Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al An 'aam

Al An ‘aam (Hewan Ternak) surah 6 ayat 145


قُلۡ لَّاۤ اَجِدُ فِیۡ مَاۤ اُوۡحِیَ اِلَیَّ مُحَرَّمًا عَلٰی طَاعِمٍ یَّطۡعَمُہٗۤ اِلَّاۤ اَنۡ یَّکُوۡنَ مَیۡتَۃً اَوۡ دَمًا مَّسۡفُوۡحًا اَوۡ لَحۡمَ خِنۡزِیۡرٍ فَاِنَّہٗ رِجۡسٌ اَوۡ فِسۡقًا اُہِلَّ لِغَیۡرِ اللّٰہِ بِہٖ ۚ فَمَنِ اضۡطُرَّ غَیۡرَ بَاغٍ وَّ لَا عَادٍ فَاِنَّ رَبَّکَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ
Qul laa ajidu fii maa uuhiya ilai-ya muharraman ‘ala thaa’imin yath’amuhu ilaa an yakuuna maitatan au daman masfuuhan au lahma khinziirin fa-innahu rijsun au fisqan uhilla lighairillahi bihi famaniidhthurra ghaira baaghin walaa ‘aadin fa-inna rabbaka ghafuurun rahiimun;

Katakanlah:
“Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi — karena sesungguhnya semua itu kotor — atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah.
Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
―QS. 6:145
Topik ▪ Takwa ▪ Perbuatan dan niat ▪ Permusuhan antara syetan dan manusia
6:145, 6 145, 6-145, Al An ‘aam 145, AlAnaam 145, Al Anaam 145, Al Anam 145, AlAnam 145, Al An’am 145
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al An ‘aam (6) : 145. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada Rasulullah Muhammad ﷺ.
supaya mengatakan kepada kaum musyrikin yang telah membuat-buat peraturan sendiri dan telah berdusta terhadap Allah, dan mengatakan kepada manusia lainnya bahwa dia tidak menemukan dalam wahyu yang diwahyukan kepadanya sesuatu yang diharamkan oleh Allah memakannya kecuali empat macam saja, yaitu:

1.
Binatang yang mati dengan tidak disembelih sesuai dengan peraturan syariat, di antaranya binatang yang mati sendirinya, binatang yang mati karena tercekik, terpukul, terjatuh, dan lain-lain sebagainya.

2.
Darah yang mengalir atau yang keluar dari tubuh binatang yang disembelih atau karena luka, dan sebagainya.
Tidak termasuk darah yang tidak mengalir seperti hati dan limpa.
Ketentuan ini ada disebutkan dalam sebuah hadis:

Dihalalkan untuk kami dua macam bangkai, yaitu bangkai ikan dan bangkai belalang, dan dihalalkan pula dua macam darah yaitu hati dan limpa.
(H.R Hakim dari Ibnu Umar)

3.
Daging babi.
4.
Binatang yang disembelih dengan tidak menyebut nama Allah, seperti disembelih dengan menyebut nama berhala atau sesembahan lainnya selain Allah.

Tetapi barang siapa yang terpaksa memakan makanan tersebut karena sangat lapar dan tidak ada makanan yang lain sedang dia tidak menginginkannya dan tidak pula melampaui batas ia boleh memakannya sekadar untuk menghilangkan laparnya dan memelihara dirinya dari bahaya kematian.

Selain dari makanan yang diharamkan di atas, di dalam hadis-hadis banyak terdapat berbagai macam binatang yang dilarang memakannya, seperti yang terdapat dalam hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abu Syaibah dan Bukhari dari Ibnu Umar bahwa beliau berkata:

Nabi ﷺ.
melarang memakan makanan daging keledai peliharaan pada peperangan Khaibar.
(H.R Ibnu Abi Syaibah dan Bukhari dari Ibnu Umar)

Dan juga tersebut dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Salabah Al-Khasyani:

Rasulullah ﷺ melarang memakan semua binatang yang bertaring dan semua burung yang bercakar.
(H.R Bukhari dan Muslim)

Menurut pendapat Jumhur Ulama memakan makanan yang dilarang oleh Rasul itu adalah haram hukumnya.

Al An 'aam (6) ayat 145 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al An 'aam (6) ayat 145 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al An 'aam (6) ayat 145 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Katakan, wahai Rasulullah, “Aku tidak menemukan dalam sumber wahyu yang diturunkan kepadaku sesuatu yang diharamkan selain yang tidak disembelih secara benar, sesuai dengan ketentuan hukum (syar’iy), darah yang mengalir atau daging babi.
Sebab, makanan-makanan itu membahayakan dan kotor, hingga tidak boleh dimakan.
Selain itu, juga termasuk yang diharamkan, adalah apabila perbuatan itu mengandung risiko keluar dari akidah yang benar, seperti menyebut nama selain Allah–patung atau sesembahan lainnya–saat menyembelih hewan.” Namun demikian, barangsiapa terpaksa memakan salah satu dari makanan yang telah diharamkan itu, tanpa bermaksud bersenang-senang dan melampaui batas keterpaksaan, ia boleh memakannya.
Sebab, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang[1].

[1] Pada ayat ini terdapat larangan memakan daging babi dengan alasan bahwa daging itu kotor dan najis.
Menurut kamus al-Muhith, kata “rijs” berarti ‘pekerjaan yang kotor, mengandung dosa dan tidak layak dilakukan’.
Termasuk juga perbuatan yang mengarah kepada risiko siksa.
Dengan demikian, kata “rijs” mengandung cakupan makna sangat luas:
jelek, kotor, dan tidak layak.
Makna-makna itu disandangkan pada babi, bahkan oleh bangsa-bangsa yang memakannya sekalipun.
Babi termasuk binatang pemakan segala (omnivora), atau pemakan organik yang sudah mati atau busuk (saprofit), termasuk kotoran manusia dan binatang.
Itulah sebabnya, terutama, mengapa babi mudah menjangkitkan penyakit kepada manusia, seperti telah disinggung pada komentar sebelumnya.
(Lihat juga catatan kaki tafsir ayat 3, surat al-Ma’idah).

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Katakanlah, “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku) tentang sesuatu (yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya kecuali kalau yang dimakan itu) dengan memakai ya dan ta (bangkai) dengan dibaca nashab dan menurut suatu qiraat dibaca rafa` serta tahtaniyyah (atau darah yang mengalir) yang beredar berbeda dengan darah yang tidak mengalir seperti hati dan limpa (atau daging babi karena sesungguhnya semua itu kotor) haram (atau) kecuali jika hewan itu (binatang yang disembelih atas nama selain Allah) yakni hewan yang dipotong dengan menyebut nama selain nama Allah.
(Siapa yang dalam keadaan terpaksa) menghadapi semua yang telah disebutkan sehingga ia memakannya (sedangkan ia tidak menginginkannya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun) kepadanya atas apa yang telah dimakannya (lagi Maha Penyayang.”) terhadapnya.
Kemudian apa yang telah disebutkan itu dilengkapi dengan sebuah hadis yang menambahkan yaitu setiap hewan yang bertaring dan setiap burung yang berkuku tajam.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Katakanlah (wahai Rasul) :
Sesungguhnya aku tidak pernah mendapatkan sesuatu yang haram untuk dimakan, seperti binatang-binatang ternak yang kalian sebutkan itu di dalam syariat yang telah diwahyukan kepadaku, kecuali binatang yang mati tanpa disembelih, darah yang tumpah dari hasil sembelihan, atau daging babi karena itu adalah najis, atau binatang yang disembelih tidak dengan syariat Allah, seperti binatang yang disembelih dengan menyebut nama selain nama Allah.
Akan tetapi, barang siapa dengan terpaksa memakan binatang-binatang yang diharamkan itu disebabkan rasa lapar yang sangat, sedangkan dia sebenarnya tidak ingin memakannya dan tidak berlebihan maka (dibolehkan memakannya).
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Kemudian, Sunah menetapkan bahwa binatang buas yang bertaring, burung yang berkuku tajam, keledai yang jinak dan anjing haram dimakan.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman, memerintahkan kepada Nabi dan hamba-Nya (yaitu Nabi Muhammad ﷺ):

Katakanlah.

hai Muhammad, kepada mereka yang mengharamkan apa yang direzekikan oleh Allah kepada mereka dengan membuat-buat kedustaan terhadap Allah.

Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya

Yakni bagi orang yang memakan makanan.
Menurut pendapat lain, makna yang dimaksud ialah bahwa saya tidak menjumpai sesuatu pun dari apa yang diharamkan kalian itu sebagai sesuatu yang diharamkan, selain dari apa yang disebutkan berikut.
Menurut pendapat yang lainnya lagi ialah bahwa saya tidak menjumpai sesuatu pun dari hewan-hewan tersebut diharamkan selain dari jenis-jenis berikut.
Berdasarkan pengertian ini, berarti pengharaman yang disebut sesudah ini di dalam surat Al-Maidah —juga di dalam hadis-hadis yang menerangkannya— merupakan hal yang menghapuskan makna ayat ini.
Sebagian ulama menamakan hal ini sebagai nasakh.
Tetapi kebanyakan ulama mutaakhkhirin tidak menamakannya sebagai nasakh karena hal ini termasuk ke dalam Bab “Menghapuskan Hal yang Diperbolehkan Asalnya”.

Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: atau darah yang mengalir.
Yaitu darah yang tercurahkan.

Ikrimah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: atau darah yang mengalir.
Bahwa seandainya tidak ada ayat ini, niscaya orang-orang akan mencari-cari darah yang ada di semua urat, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi.

Hammad meriwayatkan dari Imran ibnu Jarir yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Abu Mijlaz mengenai masalah darah, dan darah yang masih menempel pada bekas sembelihan serta sesuatu dari darah yang kelihatan merah dalam kadar tertentu.
Maka Abu Mijlaz menjawab, “Sesungguhnya yang dilarang oleh Allah hanyalah darah yang mengalir.”

Qatadah mengatakan, “Diharamkan dari jenis darah ialah darah yang mengalir.
Adapun daging yang dicampuri oleh darah, hukumnya tidak mengapa.”

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Musanna, telah menceritakan kepada kami Hajjaj ibnu Minhaj, telah menceritakan kepada kami Hammad, dari Yahya ibnu Sa’id, dari Al-Qasim, dari Siti Aisyah r.a., bahwa ia membolehkan daging yang dihasilkan dari buruan hewan pemangsa, membolehkan pula merah-merah dan darah yang masih ada dalam kadar tertentu.
Lalu ia membacakan ayat ini.
Asar ini sahih garib.

A!-Humaidi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sufyan, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Dinar yang mengatakan bahwa ia pernah berkata kepada Jabir ibnu Abdullah, “Sesungguhnya mereka menduga bahwa Rasulullah ﷺ melarang (memakan) daging keledai kampung pada masa Perang Khaibar.” Maka Jabir ibnu Abdullah menjawab bahwa dahulu hal yang sama pernah dikatakan oleh Al-Hakam ibnu Amr dari Rasulullah ﷺ Tetapi Ibnu Abbas menolak hal tersebut, lalu membacakan firman-Nya:

Katakanlah, “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya.”.
hingga akhir ayat.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ali ibnul Madini, dari Sufyan dengan sanad yang sama.
Abu Daud mengetengahkannya melalui hadis Ibnu Juraij, dari Amr ibnu Dinar.
Imam Hakim meriwayatkannya di dalam kitab Mustadrak-nya, padahal hal ini terdapat di dalam kitab Sahih Bukhari.
seperti yang Anda lihat sendiri.

Abu Bakar ibnu Murdawaih dan Imam Hakim didalam kitab Mustadraknya mengatakan, teiah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ali ibnu Dahim, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Hazim, telah menceritakan kepada kami Abu Na’im Al-Fadl ibnu Dakin, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Syarik, dari Amr ibnu Dinar,dari Abusy Sya’sa, dari Ibnu Abbas yang mengatakan, “Pada masa jahiliah orang-orang memakan banyak jenis makanan dan meninggalkan banyak jenis makanan hanya semata-mata karena jijik.
Maka Allah mengutus Nabi-Nya, menurunkan Kitab-Nya, menghalalkan hal-hal yang dihalalkan-Nya, dan mengharamkan hal-hal yang diharamkan-Nya.
Apa yang dihalalkan-Nya berarti halal, dan apa yang diharamkan-Nya berarti haram, sedangkan apa yang didiamkan oleh-Nya berarti dimaafkan.” Lalu Ibnu Abbas membacakan firman-Nya:

Katakanlah, “Tiadalah aku peroleh dalam -wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya.” , hingga akhir ayat.

Demikianlah menurut lafaz yang diketengahkan oleh Ibnu Murdawaih.
Abu Daud meriwayatkannya secara munfarid dengan lafaz yang sama, dari Muhammad ibnu Daud ibnu Sabih, dari Abu Na’im dengan sanad yang sama.
Imam Hakim mengatakan bahwa hadis ini sahih, tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak mengetengahkannya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Abu Uwwanah.
dari Sammak ibnu Harb, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa seekor kambing betina milik Saudah binti Zam’ah mati.
Lalu Saudah berkata, “Wahai Rasulullah, kambingku telah mati.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Mengapa kalian tidak mengambil kulitnya?”
Saudah bertanya, “Engkau membolehkan mengambil kulit kambing yang telah mati?”
Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, bahwa sesungguhnya yang dikatakan oleh Allah hanyalah: Katakanlah, “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi.” (Al An’am:145).
Sesungguhnya kalian tidak diperintahkan untuk memakannya, me­lainkan diperintahkan untuk menyamaknya sehingga kalian dapat memanfaatkan kulitnya.
Maka Saudah mengirimkan seseorang untuk menguliti bangkai kambingnya, lalu kulit itu disamaknya.
Saudah menjadikan kulit samakan itu untuk qirbah (tempat air) hingga qirbah itu rusak (lapuk) padanya.

Imam Ahmad, Imam Bukhari, dan Imam Nasai meriwayatkannya melalui hadis Asy-Sya’bi, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, dari Saudah binti Zam’ah dengan lafaz yang sama atau yang semisal.

Sa’id ibnu Mansur menceritakan, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz ibnu Muhammad, dari Isa ibnu Namilah Al-Fazzari, dari ayahnya yang mengatakan bahwa ia pernah berada di sisi Ibnu Umar, yaitu ketika seorang lelaki bertanya kepada Ibnu Umar mengenai daging landak.
Maka Ibnu Umar membacakan ayat berikut kepadanya, yaitu firman-Nya: Katakanlah, “Tiadalah aku peroleh dalam waliyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya.” (Al An’am:145), hingga akhir ayat.
Lalu ada seorang yang sudah lanjut usia —yang juga ada di tempat itu— berkata bahwa ia pernah mendengar Abu Hurairah mengatakan dalam kisahnya ketika berada di dekat Nabi ﷺ Disebutkan bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda: Landak adalah termasuk hewan yang kotor (yakni tidak halal).
Maka Ibnu Umar berkata, “Jika Nabi ﷺ memang mengatakannya, maka hukumnya adalah seperti apa yang dikatakan oleh Nabi ﷺ”

Imam Abu Daud meriwayatkannya dari Abu Saur, dari Sa’id ibnu Mansur dengan sanad yang sama.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Barang siapa yang dalam keadaan terpaksa, sedangkan dia tidak dalam keadaan memberontak dan tidak pula melampaui batas.

Maksudnya, barang siapa dalam keadaan terpaksa memakan sesuatu dari yang diharamkan oleh Allah dalam ayat ini, sedangkan dia bukan dalam keadaan memberontak (terhadap sultan), tidak pula melampaui batas (membegal jalan).

…maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Yakni Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepadanya.
Tafsir ayat ini telah disebutkan di dalam surat Al-Baqarah sehingga sudah cukup jelas.

Makna dari konteks ayat ini ialah sebagai sanggahan terhadap orang-orang musyrik yang suka mengada-adakan banyak hal yang mereka buat-buat sendiri, menyangkut masalah pengharaman hal-hal yang diharamkan atas diri mereka sendiri hanya berdasarkan pendapat-pendapat mereka yang rusak, sepeni mengadakan bahirah.
saibah.
wasilah, ham dan lain sebagainya.

Maka Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya agar memberitahu­kan kepada mereka bahwa tiadalah ditemukan dalam apa yang diwahyu­kan oleh Allah kepadanya bahwa hal tersebut diharamkan.
Sesungguh­nya yang diharamkan-Nya hanyalah apa yang disebutkan dalam ayat ini, yaitu bangkai, darah yang mengalir, daging babi, dan hewan yang disembelih bukan dengan menyebut nama Allah.
Apa pun yang selain dari itu tidak haram, melainkan dianggap sebagai hal yang dimaafkan dan didiamkan.
Mengapa kalian menduga bahwa hal itu diharamkan dan dari manakah kalian mengharamkannya, padahal Allah tidak mengharamkannya?

Berdasarkan pengertian ini tiada lagi pengharaman terhadap jenis lainnya sesudah keterangan ini, seperti larangan yang disebutkan terhadap memakan daging keledai kampung, daging hewan pemangsa, dan setiap burung yang bercakar tajam, menurut pendapat yang terkenal di kalangan para ulama.

Kata Pilihan Dalam Surah Al An 'aam (6) Ayat 145

FISQ
فِسْق

Arti kata fisq adalah terkeluar dari batasan aturan syara’. Kata ini lebih umum daripada kata kufr.

Sifat fasik dapat timbul akibat melakukan dosa-dosa kecil maupun dosa-dosa besar, namun biasanya kefasikan ditetapkan bagi orang-orang yang melakukan dosa-dosa besar. Dan kebanyakannya kata faasiq digunakan untuk menyebut orang yang asalnya berpegang teguh dan mengakui hukum-hukum syara’, namun kemudian dia melanggar keseluruhan atau sebahagian hukum syara’ tersebut. Orang kafir disebut juga dengan faasiq karena dia melanggar hukum-hukum yang dapat diketahui oleh akal dan juga fitrah manusia

Kata fisq diulang tiga kali dalam Al Qur’an, yaitu dalam surah:
-Al Maa’idah (5), ayat 3;
-Al An’aam (6), ayat 121, 145.

Sedangkan kata fusuuq diulang empat kali, yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 197, 282;
-Al Hujurat (49), ayat 7

Kata faasiq diulang dua kali, yaitu dalam surah:
-Al Hujurat (49), ayat 6;
-As Sajdah (32), ayat 18.

Kata faasiquun serta faasiqiin diulang sebanyak tiga puluh empat kali.

Pada surah Al Ma’idah (5), ayat 3 dan Al An’aam (6), ayat 145, Allah menerangkan beberapa perbuatan yang termasuk kefasiqan (fisq), yaitu memakan bangkai binatang, darah, babi, binatang-binatang yang disembelih untuk dipersembahkan kepada yang lain dari pada Allah, binatang yang mati tercekik, binatang yang mati dipukul, binatang yang mati jatuh dari tempat yang tinggi, binatang yang mati ditanduk, binatang mati dimakan binatang buas kecuali yang sempat disembelih (sebelum habis nyawanya), binatang yang disembelih atas nama berhala dan merenung nasib dengan undi batang-batang anak panah. Melakukan perbuatan-perbuatan ini termasuk kefasiqan. Demikian juga pada surah Al An’aam (6), ayat 121, Allah menyebutkan satu bentuk kefasiqan yang lain, yaitu makan binatang-binatang halal yang disembelih tidak dengan menyebut nama Allah

Jenis kefasiqan lain yang disebut oleh Al Qur’an adalah yang terdapat dalam surah Al Baqarah (2), ayat 282, yaitu kefasiqan-kefasiqan yang berhubungan erat dengan masalah Mu’amalah Maliyyah, seperti masalah kesaksian dan penulisan palsu dalam hutangpiutang dan jual beli.

Sedangkan dalam surah Al Baqarah (2), ayat 197 Allah memerintahkan orang yang melaksanakan ibadah haji untuk menghormati dan mengagungkan ibadahnya, yaitu dengan tidak melakukan hubungan suami istri atau perbuatan-perbuatan nafsu berahi lainnya, tidak melakukan kefasiqan (fusuuq) dan tidak berbantah-bantahan.

Pada mufassir menegaskan bahawa yang dimaksudkan dengan (fusuuq) pada ayat ini adalah semua jenis kemaksiatan termasuk tegahan-tegahan dalam ihram.

Pada surah Al Hujurat (49), ayat 7, Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk bersyukur, karena Allah menjadikan iman sebagai suatu perkara yang dicintai mereka serta di perhiasannya dalam hati mereka, dan menjadikan kekufuran dan perbuatan fasik (fusuuq) serta perbuatan maksiat itu perkara-perkara yang dibenci mereka.

Sedangkan pada surah Al Hujurat (49), ayat 11, Allah menegaskan bahawa orang yang asalnya beriman kemudian melakukan kefasiqan sehingga dia dipanggil dengan sebutan nama fasik (al fusuuq) adalah keadaan yang sangat buruk. Karena orang yang fasik (faasiq) adalah jauh berbeda apabila dibandingkan dengan orang -orang yang beriman, utamanya nasib mereka di akhirat nanti, sebagaimana yang ditegaskan Allah dalam surah As Sajdah (32), ayat 18. Bahkan di dunia pun mereka harus diawasi.

Dalam surah Al Hujurat (49), ayat 6, Allah menerangkan aturan penapisan berita, di mana jika datang seorang fasik (faasiq) membawa suatu berita, maka hendaklah di selidiki dahulu berita itu untuk menentukan kebenarannya.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:438-439

Informasi Surah Al An 'aam (الانعام)
Surat Al An’aam (binatang ternak:
unta, sapi, biri-biri dan kambing) yang terdiri atas 165 ayat, termasuk golongan surat Makkiyyah, karena hampir seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Mekah dekat sebelum hijrah.

Dinamakan Al An’aam karena di dalamnya disebut kata “An’aam” dalam hubungan dengan adat istiadat kaum musyrikin, yang menurut mereka binatang­ binatang temak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Juga dalam surat ini disebutkan hukum-hukum yang berkenaan dengan binatang ternak itu.

Keimanan:

Bukti-bukti keesaan Allah serta kesempumaan sifat-sifat-Nya
kebenaran kena­bian Nabi Muhammad ﷺ
penyaksian Allah atas kenabian Ibrahim, Ishaq, Ya’ qub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun, Zakaria, Yahya, ‘Isa, Ilyas, Alyasa’, Yunus dan Luth
penegasan tentang adanya risalah dan wahyu serta hari pembalasan dan hari kebangkitan kepalsuan kepercayaan orang-orang musy­rik dan keingkaran mereka terhadap hari kiamat.

Hukum:

Larangan mengikuti adat istiadat yang dibuat-buat oleh kaum Jahiliyah
makanan yang halal dan yang haram
wasiat yang sepuluh dari Al Qur’an
tentang tauhid keadilan dan hukum-hukum
larangan mencaci maki berhala orang musyrik karena mereka akan membalas dengan mencaci maki Allah.

Kisah:

Kisah umat-umat yang menentang rasul-rasul
kisah pengalaman Nabi Muhammad ﷺ dan para nabi pada umumnya
cerita Nabi Ibrahim a.s. membimbing kaum­ nya kepada tauhid.

Lain-lain:

Sikap kepala batu kaum musyrikin
cara seorang nabi memimpin umatnya
bi­dang-bidang kerasulan dan tugas rasul-rasul
tantangan kaum musyrikin untuk melemahkan rasul
kepercayaan orang-orang musyrik terhadap jin, syaitan dan malaikat
beberapa prinsip keagamaan dan kemasyarakatan
nilai hidup duniawi.


Gambar Kutipan Surah Al An ‘aam Ayat 145 *beta

Surah Al An 'aam Ayat 145



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al An 'aam

Surah Al-An'am (bahasa Arab:الانعام, al-An'ām, "Binatang Ternak") adalah surah ke-6 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 165 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah, karena hampir seluruh ayat surah ini diturunkan di Mekkah sebelum hijrah.
Dinamakan Al-An'am (hewan ternak) karena di dalamnya disebut kata An'am dalam hubungan dengan adat-istiadat kaum musyrik, yang menurut mereka binatang-binatang ternak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Dalam surah ini juga dikemukakan hukum berkenaan dengan hewan ternak tersebut.

Dalam surah al-An'am ini, terdapat do'a Iftitah yang disunnahkan untuk membacanya dengan tidak bersuara.
Doa ini dibaca pada saat setelah takbir dan sebelum bacaan surah Al-Fatihah.
Sebagian ayat-ayat yang dibaca adalah ayat 79 dan 163.

Nomor Surah6
Nama SurahAl An 'aam
Arabالانعام
ArtiHewan Ternak
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu55
JuzJuz 3 (ayat 1-91),
juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat165
Jumlah kata3055
Jumlah huruf-
Surah sebelumnyaSurah Al-Ma'idah
Surah selanjutnyaSurah Al-A’raf
4.7
Rating Pembaca: 4.7 (27 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku