QS. Al An ‘aam (Hewan Ternak) – surah 6 ayat 120 [QS. 6:120]

وَ ذَرُوۡا ظَاہِرَ الۡاِثۡمِ وَ بَاطِنَہٗ ؕ اِنَّ الَّذِیۡنَ یَکۡسِبُوۡنَ الۡاِثۡمَ سَیُجۡزَوۡنَ بِمَا کَانُوۡا یَقۡتَرِفُوۡنَ
Wadzaruu zhaahira-itsmi wabaathinahu innal-ladziina yaksibuuna-itsma sayujzauna bimaa kaanuu yaqtarifuun(a);

Dan tinggalkanlah dosa yang nampak dan yang tersembunyi.
Sesungguhnya orang yang mengerjakan dosa, kelak akan diberi pembalasan (pada hari kiamat), disebabkan apa yang mereka telah kerjakan.
―QS. 6:120
Topik ▪ Maksiat dan dosa ▪ Balasan dari perbuatannya ▪ Al Qur’an benar-benar dari Allah
6:120, 6 120, 6-120, Al An ‘aam 120, AlAnaam 120, Al Anaam 120, Al Anam 120, AlAnam 120, Al An’am 120

Tafsir surah Al An 'aam (6) ayat 120

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al An ‘aam (6) : 120. Oleh Kementrian Agama RI

Allah melarang kaum Muslimin untuk berbuat dosa yang nampak maupun yang tersembunyi.
Dosa-dosa yang nampak ialah yang dilakukan oleh manusia dengan mempergunakan anggota badannya sedang dosa-dosa yang tersembunyi ialah yang dilakukan oleh hatinya, sebagai misal menyombongkan diri, merencanakan kejahatan dan penipuan kepada manusia.
Allah menyatakan dengan tegas, bahwa semua dosa harus ditinggalkan, baik yang nampak maupun yang tersembunyi dan Allah memberikan ancaman bahwa siapa saja yang berbuat dosa akan ditimpa siksaan yang berat, sebagai akibat dari pada pelanggaran-pelanggaran yang dilakukannya, dengan sengaja dan terang-terangan.
Adapun orang-orang yang berbuat dosa dan kejahatan karena kebodohan, kemudian mereka berhenti dari padanya dengan melaksanakan tobat yang sungguh-sungguh, maka terhadap mereka itu Allah subhanahu wa ta’ala akan memberi ampun dan menghapus bekas dosa-dosanya dari hatinya, karena mereka suka berbuat kebaikan sebagai tanda bukti daripada tobatnya.
Sebenarnya setiap kebaikan dapat menghilangkan kejahatan, sebagaimana di jelaskan firman Allah:

Sesungguhnya perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan yang buruk.
(Q.S. Hud [11]: 114)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Ketakwaan bukan terletak pada pengharaman sesuatu yang telah dihalalkan.
Ketakwaan justru terletak pada sikap meninggalkan dosa, baik yang dilakukan secara terang-terangan maupun yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi.
Maka tinggalkanlah segala bentuk perbuatan dosa itu.
Sebab, orang-orang yang berbuat dosa akan dibalas setimpal dengan keburukan-keburukan yang diperbuatnya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan tinggalkanlah) berhentilah kamu dari melakukan (dosa yang tampak dan yang tersembunyi) maksudnya dosa yang terang-terangan dan dosa yang tersembunyi, dikatakan bahwa yang dimaksud adalah perbuatan zina, dan dikatakan lagi adalah semua perbuatan maksiat.

(Sesungguhnya orang-orang yang mengerjakan dosa, kelak akan diberi pembalasan) pada hari kiamat (disebabkan apa yang telah mereka kerjakan) usahakan.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

(Wahai manusia), tinggalkanlah semua perbuatan maksiat, baik terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi.
Sesungguhnya orang-orang yang berbuat maksiat akan ditimpakan siksa kepada mereka karena dosa-dosa yang mereka kerjakan itu.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

Dan tinggalkanlah dosa yang tampak dan yang tersembunyi.
Makna yang dimaksud ialah perbuatan maksiat secara sembunyi-sembunyi dan secara terang-terangan.
Menurut riwayat lain yang bersumberkan darinya, makna yang dimaksud ialah niat yang menggerakkannya untuk melakukan dosa.

Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan tinggalkanlah dosa yang tampak dan yang tersembunyi.
(Q.S. Al-An’am [6]: 120) Yaitu dosa yang tersembunyi dan yang terang-terangan, yang sedikit dan yang banyak.

Menurut As-Saddi, dosa yang tampak ialah berbuat zina dengan pelacur-pelacur yang dilokalisasi, sedangkan dosa yang tersembunyi ialah berbuat zina dengan kekasih (yang belum dikawini), teman, dan gundik.

Menurut Ikrimah, dosa yang tampak ialah mengawini wanita yang masih ada kaitan mahram.

Tetapi pendapat yang benar ialah yang mengatakan bahwa ayat ini mengandung makna yang umum mencakup keseluruhannya.
Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:

Katakanlah, “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi.” (Q.S. Al-A’raf [7]: 33), hingga akhir ayat.

Karena itulah dalam Firman selanjutnya disebutkan:

Sesungguhnya orang-orang yang mengerjakan dosa, kelak akan diberi pembalasan (pada hari kiamat) disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.

Baik dosa yang terang-terangan ataupun yang tersembunyi, Allah subhanahu wa ta’ala.
pasti akan melakukan pembalasan yang setimpal terhadap para pelakunya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Arafah, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Mahdi, dari Mu’awiyah ibnu Saleh, dari Abdur Rahman ibnu Jubair ibnu Nafir, dari ayahnya, dari An-Nawwas ibnu Sam’an yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ mengenai definisi dosa.
Maka beliau ﷺ menjawab melalui sabdanya: Dosa itu ialah sesuatu yang terdetik dalam hatimu, sedangkan kamu tidak suka bila orang lain melihatnya.


Informasi Surah Al An 'aam (الانعام)
Surat Al An’aam (binatang ternak:
unta, sapi, biri-biri dan kambing) yang terdiri atas 165 ayat, termasuk golongan surat Makkiyyah, karena hampir seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Mekah dekat sebelum hijrah.

Dinamakan Al An’aam karena di dalamnya disebut kata “An’aam” dalam hubungan dengan adat istiadat kaum musyrikin, yang menurut mereka binatang­ binatang temak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Juga dalam surat ini disebutkan hukum-hukum yang berkenaan dengan binatang ternak itu.

Keimanan:

Bukti-bukti keesaan Allah serta kesempumaan sifat-sifat-Nya
kebenaran kena­bian Nabi Muhammad ﷺ
penyaksian Allah atas kenabian Ibrahim, Ishaq, Ya’ qub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun, Zakaria, Yahya, ‘Isa, Ilyas, Alyasa’, Yunus dan Luth
penegasan tentang adanya risalah dan wahyu serta hari pembalasan dan hari kebangkitan kepalsuan kepercayaan orang-orang musy­rik dan keingkaran mereka terhadap hari kiamat.

Hukum:

Larangan mengikuti adat istiadat yang dibuat-buat oleh kaum Jahiliyah
makanan yang halal dan yang haram
wasiat yang sepuluh dari Al Qur’an
tentang tauhid keadilan dan hukum-hukum
larangan mencaci maki berhala orang musyrik karena mereka akan membalas dengan mencaci maki Allah.

Kisah:

Kisah umat-umat yang menentang rasul-rasul
kisah pengalaman Nabi Muhammad ﷺ dan para nabi pada umumnya
cerita Nabi Ibrahim a.s. membimbing kaum­ nya kepada tauhid.

Lain-lain:

Sikap kepala batu kaum musyrikin
cara seorang nabi memimpin umatnya
bi­dang-bidang kerasulan dan tugas rasul-rasul
tantangan kaum musyrikin untuk melemahkan rasul
kepercayaan orang-orang musyrik terhadap jin, syaitan dan malaikat
beberapa prinsip keagamaan dan kemasyarakatan
nilai hidup duniawi.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-An-'aam (6) ayat 120 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-An-'aam (6) ayat 120 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-An-'aam (6) ayat 120 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-An-'aam - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 165 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 6:120
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al An 'aam.

Surah Al-An'am (bahasa Arab:الانعام, al-An'ām, "Binatang Ternak") adalah surah ke-6 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 165 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah, karena hampir seluruh ayat surah ini diturunkan di Mekkah sebelum hijrah.
Dinamakan Al-An'am (hewan ternak) karena di dalamnya disebut kata An'am dalam hubungan dengan adat-istiadat kaum musyrik, yang menurut mereka binatang-binatang ternak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Dalam surah ini juga dikemukakan hukum berkenaan dengan hewan ternak tersebut.

Dalam surah al-An'am ini, terdapat do'a Iftitah yang disunnahkan untuk membacanya dengan tidak bersuara.
Doa ini dibaca pada saat setelah takbir dan sebelum bacaan surah Al-Fatihah.
Sebagian ayat-ayat yang dibaca adalah ayat 79 dan 163.

Nomor Surah 6
Nama Surah Al An 'aam
Arab الانعام
Arti Hewan Ternak
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 55
Juz Juz 3 (ayat 1-91),
juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 165
Jumlah kata 3055
Jumlah huruf -
Surah sebelumnya Surah Al-Ma'idah
Surah selanjutnya Surah Al-A’raf
4.6
Ratingmu: 4.6 (20 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim