Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al An 'aam

Al An ‘aam (Hewan Ternak) surah 6 ayat 128


وَ یَوۡمَ یَحۡشُرُہُمۡ جَمِیۡعًا ۚ یٰمَعۡشَرَ الۡجِنِّ قَدِ اسۡتَکۡثَرۡتُمۡ مِّنَ الۡاِنۡسِ ۚ وَ قَالَ اَوۡلِیٰٓؤُہُمۡ مِّنَ الۡاِنۡسِ رَبَّنَا اسۡتَمۡتَعَ بَعۡضُنَا بِبَعۡضٍ وَّ بَلَغۡنَاۤ اَجَلَنَا الَّذِیۡۤ اَجَّلۡتَ لَنَا ؕ قَالَ النَّارُ مَثۡوٰىکُمۡ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَاۤ اِلَّا مَا شَآءَ اللّٰہُ ؕ اِنَّ رَبَّکَ حَکِیۡمٌ عَلِیۡمٌ
Wayauma yahsyuruhum jamii’an yaa ma’syaral jinni qadiistaktsartum mina-insi waqaala auliyaa’uhum mina-insi rabbanaaastamta’a ba’dhunaa biba’dhin wabalaghnaa ajalanaal-ladzii ajjalta lanaa qaalannaaru matswaakum khaalidiina fiihaa ilaa maa syaa-allahu inna rabbaka hakiimun ‘aliimun;

Dan (ingatlah) hari diwaktu Allah menghimpunkan mereka semuanya (dan Allah berfirman):
“Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia”,
lalu berkatalah kawan-kawan meraka dari golongan manusia:
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebahagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebahagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami”.
Allah berfirman:
“Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)”.
Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.
―QS. 6:128
Topik ▪ Hisab ▪ Setiap makhluk ditanya pada hari penghimpunan ▪ Tugas manusia di muka bumi
6:128, 6 128, 6-128, Al An ‘aam 128, AlAnaam 128, Al Anaam 128, Al Anam 128, AlAnam 128, Al An’am 128
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al An ‘aam (6) : 128. Oleh Kementrian Agama RI

Pada hari kebangkitan nanti, seluruh umat manusia dan jin akan dihimpun semuanya di padang Mahsyar lalu Allah berfirman kepada mereka yang maksudnya mencela perbuatan jin yang telah mempengaruhi manusia dan mengajak mereka kepada kesesatan, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah:

Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah setan.
Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu.
Dan hendaklah kamu menyembah Ku, inilah jalan yang lurus.
Sesungguhnya setan itu telah menyesatkan sebagian besar di antaramu, maka apakah kamu tidak memikirkan?.

(Q.S Yasin: 60, 61, 62)

Semua orang yang mengikuti ajaran jin dan setan itu akan dikumpulkan bersama-sama mereka.
Semua orang yang mukallaf akan dihimpunkan bersama para pengikutnya, baik dalam segi kebenaran atau kejahatan.
Lalu berkatalah orang-orang yang menjadi pengikut jin itu sebagai jawaban mereka kepada Allah Taala: “Ya Tuhan kami, masing-masing di antara kami telah merasakan kenikmatan dari pihak lainnya.
Jin-jin itu mendapatkan kenikmatan karena mereka telah berhasil menyesatkan kami dengan bujukan-bujukan dan mengikuti kehendak hawa nafsunya sebaliknya kamipun telah merasa senang mengikuti mereka itu dan mendengarkan bisikan-bisikannya.
Kami merasa leluasa berkecimpung dalam kelezatan di dunia.

Dalam ayat ini Allah memberikan penjelasan, bahwa setiap manusia senantiasa didampingi setan yang berusaha untuk membujuknya dengan bisikan yang mengajaknya kepada kefasikan dan kedurhakaan kepada Allah, sehingga ia tidak menyadari, bahwa hal itu adalah tipu muslihat dari pada setan tersebut.
Makhluk halus itu selalu berusaha untuk menyesatkan orang-orang kepada lembah kebatilan dan kejahatan, sebagaimana kuman-kuman bakteri yang selalu berusaha untuk menimbulkan bermacam-macam penyakit dalam tubuh manusia atau hewan.
Kuman-kuman bakteri itu mengetahui jalannya untuk memasuki tubuh manusia atau binatang dari lubang-lubang yang halus.
Demikian pula setanpun mengetahui jalannya untuk memasuki hati manusia, sehingga manusia jatuh ke lembah kesesatan tanpa disadarinya.

Apabila ada pengaruh kuman-kuman bakteri itu di dalam tubuh manusia, maka hal itu mudah dimengerti karena roh-roh manusia pun yang lebih halus sifatnya dari tubuh kasarnya, dapat dimasuki pengaruh-pengaruh makhluk makhluk halus, yaitu jin dan setan, yang menjerumuskan kepada penyakit penyakit rohani.

Orang-orang yang menjadi pengikut jin dan setan itu berkata, dengan penuh kesedihan dan penyesalan: “Ya Tuhan, kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami, setelah kami menerima kelezatan karena mengikuti ajakan jin dan setan itu dan kami telah mengakui dosa-dosa kami, maka kami berserah diri kepada Mu untuk menerima hukuman Mu yang seadil-adilnya.

Yang mereka maksudkan dengan ucapannya itu tidak lain hanyalah memperlihatkan penyesalan dan keterlaluan mereka dalam mengikuti hawa nafsu dan sekarang mereka berserah diri pada Allah Taala Yang mengetahui segala perbuatan mereka.
Dalam ayat ini tidak disebutkan bagaimana jawaban jin dan setan yang membawa mereka kepada kesesatan itu, tetapi dijelaskan dalam firman Allah pada ayat yang lain:

Nanti di hari kiamat sebagian kamu mengingkari sebagian yang lain dan sebagian kamu melaknati sebagian yang lain, dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sekali-kali tidak ada bagimu para penolongpun.
(Q.S Al Ankabut: 25)

Dan tersebut pula dalam surah Al Baqarah, bagaimana mereka masing-masing berlepas diri dari kawan-kawannya.
Sebagai jawaban atas kepatuhan mereka itu Allah berfirman: Neraka itulah tempat kamu berdiam sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali Tuhan menghendaki yang lainnya.
Segala sesuatu berada di bawah kehendak dan pilihan Nya, dan tidak ada yang mengetahui kehendak Nya itu melainkan Dia sendiri dan Dialah Tuhan Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

Ibnu `Abbas memahami dari ayat di atas, bahwa siapapun tidak patut turut campur dalam menentukan nasib seorang hamba Allah, apakah dia akan dimasukkan ke surga atau ke neraka.
Semuanya berada sepenuhnya di bawah kekuasaan dan kehendak Allah subhanahu wa ta’ala”.

Al An 'aam (6) ayat 128 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al An 'aam (6) ayat 128 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al An 'aam (6) ayat 128 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Kalau orang-orang yang menempuh jalan lurus itu akan mendapat tempat aman dengan kekuasaan Allah, maka orang-orang yang menempuh jalan setan akan mendapat balasan juga atas pelanggaran itu pada saat semua manusia dikumpulkan di hari kiamat.
Saat itu, Allah berkata kepada jin dan manusia yang berbuat dosa, “Wahai sekumpulan jin, kalian telah banyak menggoda manusia, hingga banyak yang mengikuti kalian.” Manusia-manusia yang mengikuti jin itu berkata, “Wahai Pencipta dan Penguasa kami, masing-masing kami telah memanfaatkan yang lain dan kami bersenang-senang dengan berbagai kenikmatan dunia.
Kini kami telah sampai kepada ajal yang telah Engkau tentukan.” Allah berkata lagi, “Tempat kalian semua adalah neraka dan kalian akan kekal abadi di dalamnya.
Kecuali orang-orang yang dikehendaki Allah untuk diselamatkan, yaitu orang-orang yang tidak mengingkari pesan-pesan Allah.
Sungguh, perbuatan Allah selamanya selalu sejalan dengan kebijaksanaan dan pengetahuan-Nya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan) ingatlah (hari di waktu Kami menghimpun mereka semuanya) dengan memakai nun dan ya, artinya Allahlah yang menghimpun semua makhluk kemudian diserukan kepada mereka (“Hai golongan jin/setan! Sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia,”) dengan cara kamu menyesatkan mereka (lalu berkatalah kawan-kawan mereka) yaitu mereka yang mau menaatinya (dari kalangan manusia, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebagian yang lainnya) manusia telah mengambil manfaat melalui jin yang menghiasi keinginan-keinginan nafsu syahwat mereka, dan demikian pula jin pun mengambil manfaat dari manusia melalui ketaatan manusia kepada mereka (dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami”) yakni hari kiamat, hal ini adalah merupakan ungkapan kekecewaan mereka (Allah berfirman) Maha Tinggi Allah, kepada mereka melalui lisan para malaikat-Nya (“Neraka itulah tempat kamu) tempat diam kamu (sedangkan kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki yang lain.”) batas-batas waktu tertentu di mana mereka dapat dikeluarkan dari neraka, untuk meminum hamim/keringat ahli neraka yang berada di luar neraka, demikianlah seperti apa yang dikatakan dalam firman-Nya, “Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka benar-benar ke neraka Jahim,” surah Ash-Shaffaat.
Dan telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwasanya ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang yang telah diketahui Allah bahwa mereka orang-orang yang beriman.
Dengan demikian berarti Lafal maa bermakna man.
(Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana) di dalam mengatur ciptaan-Nya (lagi Maha Mengetahui) tentang makhluk-makhluk-Nya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Dan (ingatlah) wahai Rasul hari ketika Allah mengumpulkan orang-orang kafir dan kawan-kawan mereka dari golongan jin, lalu Dia berfirman :
Wahai segenap kaum jin, kalian telah menyesatkan banyak manusia.
Teman-teman mereka dari golongan kafir manusia menjawab :
Wahai Rabb Kami, kami telah saling mengambil manfaat satu sama lain dan kini kami telah sampai pada ajal kami yang telah Engkau tentukan, dengan berakhirnya kehidupan kami di dunia.
Allah berfirman kepada mereka :
Tempat kembali kalian adalah neraka.
Artinya, tempat tinggal kalian adalah neraka dan kalian kekal di dalamnya, kecuali orang yang Allah kehendaki tidak kekal di dalamnya dari kalangan ahli tauhid yang berbuat dosa.
Sesungguhnya Rabbmu Maha Bijaksana dalam mengatur dan mencipta lagi Maha Mengetahui semua urusan hamba-hamba-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpun mereka semuanya.

Artinya, dan ingatlah hai Muhammad, ceritakanlah kepada mereka dan peringatkanlah mereka dengan suatu hari di waktu Allah menghimpun mereka semua.
Yang dimaksud dengan ‘mereka’ ialah jin dan teman-temannya dari kalangan manusia, yaitu mereka yang menyembahnya ketika di dunia, berlindung kepadanya serta taat kepadanya, dan sebagian dari mereka membisikkan kepada sebagian yang lain kata-kata yang indah untuk menipu.

Hai golongan jin (setan), sesungguhnya kalian telah banyak (menyesatkan) manusia.

Yakni Allah berfirman, “Hai golongan jin.” Dalam ayat ini konteks pembicaraan menunjukkan ada kalimat yang tidak disebutkan.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

sesungguhnya kalian telah banyak (menyesatkan) manusia.

Bahwa kalian telah banyak menipu dan menyesatkan manusia.
Perihalnya sama dengan yang dikatakan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

“Bukankah Aku telah memerintahkan kepada kalian, hai Bani Adam, supaya kalian tidak menyembah setan?
Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian.”Dan hendaklah kalian menyembah-Ku, inilah jalan yang lurus.
Sesungguhnya setan itu telah menyesatkan sebagian besar di antara kalian.
Maka apakah kalian tidak memikirkan?
(Yaa Siin:60-62)

Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Hai golongan jin, sesungguhnya kalian telah banyak (menyesatkan) manusia.
(Al An’am:128) Maksudnya, kalian telah banyak menyesatkan sebagian besar dari mereka.

Hal yang sama dikatakan pula oleh Mujahid, Al-Hasan, dan Qatadah.

Lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan manusia, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebagian dari kami telah dapat kesenangan dari sebagian (yang lain).”

Yakni teman-teman jin dari kalangan manusia menjawab kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
dengan perkataan tersebut.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abul Asyhab (yaitu Hauzah ibnu Khalifah), telah menceritakan kepada kami Auf, dari Al-Hasan sehubungan dengan ayat ini, bahwa makna yang dimaksud ialah “kalian telah memperbanyak penghuni neraka pada hari kiamat”.
Maka teman-teman mereka dari kalangan manusia menjawab, “Ya Tuhan kami, sebagian dari kami telah dapat kesenangan dari sebagian yang lain.” Al-Hasan mengatakan, “Tidak sekali-kali sebagian dari mereka mendapat kesenangan dari sebagian yang lain, melainkan karena jin memerintahkan kepada teman-temannya dari kalangan manusia, lalu manusia-manusia yang diperintahkannya mengamalkannya.”

Muhammad ibnu Ka’b mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebagian dari kami telah dapat kesenangan dari sebagian (yang lain).
(Al An’am:128) Makna yang dimaksud ialah teman-teman jin sewaktu di dunia.

Ibnu Juraij mengatakan, dahulu di masa Jahiliah bila seorang lelaki singgah di suatu tempat, ia mengatakan, “Saya berlindung kepada penghuni lembah ini.” Yang demikian itulah kesenangan mereka, lalu hal ini mereka jadikan alasan di hari kiamat kelak.
Adapun mengenai kesenangan yang diperoleh jin dari manusia ialah menurut kisahnya disebutkan bahwa hal tersebut merupakan penghormatan yang diperoleh jin dari manusia di saat manusia meminta tolong kepada mereka.
Lalu para jin mengatakan, “Kami telah menguasai manusia dan jin.”

…dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagikami.

Menurut As-Saddi, makna yang dimaksud ialah ajal kematian.

Allah berfirman, “Neraka itulah tempat diam kalian!”

Yakni tempat menetap dan tempat tinggal kalian, mereka, serta teman-teman kalian adalah neraka.

…sedangkan kalian kekal di dalamnya.

Maksudnya, tinggal di dalamnya sebagai penghuni tetap untuk selama-lamanya, kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah.

Menurut sebagian ulama tafsir, istisna atau pengecualian ini pengertiannya mengisyaratkan kepada alam barzakh.
Sedangkan menurut sebagian yang lain, hal ini mengisyaratkan kepada lamanya masa mereka tinggal di dunia.
Menurut pendapat yang lainnya lagi adalah selain itu.
Banyak pendapat mengenai masalah ini yang kelak akan diterangkan pada tafsir firman Allah subhanahu wa ta’ala.
dalam surat Hud, yaitu:

mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain).
Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.
(Huud:107)

Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim di dalam tafsir ayat ini meriwayatkan melalui jalur Abdullah ibnu Saleh (Juru tulis Lais) bahwa telah menceritakan kepadaku Mu’awiyah ibnu Saleh, dari Ali ibnu Abu Hatim ibnu Abu Talhah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Neraka itulah tempat diam kalian, sedangkan kalian kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain).
Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.
(Al An’am:128) Sesungguhnya ayat ini merupakan suatu ayat yang intinya bermakna bahwa tidak layak bagi seorang pun memutuskan terhadap Allah sehubungan dengan masalah makhluk-Nya, tidak pula mengenai penempatan mereka ke dalam surga atau ke dalam neraka oleh-Nya.

Kata Pilihan Dalam Surah Al An 'aam (6) Ayat 128

AWLIYAA
أَوْلِيَآء

Lafaz ini adalah jamak dari al waliy yang mengandung makna setiap yang menguruskan urusan, penolong, yang dicintai, sahabat, jiran, pengikut, penolong, pembebas hamba, yang taat. Ungkapan Allah waliyyuka bermakna Allah menjaga dan mengawasi kamu.

Perkataan Al mu’min waliy Allah, memiliki maksud “yang taat kepada Nya.”

Waliyyal ‘ahd artinya putera mahkota,

Waliyy al mar’ah artinya yang mewakilkan ikatan pernikahan ke atasnya dan tidak batal akad itu sekiranya ketiadaannya,

Waliyy al yatim bermaksud pengasuh anak yatim,

Awliyy al amr ialah para penguasa.

Al waliyy juga bermakna lawan kepada musuh dan setiap orang yang mendekati kamu.

Lafaz awliyaa’ disebut 42 kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Ali Imran (3), ayat 28, 175;
-An Nisaa (4), ayat 76, 89, 139, 144;
-Al Maa’idah (5), ayat 51, 51, 57, 81;
-Al An’aam (6), ayat 121, 128;
-Al A’raaf (7), ayat 3, 27, 30;
-Al Anfaal (8), ayat: 34, 34, 72, 73;
-At Taubah (9), ayat 23, 71;
-Yunus (10), ayat 62;
-Hud (11), ayat 20, 113;
-Ar Ra’d (13), ayat 16;
-Al Kahfi (18), ayat 50, 102;
-Al Furqaan (25), ayat 18;
-Al Ankaabut (29), ayat 41;
-Al Ahzab (33), ayat 6;
-Az Zumar (39), ayat 3;
-Fushshilat (41), ayat 31;
-Asy Syura (42), ayat 6, 9, 46;;
-Al Jaatsiyah (45), ayat 10, 19;
-Al Ahqaf (46), ayat 32;
-Al Mumtahanah (60), ayat 1;
-Al Jumu’ah (62), ayat 6.

Di dalam Al Qur’an, lafaz awliyaa’ dapat dikategorikan kepada empat golongan berdasarkan sandaran dan hubungannya dengan kalimat lain.

Pertama, dihubungkan kepada Allah seperti dalam surah Yunus, ayat 62.

Kedua, dihubungkan kepada orang kafir, musyrik dan Yahudi seperti ayat 28 surah Ali Imran dan surah Al Maa’idah, ayat 57;

Ketiga, disandarkan kepada syaitan seperti dalam surah An Nisaa, ayat 76.

Keempat, disandarkan kepada Mukmin seperti dalam surah Al Anfaal, ayat 72.

Diriwayatkan oleh Ad Dahhak dari Ibn Abbas, ayat 28 surah Ali Imran turun kepada Ubadah bin Shamit Al Ansari. Beliau adalah sahabat yang turut serta dalam Perang Badar. Beliau memiliki perjanjian persahabatan dengan orang Yahudi. Ketika Nabi Muhammad keluar pada Perang Ahzab, Ubadah berkata,
“Wahai Rasulullah! Sesungguhnya bersamaku 500 lelaki dari Yahudi dan aku melihat mereka mau keluar bersamaku dan membantu menghadapi musuh, lalu Allah menurunkan ayat ini.

Dalam ayat 72 surah Al Anfaal, Asy Syawkani berkata,
“Makna awliyaa’ di sini ialah sesama muslim menjadi saudara atau sahabat yang saling membantu dan menolong”

Dalam Tafsir Al Jalalain, lafaz awliyaa’ dalam surah An Nisaa, ayat 76, bermakna penolong-penolong agamanya (yang batil) yaitu orang kafir.

Ibn Katsir berkata,
“Sesungguhnya wali-­wali Allah ialah orang yang beriman dan bertakwa, setiap orang yang bertakwa adalah wali bagi Allah.”

Ibn Mas’ud dan Ibn ‘Abbas keduanya berkata,
awliyaa’ Allah ialah orang yang apabila dia memandang pasti ingat Allah.

Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah berkata,
“Sesungguhnya di kalangan hamba Allah, ada yang diinginkan seperti mereka oleh para nabi dan syuhada. Dikatakan, “Siapa mereka, wahai Rasulullah? Kami berharap supaya kami dapat mencintai mereka,” Rasulullah berkata,
“Mereka ialah golongan yang saling mencintai karena Allah, jauh dari harta keduniaan dan juga nasab, wajah-wajah mereka bercahaya di atas mimbar-mimbar dari cahaya, mereka tidak takut ketika manusia takut dan tidak bersedih apabila manusia bersedih ” Lalu beliau membaca ayat di atas.”

Kesimpulannya, maksud umum lafaz awliya’ ialah penolong, sahabat dan pengikut.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:87-88

Informasi Surah Al An 'aam (الانعام)
Surat Al An’aam (binatang ternak:
unta, sapi, biri-biri dan kambing) yang terdiri atas 165 ayat, termasuk golongan surat Makkiyyah, karena hampir seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Mekah dekat sebelum hijrah.

Dinamakan Al An’aam karena di dalamnya disebut kata “An’aam” dalam hubungan dengan adat istiadat kaum musyrikin, yang menurut mereka binatang­ binatang temak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Juga dalam surat ini disebutkan hukum-hukum yang berkenaan dengan binatang ternak itu.

Keimanan:

Bukti-bukti keesaan Allah serta kesempumaan sifat-sifat-Nya
kebenaran kena­bian Nabi Muhammad ﷺ
penyaksian Allah atas kenabian Ibrahim, Ishaq, Ya’ qub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun, Zakaria, Yahya, ‘Isa, Ilyas, Alyasa’, Yunus dan Luth
penegasan tentang adanya risalah dan wahyu serta hari pembalasan dan hari kebangkitan kepalsuan kepercayaan orang-orang musy­rik dan keingkaran mereka terhadap hari kiamat.

Hukum:

Larangan mengikuti adat istiadat yang dibuat-buat oleh kaum Jahiliyah
makanan yang halal dan yang haram
wasiat yang sepuluh dari Al Qur’an
tentang tauhid keadilan dan hukum-hukum
larangan mencaci maki berhala orang musyrik karena mereka akan membalas dengan mencaci maki Allah.

Kisah:

Kisah umat-umat yang menentang rasul-rasul
kisah pengalaman Nabi Muhammad ﷺ dan para nabi pada umumnya
cerita Nabi Ibrahim a.s. membimbing kaum­ nya kepada tauhid.

Lain-lain:

Sikap kepala batu kaum musyrikin
cara seorang nabi memimpin umatnya
bi­dang-bidang kerasulan dan tugas rasul-rasul
tantangan kaum musyrikin untuk melemahkan rasul
kepercayaan orang-orang musyrik terhadap jin, syaitan dan malaikat
beberapa prinsip keagamaan dan kemasyarakatan
nilai hidup duniawi.


Gambar Kutipan Surah Al An ‘aam Ayat 128 *beta

Surah Al An 'aam Ayat 128



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al An 'aam

Surah Al-An'am (bahasa Arab:الانعام, al-An'ām, "Binatang Ternak") adalah surah ke-6 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 165 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah, karena hampir seluruh ayat surah ini diturunkan di Mekkah sebelum hijrah.
Dinamakan Al-An'am (hewan ternak) karena di dalamnya disebut kata An'am dalam hubungan dengan adat-istiadat kaum musyrik, yang menurut mereka binatang-binatang ternak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Dalam surah ini juga dikemukakan hukum berkenaan dengan hewan ternak tersebut.

Dalam surah al-An'am ini, terdapat do'a Iftitah yang disunnahkan untuk membacanya dengan tidak bersuara.
Doa ini dibaca pada saat setelah takbir dan sebelum bacaan surah Al-Fatihah.
Sebagian ayat-ayat yang dibaca adalah ayat 79 dan 163.

Nomor Surah6
Nama SurahAl An 'aam
Arabالانعام
ArtiHewan Ternak
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu55
JuzJuz 3 (ayat 1-91),
juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat165
Jumlah kata3055
Jumlah huruf-
Surah sebelumnyaSurah Al-Ma'idah
Surah selanjutnyaSurah Al-A’raf
4.8
Rating Pembaca: 4.6 (14 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku