QS. Al An ‘aam (Hewan Ternak) – surah 6 ayat 2 [QS. 6:2]

ہُوَ الَّذِیۡ خَلَقَکُمۡ مِّنۡ طِیۡنٍ ثُمَّ قَضٰۤی اَجَلًا ؕ وَ اَجَلٌ مُّسَمًّی عِنۡدَہٗ ثُمَّ اَنۡتُمۡ تَمۡتَرُوۡنَ
Huwal-ladzii khalaqakum min thiinin tsumma qadha ajalaa wa-ajalun musamman ‘indahu tsumma antum tamtaruun(a);

Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu).
―QS. 6:2
Topik ▪ Takdir ▪ Usia dan rezeki sesuai dengan takdir ▪ Perintah untuk berfikir dan menghayati
6:2, 6 2, 6-2, Al An ‘aam 2, AlAnaam 2, Al Anaam 2, Al Anam 2, AlAnam 2, Al An’am 2

Tafsir surah Al An 'aam (6) ayat 2

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al An ‘aam (6) : 2. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah lebih merinci dalam penciptaan-Nya pada makhluk yang banyak memiliki kekuasaan dalam hidupnya di muka bumi ini, yaitu manusia.
Allah telah menciptakan nenek moyang manusia, yaitu Adam dari bahan yang sederhana yaitu tanah.
Manusia yang sekarang ini menjadi besar dan dewasa juga dari saripati tanah, dan berbagai zat makanan yang ditumbuhkan dari tanah.
Kemudian Allah menetapkan waktu hidupnya di dunia sampai datang waktu ajal dan kematiannya, dan selanjutnya Allah juga menetapkan perjalanan sesudah kematian, yaitu waktu dibangkitkan dari kubur pada hari kebangkitan, meskipun banyak di antara manusia yang masih ragu-ragu.

Manusia yang ragu tentang dibangkitkannya nanti pada hari Kiamat adalah didasarkan pada jalan pikirannya yang pendek dan sederhana, yaitu bagaimana mungkin manusia yang sudah mati dan tubuhnya hancur menjadi satu dengan tanah, atau bahkan menjadi zat bagi tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan kemudian dimakan menusia generasi berikutnya dan menjadi daging ataupun kekuatan bagi manusia lain, bagaimana ini semua dapat dibangkitkan seperti sediakala ketika seseorang itu masih hidup dengan tubuh yang segar dan sehat.
Mestinya apabila kemampuan pikirannya tidak dapat mencapai atau tidak dapat memahami kekuasaan Allah dalam membangkitkan manusia yang sudah mati, seharusnya menyadari bahwa ilmu dan kemampuan pikirannya memang terbatas.

Tentang kapan waktu datangnya hari Kiamat pun kita tidak mengetahui.
Semua itu adalah bagian dari ilmu dan kekuasaan Allah sebagaiman difirmankan pada Surah Al-A’raf ayat 187:

Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu ada pada Tuhanku; tidak ada (seorang pun) yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain dia (Q.S. Al-A’raf [7]: 187)

Allah mengarahkan firman-Nya kepada orang-orang musyrik yang menyekutukan Allah.
Allah dalam ayat ini menunjukkan lagi bukti-bukti keesaan-Nya dan kekuasaan-Nya untuk membangkitkan manusia pada hari Kiamat.
Dialah yang menciptakan manusia keturunan Adam ini dari saripati tanah.
Setiap kejadian manusia pasti mengandung unsur zat tanah.

Jika diperhatikan proses kejadian manusia, lebih jelas lagi bahwa kejadiannya dari tanah.
Kejadian manusia dalam rahim diawali dari nutfah, yaitu percampuran antara sel mani laki-laki (sperma) dengan sel telur dari perempuan (ovum).
Disebabkan berasimilasi dengan zat makanan, maka nuthfah yang sudah bercampur itu berkembang menjadi janin, kemudian keadaan itu berubah sampai menjadi bayi.
Sel hidup itu tersusun dari zat-zat yang bermacam-macam dan zat itu sendiri hakekatnya terdiri dari unsur kimiawi yang mati seperti zat besi, zat air yang berasal dari tanah.
Demikian pula zat makanan, baik dari tumbuhan maupun dari daging hewan tersusun dari zat unsur kimiawi yang berasal dari tanah.
Dari zat-zat makanan ini pula terbentuk sel mani yang ada pada manusia atau hewan.
Demikian dengan kodrat Allah Yang Mahabesar, unsur kimiawi yang mati itu menjadi sel hidup dan akhirnya menjadi manusia.
Pendapat Scientist tentang Penciptaan Manusia : Sampai saat ini belum ada teori ilmu pengetahuan yang dapat menjelaskan secara langsung bagaimana penciptaan manusia dari tanah.
Tetapi secara tidak langsung, beberapa teori yang berkembang tentang asal kehidupan (origin of life) menerangkan bahwa tanah berperan penting di awal proses.
Kebanyakan teori asal kehidupan merupakan pengembangan konsep lama: Abiogenesis yang diartikan sebagai penurunan kehidupan dari benda mati.
Sejak lama Abiogenesis dianggap sebagai konsep yang paling dapat diterima untuk teori asal kehidupan sampai kemudian hukum Biogenesis (omne vivum ex ovo = asal kehidupan dari kehidupan yang lain) lebih populer seiring dengan perkembangan mikrobiologi modern.
Pendalaman konsep Abiogenesis umumnya mengkaji proses awal mula terbentuknya senyawa-senyawa kimia penting penyusun makhluk hidup (asam amino, protein, dan sebagainya.
sampai DNA) secara alami tanpa ada kehidupan sebelumnya.
Keberhasilan yang paling terkenal adalah teori sup primitif (Soup Theory) ketika percobaan Urey & Miller (1953) berhasil mensintesis molekul-molekul organik dari gas anorganik (Metan, Amonia dan Hidrogen) pada kondisi yang disimulasikan seperti keadaan awal bumi terbentuk.
Hasil ini dikembangkan oleh Joan Oro (1961) yang berhasil mensintesis protein dari larutan Sianida.
Dari beberapa teori Abiogenesis yang berkembang, paling tidak dua diantaranya membicarakan kemungkinan asal kehidupan dari tanah (dan batuan).
Clay Theory merupakan teori yang paling mendekati terjemah ayat di atas, dikembangkan oleh Graham Cairns “ Smith (1985) semenjak tahun 1960 an.
Clay (Ind.: Liat, lempung) adalah mineral pembentuk partikel tanah dan batuan yang paling halus terbentuk sebagai hasil pelapukan batuan, yang bisa pula terbentuk dari silikat terlarut.
Mineral liat, sebagaimana mineral lainnya, tetap mempertahankan struktur awal pembentukannya selama pertumbuhan.
Masa mineral liat tertentu dapat mempengaruhi lingkungannya sedemikian rupa sehingga terjadi kecenderungan untuk terjadinya replikasi pada proses pembentukan selanjutnya.
Mineral liat juga memiliki daya tukar kation yang dapat mengikat berbagai jenis unsur dan molekul baik di permukaannya maupun di dalam kisi-kisi kristalnya.
Keadaan ini memungkinkan terjadinya suatu proses seleksi alam dimana terjadi penengkapan molekul-molekul tertentu.
Suatu molekul proto organik yang cukup kompleks dapat terkatalisasi oleh sifat-sifat permukaan mineral liat.
Tahap terakhir dari proses ini adalah terbentuknya senyawa baru (organik) yang juga mampu mereproduksi dirinya sendiri.
Deep hot biosphere.
Teori ini dikembangkan oleh Thomas Gold pada tahun 1990 an yang menyatakan bahwa kehidupan tidak berasal dari permukaan bumi tetapi beberapa kilometer di bawah permukaannya.
Kini telah diketahui bahwa kehidupan mikroba cukup banyak ditemukan sampai dengan kedalaman lima kilometer di bawah permukaan bumi dalam bentuk archaea yang umumnya berasal dari umur yang sama atau bahkan lebih awal dari waktu mula terbentuknya bakteri.
Dikemukakan bahwa apabila ditemukannya asal kehidupan di bawah permukaan planet lain pada system tata surya akan meningkatkan kredibilitas teori ini.
Teori lain yang berkembang adalah “Primitive Extraterrestrial” atau exogenesis yang membahas kemungkinan asal kehidupan dari luar bumi.
Perkembangan terakhir, dengan berkembangnya studi tentang DNA, semakin banyak ilmuwan (scientist) yang meyakini bahwa kehidupan hanya bisa terjadi dengan adanya disain yang pintar (brilliant design) dari seorang creator.

Setelah memaparkan pendapat scientist seputar penciptaan manusia dari tanah timbul pertanyaan, jika Allah kuasa menciptakan sel hidup dari zat-zat mati, mengapa Allah tidak kuasa membangkitkan manusia pada hari Kiamat?
Bukankah pada proses kejadian manusia itu sendiri terdapat bukti nyata yang menunjukkan kekuasaan Allah untuk mengadakan hari kebangkitan?
Allah menentukan pula dua peristiwa untuk manusia yang tak dapat dielakkan, yaitu waktu kematiannya dan waktu kebangkitannya dari kubur.
Baik waktu yang ditetapkan untuk kematian maupun untuk kebangkitan tidak ada yang mengetahui kecuali Allah.
Meskipun orang-orang musyrik mengetahui kejadian diri mereka dengan gamblang dan terbatasnya umur mereka, yang kesemuanya itu membuktikan kekuasaan Allah untuk menentukan hari kebangkitan namun mereka masih tetap ragu.
Seharusnya mereka dapat menarik pelajaran dari bukti-bukti itu.
Jika Allah berkuasa menciptakan zat-zat yang mati menjadi satu lalu memberinya hidup serta menentukan perkembangannya, tentu Allah juga berkuasa menghimpun kembali zat-zat yang mati dan menghidupkannya sesuai dengan yang dikehendaki-Nya.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Dialah yang mula-mula menciptakan kalian dari tanah,[1] lalu menetapkan bagi kehidupan tiap orang di antara kalian suatu umur tertentu.
Hanya wewenang Dia juga penentuan waktu pembangkitan dari kubur.
Kemudian kalian, wahai orang-orang kafir, setelah itu memperdebatkan kemampuan Allah dalam pembangkitan, dan keberhakan-Nya untuk disembah.

[1] Maksud ayat ini bisa dipahami bahwa penciptaan Adam a.
s., bapak manusia, adalah dari tanah seperti yang tersebut dalam ayat- ayat lain, juga bahwa badan manusia terdiri atas semua unsur yang dipunyai oleh tanah.
Tetapi, berkat kekuasaan-Nya, dari unsur- unsur itu Allah menciptakan suatu kehidupan sehingga terwujudlah manusia yang sempurna.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dialah Yang menciptakanmu dari tanah) dengan diciptakan-Nya ayah kamu Adam dari tanah (sesudah itu ditentukan-Nya ajal) bagi kamu, setelah sampai pada ajal itu kamu akan mati (dan ajal lain yang ditentukan) ditetapkan (di sisi-Nya) untuk membangkitkan kamu dari kematian (kemudian kamu) hai orang-orang kafir (masih tidak percaya tentang berbangkit itu) kamu masih meragukan tentang adanya hari berbangkit padahal sebelumnya kamu telah mengetahui, bahwa Dialah yang mulai menciptakanmu.

Dan siapa yang mampu menciptakan berarti Dia lebih mampu untuk mengembalikan ke asalnya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Allah yang menciptakan bapak kalian Adam dari tanah sedangkan kalian adalah anak keturunannya.
Kemudian Allah menulis ajal waktu keberadaan kalian di kehidupan dunia ini.
Dia juga menulis ajal yang lain yang tertentu namun hanya Dia yang mengetahuinya, yaitu ajal Hari Kiamat.
Kemudian setelah ini kalian meragukan kekuasaan Allah dalam membangkitkan setelah kematian.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Dialah yang menciptakan kalian dari tanah

Yakni bapak mereka semua, yaitu Nabi Adam, dialah asal mereka, dan darinya mereka keluar, lalu menyebar ke timur dan barat.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Sesudah itu ditentukan-Nya ajal, dan ada lagi suatu ajal yang ditentukan yang ada pada sisi-Nya.

Sa’id ibnu Jubair telah mengatakan dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan ajal pertama adalah mati, sedangkan yang kedua dimaksudkan ialah ketentuan untuk berbangkit di akhirat.

Hal yang sama telah diriwayatkan dari Mujahid, Ikrimah, Sa’id ibnu Jubair, Al-Hasan, Qatadah, Ad-Dahhak, Zaid ibnu Aslam, Atiyyah, As-Saddi, dan Muqatil ibnu Hayyan serta lain-lainnya.

Menurut pendapat Al-Hasan Al-Basri dalam suatu riwayat yang bersumber darinya sehu­bungan dengan makna firman-Nya: sesudah itu ditentukan-Nya ajal (Q.S. Al-An’am [6]: 2) Bahwa yang dimaksud ialah ‘masa antara sejak ia diciptakan sampai meninggal dunia’.
Sedangkan firman-Nya: dan ada lagi suatu ajal yang ditentukan yang ada pada sisi-Nya.
(Q.S. Al-An’am [6]: 2) Yakni antara dia meninggal dunia sampai ia dibangkitkan.

Pendapat ini sama dengan pendapat sebelumnya.
Penentuan ajal yang pertama bersifat khusus, yakni menyangkut usia setiap manusia, sedangkan penentuan ajal kedua bersifat umum, yakni menyangkut usia dunia seluruhnya, kemudian habislah usia dunia, lalu lenyap dan kembali ke alam akhirat.

Dari Ibnu Abbas dan Mujahid disebutkan sehubungan dengan firman-Nya: sesudah itu ditentukan-Nya ajal.
(Q.S. Al-An’am [6]: 2) Yakni usia dunia.
dan ada lagi suatu ajal yang ditentukan yang ada di sisi-Nya.
(Q.S. Al-An’am [6]: 2) Yakni usia seseorang sampai saat kematiannya.

Seakan-akan takwil ini berpangkal kepada pengertian yang terkandung pada ayat berikutnya yang menyebutkan:

Dan Dialah yang menidurkan kalian di malam hari.
Dan Dia mengetahui apa yang kalian kerjakan pada siang hari.
(Q.S. Al-An’am [6]: 60), hingga akhir ayat.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…ada di sisi-Nya.

Dengan kata lain, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya kecuali Allah.
Perihalnya sama dengan makna dalam firman-Nya:

Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku, tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia.
(Q.S. Al-A’raf [7]: 187)

Sama pula dengan pengertian yang terdapat di dalam ayat lainnya:

Mereka (orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari berbangkit, kapankah terjadinya?
Siapakah kamu (maka) dapat menyebutkan (waktunya)?
Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya).
(Q.S. An-Nazi’at [79]: 42­44)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Kemudian kalian masih ragu-ragu.

Menurut As-Saddi dan lain-lainnya, makna yang dimaksud ialah ‘kemudian kalian meragukan tentang hari kiamat’.


Kata Pilihan Dalam Surah Al An 'aam (6) Ayat 2

AJAL
أَجَل

Ajal bermakna akhir tempoh pada kematian atau saat kematian, batas waktu membayar hutang atau tempoh sesuatu.

Menurut Ibn Faris, ajal bermakna batas waktu membayar hutang dan yang lainnya, kata ajal bagi jawaban adalah termasuk pada bab ini, seakan-akan dia mau sesuatu itu berakhir dan tiba masanya atau sampai tujuannya. Bentuk jamak ajal adalah ajaal. Sedangakan al­ ajil atau al ajilah bermakna “yang ditangguhkan atau ditunda” Ia adalah lawan al ajil atau al ajilah bermakna yang” didahulukan atau dipercepatkan.

Lafaz ajal disebut sebanyak 51 kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 231, 232, 234, 235, 282, 282;
-An Nisaa (4), ayat 77,
-Al An’aam (6), ayat 2, 2, 60, 128;
-Al A’raaf (7), ayat 34, 34, 135, 185;
-Yunus (10), ayat 11, 49, 49;
-Hud (11), ayat 3, 104,
-Ar Ra’d (13), ayat 2, 38,
-Ibrahim (14), ayat 10, 44;
-Al Hijr (15), ayat 5;
-An Nahl (16), ayat 61, 61;
-Al Israa (17), ayat 99;
-Tha Ha (29), ayat 129,
-Al Hajj (22), ayat 5, 33;
-Al Mu’minuun (23), ayat 43,
-Al Qashash (28), ayat 29,
-Al ‘Ankaabut (29), ayat 5, 53;
-Ar Rum (30), ayat 8;
-Luqman (31), ayat 29;
-Faathir (35), ayat 13, 45, 45;
-Az Zumar (39), ayat 5, 42;
-Al Mu’min (40), ayat 67;
-Asy Syuara (42), ayat 14;
-Al Ahqaaf (46), ayat 3;
-Al Munaafiquun (63), ayat 10, 11;
-Ath Thalaaq (65), ayat 2, 4;
-Nuh (71), ayat 4.

Dalam kitab-kitab tafsir, ajal mengandung beberapa pengertian.

Pertama, ia bermakna tempoh hidup dan matinya seseorang ditetapkan oleh Allah di Lauh Mahfuz.

Menurut para ulama, manusia mempunyai dua ajal.
-Pertama, ajal dari masa dilahirkan ke dunia hingga dimatikan.
-Kedua, ajal dari masa dimatikan hingga dibangkitkan dari kubur pada hari Ba’ts (kebangkitan), yaitu di alam barzakh.

Ada pula yang mengatakan, dua ajal itu adalah ajal di dunia dan ajal di akhirat.

Kedua, ia bermakna tempoh ‘iddah perempuan, sebagaimana dalam surah Al Baqarah, ayat 231, 234, 235.

Ketiga, ia bermakna tempoh atau masa tibanya membayar hutang.

Keempat, ia bermaksud berakhirnya tempoh atau masa di mana seseorang itu mengatakan janjinya, sebagaimana tentang kisah Nabi Musa yang berkhidmat kepada Syuaib 10 tahun atau lebih, untuk menikah dengan anaknya yang terdapat dalam surah Al Qashash, ayat 27

Kesimpulannya, makna umum lafaz ajal ialah batas tempoh atau masa sesuatu perkara berupa batas kematian, hutang, janji dan lain-lain.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:36-37

Informasi Surah Al An 'aam (الانعام)
Surat Al An’aam (binatang ternak:
unta, sapi, biri-biri dan kambing) yang terdiri atas 165 ayat, termasuk golongan surat Makkiyyah, karena hampir seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Mekah dekat sebelum hijrah.

Dinamakan Al An’aam karena di dalamnya disebut kata “An’aam” dalam hubungan dengan adat istiadat kaum musyrikin, yang menurut mereka binatang­ binatang temak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Juga dalam surat ini disebutkan hukum-hukum yang berkenaan dengan binatang ternak itu.

Keimanan:

Bukti-bukti keesaan Allah serta kesempumaan sifat-sifat-Nya
kebenaran kena­bian Nabi Muhammad ﷺ
penyaksian Allah atas kenabian Ibrahim, Ishaq, Ya’ qub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun, Zakaria, Yahya, ‘Isa, Ilyas, Alyasa’, Yunus dan Luth
penegasan tentang adanya risalah dan wahyu serta hari pembalasan dan hari kebangkitan kepalsuan kepercayaan orang-orang musy­rik dan keingkaran mereka terhadap hari kiamat.

Hukum:

Larangan mengikuti adat istiadat yang dibuat-buat oleh kaum Jahiliyah
makanan yang halal dan yang haram
wasiat yang sepuluh dari Al Qur’an
tentang tauhid keadilan dan hukum-hukum
larangan mencaci maki berhala orang musyrik karena mereka akan membalas dengan mencaci maki Allah.

Kisah:

Kisah umat-umat yang menentang rasul-rasul
kisah pengalaman Nabi Muhammad ﷺ dan para nabi pada umumnya
cerita Nabi Ibrahim a.s. membimbing kaum­ nya kepada tauhid.

Lain-lain:

Sikap kepala batu kaum musyrikin
cara seorang nabi memimpin umatnya
bi­dang-bidang kerasulan dan tugas rasul-rasul
tantangan kaum musyrikin untuk melemahkan rasul
kepercayaan orang-orang musyrik terhadap jin, syaitan dan malaikat
beberapa prinsip keagamaan dan kemasyarakatan
nilai hidup duniawi.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-An-'aam (6) ayat 2 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-An-'aam (6) ayat 2 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-An-'aam (6) ayat 2 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-An-'aam - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 165 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 6:2
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al An 'aam.

Surah Al-An'am (bahasa Arab:الانعام, al-An'ām, "Binatang Ternak") adalah surah ke-6 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 165 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah, karena hampir seluruh ayat surah ini diturunkan di Mekkah sebelum hijrah.
Dinamakan Al-An'am (hewan ternak) karena di dalamnya disebut kata An'am dalam hubungan dengan adat-istiadat kaum musyrik, yang menurut mereka binatang-binatang ternak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Dalam surah ini juga dikemukakan hukum berkenaan dengan hewan ternak tersebut.

Dalam surah al-An'am ini, terdapat do'a Iftitah yang disunnahkan untuk membacanya dengan tidak bersuara.
Doa ini dibaca pada saat setelah takbir dan sebelum bacaan surah Al-Fatihah.
Sebagian ayat-ayat yang dibaca adalah ayat 79 dan 163.

Nomor Surah 6
Nama Surah Al An 'aam
Arab الانعام
Arti Hewan Ternak
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 55
Juz Juz 3 (ayat 1-91),
juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 165
Jumlah kata 3055
Jumlah huruf -
Surah sebelumnya Surah Al-Ma'idah
Surah selanjutnya Surah Al-A’raf
4.8
Ratingmu: 4.8 (14 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/6-2







Pembahasan ▪ Orang y

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta