QS. Al An ‘aam (Hewan Ternak) – surah 6 ayat 131 [QS. 6:131]

ذٰلِکَ اَنۡ لَّمۡ یَکُنۡ رَّبُّکَ مُہۡلِکَ الۡقُرٰی بِظُلۡمٍ وَّ اَہۡلُہَا غٰفِلُوۡنَ
Dzalika an lam yakun rabbuka muhlikal qura bizhulmin wa-ahluhaa ghaafiluun(a);

Yang demikian itu adalah karena Tuhanmu tidaklah membinasakan kota-kota secara aniaya, sedang penduduknya dalam keadaan lengah.
―QS. 6:131
Topik ▪ Hisab ▪ Keadilan Allah dalam menghakimi ▪ Al Qur’an benar-benar dari Allah
6:131, 6 131, 6-131, Al An ‘aam 131, AlAnaam 131, Al Anaam 131, Al Anam 131, AlAnam 131, Al An’am 131

Tafsir surah Al An 'aam (6) ayat 131

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al An ‘aam (6) : 131. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa telah terjadi sunah dan ketetapan Nya sesuai dengan hikmah kebijaksanaan dan keadilan Nya, apabila Dia hendak membinasakan suatu umat karena kedurhakaan dan kezalimannya.
Terlebih dahulu Dia mengutus seorang Rasul yang akan memberi peringatan kepada mereka.
Dia tidak akan menurunkan azab dan siksa Nya kepada suatu umat padahal umat itu dalam keadaan lalai dan terlena karena tidak datang kepada mereka seorang Rasul yang memberi tuntunan dan petunjuk yang akan memperingatkan dan menimbulkan kesadaran dalam hati mereka bahwa mereka benar-benar telah sesat dari jalan yang lurus dan telah melakukan perbuatan-perbuatan tercela yang bertentangan dengan keadilan dan perikemanusiaan.

Siksaan yang diturunkan Allah kepada hamba Nya yang durhaka yang amat keras, misalnya siksaan yang memusnahkan mereka seperti yang pernah terjadi pada kaum `Ad dan Samud, dan ada pula siksaan yang menghina mereka dengan cara mengusir dan mencerai beraikan mereka, seperti yang diderita oleh Bani Israil, dan ada pula siksaan yang menghancurkan kekuatan mereka, seperti yang diderita oleh kaum musyrikin Mekah.
Sesudah Nabi Muhammad diutus Allah kepada manusia untuk segala tempat dan zaman, siksaan yang menghancurkan dan memusnahkan itu tidak ada lagi.
Adapun malapetaka yang terjadi, seperti gempa, topan, banjir dan sebagainya, adalah cobaan dan ujian bagi umat manusia agar mereka insaf dan sadar akan kekuasaan Allah dan agar mereka selalu ingat kepada Nya, dan tidak berpaling dari petunjuk dan ajaran yang diturunkan Nya dengan perantaraan Rasul Nya.

Allah sekali-kali tidak akan menganiaya hambanya, bahkan merekalah yang menganiaya dirinya sendiri dengan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan sunah dan ketetapan Nya dan melanggar norma-norma yang telah diberikan Nya untuk kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat.
Mungkin dilihat ada beberapa umat yang tampaknya kuat dan jaya padahal umat itu telah melemparkan norma-norma keadilan dan-perikemanusiaan, bahkan ada yang mengingkari kekuasaan Allah dan menganggap agama Nya sebagai racun yang membunuh manusia, tetapi hal itu adalah istidraj dari Allah yang membiarkan mereka tenggelam dalam paham kebendaan, sombong dan takabur atas hasil yang mereka capai.
Namun akhirnya mereka akan mengalami nasib seperti orang yang sombong dan takabur.
Terserahlah kepada manusia itu sendiri apakah ia akan menjadi orang yang beriman, mematuhi dan menjalankan semua aturan dan ajaran yang diturunkan Nya dengan perantaraan Rasul Nya, dan dengan demikian dia akan hidup berbahagia jasmani dan rohaninya, ataukah dia akan menganggap dirinya lebih berkuasa atau lebih pintar serta menganggap ajaran-ajaran agama itu sudah ketinggalan zaman.
Dia bebas berpikir berbuat dan menetapkan sesuatu menurut kehendaknya dan akhirnya akan terombang ambing antara teori-teori yang tidak tentu ujung pangkalnya serta terjerumus ke jurang kehancuran, keonaran dan kerusakan.
Allah telah membentangkan di hadapan manusia jalan yang baik dan jalan yang buruk, terserah kepadanya jalan mana yang akan ditempuhnya.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Sesungguhnya pengutusan rasul sebagai pemberi peringatan dan pembawa penjelasan hanyalah karena Tuhanmu, wahai Muhammad, tidak akan menghancurkan penduduk suatu tempat akibat kezaliman mereka, sedangkan mereka adalah orang-orang yang tidak tahu kebenaran.
Tetapi sebaliknya, Dia mesti menjelaskan dan mengingatkan terlebih dahulu.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Yang demikian itu) dengan mengutus para utusan (supaya) huruf lam dimuqaddarahkan sedangkan an berasal dari anna yang ditakhfifkan, yaitu berasal dari liannahu (Tuhanmu tidak membinasakan kota-kota secara aniaya) sebagian dari kota-kota itu (sedangkan penduduknya dalam keadaan lengah) dan belum pernah diutus kepada mereka seorang rasul pun yang memberikan penjelasan kepada mereka.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Kami peringatkan mereka (golongan jin dan manusia) dengan mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab agar tidak ada di antara mereka yang disiksa dengan aniaya (pada Hari Kiamat) karena tidak pernah mendengar dakwah (Islam).
Kami peringatkan kepada semua umat bahwa Kami tidak akan menyiksa seseorang, kecuali setelah Kami utus rasul-rasul kepada mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Yakni sesungguhnya Kami beralasan terhadap manusia dan jin dengan mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab kepada mereka, agar tidak ada seseorang dihukum karena perbuatan zalimnya, padahal ia belum tersentuh oleh dakwah.
Terhadap semua umat, Kami katakan bahwa tidak sekali-kali Kami mengazab seseorang melainkan setelah Kami utuskan para rasul kepada mereka.
Makna ayat ini semisal dengan firman-Nya:

Dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan.
(Q.S. Faathir [35]: 24)

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Tagut.” (Q.S. Al-Hijr [15]: 36)

Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.
(Q.S. Al Israa [17]: 15)

Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka, “Apakah belum pernah datang kepada kalian (di dunia) seorang pemberi peringatan?”
Mereka menjawab, “Benar ada.
Sesungguh­nya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan(nya) (Q.S. Al-Mulk [67]: 8-9)

Masih banyak ayat lain yang bermakna semisal dengan ayat ini.

Imam Abu Ja’far ibnu Jarir mengatakan bahwa makna firman-Nya, {بِظُلْمٍ} mengandung dua pengertian, yaitu:

Pertama, yang demikian itu adalah karena Tuhanmu tidaklah membinasakan kota-kota karena perbuatan aniaya para penghuninya yang melakukan kemusyrikan ketika mereka sedang dalam keadaan lengah.
Dengan kata lain, Allah tidak akan menyegerakan azabnya kepada mereka sebelum Dia mengirimkan seorang rasul kepada mereka yang bertugas memperingatkan mereka akan hujah-hujah Allah atas mereka dan memperingatkan mereka terhadap azab Allah di hari mereka dikembalikan.
Allah sama sekali tidak akan menyiksa mereka ketika mereka sedang dalam keadaan lalai, yang pada akhirnya mereka akan beralasan dengan mengatakan, “Tidak pernah datang kepada kami seorang pembawa berita gembira, tidak pula seorang pemberi peringatan pun.”

Kedua, firman-Nya: Yang demikian itu adalah karena Tuhanmu tidaklah membinasakan kota-kota secara aniaya.
(Q.S. Al-An’am [6]: 131) Artinya, Tuhanmu tidak akan membinasakan mereka sebelum menyadarkan dan memperingatkan mereka melalui para rasul dan mukjizat-mukjizat serta pelajaran-pelajaran.
Karena dengan demikian berarti Allah berbuat aniaya terhadap mereka, sedangkan Allah tidak akan berbuat aniaya terhadap hamba-hamba-Nya.

Kemudian Ibnu Jarir sendiri men-rajih-kan (menguatkan) pendapat yang pertama, dan pendapat tersebut memang lebih kuat, tidak diragukan lagi


Informasi Surah Al An 'aam (الانعام)
Surat Al An’aam (binatang ternak:
unta, sapi, biri-biri dan kambing) yang terdiri atas 165 ayat, termasuk golongan surat Makkiyyah, karena hampir seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Mekah dekat sebelum hijrah.

Dinamakan Al An’aam karena di dalamnya disebut kata “An’aam” dalam hubungan dengan adat istiadat kaum musyrikin, yang menurut mereka binatang­ binatang temak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Juga dalam surat ini disebutkan hukum-hukum yang berkenaan dengan binatang ternak itu.

Keimanan:

Bukti-bukti keesaan Allah serta kesempumaan sifat-sifat-Nya
kebenaran kena­bian Nabi Muhammad ﷺ
penyaksian Allah atas kenabian Ibrahim, Ishaq, Ya’ qub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun, Zakaria, Yahya, ‘Isa, Ilyas, Alyasa’, Yunus dan Luth
penegasan tentang adanya risalah dan wahyu serta hari pembalasan dan hari kebangkitan kepalsuan kepercayaan orang-orang musy­rik dan keingkaran mereka terhadap hari kiamat.

Hukum:

Larangan mengikuti adat istiadat yang dibuat-buat oleh kaum Jahiliyah
makanan yang halal dan yang haram
wasiat yang sepuluh dari Al Qur’an
tentang tauhid keadilan dan hukum-hukum
larangan mencaci maki berhala orang musyrik karena mereka akan membalas dengan mencaci maki Allah.

Kisah:

Kisah umat-umat yang menentang rasul-rasul
kisah pengalaman Nabi Muhammad ﷺ dan para nabi pada umumnya
cerita Nabi Ibrahim a.s. membimbing kaum­ nya kepada tauhid.

Lain-lain:

Sikap kepala batu kaum musyrikin
cara seorang nabi memimpin umatnya
bi­dang-bidang kerasulan dan tugas rasul-rasul
tantangan kaum musyrikin untuk melemahkan rasul
kepercayaan orang-orang musyrik terhadap jin, syaitan dan malaikat
beberapa prinsip keagamaan dan kemasyarakatan
nilai hidup duniawi.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-An-'aam (6) ayat 131 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-An-'aam (6) ayat 131 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-An-'aam (6) ayat 131 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-An-'aam - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 165 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 6:131
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al An 'aam.

Surah Al-An'am (bahasa Arab:الانعام, al-An'ām, "Binatang Ternak") adalah surah ke-6 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 165 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah, karena hampir seluruh ayat surah ini diturunkan di Mekkah sebelum hijrah.
Dinamakan Al-An'am (hewan ternak) karena di dalamnya disebut kata An'am dalam hubungan dengan adat-istiadat kaum musyrik, yang menurut mereka binatang-binatang ternak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Dalam surah ini juga dikemukakan hukum berkenaan dengan hewan ternak tersebut.

Dalam surah al-An'am ini, terdapat do'a Iftitah yang disunnahkan untuk membacanya dengan tidak bersuara.
Doa ini dibaca pada saat setelah takbir dan sebelum bacaan surah Al-Fatihah.
Sebagian ayat-ayat yang dibaca adalah ayat 79 dan 163.

Nomor Surah 6
Nama Surah Al An 'aam
Arab الانعام
Arti Hewan Ternak
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 55
Juz Juz 3 (ayat 1-91),
juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 165
Jumlah kata 3055
Jumlah huruf -
Surah sebelumnya Surah Al-Ma'idah
Surah selanjutnya Surah Al-A’raf
4.5
Ratingmu: 4.9 (27 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta