QS. Al An ‘aam (Hewan Ternak) – surah 6 ayat 163 [QS. 6:163]

لَا شَرِیۡکَ لَہٗ ۚ وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ
Laa syariika lahu wabidzalika umirtu wa-anaa au-walul muslimiin(a);

Tiada sekutu bagi-Nya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”.
―QS. 6:163
Topik ▪ Sikap manusia terhadap kitab samawi
6:163, 6 163, 6-163, Al An ‘aam 163, AlAnaam 163, Al Anaam 163, Al Anam 163, AlAnam 163, Al An’am 163

Tafsir surah Al An 'aam (6) ayat 163

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al An ‘aam (6) : 163. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini Nabi Muhammad ﷺ.
diperintahkan pula supaya mengatakan bahwa sesungguhnya salatnya, ibadahnya serta semua pekerjaan yang dilakukannya, hidupnya dan matinya adalah semata-mata untuk Tuhan semesta alam yang tiada sekutu bagi-Nya.

Demikian itulah yang diperintahkan kepadanya dan ia adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah dalam mengikuti dan mematuhi semua perintah dan larangan-Nya.
Dua ayat ini mengandung ajaran yang diajarkan Tuhan kepada Muhammad ﷺ.
yang harus disampaikannya kepada umatnya, bagaimana seharusnya hidup dan kehidupan seseorang muslim di dalam dunia ini.

Semua pekerjaan salat dan ibadah lainnya harus dilaksanakan dengan tekun sepenuh hati karena Allah, ikhlas dalam semua pekerjaan tanpa pamrih.
Seorang muslim harus yakin kepada kodrat dan iradat Tuhan yang tidak ada sekutu-Nya.
Tuhanlah yang menentukan hidup mati seseorang.
Oleh karena itu seorang muslim tidak perlu takut mati dalam berjihad di jalan Allah dan tidak perlu takut hilang kedudukan dalam menyampaikan dakwah Islam, amar makruf nahi mungkar.
Ayat ini selalu dibaca dalam salat sesudah takbiratul ihram sebagai doa iftitah kecuali kata:

أول المسلمين

diganti dengan

من المسلمين .

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Dia tidak mempunyai sekutu dalam penciptaan makhluk dan dalam keberhakan-Nya untuk disembah.
Allah, Tuhanku, memerintahkan aku untuk selalu ikhlas memurnikan ibadah, baik dalam pengesaan Allah maupun dalam amal perbuatan.
Aku adalah orang pertama yang patuh dan taat.
Aku adalah orang yang paling sempurna kepatuhan dan penyerahan dirinya.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Tiada sekutu bagi-Nya) di dalam hal tersebut (dan demikian itulah) ketauhidan (yang diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah”) dari kalangan umat ini.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam uluhiyah, rububiyah-Nya, tidak pula dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya.
Dengan ketauhidan yang tulus demikianlah Rabbku memerintahkanku.
Aku adalah orang pertama dari umat ini yang mengakui hal itu dan tunduk kepada Allah.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).

Menurut Qatadah, makna yang dimaksud ialah dari kalangan umat ini, dan memang apa yang dikatakan oleh Qatadah benar karena sesungguhnya dakwah yang diserukan oleh semua nabi sebelumnya adalah Islam, yang pokoknya ialah menyembah Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya.
Seperti yang disebutkan oleh ayat lain melalui firman-Nya:

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, “Bahwa tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.”(Q.S. Al-Anbiyaa [21]: 25)

Allah subhanahu wa ta’ala.
menceritakan kepada kita tentang Nabi Nuh, bahwa dia berkata kepada kaumnya:

Jika kalian berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikit pun dari kalian.
Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya).
(Q.S. Yunus [10]: 72)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.
yang mengatakan:

Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.
Ketika Tuhannya berfirman kepadanya, “Tunduk patuhlah!”Ibrahim menjawab, “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam.” Dan Ibrahim telah mewasiat­kan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub, (Ibrahim berkata), “Hai anak-anakku, sesungguhya Allah telah memilih agama ini bagi kalian, maka janganlah kalian mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 130-132)

Nabi Yusuf ‘alaihis salam berkata seperti yang disebutkan firman-Nya:

Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian ta’bir mimpi (ya Tuhan), Pencipta langit dan bumi.
Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.”(Q.S. Yusuf [12]: 101)

Nabi Musa ‘alaihis salam telah berkata seperti yang disebutkan firman-Nya:

Hai kaumku, jika kalian beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepada-Nya saja, jika kalian benar-benar orang yang berserah diri.
Lalu mereka berkata, “Kepada Allah-lah kami bertawakal! Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zalim, dan selamatkanlah kami dengan rahmat Engkau dari (tipu daya) orang-orang yang kafir.” (Q.S. Yunus [10]: 84-86)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala yang mengatakan:

Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerahkan diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka.
(Q.S. Al-Ma’idah [5]: 44), hingga akhir ayat.

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Dan (ingatlah) ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia, “Berimanlah kalian kepada-Ku dan kepada Rasul-Ku.” Mereka menjawab, “Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada semanmu}.” (Q.S. Al-Ma’idah [5]: 111)

Allah subhanahu wa ta’ala.
memberitahukan bahwa Dia telah mengutus rasul-rasul-Nya untuk membawa agama Islam, tetapi mereka berbeda-beda dalam praktiknya sesuai dengan syariat mereka yang khusus, sebagiannya merevisi sebagian yang lainnya, sampai seluruhnya di-mansukh (direvisi) oleh syariat Nabi Muhammad ﷺ yang tidak akan di-mansukh lagi selama-lamanya.
Syariat Nabi Muhammad ﷺ masih tetap tegak lagi berjaya, dan panji-panjinya tetap berkibar sampai hari kiamat nanti.
Karena itulah maka Nabi ﷺ dalam salah satu hadisnya bersabda:

Kami para nabi adalah saudara-saudara seayah, agama kami satu (yakni Islam).

Yang dimaksud dengan istilah auladun ‘illatun ialah saudara-saudara seayah, tetapi berbeda ibu.
Agamanya adalah satu, yaitu menyembah kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, sekalipun syariat-syariatnya yang diumpamakan sebagai ibu-ibu mereka berbeda-beda.
Lawan kata dari istilah ini ialah saudara-saudara seibu, tetapi berbeda ayahnya.
Sedangkan saudara yang seibu dan seayah disebut saudara-saudara sekandung.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz ibnu Abdullah Al-Majisyun, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnul Fadl Al-Hasyimi, dari Al-A’raj, dari Ubaidillah ibnu Abu Rafi’, dari Ali r.a., bahwa Rasulullah ﷺ apabila telah melakukan takbiratul ihram membuka salatnya dengan bacaan doa iftitah, yaitu firman-Nya: Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.
(Q.S. Al-An’am [6]: 79) dan firman-Nya: Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.
(Q.S. Al-An’am [6]: 162), hingga akhir ayat berikutnya.

Kemudian membaca doa berikut:

Ya Allah, Engkau adalah Raja, tidak ada Tuhan melainkan Engkau, Engkaulah Tuhanku dan aku adalah hamba-Mu, aku menganiaya diriku sendiri dan aku mengakui dosa-dosaku, maka berilah ampunan bagi dosa-dosaku semuanya, tiada seorang pun yang mengampuni dosa-dosaku kecuali hanya Engkau.
Dan berilah aku petunjuk kepada akhlak yang paling baik, tidak ada seorang pun yang dapat menunjukkan kepada akhlak yang paling baik kecuali hanya Engkau.
Dan palingkanlah dariku akhlak-akhlak yang jahat, tidak ada seorang pun yang dapat memalingkannya dariku kecuali hanya Engkau.
Mahasuci lagi Mahatinggi Engkau, aku memohon ampun kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu.

Kemudian hadis dilanjutkan sampai doa yang dibaca dalam rukuk, sujud, dan tasyahhudnya.
Hadis diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam kitab sahihnya.


Informasi Surah Al An 'aam (الانعام)
Surat Al An’aam (binatang ternak:
unta, sapi, biri-biri dan kambing) yang terdiri atas 165 ayat, termasuk golongan surat Makkiyyah, karena hampir seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Mekah dekat sebelum hijrah.

Dinamakan Al An’aam karena di dalamnya disebut kata “An’aam” dalam hubungan dengan adat istiadat kaum musyrikin, yang menurut mereka binatang­ binatang temak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Juga dalam surat ini disebutkan hukum-hukum yang berkenaan dengan binatang ternak itu.

Keimanan:

Bukti-bukti keesaan Allah serta kesempumaan sifat-sifat-Nya
kebenaran kena­bian Nabi Muhammad ﷺ
penyaksian Allah atas kenabian Ibrahim, Ishaq, Ya’ qub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun, Zakaria, Yahya, ‘Isa, Ilyas, Alyasa’, Yunus dan Luth
penegasan tentang adanya risalah dan wahyu serta hari pembalasan dan hari kebangkitan kepalsuan kepercayaan orang-orang musy­rik dan keingkaran mereka terhadap hari kiamat.

Hukum:

Larangan mengikuti adat istiadat yang dibuat-buat oleh kaum Jahiliyah
makanan yang halal dan yang haram
wasiat yang sepuluh dari Al Qur’an
tentang tauhid keadilan dan hukum-hukum
larangan mencaci maki berhala orang musyrik karena mereka akan membalas dengan mencaci maki Allah.

Kisah:

Kisah umat-umat yang menentang rasul-rasul
kisah pengalaman Nabi Muhammad ﷺ dan para nabi pada umumnya
cerita Nabi Ibrahim a.s. membimbing kaum­ nya kepada tauhid.

Lain-lain:

Sikap kepala batu kaum musyrikin
cara seorang nabi memimpin umatnya
bi­dang-bidang kerasulan dan tugas rasul-rasul
tantangan kaum musyrikin untuk melemahkan rasul
kepercayaan orang-orang musyrik terhadap jin, syaitan dan malaikat
beberapa prinsip keagamaan dan kemasyarakatan
nilai hidup duniawi.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-An-'aam (6) ayat 163 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-An-'aam (6) ayat 163 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-An-'aam (6) ayat 163 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-An-'aam - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 165 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 6:163
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al An 'aam.

Surah Al-An'am (bahasa Arab:الانعام, al-An'ām, "Binatang Ternak") adalah surah ke-6 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 165 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah, karena hampir seluruh ayat surah ini diturunkan di Mekkah sebelum hijrah.
Dinamakan Al-An'am (hewan ternak) karena di dalamnya disebut kata An'am dalam hubungan dengan adat-istiadat kaum musyrik, yang menurut mereka binatang-binatang ternak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Dalam surah ini juga dikemukakan hukum berkenaan dengan hewan ternak tersebut.

Dalam surah al-An'am ini, terdapat do'a Iftitah yang disunnahkan untuk membacanya dengan tidak bersuara.
Doa ini dibaca pada saat setelah takbir dan sebelum bacaan surah Al-Fatihah.
Sebagian ayat-ayat yang dibaca adalah ayat 79 dan 163.

Nomor Surah 6
Nama Surah Al An 'aam
Arab الانعام
Arti Hewan Ternak
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 55
Juz Juz 3 (ayat 1-91),
juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 165
Jumlah kata 3055
Jumlah huruf -
Surah sebelumnya Surah Al-Ma'idah
Surah selanjutnya Surah Al-A’raf
4.7
Ratingmu: 4.9 (21 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Podcast

Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta