Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al An 'aam

Al An ‘aam (Hewan Ternak) surah 6 ayat 130


یٰمَعۡشَرَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ اَلَمۡ یَاۡتِکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ وَ یُنۡذِرُوۡنَکُمۡ لِقَآءَ یَوۡمِکُمۡ ہٰذَا ؕ قَالُوۡا شَہِدۡنَا عَلٰۤی اَنۡفُسِنَا وَ غَرَّتۡہُمُ الۡحَیٰوۃُ الدُّنۡیَا وَ شَہِدُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ اَنَّہُمۡ کَانُوۡا کٰفِرِیۡنَ
Yaa ma’syaral jinni wal-insi alam ya’tikum rusulun minkum yaqush-shuuna ‘alaikum aayaatii wayundziruunakum liqaa-a yaumikum hadzaa qaaluuu syahidnaa ‘ala anfusinaa wagharrathumul hayaatud-dunyaa wasyahiduu ‘ala anfusihim annahum kaanuu kaafiriin(a);

Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayat-Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini?
Mereka berkata:
“Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri”,
kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.
―QS. 6:130
Topik ▪ Hisab ▪ Setiap makhluk ditanya pada hari penghimpunan ▪ Al Qur’an benar-benar dari Allah
6:130, 6 130, 6-130, Al An ‘aam 130, AlAnaam 130, Al Anaam 130, Al Anam 130, AlAnam 130, Al An’am 130
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al An ‘aam (6) : 130. Oleh Kementrian Agama RI

Di akhirat nanti, kepada semua jin dan manusia yang durhaka, yang tidak mengikuti ajaran Rasul dan tidak mengindahkan larangan Allah yang disampaikan Rasul kepada mereka sehingga mereka berbuat sewenang-wenang di muka bumi, akan dikemukakan kepadanya pertanyaan: “Apakah tidak datang kepadamu Rasul-rasul Kami, memperingatkan kamu dan memberi petunjuk yang benar agar kamu jangan tersesat dan jangan melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Kami?
Karena itu mereka tidak berdaya lagi, dan mereka menyesali segala yang mereka perbuat semasa di dunia, dan dengan tunduk mereka mengakui kesalahan-kesalahan mereka serta menjawab: “Kami mengakui bahwa Rasul-rasul Mu telah datang kepada kami dan telah memberikan peringatan dan ajaran-ajaran yang baik yang seharusnya kami perhatikan dan kami amalkan dengan patuh dan taat, tetapi kami tidak mengindahkannya, bahkan kami mendustakan mereka dan memperolok-olok seruan mereka.
Allah berfirman:

Mereka menjawab: “Benar ada”,
sesungguhnya telah datang kepada kami mendustakan (nya) dan kami sesuatupun, kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar.

(Q.S Al Mulk: 9)

Mereka telah ditipu dan diperdayakan oleh kehidupan dunia dan disilaukan oleh harta, wanita, pangkat dan kedudukan, sehingga hati mereka telah menjadi beku, mata mereka telah menjadi buta, dan tidak dapat lagi membedakan mana yang baik, mana yang buruk dan tidak dapat lagi melihat cahaya ajaran Ilahi yang akan membawa mereka ke dalam kebahagiaan dunia dan akhirat.
Para Rasul itu telah membacakan kepada mereka ayat-ayat yang diturunkan Allah dan telah memperingatkan mereka bahwa di akhirat nanti akan ada hari pembalasan di mana orang-orang yang berbuat baik akan masuk surga dan orang-orang yang kafir akan di siksa dalam neraka.
Di kala itulah mereka mengaku terus terang bahwa mereka dahulu (di dunia) memang ingkar dan kafir, mendustakan rasul-rasul dan tidak percaya dengan adanya hari akhirat.

Mengenai Rasul-rasul yang diutus itu apakah mereka terdiri dari manusia saja ataukah ada pula Rasul-rasul dari jin yang diutus kepada umatnya?
Jumhur ulama berpendapat bahwa Rasul-rasul itu semuanya terdiri dari manusia saja, dan tidak ada rasul-rasul dari kalangan jin.
Alquran dan hadis-hadis sahih menunjukkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ juga diutus kepada jin seperti tersebut dalam ayat berikut:

Dan (ingatlah) ketika kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Alquran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”.
Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.
Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Alquran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.

(Q.S Al Ahqaf: 29-30)

Al An 'aam (6) ayat 130 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al An 'aam (6) ayat 130 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al An 'aam (6) ayat 130 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Pada hari kiamat, Allah berkata kepada mereka, “Wahai sekumpulan jin dan manusia, rasul-rasul telah datang kepada kalian memberi peringatan dengan berbagai bukti dan keterangan, membacakan ayat-ayat dan mengingatkan kalian tentang hari pertemuan dengan Allah ini.
Mengapa kalian mendustai mereka?
Mereka menjawab, “Kami mengaku atas kesalahan yang kami lakukan.” Mereka telah tertipu oleh kenikmatan hidup duniawi.
Mereka mengaku bahwa mereka memang ingkar.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri) kalangan kamu sendiri, artinya sebagian kamu yang percaya kepada manusia atau utusan-utusan jin yang sengaja Kami biarkan mereka mendengar ucapan-ucapan para rasul Kami kemudian mereka menyampaikannya kepada kaumnya (yang menceritakan kepada kamu tentang ayat-ayat-Ku dan memperingatkan kamu tentang pertemuanmu dengan hari ini?
Mereka berkata, “Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri.”) bahwa sesungguhnya kami telah menerimanya.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
(Kehidupan dunia telah menipu mereka) sehingga mereka tidak mau beriman (dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.)

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Wahai orang-orang musyrik dari golongan jin dan manusia! Bukankah telah datang kepada kalian rasul-rasul dari golongan kalian (zhahir ayat ini menunjukkan bahwa rasul-rasul itu hanya berasal dari golongan manusia) menyampaikan ayat-ayat-Ku yang terang yang meliputi perintah dan larangan, penjelasan tentang hal-hal baik dan yang jahat, dan memperingatkan kalian akan siksa-Ku pada Hari Kiamat?
Orang-orang musyrik dari golongan jin dan manusia itu menjawab :
Kami bersaksi atas diri kami, bahwa rasul-rasul-Mu telah menyampaikan kepada kami ayat-ayat-Mu dan memperingatkan kami akan pertemuan hari ini (Kiamat), tetapi kami mendustakan mereka.
Kehidupan dunia telah memperdaya orang-orang musyrik itu dan mereka bersaksi atas diri mereka bahwa mereka dahulu ingkar terhadap keesaan Allah dan mendustakan para rasul-Nya alaihimussalam.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Ayat ini pun termasuk kecaman Allah yang ditujukan kepada kaum yang kafir dari kalangan makhluk jin dan manusia di hari kiamat nanti, yaitu di saat Allah menanyai mereka —padahal Allah lebih mengeta­hui— bahwa bukankah telah datang kepada mereka rasul-rasul yang menyampaikan risalah kepada mereka.
Istijham atau kata tanya di sini mengandung makna taqrir.

Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepada kalian rasul-rasul dari golongan kalian sendiri.

Minkum yakni dari kalangan kalian sendiri, karena memang para rasul itu hanyalah dari golongan manusia saja, tiada satu pun dari kalangan makhluk jin yang menjadi rasul.
Demikianlah menurut apa yang telah dinaskan oleh Mujahid dan Ibnu Juraij serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang dari kalangan para imam, baik yang Salaf maupun yang Khalaf.

Ibnu Abbas mengatakan bahwa para rasul adalah dari kalangan Bani Adam, sedangkan dari kalangan jin sedikit sekali (jarang).

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ad-Dahhak ibnu Muzahim, ia menduga bahwa dari kalangan jin terdapat rasul-rasul, dan pendapatnya itu berlandaskan pada dalil ayat ini.
Pendapat tersebut masih perlu dipertimbangkan, mengingat apa yang dikatakannya itu masih bersifat ihtimal (hipotesis) dan makna ayat tidak jelas menunjukkan pengertian itu.
Perihalnya—hanya Allah yang lebih mengetahui— sama dengan makna yang terkandung di dalam firman-Nya:

Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
(Ar Rahmaan:19-21) sampai firman-Nya: Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.
(Ar Rahmaan:22)

Kita maklumi bahwa mutiara dan marjan hanyalah dihasilkan dari air yang asin (laut), bukan air yang manis (tawar), hal ini jelas dan gamblang.
Jawaban atau sanggahan ini diketengahkan oleh Ibnu Jarir sendiri.

Dalil yang menyatakan bahwa para rasul itu hanyalah dari kalangan manusia ialah firman Allah subhanahu wa ta’ala.
yang mengatakan:

Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi sesudahnya.
(An Nisaa:163) sampai dengan firman-Nya: (Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu.
(An Nisaa:165)

Dan pada firman Allah subhanahu wa ta’ala.
tentang Nabi Ibrahim, yaitu:

dan Kami jadikan kenabian dan Al-Kitab pada keturunannya.
(Al-‘Ankabut: 27)

Disebutkan bahwa kenabian dan Al-Kitab hanya terbatas pada keturunan Ibrahim ‘alaihis salam sesudah Ibrahim ‘alaihis salam tiada.
Tidak ada seorang pun yang mengatakan bahwa kenabian ada di kalangan makhluk jin sebelum Ibrahim Al-Khalil, lalu kenabian terputus dari mereka (jenis jin) dengan diutus-Nya Nabi Ibrahim.

Allah subhanahu wa ta’ala.
telah berfirman dalam ayat lainnya, yaitu:

Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu.
melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.
(Al Furqaan:20)

Kami tidak mengutus sebelum kamu.
melainkan orang-orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk kota.
(Yusuf:109)

Dimaklumi bahwa jin merupakan yang diikutkan kepada manusia dalam bab ini, seperti yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
ketika menceritakan perihal mereka:

Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan{nya), lalu mereka berkata, “Diamlah kalian (untuk mendengarkannya).” Ketika pembacaan telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.
Mereka berkata, “Hai kaum kami.
sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.
Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada­Nya.
niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian dan melepaskan kalian dari azab yang pedih.
Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah, maka dia tidak dapat melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah.
Mereka itu dalam kesesatan yang nyata “(Al Ahqaaf:29-32)

Di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Turmuzi dan lain-lainnya disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ membacakan surat Ar-Rahman kepada mereka (kaum jin), yang antara lain terdapat firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Kami akan memperhatikan sepenuhnya kepada kalian, hai manusia dan jin.
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
(Ar Rahmaan:31-32)

Allah subhanahu wa ta’ala.
telah berfirman dalam surat berikut ini:

Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepada kalian rasul-rasul dari golongan kalian sendiri, yang menyampaikan kepada kalian ayat-ayat-Kudan memberi peringatan kepada kalian terhadap pertemuan dengan hari ini?
Mereka berkata, “Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri.” (Al An’am:130)

Artinya, kami mengakui bahwa para rasul itu telah menyampaikan kepada kami risalah dari-Mu, mereka telah memberikan peringatan kepada kami terhadap pertemuan dengan-Mu dan bahwa hari ini merupakan hari yang pasti terjadi.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.: :

…kehidupan dunia telah menipu mereka.

Yakni mereka telah menyia-nyiakan hidup mereka di dunia dan mereka menjadi binasa karena mendustakan rasul-rasul serta tidak percaya kepada mukjizat-mukjizat karena kehidupan duniawi, kesenangan, dan perhiasannya telah memperdayakan mereka.

…dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri.

Yaitu di hari kiamat kelak.

…bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.

Maksudnya, mereka kafir ketika di dunia, ingkar terhadap apa yang disampaikan oleh para rasul kepada mereka.

Kata Pilihan Dalam Surah Al An 'aam (6) Ayat 130

DUNYAA
لدُّنْيَا

Lafaz dunyaa berasal dari lafaz ad dunuww kemudian al waw diganti dengan al yaa karena lafaz yang berwazan fu’laa, sekiranya memiliki al waw pada akhirannya, maka ia diganti dengan al yaa. Dinamakan dunyaa karena dekatnya dan kedatangan akhirat. Ia juga bermakna lawan dari akhirat, nama bagi kehidupan ini karena akhirat jauh darinya, bumi dan segala yang terdapat di permukaannya, alam tempat kita diami, perihal bidang dan lapangan.

Al Kafawi berkata,
“Ia adalah nama bagi apa yang ada di bawah bulan.”

Lafaz dunyaa disebut sebanyak 115 kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 85, 86, 114, 130, 200, 201, 204, 212, 217, 220;
-Ali Imran (3), ayat 14, 22, 45, 56, 117, 145, 148, 152, 185;
-An Nisaa(4), ayat 74, 77, 94, 109, 134 (dua kali);
-Al­ Maa’idah (5), ayat 33, 41;
-Al An’aam (6), ayat 29, 32, 70, 130;
-Al A’raaf (7), ayat 32, 51, 152, 156;
-Al Anfaal (8), ayat 42, 67;
-At Taubah (9), ayat 38 (dua kali), 55, 69, 74, 85;
-Yunus (10), ayat 7, 23, 24, 64, 70, 88, 98;
-Hud (11), ayat 15, 60;
-Yusuf (12), ayat 101;
-Ar Ra’d (13), ayat 26 (dua kali), 34;
-Ibrahim (14), ayat 3, 27;
-An Nahl (16), ayat 30, 41, 107, 122;
-Al Kahfi (18), ayat 28, 45, 46, 104;
-Tha Ha (20), ayat 72, 131;
-Al Hajj (22), ayat 11, 15;
-Al Mu’minuun (23), ayat 33, 37;
-An Nuur (24), ayat 14, 19, 23, 33;
-Al Qashash (28), ayat 42, 60, 61, 77;
-Al Ankabut (29), ayat 79, 25, 27; 64;
-Ar Rum (30), ayat 7;
-Luqrnan (31), ayat 15, 33;
-Al Ahzab (33), ayat 28, 57;
-Faathir (35), ayat 5;
-Ash Shaffaat (37), ayat 6;
-Az Zumar (39), ayat 10, 26;
-Al Mu’min (40), ayat 39, 43, 51;
-Fushshilat (41), ayat 12, 16, 31;
-Asy Syuura (42), ayat 20, 36;
-Az-Zukhruf (43), ayat 32, 35;
-Al Jaatsiyah (45), ayat 24, 35;
-Al­ Ahqaf (46), ayat 20;
-Muhammad (47), ayat 36;
-An Najm (53), ayat 29;
-Al­ Hadid (57), ayat 20 (dua kali);
-Al Hasyr (59), ayat 3;
-Al Mulk (67), ayat 5;
-An Naazi’aat (79), ayat 38;
-Al A’laa (87), ayat 16.

Kebanyakan lafaz dunyaa digandengkan dengan akhirat dan juga kebanyakannya di­hubungkan dengan al hayaah maknanya ke­hidupan dunia. Apabila berhubungan dengan kehidupan dunia, Al Qur’an memberinya beberapa gelaran yaitu:

1. Dunia hanyalah mataa’al ghuurur artinya benda tipuan.
Maknanya kehidupan ini selalu me­nipu dan merayu manusia sehingga sering kali manusia lupa pada ke­hidupan yang sebenarnya. Tipu daya hidup ini sering kali menipu manusia sehingga hatinya terpaut dan terikat dengan dunia. Oleh karena itu, ayat ini me­nerangkan kehinaan dunia dan ke­fanaannya yang sebentar lagi musnah.

Qatadah berkata,
“Maknanya ialah benda (kenikmatan) yang akan di­tinggalkan. Oleh karena itu, ambillah ia dan taat kepada Allah semampu kamu'” Dalam hadits dikatakan, “Demi Allah! Kehidupan dunia berbanding akhirat adalah bagaikan salah seorang kamu menenggelamkan jari kedalam lautan, lalu lihatlah apa yang tertinggal di jari kamu (bila kamu mengangkatnya).”

2. Kenikmatan dan kebendaan yang qaliil yaitu sedikit.
Kenikmatan dan kebendaan yang banyak sekiranya ia fana dan hilang ia dinamakan sedikit, apatah lagi dengan sedikit yang lenyap lagi fana, atau apa yang dinikmati dari kelezatan dunia cepat hilang dan terbatas serta fana.

3. Kehidupan dunia hanyalah la’ib wa lahw yaitu tempat senda gurau dan bermain-main saja serta menjadi tempat mencari kesenangan bagi orang yang menyekutukan Allah.

Al Qurtubi berkata,
“Dunia adalah sesuatu yang dipermainkan olehnya dan dilalaikan dengannya yaitu apa yang diberikan Allah kepada orang kaya dari dunia, musnah dan lenyap seperti sebuah permainan yang tidak wujud dalamnya ketetapan dan hakikat.”

Dengan penjelasan Al Qur’an pada hakikat dan kedudukan dunia, sekali lagi Al­ Quran menyamakan kebendaan dunia yang menipu, hilang dan fana seperti air hujan yang turun dari langit dan bersatu dengan bumi lalu keluar darinya tumbuh-tumbuhan yang lebat dan rimbun lalu ia menjadi kering, hancur dan bertebaran diterbangkan oleh angin ke kiri dan ke kanan.

Bagi yang membelanjakan harta benda demi mendapat kepentingan dunia, Al­ Quran juga mengumpamakannya seperti angin yang di dalamnya ada udara yang dingin yang kering pada musim dingin, tidak mem­bawa kesuburan melainkan kemusnahan. Bukan ajaran Ilahi yang dapat mereka kalah­kan melainkan kebun dan tanaman mereka sendirilah yang akan punah dan musnah karena apabila tanaman itu menjadi kering, ia mudah terbakar karena zat air tidak ada lagi di dalamnya.

Lafaz ad dunyaa digandengkan dengan as­ samaa yaitu as sama ad dunyaa yang terdapat dalam surah:
-Ash Shaffaat (37), ayat 6;
-Fushshilat (41), ayat 12;
-Al Mulk (67), ayat 5.

Maksudnya ialah langit yang dekat dengan kamu. Ia dihiasi dengan keindahan planet-planet dan bintang-bintang yang bercahaya dan berkilau, berguna untuk melempar dan memburu syaitan apabila ia hendak mencuri pendengaran, datang kilat yang menyambar sehingga membakarnya. Maksudnya “meteor” melempar syaitan yang terlepas dari bintang itu karena pada hakikatnya adalah satu bulatan seperti bumi juga yang tetap pada halnya.

Sebagaimana fungsinya yang diterangkan dalam surah Al Mulk. Qatadah berkata,
“Allah menciptakan bintang-bintang untuk tiga keguna­an, yaitu:
(1) Perhiasan langit;
(2) Pemanah syaitan;
(3) Memberi petunjuk dalam per­jalanan.

Sekiranya ada orang lain yang ingin menambahkannya orang itu mengada­ adakan ilmu. Maksudnya Muhammad bin Ka’ab menerangkan, “Demi Allah! tidak ada orang di bumi mempunyai bintang di langit namun sebenarnya mereka ingin bermain tilik-menilik lalu dihubungkannya dengan bintang di langit”

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:232-234

Informasi Surah Al An 'aam (الانعام)
Surat Al An’aam (binatang ternak:
unta, sapi, biri-biri dan kambing) yang terdiri atas 165 ayat, termasuk golongan surat Makkiyyah, karena hampir seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Mekah dekat sebelum hijrah.

Dinamakan Al An’aam karena di dalamnya disebut kata “An’aam” dalam hubungan dengan adat istiadat kaum musyrikin, yang menurut mereka binatang­ binatang temak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Juga dalam surat ini disebutkan hukum-hukum yang berkenaan dengan binatang ternak itu.

Keimanan:

Bukti-bukti keesaan Allah serta kesempumaan sifat-sifat-Nya
kebenaran kena­bian Nabi Muhammad ﷺ
penyaksian Allah atas kenabian Ibrahim, Ishaq, Ya’ qub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun, Zakaria, Yahya, ‘Isa, Ilyas, Alyasa’, Yunus dan Luth
penegasan tentang adanya risalah dan wahyu serta hari pembalasan dan hari kebangkitan kepalsuan kepercayaan orang-orang musy­rik dan keingkaran mereka terhadap hari kiamat.

Hukum:

Larangan mengikuti adat istiadat yang dibuat-buat oleh kaum Jahiliyah
makanan yang halal dan yang haram
wasiat yang sepuluh dari Al Qur’an
tentang tauhid keadilan dan hukum-hukum
larangan mencaci maki berhala orang musyrik karena mereka akan membalas dengan mencaci maki Allah.

Kisah:

Kisah umat-umat yang menentang rasul-rasul
kisah pengalaman Nabi Muhammad ﷺ dan para nabi pada umumnya
cerita Nabi Ibrahim a.s. membimbing kaum­ nya kepada tauhid.

Lain-lain:

Sikap kepala batu kaum musyrikin
cara seorang nabi memimpin umatnya
bi­dang-bidang kerasulan dan tugas rasul-rasul
tantangan kaum musyrikin untuk melemahkan rasul
kepercayaan orang-orang musyrik terhadap jin, syaitan dan malaikat
beberapa prinsip keagamaan dan kemasyarakatan
nilai hidup duniawi.


Gambar Kutipan Surah Al An ‘aam Ayat 130 *beta

Surah Al An 'aam Ayat 130



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al An 'aam

Surah Al-An'am (bahasa Arab:الانعام, al-An'ām, "Binatang Ternak") adalah surah ke-6 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 165 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah, karena hampir seluruh ayat surah ini diturunkan di Mekkah sebelum hijrah.
Dinamakan Al-An'am (hewan ternak) karena di dalamnya disebut kata An'am dalam hubungan dengan adat-istiadat kaum musyrik, yang menurut mereka binatang-binatang ternak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Dalam surah ini juga dikemukakan hukum berkenaan dengan hewan ternak tersebut.

Dalam surah al-An'am ini, terdapat do'a Iftitah yang disunnahkan untuk membacanya dengan tidak bersuara.
Doa ini dibaca pada saat setelah takbir dan sebelum bacaan surah Al-Fatihah.
Sebagian ayat-ayat yang dibaca adalah ayat 79 dan 163.

Nomor Surah6
Nama SurahAl An 'aam
Arabالانعام
ArtiHewan Ternak
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu55
JuzJuz 3 (ayat 1-91),
juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat165
Jumlah kata3055
Jumlah huruf-
Surah sebelumnyaSurah Al-Ma'idah
Surah selanjutnyaSurah Al-A’raf
4.4
Rating Pembaca: 4.8 (16 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku