegasan tentang adanya risalah dan wahyu serta hari pembalasan dan hari kebangkitan kepalsuan kepercayaan orang-orang musy­rik dan keingkaran mereka terhadap hari kiamat.

Hukum:

Larangan mengikuti adat istiadat yang dibuat-buat oleh kaum Jahiliyah
makanan yang halal dan yang haram
wasiat yang sepuluh dari Al Qur'an
tentang tauhid keadilan dan hukum-hukum
larangan mencaci maki berhala orang musyrik karena mereka akan membalas dengan mencaci maki Allah.

Kisah:

Kisah umat-umat yang menentang rasul-rasul
kisah pengalaman Nabi Muhammad ﷺ dan para nabi pada umumnya
cerita Nabi Ibrahim a.s. membimbing kaum­ nya kepada tauhid.

Lain-lain:

Sikap kepala batu kaum musyrikin
cara seorang nabi memimpin umatnya
bi­dang-bidang kerasulan dan tugas rasul-rasul
tantangan kaum musyrikin untuk melemahkan rasul
kepercayaan orang-orang musyrik terhadap jin, syaitan dan malaikat
beberapa prinsip keagamaan dan kemasyarakatan
nilai hidup duniawi.


Gambar Kutipan Surah Al An ‘aam Ayat 33 *beta

Surah Al An 'aam Ayat 33



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al An 'aam

Surah Al-An'am (bahasa Arab:الانعام, al-An'ām, "Binatang Ternak") adalah surah ke-6 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 165 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah, karena hampir seluruh ayat surah ini diturunkan di Mekkah sebelum hijrah.
Dinamakan Al-An'am (hewan ternak) karena di dalamnya disebut kata An'am dalam hubungan dengan adat-istiadat kaum musyrik, yang menurut mereka binatang-binatang ternak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Dalam surah ini juga dikemukakan hukum berkenaan dengan hewan ternak tersebut.

Dalam surah al-An'am ini, terdapat do'a Iftitah yang disunnahkan untuk membacanya dengan tidak bersuara.
Doa ini dibaca pada saat setelah takbir dan sebelum bacaan surah Al-Fatihah.
Sebagian ayat-ayat yang dibaca adalah ayat 79 dan 163.

Nomor Surah6
Nama SurahAl An 'aam
Arabالانعام
ArtiHewan Ternak
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu55
JuzJuz 3 (ayat 1-91),
juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat165
Jumlah kata3055
Jumlah huruf-
Surah sebelumnyaSurah Al-Ma'idah
Surah selanjutnyaSurah Al-A’raf
4.9
Rating Pembaca: 4.7 (27 votes)
Sending







✔ QS KE :6 AYAT 33, quran surat 6 ayat 10 sampai 33