Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al An ‘aam (Hewan Ternak) – surah 6 ayat 160 [QS. 6:160]

مَنۡ جَآءَ بِالۡحَسَنَۃِ فَلَہٗ عَشۡرُ اَمۡثَالِہَا ۚ وَ مَنۡ جَآءَ بِالسَّیِّئَۃِ فَلَا یُجۡزٰۤی اِلَّا مِثۡلَہَا وَ ہُمۡ لَا یُظۡلَمُوۡنَ
Man jaa-a bil hasanati falahu ‘asyru amtsaalihaa waman jaa-a bissai-yi-ati falaa yujza ilaa mitslahaa wahum laa yuzhlamuun(a);
Barangsiapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya.
Dan barangsiapa berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya.
Mereka sedikit pun tidak dirugikan (dizalimi).
―QS. Al An ‘aam [6]: 160

Whoever comes (on the Day of Judgement) with a good deed will have ten times the like thereof (to his credit), and whoever comes with an evil deed will not be recompensed except the like thereof;
and they will not be wronged.
― Chapter 6. Surah Al An ‘aam [verse 160]

مَن barang siapa

Whoever
جَآءَ datang

came
بِٱلْحَسَنَةِ dengan kebaikan

with a good deed,
فَلَهُۥ maka baginya

then for him
عَشْرُ sepuluh

(is) ten (times)
أَمْثَالِهَا serupanya/kali lipat amalnya

the like of it.
وَمَن dan barang siapa

And whoever
جَآءَ datang

came
بِٱلسَّيِّئَةِ dengan kejahatan

with an evil deed
فَلَا maka tidak

then not
يُجْزَىٰٓ diberi balasan

he will be recompensed
إِلَّا kecuali/melainkan

except
مِثْلَهَا serupa/seimbang dengannya

the like of it,
وَهُمْ dan/sedang mereka

and they
لَا tidak

will not
يُظْلَمُونَ mereka dianiaya

(be) wronged.

Tafsir

Alquran

Surah Al An ‘aam
6:160

Tafsir QS. Al An ‘aam (6) : 160. Oleh Kementrian Agama RI


Pada ayat ini diterangkan dengan jelas, bahwa siapa berbuat amal baik, maka Allah akan memberikan pahala balasannya di hari akhirat dengan sepuluh kali lipat amalnya.
Barang siapa berbuat kejahatan hanya dibalas setimpal dengan kejahatannya, sebab Allah tidak akan menganiaya sedikitpun atau merugikan mereka.

Yang dimaksud dengan orang yang beramal baik di sini ialah orang-orang mukmin, karena amal baik orang kafir sebelum masuk Islam tidak akan bermanfaat bagi mereka di akhirat, seperti yang diterangkan di dalam firman Allah:


ذٰلِكَ هُدَى اللّٰهِ يَهْدِيْ بِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖ وَلَوْ اَشْرَكُوْا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَّا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Itulah petunjuk Allah, dengan itu Dia memberi petunjuk kepada siapa saja di antara hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki.
Sekiranya mereka mempersekutukan Allah, pasti lenyaplah amalan yang telah mereka kerjakan.

(al-An’am [6]: 88)


Maksud dari ungkapan
"balasan sepuluh kali lipat"
di sini belum termasuk apa yang dijanjikan Allah dengan balasan yang jauh lebih banyak dan berlipat ganda kepada orang-orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah sampai 700 kali lipat.

اِنْ تُقْرِضُوا اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا يُّضٰعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللّٰهُ شَكُوْرٌ حَلِيْمٌ

Jika kamu meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, niscaya Dia melipatgandakan (balasan) kepadamu dan mengampuni kamu.

Dan Allah Maha Mensyukuri, Maha Penyantun.
(at-Taghabun [64]: 17)


Di dalam hadis Nabi Muhammad, banyak dijumpai tentang balasan amal baik dan amal jahat bahkan diterangkan pahala bagi orang yang belum mengerjakan suatu perbuatan baik tapi hanya sekadar niat atau ketetapan hati untuk meluluhkannya.

Hal ini tersebut dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah yang menceritakan sebagai berikut:



Sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda,


Allah ﷻ berfirman, apabila hamba-Ku hendak mengerjakan kebaikan dan tidak dikerjakannya, maka tulislah baginya satu pahala kebajikan.
Dan apabila dikerjakannya, maka tulislah sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat pahala kebaikan.

Dan apabila hamba-Ku hendak mengerjakan suatu pekerjaan jahat, janganlah dituliskan (jangan dicatat) sebagai suatu kesalahan sebelum dikerjakannya.
Dan apabila dikerjakannya, catatlah baginya satu kesalahan (kejahatan).
"
(Riwayat Bukhari dan Muslim)


Sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda,
"Allah ﷻ berfirman kepada malaikat-Nya, apabila hamba-Ku hendak mengerjakan suatu pekerjaan jahat, janganlah dituliskan (jangan dicatat) sebagai suatu kesalahan sebelum dikerjakannya.
Dan apabila dikerjakannya, catatlah baginya satu kesalahan (kejahatan).
Dan jika ditinggalkannya (tidak jadi diperbuatnya) karena Aku (karena Allah), maka tulislah baginya satu kebajikan.
Dan apabila ia hendak mengerjakan kebaikan dan tidak dikerjakannya, maka tulislah baginya satu pahala kebajikan.
Dan apabila dikerjakannya, maka tulislah sampai tujuh ratus kali lipat pahala kebaikan baginya."

Tafsir QS. Al An ‘aam (6) : 160. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Barangsiapa melakukan perbuatan baik, akan memperoleh pahala sepuluh kali lipat, sebagai karunia dan pemberian Allah.
Barangsiapa melakukan perbuatan tidak baik hanya akan disiksa seberat dosanya, atas dasar keadilan Allah.


Kelak tidak akan ada kecurangan dengan mengurangi pahala atau menambah hukuman.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Barangsiapa yang bertemu Allah pada hari Kiamat dengan membawa satu amal kebajikan maka dia akan mendapat pahala sepuluh kali lipat.
Dan barangsiapa yang bertemu Rabb-nya dengan satu perbuatan dosa maka dia tidak akan disiksa, kecuali yang sepadan dengannya.


Dan mereka tidak akan dizalimi walau sekecil biji sawi.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Siapa membawa amal yang baik) yakni zikir laa ilaaha illallaah/tidak ada tuhan selain Allah


(maka baginya pahala sepuluh kali lipat amalnya) balasan pahalanya adalah sepuluh kali kebaikan


(dan siapa membawa perbuatan yang jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya) balasannya yang setimpal


(sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya atau dirugikan) dikurangi sesuatu dari pembalasan yang sebenarnya.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Ayat yang mulia ini merupakan rincian dari apa yang diglobalkan dalam ayat yang lain, yaitu firman-Nya:

Barang siapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka bagi­nya (pahala) yang lebih baik dari pada kebaikannya itu.
(QS. Al-Qashash [28]: 84 dan QS. An-Naml [27]: 89)

Banyak hadis yang menyebutkan hal yang serupa dengan makna ayat ini, antara lain ialah apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad ibnu Hambal.


Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Ja’far ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Al-Ja’d Abu Usman, dari Abu Raja Al-Utaridi, dari Ibnu Abbas r.a., bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda dalam riwayat yang dikemukakannya dari Tuhannya, yaitu:
Sesungguhnya Tuhan kalian adalah Maha Penyayang.
Barang siapa berniat melakukan suatu kebaikan, lalu ia tidak mengerjakannya, dicatatkan baginya pahala satu kebaikan, dan jika ia mengerjakannya, maka dicatatkan baginya sepuluh pahala kebaikan sampai tujuh ratus pahala kebaikan hingga lipat ganda yang sangat banyak Barang siapa berniat hendak mengerjakan suatu kejahatan, lalu ia tidak melakukannya, maka dicatatkan baginya pahala satu kebaikan.
Jika ia melakukannya, maka dicatatkan baginya dosa satu kejahatan atau Allah menghapuskan­nya.
Dan tidak ada seorang pun yang binasa karena Allah melain­kan hanyalah orang yang (ditakdirkan) binasa.

Imam Bukhari, Imam Muslim, dan Imam Nasai meriwayatkannya melalui hadis Al-Ja’d Abu Usman dengan lafaz yang sama.

Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Al-Ma’rur ibnu Suwaid, dari Abu Zar r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Allah subhanahu wa ta’ala, berfirman,
"Barang siapa mengerjakan suatu kebaikan, maka baginya pahala sepuluh kebaikan yang semisal dengannya dan lebih dari itu.
Dan barang siapa mengerjakan suatu kejahatan, maka balasannya adalah kejahatan yang semisal atau Aku ampuni (dia).
Barang siapa yang mengerjakan sepenuh bumi berupa dosa, kemudian ia menemui-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan Aku dengan sesuatu pun, maka Aku jadikan baginya ampunan yang semisal dengan dosanya itu.
Barang siapa mendekatkan dirinya kepada-Ku satu jengkal, niscaya Aku mendekat kepadanya satu hasta.
Barang siapa mendekatkan dirinya kepada-Ku satu hasta, niscaya aku mendekatinya satu depa (rentangan tangan).
Dan barang siapa yang datang kepada-Ku dengan berjalan kaki, niscaya Aku datangi dia dengan berlari kecil.

Imam Muslim meriwayatkannya dari Abu Kuraib, dari Abu Mu’awiyah dengan lafaz yang sama, dan dari Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, dari Waki’, dari Al-A’masy dengan lafaz yang sama.
Ibnu Majah meriwayat­kannya dari Ali ibnu Muhammad At-Tanafisi, dari Waki’ dengan lafaz yang sama.

Al-Hafiz Abu Ya’Ia Al-Mausuli mengatakan, telah menceritakan kepada kami Syaiban, telah menceritakan kepada kami Hammad.
telah menceritakan kepada kami Sabit, dari Anas ibnu Malik r.a., bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Barang siapa yang berniat mengerjakan suatu kebaikan, lalu tidak melakukannya, maka dicatatkan baginya pahala satu kebaikan:
dan jika ia melakukannya, maka dicatatkan baginya sepuluh pahala kebaikan.
Dan barang siapa berniat melakukan suatu kejahatan, lalu tidak mengerjakannya, maka tidak dicatatkan sesuatu pun atasnya.
Dan jika ia mengerjakannya, maka dicatatkan baginya dosa satu kejahatan.

Perlu diketahui bahwa orang yang meninggalkan kejahatan, yakni yang tidak mengerjakannya (padahal ia sudah berniat) ada tiga macam, yaitu:
Seseorang yang meninggalkannya karena Allah, maka baginya dicatatkan pahala satu kebaikan karena berkat upayanya dalam menahan diri untuk tidak mengerjakan kejahatan demi karena Allah.
Hal ini terdiri dari amal dan niat.
Karena itu, disebutkan di dalam hadis bahwa dicatatkan baginya satu pahala kebaikan.
Seperti yang disebutkan di dalam salah satu lafaz hadis sahih, yaitu:

Sesungguhnya dia meninggalkannya demi Aku.

Adakalanya seseorang meninggalkannya karena lupa dan tidak ingat lagi kepadanya.
Maka orang yang demikian tidak beroleh pahala, tidak pula dosa, karena dia tidak berniat suatu kebaikan pun dan tidak pula mengerjakan suatu kejahatan pun.

Adakalanya seseorang meninggalkannya karena tidak mampu dan malas sesudah berupaya menelusuri penyebab-penyebabnya dan mengerjakan hal-hal yang mendekatkan dirinya kepada perbuatan jahat.
Maka orang seperti ini sama kedudukannya dengan orang yang mengerjakannya, seperti yang disebutkan di dalam hadis sahih dari Nabi Saw, yang telah bersabda:


Apabila dua orang muslim bersua dengan pedangnya masing-masing, maka si pembunuh dan si terbunuh masuk neraka.
Mereka bertanya,
"Wahai Rasulullah, kalau si pembunuh sudah jelas, tetapi bagaimana dengan si terbunuh?"
Rasulullah ﷺ menjawab:
Sesungguhnya dia sangat berkeinginan untuk membunuh temannya.

Imam Abu Ya’la Al-Mausuli mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mujahid ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Ali, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnus Sabah serta Abu Khaisamah, keduanya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Sulaiman, keduanya dari Musa ibnu Ubaidah, dari Abu Bakar ibnu Ubaidillah ibnu Anas, dari kakeknya (yaitu Anas) yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Barang siapa berniat melakukan suatu kebaikan, maka Allah men­catatkan satu pahala kebaikan baginya.
Jika dia mengerjakannya, maka dicatatkan baginya sepuluh pahala kebaikan.
Dan barang siapa berniat mengerjakan suatu kejahatan, maka tidak dicatatkan baginya sebelum dia mengerjakannya.
Jika dia mengerjakannya, maka dicatatkan atas dirinya dosa satu kejahatan.
Jika ia meninggalkannya (tidak mengerjakannya), maka dicatatkan baginya pahala satu kebaikan, Allah subhanahu wa ta’ala, berfirman,
"Sesungguhnya dia meninggalkannya karena takut kepada-Ku."

Ini menurut lafaz hadis Mujahid, yakni Ibnu Musa.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Mahdi, telah menceritakan kepada kami Syaiban ibnu Abdur Rahman, dari Ar-Rakiin ibnur Rabi’, dari ayahnya, dari pamannya (yaitu Fulan ibnu Amilah), dari Kharim ibnu Fatik Al-Asadi, bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda:
Sesungguhnya manusia itu ada empat macam, dan amal perbuatan ada enam macam.
Manusia yang diberi keluasan di dunia dan di akhirat, manusia yang diberi keluasan hanya di dunia, sedangkan di akhirat disempitkan, manusia yang disempitkan di dunianya, sedangkan di akhirat ia diberi keluasan, dan manusia yang celaka di dunia dan akhirat.
Sedangkan amal perbuatan itu terdiri atas dua hal yang memastikan, pembalasan yang setimpal, sepuluh kali lipat pahala dan tujuh ratus kali lipat pahala.
Dua hal yang mewajibkan ialah barang siapa yang meninggal dunia dalam keadaan muslim lagi mukmin, tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun, maka wajib baginya (masuk) surga.
Dan barang siapa yang mati dalam keadaan kafir, maka wajib baginya (masuk) neraka.
Dan barang siapa yang berniat mengerjakan suatu kebaikan, lalu ia tidak mengerjakannya dan Allah mengetahui bahwa niat itu timbul dalam kalbunya serta berkeinginan untuk mengerjakannya, maka dicatatkan baginya satu pahala kebaikan.
Dan barang siapa yang berniat hendak melakukan suatu kejahatan, maka tidak dicatatkan hal itu atas dirinya, dan barang siapa yang mengerjakannya, dicatatkan atas dirinya dosa satu kejahatan tanpa dilipatgandakan.
Barang siapa yang mengerjakan suatu kebaikan, baginya pahala sepuluh kali kebaikan yang semisal dengannya.
Dan barang siapa yang mengeluarkan suatu pembelanjaan di jalan Allah subhanahu wa ta’ala., maka dilipatgandakan (pahalanya) menjadi tujuh ratus kali lipat.

Imam Turmuzi dan Imam Nasai meriwayatkannya melalui hadis Ar-Rakin ibnur Rabi, dari ayahnya, dari Basyir ibnu Amilah, dari Kharim ibnu Fatik dengan sanad yang sama, tetapi sebagian dari lafaznya saja.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar‘ah, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Umar Al-Qawariri, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Zurai’, telah menceritakan kepada kami Habib ibnul MualJim, dari Amr ibnu Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda:
Yang menghadiri salat Jumat ada tiga macam orang, yaitu se­seorang yang menghadirinya dengan lagwu, maka perbuatannya yang lagwu itu adalah bagiannya dari salat Jumat (yakni tidak ada pahalanya).
Seseorang yang menghadirinya dengan doa, maka dia adalah seseorang yang berdoa kepada Allah, jika Allah menghendaki, niscaya memberinya, dan jika Allah menghendaki yang lain, niscaya Dia tidak memberinya.
Dan seseorang yang menghadirinya dengan insat, diam, tidak melangkahi leher seorang muslim pun dan tidak pula mengganggu seseorang pun, maka hal itu merupakan penghapus dosanya sampai Jumat berikutnya dan lebih tiga hari.
Yang demikian itu karena Allah subhanahu wa ta’ala, telah berfirman,
"Barang siapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya
"
(QS. Al-An’am:160).

Al-Hafiz Abul Qasim At-Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasyim ibnu Marsad, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ismail, telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepadaku Damdam ibnu Zur’ah, dari Syuraih ibnu Ubaid, dari Abu Malik Al-Asy’ari yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:
Salat Jumat merupakan kifarat (penghapus dosa) yang terjadi antara Jumat itu dengan Jumat berikutnya dan lebih tiga hari.
Demikian itu karena Allah subhanahu wa ta’ala, telah berfirman,
"Barang siapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya
"(QS. Al-An’am:160).

Dari Abu Zar r.a. disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Barang siapa melakukan puasa tiga hari pada setiap bulan, maka sesungguhnya ia melakukan puasa setahun penuh.

Hadis diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dan apa yang tertera di atas menurut lafaznya.
Telah meriwayatkannya pula Imam Nasai, Ibnu Majah, dan Imam Turmuzi.
Sedangkan Imam Turmuzi menambahkan:

Maka Allah menurunkan hal yang membenarkan itu dalam Kitab­nya, yaitu:
"Barang siapa membawa amal yang baik.
maka baginya {pahala) sepuluh kali lipat amalnya"
(QS. Al-An’am:160).
Satu hari sama dengan sepuluh hari.

Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan.


Ibnu Mas’ud sehubungan dengan firman-Nya:
Barang siapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya.
(QS. Al-An’am:160)
mengatakan bahwa barang siapa datang membawa kalimah ‘Tidak ada Tuhan selain Allah’ dan barang siapa yang datang dengan membawa amal jahat, yakni musyrik.

Hal yang sama diriwayatkan dari sejumlah ulama Salaf, dan memang ada hadis marfu‘ yang mengatakan demikian, tetapi kesahihan­nya hanya Allah yang mengetahui, hanya saya sendiri tidak meriwayatkannya dari jalur yang dapat dipegang.
Hadishadis dan asarasar mengenai masalah ini cukup banyak, apa yang telah kami sebutkan mudah-mudahan sudah mencukupi.

Unsur Pokok Surah Al An ‘aam (الانعام)

Surat Al-An’aam (binatang ternak:
unta, sapi, biri-biri dan kambing) yang terdiri atas 165 ayat, termasuk golongan surat Makkiyyah, karena hampir seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Mekah dekat sebelum hijrah.

Dinamakan Al An’aam karena di dalamnya disebut kata "An’aam" dalam hubungan dengan adat istiadat kaum musyrikin, yang menurut mereka binatang-binatang ternak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Juga dalam surat ini disebutkan hukumhukum yang berkenaan dengan binatang ternak itu.

Keimanan:

▪ Bukti-bukti ke-Esaan Allah serta kesempumaan sifat-sifat-Nya.
▪ Kebenaran kenabian Nabi Muhammad ﷺ.
▪ Penyaksian Allah atas kenabian Ibrahim, Ishaq, Yaqub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun, Zakaria, Yahya, ‘Isa, Ilyas, Ilyasa, Yunus dan Luth.
▪ Penegasan tentang adanya risalah dan wahyu serta hari pembalasan dan hari kebangkitan, kepalsuan kepercayaan orang-orang musyrik dan keingkaran mereka terhadap hari kiamat.

Hukum:

▪ Larangan mengikuti adat istiadat yang dibuat-buat oleh kaum Jahiliyah.
▪ Makanan yang halal dan yang haram.
▪ Wasiat yang sepuluh dari Alquran.
▪ Tentang tauhid, keadilan dan hukumhukum.
▪ Larangan mencaci maki berhala orang musyrik, karena mereka akan membalas dengan mencaci maki Allah.

Kisah:

▪ Kisah umat-umat yang menentang rasulrasul.
▪ Kisah pengalaman Nabi Muhammad ﷺ dan para nabi pada umumnya.
▪ Cerita Nabi Ibrahim `alaihis salam membimbing kaumnya kepada tauhid.

Lain-lain:

▪ Sikap kepala batu kaum musyrikin.
▪ Cara seorang nabi memimpin umatnya.
▪ Bidang-bidang kerasulan dan tugas rasulrasul.
▪ Tantangan kaum musyrikin untuk melemahkan rasul.
▪ Kepercayaan orang-orang musyrik terhadap jin, syaitan dan malaikat.
▪ Beberapa prinsip keagamaan dan kemasyarakatan.
▪ Nilai hidup duniawi.

Audio

QS. Al-An-'aam (6) : 1-165 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 165 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-An-'aam (6) : 1-165 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 165

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al An 'aam ayat 160 - Gambar 1 Surah Al An 'aam ayat 160 - Gambar 2
Statistik QS. 6:160
  • Rating RisalahMuslim
4.4

Ayat ini terdapat dalam surah Al An ‘aam.

Surah Al-An’am (bahasa Arab:الانعام, al-An’ām, “Binatang Ternak”) adalah surah ke-6 dalam Alquran.
Surah ini terdiri atas 165 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah, karena hampir seluruh ayat surah ini diturunkan di Mekkah sebelum hijrah.
Dinamakan Al-An’am (hewan ternak) karena di dalamnya disebut kata An’am dalam hubungan dengan adat-istiadat kaum musyrik, yang menurut mereka binatang-binatang ternak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Dalam surah ini juga dikemukakan hukum berkenaan dengan hewan ternak tersebut.

Dalam surah al-An’am ini, terdapat do’a Iftitah yang disunnahkan untuk membacanya dengan tidak bersuara.
Doa ini dibaca pada saat setelah takbir dan sebelum bacaan surah Al-Fatihah.
Sebagian ayat-ayat yang dibaca adalah ayat 79 dan 163.

Nomor Surah6
Nama SurahAl An ‘aam
Arabالانعام
ArtiHewan Ternak
Nama lain
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu55
JuzJuz 3 (ayat 1-91),
juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku’0
Jumlah ayat165
Jumlah kata3055
Jumlah huruf
Surah sebelumnyaSurah Al-Ma’idah
Surah selanjutnyaSurah Al-A’raf
Sending
User Review
4.6 (28 votes)
Tags:

6:160, 6 160, 6-160, Surah Al An 'aam 160, Tafsir surat AlAnaam 160, Quran Al Anaam 160, Al Anam 160, AlAnam 160, Al An'am 160, Surah Al Anam ayat 160

▪ ayat wnabluwakum bil hasanat ▪ habbis ashalaha wasabbil tsamrataha ▪ Surah Tawkkal Ya Hada Mai Hadani
Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Al Qashash (Kisah) – surah 28 ayat 25 [QS. 28:25]

25. Kedua perempuan yang dibantu oleh Musa menceritakan kebaikan Musa kepada ayah mereka. Sang Ayah memerintahkan salah seorang dari putrinya untuk mengundang Musa ke rumah. Kemudian datanglah kepada … 28:25, 28 25, 28-25, Surah Al Qashash 25, Tafsir surat AlQashash 25, Quran AlQasas 25, Al Qasas 25, AlQasas 25, Al-Qasas 25, Surah Al Qasas ayat 25

QS. Thaa Haa (Ta Ha) – surah 20 ayat 45 [QS. 20:45]

45. Nabi Musa dan Harun tahu benar kekejaman dan kesombongan Fir‘aun. Karena itu, setelah mendengar perintah ini keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami khawatir dia akan segera menyiksa k … 20:45, 20 45, 20-45, Surah Thaa Haa 45, Tafsir surat ThaaHaa 45, Quran Thoha 45, Thaha 45, Ta Ha 45, Surah Toha ayat 45

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

كادَ الفَقْرُ أنْ يَكُوْنَ كُفْرًا
Arti dari kalimat di atas adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Dari Anas bin Malik Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

كادَ الفَقْرُ أنْ يَكُوْنَ كُفْرًا

'Hampir-hampir kefakiran (kemiskinan) itu menjadi kekafiran'
--HR. Imam al-Baihaqi dalam kitab 'Syu’abul Iman' (no. 6612). Hadits ini adalah hadits yang lemah.

بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً
Arti dari hadist diatas adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Rasulullah Shallalhu'alaihi wa sallam bersabda:

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

'Sampaikanlah dariku, meskipun satu ayat.'
(HR. Bukhari no. 3461)

Di bawah ini adalah cara untuk menjadikan semangat mengamalkan ilmu dalam kehidupan kecuali ...

Benar! Kurang tepat!

+

Yang diajarkan oleh Rasulullah adalah jika kita melihat kemungkaran untuk mencegahnya pertama kali dengan ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Dalam hadits shahih disebutkan.

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

Barangsiapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya jika tidak bisa maka dengan lisannya, jika tidak bisa juga maka dengan hatinya, itulah selemah-lemahnya iman.'
[HR. Muslim dalam Al-Iman (49)]

Siapakah ilmuan muslim yang pertama menjadi penemu Al-Jabar?

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Muḥammad bin Mūsā al-Khawārizmī adalah seorang ahli dalam bidang matematika, astronomi, astrologi, dan geografi yang berasal dari Persia. Lahir sekitar tahun 780 di Khwārizm dan wafat sekitar tahun 850 di Baghdad.

Pendidikan Agama Islam #30
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #30 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #30 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #21

Salah satu contoh hikmah beriman kepada qada bagi siswa adalah … datang ke sekolah tepat waktu menjadi juara dalam perlombaan

Pendidikan Agama Islam #3

Dalam Islam, pakaian harus … mahal dan bagus bersih, rapi dan sopan Mewah dan bersih bermerek mewah dan menarik Benar!

Pendidikan Agama Islam #10

Wahyu pertama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkandung dalam surah … QS. Al-Alaq : 1-5 QS.

Instagram