Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al An 'aam

Al An ‘aam (Hewan Ternak) surah 6 ayat 112


وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا شَیٰطِیۡنَ الۡاِنۡسِ وَ الۡجِنِّ یُوۡحِیۡ بَعۡضُہُمۡ اِلٰی بَعۡضٍ زُخۡرُفَ الۡقَوۡلِ غُرُوۡرًا ؕ وَ لَوۡ شَآءَ رَبُّکَ مَا فَعَلُوۡہُ فَذَرۡہُمۡ وَ مَا یَفۡتَرُوۡنَ
Wakadzalika ja’alnaa likulli nabii-yin ‘aduu-wan syayaathiina-insi wal jinni yuuhii ba’dhuhum ila ba’dhin zukhrufal qauli ghuruuran walau syaa-a rabbuka maa fa’aluuhu fadzarhum wamaa yaftaruun(a);

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).
Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.
―QS. 6:112
Topik ▪ Penciptaan ▪ Sifat iblis dan pembantunya ▪ Dalil Allah atas hambaNya
6:112, 6 112, 6-112, Al An ‘aam 112, AlAnaam 112, Al Anaam 112, Al Anam 112, AlAnam 112, Al An’am 112
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al An 'aam (6) : 112. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini Allah menjelaskan, bahwa kaum Muslimin menghadapi permusuhan dari pada orang-orang musyrikin, maka demikian pulalah Allah menjadikan bagi tiap-tiap Nabi musuh-musuh yang terdiri dari setan-setan baik dari jenis manusia maupun dari jenis jin.
Menurut keterangan Mujahid, Qatadah dan Hasan, di antara jin dan manusia itu ada yang menjadi setan-setan.
Pendapat ini diperkuat pula oleh Abu Zar yang ditanya oleh Nabi Muhammad ﷺ: "Wahai Abu Zar apakah kamu telah memohon perlindungan kepada Allah, daripada kejahatan-kejahatan setan yang berasal dari jin dan manusia?"
Lalu Abu Zar bertanya, "Ya Rasulullah, adakan pula setan-setan dari manusia?"
Dijawab oleh Nabi Muhammad ﷺ: "Ya, benar-benar ada.
Perhatikanlah surat Al Baqarah ayat 14, yang artinya: Dan apabila mereka kembali kepada setan-setan mereka, maka mereka berkata Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu".

Setan-setan itu adalah musuh bagi Nabi-nabi dan bagi para ulama yang menjadi pewaris Nabi-nabi, juga bagi setiap mubalig yang menyiarkan agama Allah.
Setiap kali timbul hal yang bertentangan, pastilah yang satu akan mengalahkan yang lain, yaitu yang kuat tentu menghancurkan yang lemah dan termasuk Sunnatullah, yaitu bahwa kesudahan yang baik dan kemenangan terakhir tentu berada di pihak golongan yang benar.
Bila mana turun hujan deras akan menimbulkan banjir, maka ia akan menimbulkan buih yang banyak sekali di atas permukaan air.
Buih itu bilamana ditiup oleh angin, segera lenyap menghilang sehingga tinggallah hanya airnya saja yang tetap di bumi.
Demikian pula kehidupan di dunia ini penuh dengan penuangan, dan seorang pejuang tidak dapat memelihara kedudukannya kecuali dengan kegigihan dan kesabaran.
Demikian pula amal-amal yang diterima Allah di akhirat kelak hanyalah amal-amal yang dikerjakan dengan baik.
Hal ini ditegaskan oleh firman Allah sebagai berikut:

Apakah kamu mengira, bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang padamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?.
Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, "Bilakah datangnya pertolongan Allah?
Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat".

(Q.S Al Baqarah: 214)

Setan-setan yang menjadi musuh Nabi-nabi itu berusaha dengan jalan membisikkan kepada orang yang digodanya perkataan yang indah-indah untuk menipu mereka, dan mengelabui penglihatan mereka sehingga dengan tidak mereka sadari tergelincir dan jalan yang benar.

Telah terbukti dengan nyata tipu muslihat setan itu pada peristiwa yang dialami oleh Nabi Adam as, dan Siti Hawa.
Setan bersumpah dengan halus dan menggambarkan kepada Adam bahwa bila Adam dan istrinya memakan buah khuldi, maka ia akan tetap tinggal di surga untuk selama-lamanya.
Demikian pula, setan itu membisikkan kepada orang-orang yang terjerumus ke dalam dosa dan kemaksiatan.
Setan tersebut membisikkan agar mereka menggunakan kesempatan untuk hidup bebas merdeka di dunia ini menikmati segala kelezatan hidup, karena mereka tidak perlu takut pada siksaan Allah, karena Allah adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Sekiranya Allah menghendaki supaya setan-setan itu tidak dapat menipu manusia, tentulah mereka tidak dapat berbuat sesuatu apapun.
Tetapi Allah Taala memberi keleluasaan kepada manusia untuk memilih apa yang akan mereka kerjakan menurut petunjuk akalnya yang sehat dan memilih jalan yang akan ditempuhnya, jalan yang benar atau jalan yang sesat.
Karena itu, Nabi disuruh supaya meninggalkan dan tidak menghiraukan mereka, sebab nantipun di akhirat mereka harus mempertanggungjawabkan segala tingkah-laku mereka selama di dunia.

Al An 'aam (6) ayat 112 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al An 'aam (6) ayat 112 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al An 'aam (6) ayat 112 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Seperti halnya mereka memusuhi dan membantahmu, padahal kamu ingin memberi petunjuk kepada mereka, Kami juga menciptakan musuh berupa kelompok tinggi hati dari jin dan manusia untuk setiap nabi yang menyampaikan pesan-pesan Kami, yang tidak dapat kau lihat.
Mereka saling membisikkan perkataan yang indah penuh tipuan tapi kosong tak berarti.
Dengan begitu, mereka menebarkan rasa sombong dengan tidak benar.
Semua itu terjadi atas takdir dan kehendak Allah.
Kalau Dia menghendaki, mereka pasti tidak akan melakukan itu.
Akan tetapi, yang demikian itu untuk membersihkan hati orang-orang Mukmin, maka biarkan saja orang-orang yang sesat itu berada dalam kekufuran lantaran kata-kata bohong yang mereka lontarkan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh) sebagaimana Kami telah jadikan mereka sebagai musuh-musuhmu, kemudian pengertian musuh itu dijelaskan (yakni setan-setan) siluman-siluman (dari jenis manusia dan jin yang memberikan bisikan) yang menghembuskan godaan (antara yang sebagian kepada sebagian lainnya tentang perkataan-perkataan yang indah-indah) yang memulas warna kebatilan (untuk membujuk) umat manusia.
(Jika Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya) maksudnya bisikan-bisikan yang menyesatkan tadi (maka tinggalkanlah mereka) biarkanlah orang-orang kafir itu (dan apa yang mereka ada-adakan) berupa kekafiran dan lain-lainnya yang sudah menjadi watak mereka, ayat ini diturunkan sebelum turunnya ayat perintah untuk berperang.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sebagaimana Kami mengujimu (wahai Rasul) dengan musuh-musuhmu dari kalangan orang-orang musyrik, Kami juga telah menguji seluruh Nabi (semoga keselamatan bagi mereka) dengan musuh-musuh dari orang-orang bejat kaumnya dan musuh-musuh dari setan-setan jin.
Mereka saling membisikkan perkataan-perkataan yang mereka hiasi dengan kebatilan untuk menipu orang yang mendengarnya, sehingga tersesat dari jalan Allah.
Jikalau Rabbmu Yang Mahaagung lahi Mahatinggi menghendaki, niscaya Dia akan menghalangi mereka dari sikap permusuhan tersebut.
Akan tetapi, itulah ujian dari Allah, maka tinggalkanlah mereka serta apa yang mereka perbuat berupa kedustaan dan kepalsuan (tipu daya) mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta'ala.
berfirman, "Sebagaimana Kami jadikan untukmu wahai Muhammad, musuh-musuh yang menentang, memusuhi dan menyaingimu, Kami jadikan pula bagi setiap nabi yang ada sebelummu musuh-musuh tersebut.
Karena itu janganlah engkau bersedih hati akan hal ini." Ayat ini semakna dengan apa yang disebut di dalam ayat lain melalui firman-Nya:

jika mereka mendustakan kamu, Maka Sesungguhnya Rasul-rasul sebelum kamupun telah didustakan (pula), (Ali Imran 184)

Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka.
(Al An'am:34), hingga akhir ayat.

Tidaklah ada yang dikatakan (oleh orang-orang kafir) kepadamu itu selain apa yang sesungguhnya telah dikatakan kepada rasul-rasul sebelum kamu.
Sesungguhnya Tuhan kamu benar-benar mempunyai ampunan dan hukuman yang pedih.
(Al Fushilat:43)

Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa (Al Furqaan:31), hingga akhir ayat.

Waraqah ibnu Naufal pernah berkata kepada Rasulullah ﷺ: Sesungguhnya tiada seseorang pun yang datang dengan memba­wa semisal dengan apa yang engkau datangkan, melainkan pasti dimusuhi.

Firman Allah :

...yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin.

Ayat ini berkedudukan sebagai badal dari firman-Nya yang mengatakan, "'Aduwwan (musuh)." Dengan kata lain, para nabi itu mempunyai musuh dari setan-setan yang dari kalangan manusia dan jin.
Definisi setan ialah setiap orang yang berbeda dengan sejenisnya karena kejahatannya.
Dan tiada yang memusuhi para rasul melainkan hanya setan-setan dari kalangan manusia dan jin.
Semoga Allah melaknat dan memburukkan mereka.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya: setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin.
(Al An'am:112) Bahwa dari kalangan makhluk jin terdapat setan-setan, dan dari kalangan manusia terdapat setan-setannya pula, sebagian dari mereka membisik­kan (mengilhamkan) kepada sebagian yang lain.

Qatadah mengatakan, telah sampai kepadaku suatu berita yang menyatakan bahwa di suatu hari Abu Zar hendak melakukan salat, maka Nabi ﷺ bersabda: Hai Abu Zar, mintalah perlindungan (kepada Allah) dari (gangguan) setan-setan dari jenis manusia dan dari jenis jin! Abu Zar bertanya, "Apakah dari jenis manusia terdapat orang-orang yang menjadi setan?"
Rasulullah ﷺ menjawab, "Ya."

Predikat hadis ini munqati’ antara Qatadah dan Abu Zar.
Tetapi hadis ini telah diriwa­yatkan pula melalui jalur lain dari Abu Zar r.a.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Musanna, menceritakan kepada kami Abu Saleh, menceritakan kepadaku Mu'awiyah ibnu Saleh, dari Abu Abdullah Muhammad ibnu Ayyub dan guru-guru lainnya, dari Ibnu Aiz, dari Abu Zar yang telah mencerita­kan: Saya datang kepada Rasulullah ﷺ di suatu majelis yang dalam majelis itu Rasulullah ﷺ duduk dalam waktu yang cukup lama.
Lalu beliau bersabda, "Hai Abu Zar, apakah kamu sudah salat?"
Saya menjawab, "Belum, wahai Rasulullah " Beliau bersabda, "Berdirilah dan lakukanlah salat dua rakaat!" Setelah selesai saya datang dan duduk lagi bersama beliau, lalu beliau bersabda, "Hai Abu Zar, apakah engkau meminta perlindungan kepada Allah dari godaan setan-setan dari jenis jin dan manusia?"
Saya menjawab, "Tidak wahai Rasulullah.
Tetapi apakah ada setan yang dari jenis manusia?"
Rasulullah ﷺ menjawab, "Ya, bahkan mereka lebih jahat daripada setan dari kalangan jin."

Hadis ini pun berpredikat munqati’ (ada nama perawi yang tidak disebutkan sehingga mata rantainya terputus), tetapi diriwayatkan pula secara muttasil (lawan munqati'), seperti yang dikatakan oleh Imam Ahmad.

Ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki', telah menceritakan kepada kami Al-Mas'udi, telah mewartakan kepada kami Abu Umar Ad-Dimasyqi, dari Ubaid ibnul Husaihas, dari Abu Zar yang menceritakan: Saya datang kepada Nabi ﷺ yang sedang berada di dalam masjid, lalu saya duduk, maka beliau ﷺ bersabda, "Hai Abu Zar, apakah engkau telah salat?” Saya menjawab, "Belum.” Beliau bersabda, "Berdirilah dan salatlah!" Lalu saya berdiri dan salat, setelah itu saya duduk kembali.
Maka beliau ﷺ bersabda, "Hai Abu Zar, apakah engkau meminta perlindungan kepada Allah dari kejahatan setan dari kalangan manusia dan jin?"
Saya bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah dari kalangan manusia ada yang menjadi setan?” Beliau ﷺ menjawab, "Ya.” Hingga akhir hadis yang cukup panjang.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Al-Hafiz Abu Bakar ibnu Murdawaih di dalam tafsirnya melalui hadis Ja'far ibnu Aun, Ya’la ibnu Ubaid, dan Ubaidillah ibnu Musa, ketiga-tiganya dari Al-Mas’udi dengan sanad yang sama.

Jalur lain dari Abu Zar.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Musanna, menceritakan kepada kami Al-Hajjaj, menceritakan kepada kami Hammad, dari Humaid ibnu Hilal, telah menceritakan kepadaku seorang lelaki dari kalangan ulama Dimasyq, dari Auf ibnu Malik, dari Abu Zar, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: "Hai Abu Zar, apakah engkau telah memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan setan manusia dan setan jin?” Saya bertanya.”Wahai Rasulullah, apakah dari kalangan manusia ada yang menjadi setan?”Nabi ﷺ menjawab, "Ya.”

Jalur lain bagi hadis ini.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Auf Al-Himsi, menceritakan kepada kami Abul Mugirah, menceritakan kepada kami Mu'az ibnu Rifa'ah, dari Ali ibnu Yazid, dari Al-Qasim, dari Abu Umamah yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: "Hai Abu Zar, apakah engkau telah meminta perlindungan (kepada Allah) dari setan-setan jin dan manusia?” Abu Zar bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah manusia itu ada yang menjadi setan?” Nabi ﷺ menjawab, " Ya.
setan-setan dari jenis manusia dan dari jenis jin.
Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)."

Demikianlah jalur-jalur periwayatan hadis ini yang keseluruhannya menyimpulkan kekuatan dan kesahihannya.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Waki', menceritakan kepada kami Abu Na'im, dari Syarik, dari Sa'id ibnu Masruq, dari Ikrimah sehubungan dengan makna firman-Nya: setan-setan dari (jenis) manusia dan (dari jenis) jin.
(Al An'am:112) Bahwa pada kalangan manusia tidak terdapat setan-setan, tetapi setan-setan dari jenis jin membisikkan kepada setan-setan dari jenis manusia, dan setan-setan dari jenis manusia membisikkan kepada setan-setan dari jenis jin.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Haris, menceritakan kepada kami Abdul Aziz, menceritakan kepada kami Israil, dari As-Saddi, dari Ikrimah sehubungan dengan firman-Nya:

sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).
Manusia itu mempunyai setan dan jin mempunyai setan, lalu setan jin membisikkan kepada setan manusia.
Maka sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).

Asbat mengatakan dari As-Saddi, dari Ikrimah sehubungan dengan makna firman-Nya:

sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain.
Adapun yang dimaksud dengan setan-setan dari jenis manusia ialah setan-setan yang menyesatkan orang lain, dan setan-setan dari jenis jin ialah yang menyesatkan jin lainnya.
Keduanya bersua, lalu saling mengatakan kepada temannya, "Sesungguhnya aku telah menyesatkan temanku dengan cara anu dan anu, maka sesatkanlah olehmu temanmu itu dengan cara demikian dan demikian." Maka sebagian dari mereka memberitahukan cara-cara menyesatkan kepada sebagian yang lain.

Dari sini Ibnu Jarir berpemahaman, yang dimaksud dengan setan-setan dari jenis manusia yang ada pada Ikrimah dan As-Saddi ialah setan-setan dari jenis jin, merekalah yang berperan menyesatkan manusia.
Pengertiannya bukan berarti bahwa setan-setan dari jenis manusia termasuk dari kalangan mereka.
Memang tidak diragukan lagi, hal ini jelas tersimpul dari perkataan Ikrimah.
Mengenai perkataan As-Saddi, bukanlah seperti yang dimaksud dalam pengertian ini, tetapi hanya mempunyai kemiripan.
Ibnu Abu Hatim meriwayatkan hal yang semisal dari Ibnu Abbas melalui riwayat Ad-Dahhak, dari Ibnu Abbas yang mengatakan, "Sesungguhnya dari jenis jin terdapat setan-setan yang menyesatkan sejenisnya, sebagaimana setan-setan dari jenis manusia menyesatkan sesamanya." Kemudian Ibnu Abbas mengatakan, "Lalu keduanya (yakni setan dari jenis manusia dan setan dari jenis jin) bersua dan mengatakan kepada pihak lainnya, 'Saya telah menyesatkannya dengan cara anu dan anu'." Hal inilah yang dimaksudkan oleh firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).

Pada garis besarnya pendapat yang sahih adalah apa yang telah disebutkan oleh hadis Abu Zar yang lalu, yang menyatakan bahwa sesungguhnya dari jenis manusia terdapat setan-setan dari kalangan mereka sendiri.
Pengertian setan ialah segala sesuatu yang bersifat membangkang.
Karena itu, disebutkan di dalam hadis sahih Muslim dari Abu Zar, bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

Anjing hitam adalah setan.

Makna yang dimaksud —hanya Allah Yang lebih mengetahui— bahwa pada hewan anjing terdapat pula setan-setan.

Ibnu Juraij mengatakan, Mujahid telah mengatakan sehubungan dengan tafsir ayat ini, bahwa jin kafir adalah setan-setannya, mereka membisikkan kepada setan-setan dari jenis manusia (yakni orang-orang kafir) perkataan yang indah-indah untuk menyesatkan manusia.

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan dari Ikrimah yang mengatakan bahwa ia pernah berkunjung kepada Al-Mukhtar, dan Al-Mukhtar menghormati kedatangannya dan mendudukkannya hingga hampir tiba saat istirahat malam hari baginya.
Ikrimah melanjutkan kisahnya, bahwa lalu Al-Mukhtar berkata kepadanya, "Keluarlah kamu dan temuilah orang-orang, lalu berbicaralah dengan mereka." Lalu aku (Ikrimah) keluar dan ada seorang lelaki datang, kemudian bertanya, "Bagaimanakah pendapatmu dengan wahyu itu?"
Saya jawab bahwa wahyu itu ada dua macam, yaitu pertama disebutkan oleh firman-Nya: dengan mewahyukan Al-Qur'an ini kepadamu.
(Yusuf:3) Dan oleh firman-Nya: setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).
(Al An'am:112.
Mendengar jawabanku mereka hampir saja memukuliku, tetapi aku katakan kepada mereka, "Mengapa kalian bersikap demikian?
Sesungguhnya aku hanya memberi fatwa kepada kalian dan sebagai tamu kalian." Akhirnya mereka melepaskan diriku.

Sesungguhnya Ikrimah menyindir Al-Mukhtar, anak lelaki Abu Ubaid —semoga Allah memburukkan rupanya— karena dia mendakwakan bahwa dirinya kedatangan wahyu.
Padahal saudara perempuannya (yaitu Safiyyah) adalah istri Abdullah ibnu Umar, termasuk seorang wanita saleh.
Ketika Abdullah ibnu Umar mendapat berita bahwa Al-Mukhtar mengakui dirinya mendapat wahyu, maka Abdullah ibnu Umar berkata, "Dia benar."

Allah subhanahu wa ta'ala.
telah berfirman:

Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya

Adapun firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).

Maksudnya, sebagian dari mereka membisikkan kata-kata yang indah-indah lagi penuh kepalsuan untuk menipu pendengarnya dari kalangan orang-orang yang tidak mengetahui duduk perkaranya.

Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerja­kannya.
(Al An'am:112)

Yang demikian itu terjadi karena takdir Allah, keputusan, kehendak serta kemauan-Nya, bahwa setiap nabi mempunyai musuh dari kalangan mereka yang disebutkan di atas.

...maka tinggalkanlah mereka.

Maksudnya, biarkanlah mereka.

...dan apa yang mereka ada-adakan.

Yaitu apa yang mereka dustakan.
Dengan kata lain, biarkanlah gangguan mereka dan bertawakallah kepada Allah dalam menghadapi permusuhan mereka.
Karena sesungguhnya Allah akan mencukupimu dan menolongmu dalam menghadapi mereka.

Kata Pilihan Dalam Surah Al An 'aam (6) Ayat 112

ZUKHRUF
زُخْرُف

Ism mufrad dari kata akar zakhrafa, jamaknya zakhaarif meng­andung makna perhiasan sesuatu dan lafaz zukhrufal bait berarti perabot atau barang yang menghiasi rumah.

Ar Razi berkata,
maknanya emas, kemudian diibarat­kan dengan setiap sesuatu yang dihias dan diperindah.

Az Zujaj berkata,
az zukhruf dari segi bahasa bermakna al zinah atau perhiasan, maknanya sebahagian menghiasi sebahagian yang lain dengan amalan yang buruk.

Dalam Kamus Al Munjid, lafaz ini mengandung makna sesuatu yang bagus dan apabila disandarkan kepada al kalam berarti percakapan yang batil, apabila disandarkan kepada al ardh berarti beraneka ragam warna tumbuh­ tumbuhannya."

Disebut empat kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-Al An'aam (6), ayat 112;
-Yunus (10), ayat 24;
-Al Israa (17), ayat 93;
-Az Zukhruf (43), ayat 35.

Di dalam Al Qur'an, zukhruf mengandung beberapa makna menurut sandarannya yaitu:

1. Ia disandarkan kepada al qaul (percakapan) seperti dalam surah Al An'aam.

Ibn Qutaibah berkata,
zukhrufal qaul bermakna perkara yang dihiasi dari percakapan dan diperindah lagi dengan kata-kata." Oleh karena itu, Al Yazidi menyatakan, setiap sesuatu yang engkau elokkan dari perkataan adalah kebatilan.

Ibn Katsir menyatakan, zukhrufa qaul bermakna sebahagian menceritakan kepada sebahagian yang lain dengan perkataan yang indah yang menipu pendengarnya sehingga tidak diketahui hakikat perkataan itu.

Dengan itu, Ikrimah dan Mujahid menyatakan, zukhrufal qaul ialah menghiasi kebatilan dengan ungkapan dan kata-kata.

Dari Abi Umamah, katanya, Rasulullah berkata,
"Wahai Abu dzar, berlindunglah engkau dari syaitan, manusia dan jin," Beliau bertanya, "Wahai Rasulullah! Adakah pada manusia ada syaitan?" Beliau menjawab, "Ya' yaitu

شَيَٰطِينَ ٱلْإِنسِ وَٱلْجِنِّ يُوحِى بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ ٱلْقَوْلِ غُرُورًاۚ

Kesimpulannya zukhrufal qaul bermakna perkataan yang dihiasi dengan kebatilan.

2. Ia disandarkan kepada al bait atau al­ buyuut (rumah-rumah) seperti yang terdapat dalam surah Al Israa dan Az Zukhruf.

Dalam surah Al Israa, Az­ Zamakhsyari berkata,
ia bermakna emas, maknanya rumah dari emas, dan dalam surah Az Zukhruf.
Allah berfirman:

لِبُيُوتِهِمْ سُقُفًا مِّن فِضَّةٍ وَمَعَارِجَ عَلَيْهَا يَظْهَرُونَ وَلِبُيُوتِهِمْ أَبْوَٰبًا وَسُرُرًا عَلَيْهَا يَتَّكِـُٔونَ وَزُخْرُفًاۚ

Beliau berkata,
bagi menunjukkan ke­ hinaan perhiasan dan keindahan ke­hidupan dunia di sisi kami, Allah jadi­ kan bagi orang kafir atap, pintu, tangga, dan pagar yang kesemuanya dibuat dari perak dan emas sebagai per­hiasan. Bisa juga asal maknanya atap dari perak dan zukhruf yaitu sebahagian dari perak dan se­bahagian lagi dari emas.

Begitu juga dengan pentafsiran Al Khazin, maknanya, "Dan Kami jadikan kesemuanya dari emas atau perhiasan segala sesuatu

3. Ia disandarkan kepada lafaz al ardh yang terdapat dalam surah Yunus.
Allah berfirman:

حَتَّىٰٓ إِذَآ أَخَذَتِ ٱلْأَرْضُ زُخْرُفَهَا

Al Qurtubi menyatakan, maknanya keindahan dan perhiasannya. Az­ zukhruf menunjukkan kesempurnaan dan keindahan sesuatu dan dari­nya diungkapkan lafaz emas.

Asy Syaukani juga mengatakan, zukhrufal ardh berarti beragam warnanya yang indah yang sebahagiannya menyerupai warna emas, sebahagian lagi me­nyerupai warna perak, sebahagian lagi menyerupai warna intan dan sebahagian lagi menyerupai warna berlian.

Dalam Shafwa At Tafsir ia bermakna keindahan dunia dan perhiasannya.

4. Ia juga adalah salah satu nama surah di dalam Al Qur'an, yaitu surah yang ke 43 dan terdiri dari 89 ayat. Diriwayatkan oleh Al Mardawayh dari Ibn Abbas surah ini diturunkan di Makkah.

Ibn Itiyyah dan Al Qurtubi keduanya me­nyatakan menurut ijmak ulama surah Az Zukhruf adalah surah Makkiah dan diturunkan setelah surah Asy Syura.

Muqatil berkata,
kecuali ayat 54 yang ia diturunkan di Madinah.

Sa'id Hawwa menyatakan, surah Az­ Zukhruf merangkum mukadimah yang ter­diri dari tiga ayat yaitu,

حمٓ وَٱلْكِتَٰبِ ٱلْمُبِينِ إِنَّا جَعَلْنَٰهُ قُرْءَٰنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Kemudian ayat-ayat berikutnya terdiri dari 3 paragraf (maqaati'), di mana setiap maqaati dimulai dengan ayat wa innahuu yang ber­makna Al Qur'an. Maqaati' pertama dimulai dari ayat 4 hingga 43.
Allah berfirman:

وَإِنَّهُۥ فِىٓ أُمِّ ٱلْكِتَٰبِ لَدَيْنَا لَعَلِىٌّ حَكِيمٌ

Maqaati' kedua dimulai dari ayat 44 hingga 60.
Allah berfirman:

وَإِنَّهُۥ لَذِكْرٌ لَّكَ وَلِقَوْمِكَۖ وَسَوْفَ تُسْـَٔلُونَ

Maqati' ketiga dimulai dari ayat 61 hingga 89.
Allah berfirman:

وَإِنَّهُۥ لَعِلْمٌ لِّلسَّاعَةِ فَلَا تَمْتَرُنَّ بِهَا وَٱتَّبِعُونِۚ هَٰذَا صِرَٰطٌ مُّسْتَقِيمٌ

Setiap permulaan maqaati' menceritakan tentang karakter Al Qur'an dan didapati di dalamnya seruan untuk beriman, menerima dan beramal dengannya disertai penafian keraguan padanya. Topik pembahasannya tidak terlalu panjang dan meluas, namun ia isyarat pada penekanan kandungannya, memberikan dalil kesempurnaan Al Qur'an dan mukjizatnya, menerangkan paradigma dan karakternya dan inilah yang ditemui dalam dua surah yaitu surah Yusuf dan Az Zukhruf.

Walaupun begitu, surah ini mempunyai peranan tersendiri dimana setiap ayat dan kumpulannya mengajak manusia berjalan di atas hidayah.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:271-273

Informasi Surah Al An 'aam (الانعام)
Surat Al An'aam (binatang ternak:
unta, sapi, biri-biri dan kambing) yang terdiri atas 165 ayat, termasuk golongan surat Makkiyyah, karena hampir seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Mekah dekat sebelum hijrah.

Dinamakan Al An'aam karena di dalamnya disebut kata "An'aam" dalam hubungan dengan adat istiadat kaum musyrikin, yang menurut mereka binatang­ binatang temak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Juga dalam surat ini disebutkan hukum-hukum yang berkenaan dengan binatang ternak itu.

Keimanan:

Bukti-bukti keesaan Allah serta kesempumaan sifat-sifat-Nya
kebenaran kena­bian Nabi Muhammad ﷺ
penyaksian Allah atas kenabian Ibrahim, Ishaq, Ya' qub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun, Zakaria, Yahya, 'Isa, Ilyas, Alyasa', Yunus dan Luth
penegasan tentang adanya risalah dan wahyu serta hari pembalasan dan hari kebangkitan kepalsuan kepercayaan orang-orang musy­rik dan keingkaran mereka terhadap hari kiamat.

Hukum:

Larangan mengikuti adat istiadat yang dibuat-buat oleh kaum Jahiliyah
makanan yang halal dan yang haram
wasiat yang sepuluh dari Al Qur'an
tentang tauhid keadilan dan hukum-hukum
larangan mencaci maki berhala orang musyrik karena mereka akan membalas dengan mencaci maki Allah.

Kisah:

Kisah umat-umat yang menentang rasul-rasul
kisah pengalaman Nabi Muhammad ﷺ dan para nabi pada umumnya
cerita Nabi Ibrahim a.s. membimbing kaum­ nya kepada tauhid.

Lain-lain:

Sikap kepala batu kaum musyrikin
cara seorang nabi memimpin umatnya
bi­dang-bidang kerasulan dan tugas rasul-rasul
tantangan kaum musyrikin untuk melemahkan rasul
kepercayaan orang-orang musyrik terhadap jin, syaitan dan malaikat
beberapa prinsip keagamaan dan kemasyarakatan
nilai hidup duniawi.


Gambar Kutipan Surah Al An ‘aam Ayat 112 *beta

Surah Al An 'aam Ayat 112



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al An 'aam

Surah Al-An'am (bahasa Arab:الانعام, al-An'ām, "Binatang Ternak") adalah surah ke-6 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 165 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah, karena hampir seluruh ayat surah ini diturunkan di Mekkah sebelum hijrah.
Dinamakan Al-An'am (hewan ternak) karena di dalamnya disebut kata An'am dalam hubungan dengan adat-istiadat kaum musyrik, yang menurut mereka binatang-binatang ternak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Dalam surah ini juga dikemukakan hukum berkenaan dengan hewan ternak tersebut.

Dalam surah al-An'am ini, terdapat do'a Iftitah yang disunnahkan untuk membacanya dengan tidak bersuara.
Doa ini dibaca pada saat setelah takbir dan sebelum bacaan surah Al-Fatihah.
Sebagian ayat-ayat yang dibaca adalah ayat 79 dan 163.

Nomor Surah 6
Nama Surah Al An 'aam
Arab الانعام
Arti Hewan Ternak
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 55
Juz Juz 3 (ayat 1-91),
juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 165
Jumlah kata 3055
Jumlah huruf -
Surah sebelumnya Surah Al-Ma'idah
Surah selanjutnya Surah Al-A’raf
4.4
Rating Pembaca: 4.6 (12 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku