QS. Al An ‘aam (Hewan Ternak) – surah 6 ayat 31 [QS. 6:31]

قَدۡ خَسِرَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِلِقَآءِ اللّٰہِ ؕ حَتّٰۤی اِذَا جَآءَتۡہُمُ السَّاعَۃُ بَغۡتَۃً قَالُوۡا یٰحَسۡرَتَنَا عَلٰی مَا فَرَّطۡنَا فِیۡہَا ۙ وَ ہُمۡ یَحۡمِلُوۡنَ اَوۡزَارَہُمۡ عَلٰی ظُہُوۡرِہِمۡ ؕ اَلَا سَآءَ مَا یَزِرُوۡنَ
Qad khasiral-ladziina kadz-dzabuu biliqaa-illahi hatta idzaa jaa-athumussaa’atu baghtatan qaaluuu yaa hasratanaa ‘ala maa farrathnaa fiihaa wahum yahmiluuna auzaarahum ‘ala zhuhuurihim alaa saa-a maa yaziruun(a);

Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan, sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata:
“Alangkah besarnya penyesalan kami, terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!”,
sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya.
Ingatlah, amat buruklah apa yang mereka pikul itu.
―QS. 6:31
Topik ▪ Hari Kiamat ▪ Nama-nama hari kiamat ▪ Sifat-sifat malaikat
6:31, 6 31, 6-31, Al An ‘aam 31, AlAnaam 31, Al Anaam 31, Al Anam 31, AlAnam 31, Al An’am 31

Tafsir surah Al An 'aam (6) ayat 31

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al An ‘aam (6) : 31. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menjelaskan tentang kerugian orang-orang kafir yang mengingkari keesaan Allah subhanahu wa ta’ala, kerasulan Muhammad ﷺ.
dan hari berbangkit.
Mereka itu mendustakan akan pertemuan dengan Allah subhanahu wa ta’ala Mereka tidak mendapat keuntungan seperti halnya orang-orang yang beriman.
Keuntungan orang-orang yang beriman di dunia sebagai buah keuntungan misalnya, kepuasan batin, rida dan merasa bahagia dengan nikmat Allah dalam segala keadaan, mereka bersyukur kepada-Nya atas segala nikmat, sabar dan tabah terhadap derita.
Adapun keuntungan di akhirat sebagai buah dari imannya ialah seperti memperoleh rida Ilahi yang besar, mengalami kemudahan dalam hisab, kebahagiaan surga yang tak dapat digambarkan oleh manusia.

Orang-orang kafir yang mendustakan perjumpaan dengan Allah subhanahu wa ta’ala kehilangan segala keuntungan tersebut.
Mereka adalah orang-orang yang tidak percaya akan hari berbangkit, hidup bagi mereka terbatas dalam dunia ini saja.
Oleh sebab itu hidup mereka selalu dikejar-kejar oleh keinginan-keinginan yang tak ada batasnya dan kepentingan-kepentingan mereka yang saling bertentangan.
Mereka tidak pernah barang sesaat mengalami kepuasan batin, ketenteraman rohani dan rida Ilahi, bahkan mereka lebih dekat kepada setan yang membuat mereka lupa daratan.
Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu sampai datang kepada mereka kiamat.
Keadaan hari kiamat itu amat mendadak, tak seorangpun yang dapat mengetahui.
Sewaktu ia datang, orang kafir menyatakan penyesalannya karena mereka membatasi hidup ini pada kehidupan di dunia saja sehingga mereka lalai mempersiapkan diri untuk hari kiamat.
Dalam pada itu mereka memikul beban yang berat yakni dosa dan kesalahan mereka di atas pundak mereka dan mereka akan menerima hukuman atas dosa kesalahan itu.
Beban yang berat yang mereka pikul pada hari kiamat ini benar-benar merupakan beban yang amat buruk.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Sungguh telah merugi orang-orang yang mengingkari pertemuan dengan Allah untuk perhitungan dan pembalasan di hari kiamat, serta tetap dalam keingkaran mereka.
Hingga, apabila dikejutkan oleh pemandangan-pemandangan hari kiamat, mereka menyesal dan mengatakan, “Alangkah meruginya kita ini, karena lalai mengikuti kebenaran di dunia!” Pada hari itu mereka roboh tertimpa beban dosa-dosa mereka.
Alangkah buruknya dosa-dosa yang mereka pikul itu.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah) mendustakan adanya hari kebangkitan (sehingga) sebagai tanda keterlaluan mereka dalam mendustakan (apabila kiamat datang kepada mereka) yaitu hari kiamat (dengan tiba-tiba) secara mendadak (mereka berkata, “Alangkah besarnya penyesalan kami) sebagai ungkapan rasa derita yang sangat keras, dan pemakaian huruf nida atau panggilan di sini hanyalah majaz atau kiasan yang artinya sekarang saatnya telah tiba maka datanglah (terhadap kelalaian kami) kealpaan kami (tentang kiamat itu.”) sewaktu di dunia (sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya) dosa-dosa itu mendatangi mereka dalam bentuk yang paling buruk dan paling berbau kemudian dosa-dosa itu menaiki mereka.

(Ingatlah, amatlah buruk) sangat jeleklah (apa yang mereka pikul itu) beban yang mereka pikul itu.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sungguh merugi orang-orang kafir yang mengingkari kebangkitan setelah kematian.
Sampai Kiamat itu sendiri tiba dan mereka dikejutkan oleh buruknya tempat kembali, mereka meneriakkan penyesalan atas penyia-nyiaan mereka terhadap kehidupan dunia, dan mereka memikul dosa-dosa diatas punggung mereka.
Betapa buruknya beban berat yang mereka pikul!!

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman, menceritakan kerugian yang dialami oleh orang-orang yang mendustakan adanya hari bersua dengan-Nya, kekecewaan mereka apabila datang kepada mereka hari kiamat secara tiba-tiba, dan penyesalan mereka atas kelalaian mereka terhadap amal saien serta perbuatan-perbuatan jahat yang pernah mereka lakukan.
Hal ini digambarkan oleh firman-Nya:

…sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata, “Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!”

Damir yang terdapat pada lafaz fiha dapat dirujukkan kepada kehidupan dunia, dapat dirujukkan kepada amal-amal saleh, dapat pula dirujukkan kepada hari akhirat, yakni perkara yang menyangkut hari akhirat (termasuk hari kiamat).

Firman Allah :

…sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya.
Ingatlah, amatlah buruk apa yang mereka pikul itu.

Yaziruna artinya apa yang mereka pikul.
Menurut Qatadah adalah ‘apa yang mereka kerjakan’.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abu Khalid Al-Ahmar, dari Amr ibnu Qais, dari Abu Marzuq yang mengatakan bahwa orang kafir atau orang durhaka ketika keluar dari kuburnya disambut oleh seseorang yang rupanya sangat buruk dan baunya sangat busuk.
Lalu ditanya, ”Siapakah kamu?”
Ia menjawab, * Apakah kamu tidak mengenalku?”
Si kafir menjawab, “Tidak, demi Allah, hanya Allah telah memburukkan mukamu dan membusukkan baumu.” Lalu yang ditanya menjawab, “Aku adalah amal perbuatanmu, seperti inilah keadaanmu sewaktu di dunia, yaitu buruk dan busuk.
Sekarang kemarilah kamu, aku akan menaikimu sebagai pembalasan selama engkau menaikiku sewaktu di dunia.” Yang demikian itu disebutkan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…sambil mereka memikul dosa-dosa itu di atas punggungnya., hingga akhir ayat.

Asbat telah meriwayatkan dari As-Saddi yang mengatakan bahwa tiada seorang zalim pun yang dimasukkan ke dalam kuburnya melainkan didatangi oleh seorang lelaki yang buruk wajahnya, hitam lagi busuk baunya dan memakai pakaian yang sangat kotor, lelaki itu masuk ke dalam kubur bersamanya.
Apabila si zalim itu melihatnya, ia bertanya, “Mengapa wajahmu sangat buruk?”
Dijawab, ”Demikian pula amal perbuatanmu dahulu, buruk seperti aku.” Ia bertanya, “Mengapa baumu sangat busuk?”
Dijawab, “Demikian pula amal perbuatanmu dahulu, busuk seperti aku.” Ia bertanya, “Mengapa pakaianmu kotor?”
Dijawab, “Sesungguhnya amal perbuatanmu dahulu kotor.” Ia bertanya, “Siapakah kamu sebenarnya?”
Dijawab, “Amal perbuatanmu.” Lalu ia bersamanya di dalam kuburnya.
Apabila ia dibangkitkan pada hari kiamat, maka amalnya itu berkata kepadanya, “Sesungguhnya dahulu ketika di dunia akulah yang menggendongmu dengan semua kelezatan dan nafsu syahwat, sekarang gantian engkaulah yang menggendongku.” Maka amalnya itu menaiki punggungnya, lalu orang tersebut digiring oleh amalnya hingga masuk ke dalam neraka.
Yang demikian itu disebutkan oleh firman-Nya:
…sambil mereka memikul dosa-aosa di atas punggungnya.
Ingatlah amatlah buruk apa yang mereka pikul itu.

Firman Allah :

Dan tiadalah kehidupan dunia ini selain dari main-main dan senda gurau.

Artinya, sesungguhnya kehidupan dunia memang kebanyakannya demikian.

Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa.
Maka tidaklah kalian memahaminya?


Kata Pilihan Dalam Surah Al An 'aam (6) Ayat 31

AWZAAR
أَوْزَار

Lafaz awzaar adalah jamak dari al wizr, artinya dosa, muatan yang berat, senjata, profesi, salah, beban. Awzaar al ­harb maknanya barangan-barangan perang dan alat-alatnya.

Ungkapan Wadaat al harb awzarha bermakna peperangan berakhir disebabkan kedua belah pihak yang berperang meletakkan senjata pada masa itu.

Kata awzaar disebut lima kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Al An’aam (6), ayat 31;
-An Nahl (16), ayat 25;
-Tha Ha (20), ayat 87;
-Muhammad (47), ayat 4.

Makna lafaz awzaar dalam ayat Al Qur’an dapat diklasifikasikan kepada tiga makna.

Pertama, senjata atau beban-beban peperangan sebagaimana dalam surah Muhammad.

Mujahid berkata,
“Peperangan tetap berlanjut sehingga ‘Isa bin Maryam turun, seakan-akan ia mengambil kata-kata Rasulullah. “Satu golongan dari umatku tetap berada dalam kebenaran sehingga yang akhir dari mereka memerangi Dajjal.”

Qatadah berkata,
“Sehingga tidak ada lagi kesyirikan.”

Ulama lain berpendapat, “Sehingga orang yang memerangi umat Islam meletakkan beban dan senjata mereka supaya bertaubat kepada Allah.”

Asy Syawkani berkata,
Awzaar dalam ayat ini bermaksud beban-beban peperangan yang tidak berlaku perang kecuali dengannya, dari senjata dan kuda. Al wad’ disandarkan kepada orangnya adalah majaz atau kinayah.”

Diriwayatkan dari Al Hasan dan Ata’ keduanya berkata,
“Dalam ayat itu wujud taqdim dan ta’khir, maksudnya, “Maka pukullah leher-leher mereka sehingga orangnya meletakkan senjatanya.”

Kedua, bermakna beban dosa. Pengertian ini terdapat dalam surah Al An’aam dan An Nahl.

Asy Sabuni menafsirkan lafaz awzaar pada ayat ini, “mereka membawa beban dosa mereka di atas belakang mereka.”

Al Baidawi berkata,
“Ini adalah contoh bagi bentuk dosa yang mereka lakukan. Sebagaimana yang dijelaskan Ibn Katsir, mereka membawanya ke dalam neraka, seperti yang difahami dari riwayat yang lebih sahih dari Al Suddi’

Ketiga, bermakna perhiasan karena ia dikaitkan dengan min zinah. Makna ini terdapat dalam surah Tha Ha.

Al Qurtubi menafsirkannya dengan atsqaal (beban dan muatan) dari perhiasan dan mereka meminjamnya dari Fir’aun ketika keluar bersama Musa dan menggunakannya ketika hari perayaan atau perkawinan.

Ibn Qutaibah berkata,
“Ia bermakna ahmal (beban) dari perhiasan mereka.”

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:90-91

Informasi Surah Al An 'aam (الانعام)
Surat Al An’aam (binatang ternak:
unta, sapi, biri-biri dan kambing) yang terdiri atas 165 ayat, termasuk golongan surat Makkiyyah, karena hampir seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Mekah dekat sebelum hijrah.

Dinamakan Al An’aam karena di dalamnya disebut kata “An’aam” dalam hubungan dengan adat istiadat kaum musyrikin, yang menurut mereka binatang­ binatang temak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Juga dalam surat ini disebutkan hukum-hukum yang berkenaan dengan binatang ternak itu.

Keimanan:

Bukti-bukti keesaan Allah serta kesempumaan sifat-sifat-Nya
kebenaran kena­bian Nabi Muhammad ﷺ
penyaksian Allah atas kenabian Ibrahim, Ishaq, Ya’ qub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun, Zakaria, Yahya, ‘Isa, Ilyas, Alyasa’, Yunus dan Luth
penegasan tentang adanya risalah dan wahyu serta hari pembalasan dan hari kebangkitan kepalsuan kepercayaan orang-orang musy­rik dan keingkaran mereka terhadap hari kiamat.

Hukum:

Larangan mengikuti adat istiadat yang dibuat-buat oleh kaum Jahiliyah
makanan yang halal dan yang haram
wasiat yang sepuluh dari Al Qur’an
tentang tauhid keadilan dan hukum-hukum
larangan mencaci maki berhala orang musyrik karena mereka akan membalas dengan mencaci maki Allah.

Kisah:

Kisah umat-umat yang menentang rasul-rasul
kisah pengalaman Nabi Muhammad ﷺ dan para nabi pada umumnya
cerita Nabi Ibrahim a.s. membimbing kaum­ nya kepada tauhid.

Lain-lain:

Sikap kepala batu kaum musyrikin
cara seorang nabi memimpin umatnya
bi­dang-bidang kerasulan dan tugas rasul-rasul
tantangan kaum musyrikin untuk melemahkan rasul
kepercayaan orang-orang musyrik terhadap jin, syaitan dan malaikat
beberapa prinsip keagamaan dan kemasyarakatan
nilai hidup duniawi.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-An-'aam (6) ayat 31 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-An-'aam (6) ayat 31 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-An-'aam (6) ayat 31 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-An-'aam - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 165 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 6:31
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al An 'aam.

Surah Al-An'am (bahasa Arab:الانعام, al-An'ām, "Binatang Ternak") adalah surah ke-6 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 165 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah, karena hampir seluruh ayat surah ini diturunkan di Mekkah sebelum hijrah.
Dinamakan Al-An'am (hewan ternak) karena di dalamnya disebut kata An'am dalam hubungan dengan adat-istiadat kaum musyrik, yang menurut mereka binatang-binatang ternak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Dalam surah ini juga dikemukakan hukum berkenaan dengan hewan ternak tersebut.

Dalam surah al-An'am ini, terdapat do'a Iftitah yang disunnahkan untuk membacanya dengan tidak bersuara.
Doa ini dibaca pada saat setelah takbir dan sebelum bacaan surah Al-Fatihah.
Sebagian ayat-ayat yang dibaca adalah ayat 79 dan 163.

Nomor Surah 6
Nama Surah Al An 'aam
Arab الانعام
Arti Hewan Ternak
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 55
Juz Juz 3 (ayat 1-91),
juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 165
Jumlah kata 3055
Jumlah huruf -
Surah sebelumnya Surah Al-Ma'idah
Surah selanjutnya Surah Al-A’raf
4.7
Ratingmu: 4.5 (15 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/6-31









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta