Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al An 'aam

Al An ‘aam (Hewan Ternak) surah 6 ayat 122


اَوَ مَنۡ کَانَ مَیۡتًا فَاَحۡیَیۡنٰہُ وَ جَعَلۡنَا لَہٗ نُوۡرًا یَّمۡشِیۡ بِہٖ فِی النَّاسِ کَمَنۡ مَّثَلُہٗ فِی الظُّلُمٰتِ لَیۡسَ بِخَارِجٍ مِّنۡہَا ؕ کَذٰلِکَ زُیِّنَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ مَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ
Awaman kaana maitan fa-ahyainaahu waja’alnaa lahu nuuran yamsyii bihi fiinnaasi kaman matsaluhu fiizh-zhulumaati laisa bikhaarijin minhaa kadzalika zui-yina lilkaafiriina maa kaanuu ya’maluun(a);

Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya?
Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.
―QS. 6:122
Topik ▪ Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia
6:122, 6 122, 6-122, Al An ‘aam 122, AlAnaam 122, Al Anaam 122, Al Anam 122, AlAnam 122, Al An’am 122
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al An ‘aam (6) : 122. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam rangka membedakan antara kaum Muslimin dengan orang orang kafir, Allah subhanahu wa ta’ala mengemukakan dalam bentuk pertanyaan, yaitu: Apakah orang-orang yang mati hatinya karena kekafiran dan kebodohan kemudian Kami hidupkan dia dengan keimanan dan Kami berikan pula kepadanya cahaya, yaitu Alquran yang terang benderang sehingga ia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat, sama halnya dengan keadaan orang yang berada dalam gelap gulita yang berlapis-lapis, yaitu kegelapan malam, dan kegelapan hujan?.

Ia tidak dapat keluar lagi dari pada kegelapan itu yang meliputi dirinya dengan ketakutan, kelemahan dan kebingungan.
Maka demikian pula seorang yang berada dalam kebodohan yang gelap, taklid buta dan kerusakan pikiran yang tidak dapat keluar lagi dari hal yang demikian itu.
Ia sendiri merasa takut keluar dari gua kesesatannya dan merasa tidak perlu untuk keluar kepada petunjuk yang terang benderang karena matanya merasa sakit kena cahaya petunjuk itu.
Seperti sakitnya seekor kelelawar yang biasa hidup dalam kegelapan, karena melihat sinar matahari.

Maka patutlah bagi setiap muslim untuk selalu hidup disertai ilmu pengetahuan.
Ia wajib mengetahui kebenaran agamanya dengan penuh keyakinan disertai dengan amal-amal kebaikan, sehingga menjadi suri teladan bagi orang-orang di sekitarnya.

Dan demikian, ia akan menjadi mercusuar yang mencerminkan keyakinan yang kuat dan hujah yang nyata, memperlihatkan keutamaan agamanya yang melebihi agama-agama yang lain.
Sebagaimana Allah telah menjadikan orang beriman memandang baik kepada cahaya petunjuk dan agama yang telah menghidupkan hatinya, maka demikian pula Allah subhanahu wa ta’ala telah menjadikan orang-orang kafir memandang baik apa saja yang mereka kerjakan, seperti berbuat dosa dan pelanggaran memusuhi Rasul, menyembelih kurban untuk selain Allah dan mengharamkan apa yang tidak diharamkan oleh Allah dan menghalalkan apa yang diharamkan Nya dan sebagainya, karena semuanya itu mereka lakukan disebabkan tipu daya dari pada setan-setan yang membisikkan godaan-godaan ke dalam hati mereka.

Al An 'aam (6) ayat 122 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al An 'aam (6) ayat 122 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al An 'aam (6) ayat 122 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Dengan keimanan yang ada pada kalian, kalian tidaklah sama dengan orang-orang musyrik.
Orang yang dahulu sesat layaknya orang mati, lalu hatinya diberi cahaya petunjuk bagai kehidupan, diberi cahaya keimanan dan hujjah yang jelas, hingga berjalan di bawah cahaya itu, tidaklah sama dengan orang yang hidup dalam kegelapan yang bertumpuk.
Seperti Allah membuat indah keimanan bagi orang-orang yang beriman, setan pun membuat indah kemusyrikan bagi orang-orang yang zalim dan ingkar.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan apakah yang sudah mati) oleh sebab kekafirannya (kemudian dia Kami hidupkan) dengan hidayah (dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia) dia dapat pula melihat perkara yang benar berkat cahaya itu dan dapat membedakannya daripada yang lainnya, yang dimaksud adalah keimanan (serupa dengan orang yang keadaannya) Lafal mitsl adalah tambahan, yakni sebagaimana seseorang (yang keadaannya dalam gelap-gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya) dimaksud orang kafir, sebagai jawabannya ialah tentu saja tidak.
(Demikianlah) sebagaimana orang-orang mukmin dihiasi dengan keimanan (orang-orang kafir pun dihiasi pula dengan apa yang telah mereka kerjakan) berupa kekafiran dan maksiat-maksiat.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Dan apakah orang yang sudah binasa dan mati hatinya, ia berada dalam kesesatan lalu Kami hidupkan hatinya dengan keimanan, Kami beri petunjuk kepadanya untuk mengikuti para Rasul sehingga dia hidup dalam terangnya cahaya hidayah itu seperti seseorang yang berada di antara orang-orang yang bodoh, (mengumbar) hawa nafsu dan kesesatan yang beragam (bentuknya), mereka tidak mendapat petunjuk dan penolong untuk keluar dari keadaan seperti itu?
(Tentu) keduanya tidak akan sama.
Wahai orang-orang yang beriman, demikianlah Kami hinakan orang Kafir yang membantah kalian.
Kami jadikan kejahatan-kejahatannya tampak indah sehingga dia melihat semua yang dilakukannya tampak baik.
Demikian pula Kami jadikan indah perbuatan jelek orang-orang yang ingkar itu.
Dengan demikian mereka akan mendapat siksa.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Hal ini merupakan perumpamaan yang dibuat oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
untuk menggambarkan perihal orang mukmin.
Pada mulanya dia binasa dalam kesesatannya, lalu Allah menghidupkannya, yakni menghidupkan hatinya dengan iman, menunjukinya, dan memberinya taufik (dorongan) untuk mengikuti rasul-rasul-Nya.
Seperti yang diungkapkan oleh firman-Nya:

…dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia.

Yaitu mendapat petunjuk, bagaimana menempuh jalan yang dilaluinya dan bagaimana dia harus berbuat.
Yang dimaksud dengan ‘cahaya’ dalam ayat ini ialah Al-Qur’an, seperti apa yang diriwayatkan oleh Al-Aufi dan Ibnu Abu Talhah, dari Ibnu Abbas.
Sedangkan menurut As-Saddi, yang dimaksud dengan ‘cahaya’ dalam ayat ini ialah agama Is­lam.
Tetapi pada garis besarnya kedua pendapat di atas benar.

…serupa dengan orang yang keadaannya berada di dalam gelap gulita.

Maksudnya, berada di dalam kebodohan, tenggelam di dalam hawa nafsu dan kesesatan yang berpecah belah.

…yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya?

Yakni tidak menemukan jalan keluar —tidak pula jalan selamat— dari kegelapan yang mengungkungnya.
Di dalam kitab Musnad Imam Ahmad disebutkan sebuah hadis Rasulullah ﷺ yang mengatakan:

Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk-Nya dalam kegelapan, kemudian Dia cipratkan sebagian dari Nur-Nya kepada mereka.
Maka barang siapa yang dikenai oleh cipratan nur itu, berarti ia mendapat hidayah, dan barang siapa yang luput darinya, berarti sesatlah ia.

Makna ayat ini sama dengan apa yang disebutkan di dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:

Allah Pelindung orang-orang yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman).
Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran).
Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.
(Al Baqarah:257)

Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapat petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?
(Al Mulk:22)

Perbandingan kedua golongan itu (orang-orang kafir dan orang-orang mukmin), seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat mendengar.
Adakah kedua golongan itu sama keadaan dan sifatnya?
Maka tidakkah kalian mengambil pelajaran (dari perbandingan itu)?
(Huud:24)

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidak (pula) sama gelap gulita dengan cahaya, dan tidak (pula) sama yang teduh dengan yang panas, dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati.
Sesungguhnya Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar.
Kamu tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan.
(Faathir’:19-23)

Ayat-ayat yang menerangkan hal ini cukup banyak.
Segi kaitan dalam pengetengahan kedua perumpamaan di sini yakni dengan cahaya dan kegelapan, karena hal yang sama telah disebutkan pada permulaan surat ini, yaitu firman-Nya:

dan mengadakan gelap dan terang.
(Al An’am:1)

Sebagian ulama mengatakan bahwa makna yang dimaksud dengan ‘kedua perumpamaan’ ini adalah dua orang lelaki tertentu.
Suatu pendapat menyebutkan Umar ibnui Khattab, karena pada mulanya dia dalam keadaan mati (kafir), kemudian Allah menghidupkannya dan menjadikan cahaya baginya untuk menerangi jalannya dalam berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia.
Menurut pendapat lain, orang yang dimaksud ialah Ammar ibnu Yasir,

Yang dimaksud dengan orang yang berada dalam kegelapan dan tidak dapat keluar darinya adalah Abu Jahal yang nama aslinya Amr Ibnu Hisyam, la’natullahi ‘Alaihi.

Tetapi yang benar ayat ini bersifat umum.
Dengan kata lain, termasuk ke dalam pengertiannya semua orang mukmin dan orang kafir.

Firman Allah :

Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.

Yaitu dijadikan baik di mata mereka segala kebodohan dan kesesatan yang mereka kerjakan, sebagai takdir dari Allah karena mengandung hikmah yang dalam, tidak ada Tuhan selain Dia semata dan tiada sekutu bagi-Nya.

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al An ‘aam (6) Ayat 122

Diriwayatkan oleh Abusy Syaikh yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas.
Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari adl-Dlahhak bahwa turunnya ayat ini (al-An’am: 122) berkenaan dengan ‘Umar dan Abu Jahl.

Keterangan: dalam tarikh dikemukakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah berdoa: “Ya Rabbanaa, semoga Islam jaya dengan sebab salah seorang dari dua ‘Umar (‘Umar bin al-Khaththab atau ‘Amr bin Hisyam /Abu Jahal).” Ternyata ‘Umar bin al-Khaththab-lah yang masuk Islam.
Dialah yang dimaksud dengan ‘orang yang tadinya mati kemudian dihidupkan’ dan ‘Amr bin Hisyam yang dimaksud dengan ‘orang yang tetap dalam kegelapan.’

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Al An 'aam (الانعام)
Surat Al An’aam (binatang ternak:
unta, sapi, biri-biri dan kambing) yang terdiri atas 165 ayat, termasuk golongan surat Makkiyyah, karena hampir seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Mekah dekat sebelum hijrah.

Dinamakan Al An’aam karena di dalamnya disebut kata “An’aam” dalam hubungan dengan adat istiadat kaum musyrikin, yang menurut mereka binatang­ binatang temak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Juga dalam surat ini disebutkan hukum-hukum yang berkenaan dengan binatang ternak itu.

Keimanan:

Bukti-bukti keesaan Allah serta kesempumaan sifat-sifat-Nya
kebenaran kena­bian Nabi Muhammad ﷺ
penyaksian Allah atas kenabian Ibrahim, Ishaq, Ya’ qub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun, Zakaria, Yahya, ‘Isa, Ilyas, Alyasa’, Yunus dan Luth
penegasan tentang adanya risalah dan wahyu serta hari pembalasan dan hari kebangkitan kepalsuan kepercayaan orang-orang musy­rik dan keingkaran mereka terhadap hari kiamat.

Hukum:

Larangan mengikuti adat istiadat yang dibuat-buat oleh kaum Jahiliyah
makanan yang halal dan yang haram
wasiat yang sepuluh dari Al Qur’an
tentang tauhid keadilan dan hukum-hukum
larangan mencaci maki berhala orang musyrik karena mereka akan membalas dengan mencaci maki Allah.

Kisah:

Kisah umat-umat yang menentang rasul-rasul
kisah pengalaman Nabi Muhammad ﷺ dan para nabi pada umumnya
cerita Nabi Ibrahim a.s. membimbing kaum­ nya kepada tauhid.

Lain-lain:

Sikap kepala batu kaum musyrikin
cara seorang nabi memimpin umatnya
bi­dang-bidang kerasulan dan tugas rasul-rasul
tantangan kaum musyrikin untuk melemahkan rasul
kepercayaan orang-orang musyrik terhadap jin, syaitan dan malaikat
beberapa prinsip keagamaan dan kemasyarakatan
nilai hidup duniawi.


Gambar Kutipan Surah Al An ‘aam Ayat 122 *beta

Surah Al An 'aam Ayat 122



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al An 'aam

Surah Al-An'am (bahasa Arab:الانعام, al-An'ām, "Binatang Ternak") adalah surah ke-6 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 165 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah, karena hampir seluruh ayat surah ini diturunkan di Mekkah sebelum hijrah.
Dinamakan Al-An'am (hewan ternak) karena di dalamnya disebut kata An'am dalam hubungan dengan adat-istiadat kaum musyrik, yang menurut mereka binatang-binatang ternak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Dalam surah ini juga dikemukakan hukum berkenaan dengan hewan ternak tersebut.

Dalam surah al-An'am ini, terdapat do'a Iftitah yang disunnahkan untuk membacanya dengan tidak bersuara.
Doa ini dibaca pada saat setelah takbir dan sebelum bacaan surah Al-Fatihah.
Sebagian ayat-ayat yang dibaca adalah ayat 79 dan 163.

Nomor Surah6
Nama SurahAl An 'aam
Arabالانعام
ArtiHewan Ternak
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu55
JuzJuz 3 (ayat 1-91),
juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat165
Jumlah kata3055
Jumlah huruf-
Surah sebelumnyaSurah Al-Ma'idah
Surah selanjutnyaSurah Al-A’raf
4.8
Rating Pembaca: 4.8 (8 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku