Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al An 'aam

Al An ‘aam (Hewan Ternak) surah 6 ayat 123


وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا فِیۡ کُلِّ قَرۡیَۃٍ اَکٰبِرَ مُجۡرِمِیۡہَا لِیَمۡکُرُوۡا فِیۡہَا ؕ وَ مَا یَمۡکُرُوۡنَ اِلَّا بِاَنۡفُسِہِمۡ وَ مَا یَشۡعُرُوۡنَ
Wakadzalika ja’alnaa fii kulli qaryatin akaabira mujrimiihaa liyamkuruu fiihaa wamaa yamkuruuna ilaa bianfusihim wamaa yasy’uruun(a);

Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu.
Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya.
―QS. 6:123
Topik ▪ Maksiat dan dosa ▪ Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat ▪ Keadilan Allah dalam menghakimi
6:123, 6 123, 6-123, Al An ‘aam 123, AlAnaam 123, Al Anaam 123, Al Anam 123, AlAnam 123, Al An’am 123
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al An ‘aam (6) : 123. Oleh Kementrian Agama RI

Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala telah menyesatkan sebagian penduduk Mekah karena bujukan pembesar-pembesarnya yang mengadakan bermacam-macam pelanggaran dan tipu daya, maka demikian pula Allah mengadakan di tiap-tiap negeri dan kota-kota besar beberapa pembesar-pembesar yang jahat yang mengadakan tipu daya.
Telah menjadi Sunnatullah di dalam masyarakat bahwa bila mana Allah mengutus seorang Rasul di negeri itu untuk memberi bimbingan kepada rakyatnya, maka selalu ada pembesar-pembesar yang memusuhi Rasul itu serta pengikut-pengikutnya yang bermaksud untuk mengadakan perbaikan, sering muncul di beberapa negara dan kota besar, beberapa pemimpin yang sangat ingin merebut kekuasaan dan menimbun kekayaan dengan berbagai macam tipu daya.
Orang-orang bawahan, mereka merasa bingung dalam melaksanakan tugasnya.
Mereka tidak sanggup mengikuti pemimpin-pemimpinnya yang korup dan menyeleweng, tetapi bilamana hidup menyendiri, merekapun tidak mendapat pembagian rezeki.
Dalam suasana muram seperti itu, diperlukan adanya kebijaksanaan, keimanan yang kuat, mental yang tinggi, sehingga tidak mudah dibawa-bawa arus gelombang kesesatan yang menyebabkan kemurkaan Allah.

Yang dimaksud dengan pembesar-pembesar durhaka itu ialah mereka yang menentang seruan agama untuk perbaikan akhlak, dan memusuhi Rasul-rasul serta pengikut-pengikutnya.
Demikianlah keadaan di negeri Mekah ketika diutusnya Nabi Muhammad ﷺ dan keadaan seperti ini akan berulang pula di negeri-negeri lain.
Para pembesar yang korup itu memusuhi Rasul-rasul dan pengikut-pengikutnya yang mengembangkan ajaran agama.
Pada hakikatnya mereka itu adalah penipu belaka, menipu dirinya sendiri, akan tetapi mereka tidak sadar.

Telah menjadi Sunnatullah, bahwa sesuatu kejahatan tentu menimbulkan yang buruk.
Tiap-tiap tipu muslihat yang direncanakan mereka terhadap hamba-hamba Allah yang Saleh akhirnya mesti menimpa diri mereka sendiri dan kesudahan yang baik pasti berada di tangan kaum Muslimin.
Banyak contoh-contoh yang diperlihatkan oleh sejarah bahwa umat-umat yang menentang Rasul-rasul Nya dan pengikut-pengikutnya akhirnya dihancurkan oleh Allah Taala dengan bermacam-macam azab, seperti bencana alam, dan lain-lain.
Mereka mengadakan tipu daya untuk menentang perbaikan akhlak dan moral agama, karena terdorong oleh keinginan untuk menduduki jabatan jabatan yang tinggi dan menuruti kepuasan hawa nafsunya.
Mereka tidak sadar bahwa akibat perbuatannya yang buruk itu akan menimpa dirinya sendiri, karena mereka tidak memahami Sunnatullah tersebut.

Pada ayat-ayat ini Allah memberikan ancaman kepada semua pembesar-pembesar yang durhaka itu, dan sekaligus pula menyuruh sadar pada Nabi Muhammad ﷺ dan pengikut-pengikutnya dalam rangka melaksanakan tugasnya yang suci, supaya berjalan terus tanpa menghiraukan godaan dan rintangan yang timbul dari manapun juga.

Al An 'aam (6) ayat 123 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al An 'aam (6) ayat 123 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al An 'aam (6) ayat 123 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Jangan heran, wahai Muhammad, kalau engkau melihat pembesar pelaku kejahatan di Makkah menyusun siasat makar.
Sebab, setiap kota besar pun demikian juga.
Para pembesar pelaku kejahatan melakukan siasat makar.
Akibat perbuatan itu akan kembali kepada mereka sendiri dan mereka tidak menyadari itu semua.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan demikianlah) sebagaimana yang telah Kami jadikan orang-orang fasik penduduk Mekah terdiri dari para pembesarnya (Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu) dengan cara menghalang-halangi jalan keimanan (Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri) sebab akibat perbuatannya menimpa diri mereka sendiri (sedangkan mereka tidak menyadarinya) tentang hal tersebut.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Apa yang terjadi di antara pemuka orang-orang kafir Makkah, yaitu tindakan mereka menghalang-halangi (manusia) dari agama Allah, maka seperti itu pula Kami jadikan di setiap negeri penjahat-penjahat dari pemuka-pemuka mereka agar mereka membuat tipu daya dengan menghalang-halangi (manusia) dari agama Allah.
Padahal mereka tidak melakukan tipu daya, kecuali kepada diri mereka sendiri namun mereka tidak menyadarinya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman, “Sebagaimana Kami jadikan di dalam negerimu, hai Muhammad, pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar yang jahat serta orang-orang yang menyeru kepada kekafiran dan meng­halang-halangi jalan Allah, mereka semua menentang dan memusuhimu.
Sesungguhnya di masa lalu di kalangan para rasul sebelum kamu, mereka mendapat cobaan yang sama.
Akan tetapi, akibat yang terpuji pada akhirnya bagi para rasul.” Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa.
(Al Furqaan:31).
hingga akhir ayat.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.
lainnya mengatakan:

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu.
(Al Israa’:16), hingga akhir ayat.

Menurut suatu pendapat, makna ayat ialah Kami perintahkan kepada mereka untuk taat, tetapi mereka menentang, akhirnya Kami binasakan mereka.
Menurut pendapat lain, makna yang dimaksud ialah Kami perintahkan mereka, yakni perintah yang berdasarkan takdir.
Seperti yang disebutkan dalam ayat ini melalui firman-Nya:

…agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu.

Firman Allah :

…pembesar-pembesar yang jahat agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu.

Ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: pembesar-pembesar yang jahat agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu.
(Al An’am:123) Yakni Kami jadikan orang-orang jahat mereka berkuasa, lalu mereka melakukan kedurhakaan di dalamnya.
Apabila mereka melakukan hal tersebut, maka kami binasakan mereka dengan azab.

Mujahid dan Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: pembesar-pembesar yang jahat.
Maksudnya, para pembesar dan para pemimpinnya.

Menurut kami, hal ini sama dengan apa yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
dalam firman-Nya:

Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatan pun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata, “Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kalian diutus untuk menyampaikannya.” Dan mereka berkata, “Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (daripada kalian) dan kami sekali-kali tidak akan diazab.” (Saba”: 34-35)

Dan demikianlah Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata, “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak mereka.” (Az Zukhruf:23)

Yang dimaksud dengan istilah makar atau tipu daya di sini ialah seruan mereka yang mengajak kepada kesesatan dengan melalui perkataan-perkataan yang indah-indah dan perbuatan-perbuatan yang menggiurkan.
Perihalnya sama dengan pengertian yang diungkapkan dalam firman Allah yang menceritakan perihal kaum Nabi Nuh, yaitu:

Dan mereka melakukan tipu daya yang amat besar.
(Nuh:22)

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala.
yang mengatakan:

Dan (alangkah hebatnya) kalau kamu lihat ketika orang-orang yang zalim itu dihadapkan kepada Tuhannya, sebagian dari mereka menghadapkan perkataan kepada sebagian yang lain, orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, “Kalau tidaklah karena kalian, tentulah kami menjadi orang-orang yang beriman.” Orang-orang yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah, “Kamikah yang telah menghalangi kalian dari petunjuk sesudah petunjuk itu datang kepada kalian?
(Tidak), sebenarnya kalian sendirilah orang-orang yang berdosa.” Dan orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri,” (Tidak) sebenarnya tipu daya (kalian) di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami), ketika kalian menyeru kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya.”(Saba’:31-33)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar.
telah menceritakan kepada kami Sufyan yang mengatakan bahwa setiap makar di dalam Al-Qur’an artinya perbuatan.

Firman Allah :

Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedangkan mereka tidak menyadarinya.

Yakni hasil tipu daya mereka yang demikian dan penyesatan terhadap orang-orang yang mereka sesatkan tidaklah menimpa kepada orang lain, melainkan hanya kepada diri mereka sendiri.
Perihalnya sama dengan yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
dalam firman-Nya:

Dan sesungguhnya mereka akan memikul beban (dosa) mereka, dan beban-beban (dosa yang lain) di samping beban mereka sendiri.
(Al-‘Ankabut:13)

dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan).
Ingatlah, amat buruklah apa (dosa) yang mereka pikul itu.
(An Nahl:25)

Informasi Surah Al An 'aam (الانعام)
Surat Al An’aam (binatang ternak:
unta, sapi, biri-biri dan kambing) yang terdiri atas 165 ayat, termasuk golongan surat Makkiyyah, karena hampir seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Mekah dekat sebelum hijrah.

Dinamakan Al An’aam karena di dalamnya disebut kata “An’aam” dalam hubungan dengan adat istiadat kaum musyrikin, yang menurut mereka binatang­ binatang temak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Juga dalam surat ini disebutkan hukum-hukum yang berkenaan dengan binatang ternak itu.

Keimanan:

Bukti-bukti keesaan Allah serta kesempumaan sifat-sifat-Nya
kebenaran kena­bian Nabi Muhammad ﷺ
penyaksian Allah atas kenabian Ibrahim, Ishaq, Ya’ qub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun, Zakaria, Yahya, ‘Isa, Ilyas, Alyasa’, Yunus dan Luth
penegasan tentang adanya risalah dan wahyu serta hari pembalasan dan hari kebangkitan kepalsuan kepercayaan orang-orang musy­rik dan keingkaran mereka terhadap hari kiamat.

Hukum:

Larangan mengikuti adat istiadat yang dibuat-buat oleh kaum Jahiliyah
makanan yang halal dan yang haram
wasiat yang sepuluh dari Al Qur’an
tentang tauhid keadilan dan hukum-hukum
larangan mencaci maki berhala orang musyrik karena mereka akan membalas dengan mencaci maki Allah.

Kisah:

Kisah umat-umat yang menentang rasul-rasul
kisah pengalaman Nabi Muhammad ﷺ dan para nabi pada umumnya
cerita Nabi Ibrahim a.s. membimbing kaum­ nya kepada tauhid.

Lain-lain:

Sikap kepala batu kaum musyrikin
cara seorang nabi memimpin umatnya
bi­dang-bidang kerasulan dan tugas rasul-rasul
tantangan kaum musyrikin untuk melemahkan rasul
kepercayaan orang-orang musyrik terhadap jin, syaitan dan malaikat
beberapa prinsip keagamaan dan kemasyarakatan
nilai hidup duniawi.


Gambar Kutipan Surah Al An ‘aam Ayat 123 *beta

Surah Al An 'aam Ayat 123



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al An 'aam

Surah Al-An'am (bahasa Arab:الانعام, al-An'ām, "Binatang Ternak") adalah surah ke-6 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 165 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah, karena hampir seluruh ayat surah ini diturunkan di Mekkah sebelum hijrah.
Dinamakan Al-An'am (hewan ternak) karena di dalamnya disebut kata An'am dalam hubungan dengan adat-istiadat kaum musyrik, yang menurut mereka binatang-binatang ternak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Dalam surah ini juga dikemukakan hukum berkenaan dengan hewan ternak tersebut.

Dalam surah al-An'am ini, terdapat do'a Iftitah yang disunnahkan untuk membacanya dengan tidak bersuara.
Doa ini dibaca pada saat setelah takbir dan sebelum bacaan surah Al-Fatihah.
Sebagian ayat-ayat yang dibaca adalah ayat 79 dan 163.

Nomor Surah6
Nama SurahAl An 'aam
Arabالانعام
ArtiHewan Ternak
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu55
JuzJuz 3 (ayat 1-91),
juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat165
Jumlah kata3055
Jumlah huruf-
Surah sebelumnyaSurah Al-Ma'idah
Surah selanjutnyaSurah Al-A’raf
4.9
Rating Pembaca: 4.9 (9 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku