Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al An 'aam

Al An ‘aam (Hewan Ternak) surah 6 ayat 121


وَ لَا تَاۡکُلُوۡا مِمَّا لَمۡ یُذۡکَرِ اسۡمُ اللّٰہِ عَلَیۡہِ وَ اِنَّہٗ لَفِسۡقٌ ؕ وَ اِنَّ الشَّیٰطِیۡنَ لَیُوۡحُوۡنَ اِلٰۤی اَوۡلِیٰٓئِہِمۡ لِیُجَادِلُوۡکُمۡ ۚ وَ اِنۡ اَطَعۡتُمُوۡہُمۡ اِنَّکُمۡ لَمُشۡرِکُوۡنَ
Walaa ta’kuluu mimmaa lam yudzkariismullahi ‘alaihi wa-innahu lafisqun wa-innasy-syayaathiina layuuhuuna ila auliyaa-ihim liyujaadiluukum wa-in atha’tumuuhum innakum lamusyrikuun(a);

Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya.
Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan.
Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu, dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.
―QS. 6:121
Topik ▪ Penciptaan ▪ Sifat iblis dan pembantunya ▪ Tugas-tugas malaikat
6:121, 6 121, 6-121, Al An ‘aam 121, AlAnaam 121, Al Anaam 121, Al Anam 121, AlAnam 121, Al An’am 121
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al An ‘aam (6) : 121. Oleh Kementrian Agama RI

Setelah Allah menyuruh memakan sembelihan-sembelihan yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, maka dalam ayat ini Allah melarang kaum Muslimin agar jangan memakan binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya, karena perbuatan itu termasuk perbuatan yang fasik.

Tentang memakan binatang yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, ada beberapa pendapat di kalangan ulama-ulama Islam.
Menurut Imam Malik, semua yang disembelih dengan tidak menyebut nama Allah ketika menyembelihnya haram dimakan.
Menurut Imam Abu Hanifah, jika nama Allah tidak disebut dengan sengaja, maka haramlah memakan daging sembelihan itu, dan jika tidak sebut karena lupa, maka halal memakannya.
Dan menurut Imam Syafi’i, semua binatang yang ketika menyembelihnya tidak disebut nama Allah, baik disengaja maupun karena lupa, maka dagingnya boleh dimakan, asalkan orang yang menyembelihnya adalah orang Islam.
Dan sesungguhnya setan-setan, jin dan manusia itu membisikkan kepada kawan kawannya agar membantah kaum Muslimin.
Ikrimah berkata “Setan dari golongan Majusi setelah mendengar bahwa Nabi Muhammad ﷺ, mengharamkan bangkai, mereka menulis kepada orang Quraisy yang pada waktu itu sering mengadakan surat-menyurat dengan orang-orang Majusi.
Dalam surat itu mereka menyatakan “Muhammad mengaku dirinya telah mengikuti perintah Allah, tetapi mengapa mereka beranggapan bahwa yang disembelih oleh manusia itu halal tapi yang disembelih oleh Allah (bangkai) adalah haram?
Lalu Allah menurunkan ayat ini.
Demikianlah jika kaum Muslimin mengikuti kehendak kaum musyrikin tentang menghalalkan bangkai maka mereka pasti termasuk golongan musyrikin.
Ayat ini menunjukkan bahwa barang siapa yang menghalalkan sesuatu yang diharamkan Allah atau mengharamkan sesuatu yang dihalalkan Allah, maka mereka termasuk orang-orang musyrikin, karena dengan demikian mereka telah menetapkan adanya orang yang berhak membuat syariat selain Allah Taala sendiri.

Al An 'aam (6) ayat 121 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al An 'aam (6) ayat 121 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al An 'aam (6) ayat 121 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Kalau hewan-hewan itu halal kalian makan dengan cara menyembelihnya terlebih dahulu, maka janganlah kalian memakan hewan-hewan yang disembelih dengan tidak membaca basmalah, kalau meninggalkan basmalah itu dilakukan dengan sengaja, atau disembelih dengan menyebut nama selain Allah.
Sebab, perbuatan itu berarti kefasikan dan keluar dari ketentuan Allah.
Iblis dan pembantu- pembantunya yang arogan, akan terus membisik-bisikkan kedalam dada orang-orang yang mereka kuasai, untuk mendebat kalian secara tidak benar, dan untuk menarik kalian kepada pengharaman sesuatu yang dihalalkan Allah.
Kalau kalian mengikuti mereka, kalian berarti sama-sama musyrik seperti mereka.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah) seumpamanya karena mati dengan sendirinya atau disembelih dengan menyebut asma selain-Nya terkecuali apa yang disembelih oleh orang muslim, sekali pun tidak menyebut nama-Nya sewaktu menyembelihnya baik secara sengaja atau pun karena lupa, maka sembelihannya tetap halal, demikianlah menurut pendapat Ibnu Abbas, yang kemudian dianut oleh Imam Syafii.
(Sesungguhnya) memakan hewan-hewan yang diharamkan itu (adalah suatu kefasikan) keluar dari garis apa yang telah dihalalkan.
(Sesungguhnya setan itu membisikkan) menghembuskan godaannya (kepada kawan-kawannya) yaitu kepada orang-orang kafir (agar mereka membantah kamu) di dalam masalah menghalalkan bangkai (dan jika kamu menuruti mereka) di dalam hal ini (sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang musyrik).
Ayat berikut ini diturunkan berkenaan dengan Abu Jahal dan lain-lainnya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

(Wahai kaum muslimin), janganlah kalian makan binatang yang tidak disebut nama Allah saat penyembelihannya.
Seperti bangkai dan sembelihan yang dipersembahkan kepada berhala-berhala, jin dan sebagainya.
Sesungguhnya memakan sembelihan seperti itu adalah perbuatan maksiat kepada Allah.
Sesungguhnya setan membisikkan kepada kawan-kawan mereka dari golongan manusia syubhat-syubhat tentang hukum diharamkannya bangkai.
Lalu setan itu memerintahkan mereka untuk mengatakan kepada orang-orang Islam saat mereka membantah kalian (kaum muslimin) :
Sesungguhnya dengan tidak memakan bangkai itu artinya kalian tidak mau memakan binatang yang telah dimatikan oleh Allah, tetapi kalian justru memakan binatang yang kalian sembelih.
Jika kalian (wahai kaum muslimin) menuruti mereka dalam masalah penghalalan bangkai, maka kalian sama-sama telah berbuat syirik seperti mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Ayat yang mulia ini dijadikan dalil oleh orang yang berpendapat bahwa hewan sembelihan tidak halal bila tidak disebutkan nama Allah ketika menyembelihnya, sekalipun si penyembelih sendiri adalah orang muslim.

Para imam berselisih pendapat mengenai masalah ini.
Maka ada tiga pendapat di kalangan mereka sehubungan dengannya.
Ada yang mengatakan bahwa sembelihan dengan spesifikasi ini tidak halal, baik tasmiyah ditinggalkan karena sengaja ataupun lupa.
Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Umar, Nafi’ maulanya, Amir Asy-Sya’bi, dan Muhammad ibnu Sirin.
Juga menurut suatu riwayat dari Imam Malik dan suatu riwayat dari Imam Ahmad ibnu Hambal yang didukung oleh sejumlah murid-muridnya dari kalangan ulama terdahulu dan ulama sekarang.

Pendapat ini dipilih oleh Abu Saur dan Daud Az-Zahiri.
Dipilih pula oleh Abul Futuh Muhammad ibnu Muhammad ibnu Ali At-Ta-i dari kalangan ulama Mutaakhkhirin mazhab Syafti di dalam kitabnya yang berjudul Al-Arba’in.

Mereka memperkuat mazhabnya dengan berdalilkan ayat ini dan firman Allah subhanahu wa ta’ala.
dalam ayat mengenai berburu hewan, yaitu firman-Nya:

Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untuk kalian, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepasnya).
(Al Maidah:4)

Kemudian hal ini dikuatkan dengan sebutan dalam ayat berikut:

Sesungguhnya perbuatan semacam itu adalah suatu kefasikan.

Menurut suatu pendapat, damir yang terdapat pada lafaz innahu kembali kepada ‘memakan’.
Sedangkan menurut pendapat lain, kembali kepada ‘menyembelih untuk selain Allah’.

Pendapat ini diperkuat pula dengan hadis-hadis yang menyebutkan perintah membaca tasmiyah (Bismillah) di saat menyembelih hewan sembelihan dan memburunya, seperti yang disebutkan pada dua hadis Addi ibnu Hatim dan Abu Sa’labah, yaitu:

Apabila engkau lepaskan anjing pemburumu yang telah terlatih dan engkau bacakan nama Allah ketika melepasnya, maka makanlah apa yang ditangkapnya untukmu.

Keduanya berada di dalam kitab Sahihain.

Dalil lainnya yaitu hadis Rafi’ ibnu Khadij yang mengatakan:

Sesuatu (alat) yang dapat mengalirkan darah dan disebutkan nama Allah ketika menyembelihnya, maka makanlah (hasil sembelihan)nya.

Hadis ini pun terdapat di dalam kitab Sahihain.

Terdapat pula hadis Ibnu Mas’ud yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepada makhluk jin:

Dihalalkan bagi kalian setiap tulang yang disebutkan nama Allah ketika menyembelihnya.

Hadis riwayat Imam Muslim.

Dalil lainnya yaitu hadis Jundub ibnu Sufyan Al-Bajali yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

Barang siapa yang menyembelih sebelum salat, hendaklah ia menyembelih lagi hewan lain sebagai gantinya, dan barang siapa yang belum menyembelih (kurban) hingga kami selesai melakukan salat (Hari Raya Kurban), hendaklah ia menyembelih dengan menyebut nama Allah.

Hadis diketengahkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Disebutkan dari Siti Aisyah r.a.
bahwa orang-orang bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya banyak kaum yang datang kepada kami dengan membawa daging, tanpa kami ketahui apakah disebutkan nama Allah ketika menyembelihnya ataukah tidak.” Maka Rasulullah ﷺ menjawab:

Bacakanlah tasmiyah padanya oleh kalian, kemudian makanlah!

Siti Aisyah mengatakan bahwa mereka masih baru meninggalkan masa kekafirannya (yakni baru masuk Islam).
Hadis riwayat Imam Bukhari.

Segi penyimpulan dalilnya memberikan pengertian yaitu mereka memahami bahwa bacaan tasmiyah (basmalah) merupakan suatu keharusan yang tidak boleh ditinggalkan.
Mereka merasa khawatir bila tasmiyah belum dibacakan oleh kaum-kaum tersebut, mengingat mereka baru masuk Islam.
Maka Nabi ﷺ memerintahkan para sahabatnya untuk melakukan tindakan preventif, yaitu membaca tasmiyah di saat hendak memakannya, dengan maksud agar tasmivah yang terakhir ini sebagai ganti dari tasmiyah yang tidak diucapkan di saat menyembelih­nya, jika memang belum dibacakan.
Untuk meluruskannya Nabi ﷺ memerintahkan para sahabatnya untuk memberlakukan hukum-hukum kaum muslim terhadap mereka.

Pendapat yang kedua sehubungan dengan masalah ini mengatakan bahwa bacaan tasmiyah tidak disyaratkan, atau dengan kata lain tidak wajib, melainkan hanya sunat.
Jika bacaan tasmiyah ditinggalkan, baik secara sengaja ataupun lupa, tidak membahayakan hasil sembelihan (selagi yang menyembelihnya adalah orang muslim).
Demikianlah menurut mazhab Syafii dan semua sahabatnya, juga menurut suatu riwayat dari Imam Ahmad yang dinukil darinya oleh Hambal.
Pendapat ini dikatakan pula oleh suatu riwayat dari Imam Malik, yang dinaskan oleh Asyhab ibnu Abdul Aziz dari teman-ieman Imam Malik.
Hal yang sama telah diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas, Abu Hurairah, dan Ata ibnu Abu Rabah.

Imam Syafii menakwilkan ayat ini, yaitu firman-Nya: Dan janganlah kalian memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya.
Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan.
(Al An’am:121) dengan pengertian yang ditujukan kepada hewan sembelihan yang disembelih bukan karena Allah.
Perihalnya sama dengan makna yang terkandung di dalam firman-Nya: atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah.
(Al An’am:145)

Ibnu Juraij telah meriwayatkan dari Ata sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan janganlah kalian memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya.
(Al An’am:121) Bahwa Allah melarang memakan hasil sembelihan yang dilakukan oleh orang-orang Quraisy untuk berhala-berhalanya, dan Allah melarang memakan hasil sembelihan orang-orang Majusi.

Metode pengambilan dalil yang ditempuh oleh Imam Syafii ini kuat.
Sebagian dari ulama mutaakhkhirin berupaya menguatkan pendapat ini dengan menginterpretasikan huruf wawu yang ada pada firman-Nya, {وإِنَّهُ لَفِسْقٌ} sebagai wawu hal, yang artinya ‘janganlah kalian memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya, sedangkan hewan tersebut berstatus fasik: dan tidak sekali-kali seekor binatang dinamakan fasik, melainkan karena binatang tersebut disembelih untuk selain Allah’.
Kemudian sebagian dari ulama mutaakhkhirin itu mengatakan bahwa takwil ini adalah suatu ketentuan dan tidak boleh menganggap wawu sebagai wawu ‘ataf, karena bila dianggap sebagai wawu ataf berarti mengharuskan adanya ataf jumlah ismiyah khabariyah kepada jumlah fi’liyah talabiyah.

Akan tetapi, pendapat ini dapat dibantah dengan firman selanjutnya yang mengatakan:

Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya.

Karena sesungguhnya huruf wawu pada ayat ini sudah pasti merupakan huruf ‘ataf.
Jika wawu yang didakwakan olehnya bahwa wawu itu adalah wawu haliyah yang sesungguhnya, seperti yang telah dikatakannya, niscaya jumlah ini tidak dapat di-‘ataf-kan kepada jumlah yang sebelumnya.
Jika jumlah ini di-‘ataf-kan kepada jumlah talabiyah, berarti diberlakukan terhadapnya apa yang diberlakukan terhadap selainnya.
Jika terbukti bahwa huruf wawu tersebut bukan wawu haliyah, berarti batallah apa yang dikatakan oleh sebagian ulama mutaakhkhirin tersebut.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, menceritakan kepada kami Yahya ibnul Mugirah, telah mewartakan kepada kami Jarir.
dari Ata, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna ayat: Dan janganlah kalian memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya.
(Al An’am:121) Bahwa yang dimaksud adalah bangkai.
Kemudian Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya dari Abu Zar’ah, dari Yahya ibnu Abu Kasir, dari Ibnu Luhai’ah, dari Ata ibnus Saib dengan lafaz yang sama.

Dapat pula dijadikan dalil oleh mazhab ini yaitu sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud di dalam hadis-hadis mursal-nya melalui hadis Saur ibnu Yazid, dari As-Suit As-Sudusi maula Suwaid ibnu Maimun, salah seorang tabi’in yang disebut oleh Abu Hatim ibnu Hibban di dalam Kitabbus Siqat termasuk orang-orang yang berpredikat siqah.
Ia mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Sembelihan orang muslim adalah halal, baik ia menyebut nama Allah ataupun tidak (ketika menyembelihnya).
Karena sesungguh­nya jika ia menyebut (dalam doanya), maka yang disebutnya hanyalah nama Allah belaka.

Hadis ini mursal, diperkuat oleh hadis yang diriwayatkan oleh Imam Daraqutni melalui Ibnu Abbas yang mengatakan:

Apabila orang muslim melakukan sembelihan dan tidak menyebut nama Allah, maka makanlah (hasil sembelihannya), karena sesung­guhnya nama Muslim itu sendiri merupakan salah satu dari nama Allah.

Imam Baihaqi mengetengahkan dalilnya pula dengan hadis Siti Aisyah yang tadi, yaitu yang mengatakan bahwa ada orang-orang yang bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya banyak orang yang masih baru meninggalkan masa Jahiliahnya datang kepada kami dengan membawa daging, tanpa kami ketahui apakah mereka menyebut nama Allah ketika menyembelihnya ataukah tidak.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Bacakanlah tasmiyah oleh kalian, kemudian makanlah!

Imam Baihaqi mengatakan, “Seandainya bacaan tasmiyah merupakan suatu syarat bagi kehalalannya, niscaya tidak di-rukhsah (didispensasikan) bagi mereka, kecuali harus dengan dibacakan tasmiyah secara nyata.”

Pendapat ketiga sehubungan dengan masalah ini mengatakan bahwa sesungguhnya meninggalkan bacaan basmalah ketika menyembelih karena lupa tidak membahayakan sembelihan.
Tetapi jika orang yang bersangkutan meninggalkannya secara sengaja, maka hasil sembelihannya tidak halal.
Pendapat inilah yang terkenal di kalangan mazhab Imam Malik dan Imam Ahmad ibnu Hambal.
Hal yang sama dikatakan oleh Imam Abu Hanifah dan teman-temannya serta Ishaq ibnu Rahawath.
Pendapat ini bersumber dari riwayat yang diketengahkan dari Ali.
Ibnu Abbas, Sa’id ibnul Musayyab, Ata, Tawus, Al-Hasan Al-Basri, Abu Malik, Abdur Rahman ibnu Abu Laila.
Ja’far ibnu Muhammad, dan Rabi’ah ibnu Abu Abdur Rahman.

Imam Abul Hasan Al-Marginani di dalam kitabnya Al-Hidayah menyebutkan adanya ijma’ sebelum Imam Syafii yang mengatakan haram memakan hasil sembelihan tanpa menyebut nama Allah dengan sengaja.
Karena itulah Abu Yusuf dan semua ulama yang berpredikat syekh mengatakan bahwa seandainya seorang hakim memutuskan boleh menjualnya, maka keputusannya itu tidak boleh dilaksanakan karena bertentangan dengan ijma’.
Apa yang dikatakannya ini sangatlah garib, karena dalam pembahasan di atas telah disebutkan adanya nukilan yang menyatakan adanya perbedaan pendapat di kalangan para ulama sebelum masa Imam Syafii.

Imam Abu Ja’far ibnu Jarir mengatakan.”Barang siapa yang mengharamkan hasil sembelihan orang yang lupa (membaca tasmiyah), sesungguhnya ia telah menyimpang dari pendapat yang berlandaskan pada dalil-dalil mengenainya dan bertentangan dengan hadis Rasulullah ﷺ mengenai masalah ini.”

Yang dimaksud ialah apa yang telah diriwayatkan oleh Al-Hafiz Abu Bakar Al-Baihaqi,

telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Al-Hafiz, telah menceritakan kepada kami Abul Abbas Al-Asam, telah menceritakan kepada kami Abu Umayyah At-Tarsusi, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Yazid, telah menceritakan kepada kami Ma’qal ibnu Ubaidillah, dari Amr ibnu Dinar, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Orang muslim dicukupkan oleh namanya.
Jika ia lupa membaca tasmiyah saat melakukan penyembelihan, hendaklah ia menyebut nama Allah dan hendaklah ia memakan (hasil sembelihan)nya.

Predikat hadis ini bila dinilai marfu’ adalah keliru, kekeliruannya terletak pada Ma’qal ibnu Ubaidillah Al-Jazari.
Karena sesungguhnya sekalipun dia termasuk perawi yang dicatat oleh Imam Muslim, tetapi Sa’id ibnu Mansur dan Abdullah ibnuz Zubair Al-Humaidi meriwayatkannya dari Sufyan ibnu Uyaynah, dari Amr, dari Abusy Sya’sa, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa ini merupakan perkataan Ibnu Abbas.
Keduanya menambahkan Abusy Sya’sa dalam sanadnya dan menilainya siqah, jalur ini lebih sahih, dinaskan oleh Imam Baihaqi dan ahli huffaz lainnya.

Kemudian Ibnu Jarir dan lain-lainnya menukil dari Asy-Sya’bu dan Muhammad ibnu Sirin.
Keduanya memakruhkan memakan sembelihan yang dilakukan tanpa tasmiyah karena lupa.
Tetapi ulama Salaf mengucapkan istilah makruh menunjukkan makna haram, menurut kebiasaan yang mereka lakukan.
Hanya saja tersimpul dari kaidah Ibnu Jarir yang menyatakan bahwa perkataan satu orang atau dua orang tidak dapat dianggap sebagai menentang pendapat jumhur, karena itu ia menganggapnya sebagai ijma.
Hal ini harap diperhatikan, semoga Allah memberikan taufik-Nya.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Waki’, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari Jahir ibnu Yazid yang menceritakan bahwa Al-Hasan pernah ditanya oleh seseorang, “Saya datang dengan membawa burung-burung anu.
Di antaranya ada yang disembelih dengan menyebut nama Allah ketika menyembelihnya, ada pula yang lupa disebutkan nama Allah ketika menyembelihnya, tetapi burung-burung ini bercampur baur menjadi satu (sulit dibedakan),” Maka Al-Hasan menjawab.”Makanlah, makanlah.” Kemudian saya (perawi) bertanya kepada Muhammad ibnu Sirin (mengenai hal tersebut).
Maka Ibnu Sirin membacakan firman-Nya: Dan janganlah kalian memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya.
(Al An’am:121)

Pendapat ini berpegang kepada dalil hadis yang diriwayatkan melalui berbagai jalur yang ada pada Ibnu Majah, dari Ibnu Abbas dan Abu Hurairah, serta Abu Zar, Uqbah ibnu Amir, dan Abdullah ibnu Amr, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda:

Sesungguhnya Allah telah memaafkan umatku yang keliru, lupa.
dan hal yang dipaksakan kepada mereka.

Tetapi hal ini masih perlu dipertimbangkan.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa ahlul ‘ilmi berselisih pendapat mengenai ayat ini, apakah ada sesuatu dari hukum ayat ini yang di-mansukh ataukah tidak.
Sebagian dari mereka mengatakan, tidak ada sesuatu pun darinya yang di-mansukh, dan bahwa ayat ini bersifat muhkam dalam pembahasan yang diketengahkannya.
Pendapat inilah yang dikatakan oleh Mujahid dan kebanyakan ahlul ‘ilmi.

Telah diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Basri dan Ikrimah apa yang diceritakan kepada kami oleh Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Wadih, dari Al-Husain ibnu Waqid, dari Ikrimah dan Al-Hasan Al-Basri, bahwa keduanya mengatakan sehubungan dengan firman-Nya:

Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika kalian beriman kepada ayal-ayat-Nya.
(Al An’am:118)

Dan janganlah kalian memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya.
Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan

Ayat-ayat tersebut di-mansukh dan dikecualikan darinya apa yang disebut oleh firman-Nya:

Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al-Kitab itu halal bagi kalian, dan makanan kalian halal (pula) bagi mereka.
(Al Maidah:5)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah membacakan kepadanya Al-Abbas ibnul Walid ibnu Yazid, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Syu’aib.
telah menceritakan kepadanya An-Nu’man (yakni Ibnul Munzir).
dari Mak-hul yang mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala.
telah berfirman di dalam Kitab-Nya: Dan janganlah kalian memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya.
(Al An’am:121} Kemudian Allah me-mansukh-nya.
karena kasih sayang kepada kaum muslim.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman dalam ayat lainnya: Pada hari ini dihalalkan bagi kalian yang baik-baik.
Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al-Kitab itu halal bagi kalian.
(Al Maidah:5) Dengan demikian, berarti Allah telah me-mansukh-nya dan menghalal­kan makanan (sembelihan) Ahli Kitab.

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan, “‘Yang benar adalah tidak ada pertentangan antara penghalalan makanan (sembelihan) Ahli Kitab dengan pengharaman sembelihan yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya.”

Pendapat yang dikatakan oleh Ibnu Jarir ini memang benar, sedang­kan ulama Salaf yang mengatakannya di-mansukh, sesungguhnya yang mereka maksudkan hanyalah takhsis.

Firman Allah :

Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kalian.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj.
telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Ayyasy, dari Abu Ishaq yang mengatakan bahwa pernah ada seorang lelaki bertanya kepada Ibnu Umar, bahwa sesungguhnya Al-Mukhtar menduga dirinya mendapat wahyu.
Maka Ibnu Umar berkata, “Dia benar.” Lalu Ibnu Umar membacakan firman-Nya:

Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya.

Telah menceritakan pula kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Huzaifah.
telah menceritakan kepada kami Ikrimah ibnu Ammar, dari Abu Zamil yang mengatakan bahwa ketika ia sedang duduk di hadapan Ibnu Abbas —dan bertepatan saat itu Al-Mukhtar ibnu Abu Ubaid sedang mengerjakan hajinya—, lalu datanglah seorang lelaki kepada Ibnu Abbas dan bertanya.”Hai Ibnu Abbas, Abu Ishaq (Al-Mukhtar) menduga bahwa dirinya telah mendapat wahyu malam ini.” Maka Ibnu Abbas menjawab, “Benar.” Maka aku (perawi) merasa antipati dan mengatakan, “Ibnu Abbas mengatakan bahwa Al-Mukhtar benar!” Maka Ibnu Abbas berkata, “Keduanya memang dinamakan wahyu, yaitu wahyu Allah dan wahyu setan.
Wahyu Allah diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, sedangkan wahyu setan diturunkan kepada kawan-kawannya.” Kemudian Ibnu Abbas membacakan firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya.

Dalam keterangan sebelum ini disebutkan dari Ikrimah sehubungan dengan makna firman-Nya:

sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).
Telah disebutkan hal yang semisal dengan keterangan dalam tafsir ayat ini.

Firman Allah :

…agar mereka membantah kalian.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Imran ibnu Uyaynah, dari Ata ibnus-Saib.
dari Sa’id ibnu Jubair yang menceritakan bahwa orang-orang Yahudi pernah berdebat dengan Nabi ﷺ Mereka mengatakan, “Kami memakan apa yang kami bunuh dan mengapa kami tidak boleh memakan apa yang dibunuh oleh Allah?”
Maka Allah subhanahu wa ta’ala.
menurunkan firman-Nya:

Dan janganlah kalian memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya.
Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan.

Demikianlah Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya secara mursal.
Tetapi Abu Daud meriwayatkannya secara muttasil, untuk itu ia mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Imran ibnu Uyaynah, dari Ata ibnus Saib, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa orang-orang Yahudi datang kepada Nabi ﷺ, lalu mereka berkata, “Mengapa kita dibolehkan memakan hewan yang kita bunuh, sedangkan kita tidak boleh memakan hewan yang dibunuh oleh Allah (yakni mati dengan sendirinya)?”
Maka Allah subhanahu wa ta’ala.
menurunkan firman-Nya:

Dan janganlah kalian memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya., hingga akhir ayat.

Akan tetapi, hal ini masih perlu dipertimbangkan dari tiga segi, yaitu:

Pertama, orang-orang Yahudi tidak berpendapat menghalalkan bangkai, sehingga mereka perlu mendebat.

Kedua, ayat ini termasuk Makkiyyah.

Ketiga, hadis ini diriwayatkan oleh Imam Turmuzi dari Muhammad ibnu Musa Al-Jarasi, dari Ziyad ibnu Abdullah Al-Buka-u dari Ata ibnus Saib, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas.
Imam Turmuzi meriwayat­kannya dengan teks, bahwa telah datang kepada Nabi ﷺ Lalu ia menuturkan hadis hingga habis, dan mengatakan sesudahnya bahwa predikat hadis ini adalah hasan garib.
Hadis ini diriwayatkan dari Sa’id ibnu Jubair secara mursal.

Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Mubarak, telah menceritakan kepada kami Zaid ibnul Mubarak, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Abdul Aziz, telah menceritakan kepada kami Al-Hakam ibnu Aban, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa ketika diturunkannya firman Allah subhanahu wa ta’ala.: Dan janganlah kalian memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya.
(Al An’am:121) Maka orang-orang Persia mengirimkan utusannya kepada orang-orang Quraisy untuk mendebat Muhammad ﷺ Mereka memerintahkan kepada orang-orang Quraisy agar mengatakan kepada Muhammad, “Mengapa hewan yang engkau sembelih dengan tanganmu sendiri memakai pisau hukumnya halal, sedangkan hewan yang disembelih oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
dengan pisau dari emas (yakni mati dengan sendirinya) hukumnya haram?”
Maka turunlah firman-Nya:

Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kalian, dan jika kalian menuruti mereka.
sesungguhnya kalian tentu menjadi orang-orang yang musyrik.

Dengan kata lain, sesungguhnya setan-setan yang dari Persia itu membisikkan kepada kawan-kawannya dari kalangan Quraisy.

Imam Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Kasir, telah menceritakan kepada kami Israil, telah menceritakan kepada kami Sammak, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya:

Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya.
Mereka mengatakan, “Apa yang disembelih oleh Allah, jangan kalian makan, dan apa yang kalian sembelih sendiri, makanlah.” Maka Allah subhanahu wa ta’ala.
menurunkan firman-Nya:

Dan janganlah kalian memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya.

Ibnu Majah dan Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya dari Amr ibnu Abdullah, dari Waki’, dari Israil dengan sanad yang sama, sanad hadis ini sahih.
Ibnu Jarir meriwayatkannya melalui berbagai jalur dari Ibnu Abbas, tetapi di dalamnya tidak disebut orang-orang Yahudi.
Hadis inilah yang dipelihara, mengingat ayat yang bersangkutan adalah ayat Makkiyyah, sedangkan orang-orang Yahudi pun tidak menyukai bangkai .

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami ibnu Waki’, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Ata, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas mengenai firman-Nya:

Dan janganlah kalian memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya

sampai dengan firman-Nya:

…agar mereka membantah kalian.
Bahwa setan membisikkan kepada teman-temannya untuk mengatakan, “Mengapa kamu dibolehkan memakan apa yang kalian bunuh, dan dilarang memakan apa yang dibunuh oleh Allah?”

Menurut lafaz lain yang juga dari Ibnu Abbas, hewan yang kalian bunuh maksudnya hewan yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, dan hewan yang mati ialah hewan yang tidak disebutkan nama Allah ketika menyembelihnya.”

Juraij mengatakan, Amr ibnu Dinar telah meriwayatkan dari Ikrimah, bahwa sesungguhnya orang-orang musyrik Quraisy selalu berkirim surat kepada orang-orang Persia, mendukung perlawanan mereka terhadap orang-orang Romawi, dan orang-orang Persia selalu membalas surat mereka.
Orang-orang Persia berkirim surat kepada orang-orang musyrik Quraisy yang isinya mengatakan bahwa sesungguhnya Muhammad dan sahabat-sahabatnya menduga mereka mengikuti perintah Allah.
Tetapi mengapa hewan yang disembelih oleh Allah dengan pisau dari emas, tidak mau mereka memakannya.
Sedangkan hewan yang mereka sembelih sendiri mereka makan?
Kemudian orang-orang musyrik mengutip kata-kata tersebut dalam suratnya yang ditujukan kepada sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ Maka hal tersebut membuat suatu ganjalan dalam hati orang-orang muslim, lalu Allah subhanahu wa ta’ala.
menurunkan firman-Nya: Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan.
Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kalian, dan jika kalian menuruti mereka, sesungguhnya kalian temulah menjadi orang-orang yang musyrik.
Turun pula firman-Nya yang mengatakan:

sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).

As-Saddi mengatakan sehubungan dengan tafsir ayat ini, sesungguhnya orang-orang musyrik pernah mengatakan kepada orang-orang muslim, “”Mengapa kalian menduga bahwa kalian mengikuti jalan yang diridai Allah, tetapi hewan yang dibunuh oleh Allah (mati) tidak mau kalian memakannya, sedangkan hewan yang kalian sembelih mau kalian memakannya?”
Maka Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman:

sesungguhnya kalian tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.

Hal yang sama dikatakan oleh Mujahid, Ad-Dahhak, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf Firman Allah subhanahu wa ta’ala.: Dan jika kalian menaati mereka, sesungguhnya kalian tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.) Yakni karena kalian menyimpang dari perintah Allah dan syariat-Nya yang telah ditetapkan-Nya kepada kalian, lalu kalian menempuh jalan yang lain, dan kalian lebih menaati selain Allah.
Maka hal seperti ini dinamakan perbuatan syirik.
Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya: dan jika kalian menuruti mereka.
dalam memakan bangkai.
Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah.
(At Taubah:31), hingga akhir ayat.

Sehubungan dengan tafsir ayat ini Imam Turmuzi di dalam kitab tafsirnya telah meriwayatkan dari Addi ibnu Hatim yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, mereka tidak menyem­bahnya.” Rasulullah ﷺ bersabda:

Tidak, sesungguhnya mereka menghalalkan bagi pengikut-pengtkutnya hal yang diharamkan, dan mengharamkan yang halal, lalu para pengikut mereka menurutinya.
Yang demikian itulah penyembahan mereka kepada orang-orang alim dan para rahibnya.

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al An ‘aam (6) Ayat 121

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa orang-orang datang menghadap Rasulullah ﷺ dan berkata: “Ya Rasulallah.
Mengapa kita boleh makan yang kita sembelih dan dilarang makan yang dimatikan oleh Allah?” Maka Allah menurunkan ayat ini (al-An’am: 118-121) yang menegaskan bahwa yang halal dimakan adalah sembelihan yang disaat menyembelihnya dibaca bismillah (dengan nama Allah).

Diriwayatkan oleh Abu Dawud, al-Hakim, dan lain-lain, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa firman Allah,….
wa innasy syayaathiina la yuuhuuna ilaa auliyaa-ihim li yujaadiluukum…(… sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu…) (al-An’am: 121), turun berkenaan dengan ucapan kaum musyrikin yang bertanya: “Mengapa kalian tidak makan apa yang dimatikan oleh Allah dan kalian makan apa yang kalian sembelih?” Ayat ini (al-An’am: 121) memberi peringatan kepada kaum Mukminin supaya tidak mengikuti ajakan setan.

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dan lain-lain, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika turun ayat, wa laa ta’kuluu mimmaa lam udzkararismullaahi ‘alaih…(dan janganlah kamu memakan binatang yang tidak disebut Nama Allah ketika menyembelihnya..) (al-An’am: 121), seorang pengendara kuda diutus untuk menghasut kaum Quraisy agar menentang Muhammad tentang sembelihan henwan (dengan mengatakan): “Mengapa yang disembelih dengan pisau oleh manusia itu halal, sedang yang dimatikan oleh Allah itu haram?” Maka turunlah kelanjutan ayat tersebut.
Dalam hadits ini dikemukakan pula bahwa yang dimaksud dengan asy-syayaathiin..(..setan..) dalam ayat itu (al-An’am: 121) ialah pengendara kuda, sedang …auliyaa-uhum..(…kawan-kawannya…) ialah kaum Quraisy.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al An 'aam (6) Ayat 121

AWLIYAA
أَوْلِيَآء

Lafaz ini adalah jamak dari al waliy yang mengandung makna setiap yang menguruskan urusan, penolong, yang dicintai, sahabat, jiran, pengikut, penolong, pembebas hamba, yang taat. Ungkapan Allah waliyyuka bermakna Allah menjaga dan mengawasi kamu.

Perkataan Al mu’min waliy Allah, memiliki maksud “yang taat kepada Nya.”

Waliyyal ‘ahd artinya putera mahkota,

Waliyy al mar’ah artinya yang mewakilkan ikatan pernikahan ke atasnya dan tidak batal akad itu sekiranya ketiadaannya,

Waliyy al yatim bermaksud pengasuh anak yatim,

Awliyy al amr ialah para penguasa.

Al waliyy juga bermakna lawan kepada musuh dan setiap orang yang mendekati kamu.

Lafaz awliyaa’ disebut 42 kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Ali Imran (3), ayat 28, 175;
-An Nisaa (4), ayat 76, 89, 139, 144;
-Al Maa’idah (5), ayat 51, 51, 57, 81;
-Al An’aam (6), ayat 121, 128;
-Al A’raaf (7), ayat 3, 27, 30;
-Al Anfaal (8), ayat: 34, 34, 72, 73;
-At Taubah (9), ayat 23, 71;
-Yunus (10), ayat 62;
-Hud (11), ayat 20, 113;
-Ar Ra’d (13), ayat 16;
-Al Kahfi (18), ayat 50, 102;
-Al Furqaan (25), ayat 18;
-Al Ankaabut (29), ayat 41;
-Al Ahzab (33), ayat 6;
-Az Zumar (39), ayat 3;
-Fushshilat (41), ayat 31;
-Asy Syura (42), ayat 6, 9, 46;;
-Al Jaatsiyah (45), ayat 10, 19;
-Al Ahqaf (46), ayat 32;
-Al Mumtahanah (60), ayat 1;
-Al Jumu’ah (62), ayat 6.

Di dalam Al Qur’an, lafaz awliyaa’ dapat dikategorikan kepada empat golongan berdasarkan sandaran dan hubungannya dengan kalimat lain.

Pertama, dihubungkan kepada Allah seperti dalam surah Yunus, ayat 62.

Kedua, dihubungkan kepada orang kafir, musyrik dan Yahudi seperti ayat 28 surah Ali Imran dan surah Al Maa’idah, ayat 57;

Ketiga, disandarkan kepada syaitan seperti dalam surah An Nisaa, ayat 76.

Keempat, disandarkan kepada Mukmin seperti dalam surah Al Anfaal, ayat 72.

Diriwayatkan oleh Ad Dahhak dari Ibn Abbas, ayat 28 surah Ali Imran turun kepada Ubadah bin Shamit Al Ansari. Beliau adalah sahabat yang turut serta dalam Perang Badar. Beliau memiliki perjanjian persahabatan dengan orang Yahudi. Ketika Nabi Muhammad keluar pada Perang Ahzab, Ubadah berkata,
“Wahai Rasulullah! Sesungguhnya bersamaku 500 lelaki dari Yahudi dan aku melihat mereka mau keluar bersamaku dan membantu menghadapi musuh, lalu Allah menurunkan ayat ini.

Dalam ayat 72 surah Al Anfaal, Asy Syawkani berkata,
“Makna awliyaa’ di sini ialah sesama muslim menjadi saudara atau sahabat yang saling membantu dan menolong”

Dalam Tafsir Al Jalalain, lafaz awliyaa’ dalam surah An Nisaa, ayat 76, bermakna penolong-penolong agamanya (yang batil) yaitu orang kafir.

Ibn Katsir berkata,
“Sesungguhnya wali-­wali Allah ialah orang yang beriman dan bertakwa, setiap orang yang bertakwa adalah wali bagi Allah.”

Ibn Mas’ud dan Ibn ‘Abbas keduanya berkata,
awliyaa’ Allah ialah orang yang apabila dia memandang pasti ingat Allah.

Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah berkata,
“Sesungguhnya di kalangan hamba Allah, ada yang diinginkan seperti mereka oleh para nabi dan syuhada. Dikatakan, “Siapa mereka, wahai Rasulullah? Kami berharap supaya kami dapat mencintai mereka,” Rasulullah berkata,
“Mereka ialah golongan yang saling mencintai karena Allah, jauh dari harta keduniaan dan juga nasab, wajah-wajah mereka bercahaya di atas mimbar-mimbar dari cahaya, mereka tidak takut ketika manusia takut dan tidak bersedih apabila manusia bersedih ” Lalu beliau membaca ayat di atas.”

Kesimpulannya, maksud umum lafaz awliya’ ialah penolong, sahabat dan pengikut.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:87-88

Informasi Surah Al An 'aam (الانعام)
Surat Al An’aam (binatang ternak:
unta, sapi, biri-biri dan kambing) yang terdiri atas 165 ayat, termasuk golongan surat Makkiyyah, karena hampir seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Mekah dekat sebelum hijrah.

Dinamakan Al An’aam karena di dalamnya disebut kata “An’aam” dalam hubungan dengan adat istiadat kaum musyrikin, yang menurut mereka binatang­ binatang temak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Juga dalam surat ini disebutkan hukum-hukum yang berkenaan dengan binatang ternak itu.

Keimanan:

Bukti-bukti keesaan Allah serta kesempumaan sifat-sifat-Nya
kebenaran kena­bian Nabi Muhammad ﷺ
penyaksian Allah atas kenabian Ibrahim, Ishaq, Ya’ qub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun, Zakaria, Yahya, ‘Isa, Ilyas, Alyasa’, Yunus dan Luth
penegasan tentang adanya risalah dan wahyu serta hari pembalasan dan hari kebangkitan kepalsuan kepercayaan orang-orang musy­rik dan keingkaran mereka terhadap hari kiamat.

Hukum:

Larangan mengikuti adat istiadat yang dibuat-buat oleh kaum Jahiliyah
makanan yang halal dan yang haram
wasiat yang sepuluh dari Al Qur’an
tentang tauhid keadilan dan hukum-hukum
larangan mencaci maki berhala orang musyrik karena mereka akan membalas dengan mencaci maki Allah.

Kisah:

Kisah umat-umat yang menentang rasul-rasul
kisah pengalaman Nabi Muhammad ﷺ dan para nabi pada umumnya
cerita Nabi Ibrahim a.s. membimbing kaum­ nya kepada tauhid.

Lain-lain:

Sikap kepala batu kaum musyrikin
cara seorang nabi memimpin umatnya
bi­dang-bidang kerasulan dan tugas rasul-rasul
tantangan kaum musyrikin untuk melemahkan rasul
kepercayaan orang-orang musyrik terhadap jin, syaitan dan malaikat
beberapa prinsip keagamaan dan kemasyarakatan
nilai hidup duniawi.


Gambar Kutipan Surah Al An ‘aam Ayat 121 *beta

Surah Al An 'aam Ayat 121



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al An 'aam

Surah Al-An'am (bahasa Arab:الانعام, al-An'ām, "Binatang Ternak") adalah surah ke-6 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 165 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah, karena hampir seluruh ayat surah ini diturunkan di Mekkah sebelum hijrah.
Dinamakan Al-An'am (hewan ternak) karena di dalamnya disebut kata An'am dalam hubungan dengan adat-istiadat kaum musyrik, yang menurut mereka binatang-binatang ternak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Dalam surah ini juga dikemukakan hukum berkenaan dengan hewan ternak tersebut.

Dalam surah al-An'am ini, terdapat do'a Iftitah yang disunnahkan untuk membacanya dengan tidak bersuara.
Doa ini dibaca pada saat setelah takbir dan sebelum bacaan surah Al-Fatihah.
Sebagian ayat-ayat yang dibaca adalah ayat 79 dan 163.

Nomor Surah6
Nama SurahAl An 'aam
Arabالانعام
ArtiHewan Ternak
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu55
JuzJuz 3 (ayat 1-91),
juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat165
Jumlah kata3055
Jumlah huruf-
Surah sebelumnyaSurah Al-Ma'idah
Surah selanjutnyaSurah Al-A’raf
4.7
Rating Pembaca: 4.7 (21 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku