QS. Al An ‘aam (Hewan Ternak) – surah 6 ayat 104 [QS. 6:104]

قَدۡ جَآءَکُمۡ بَصَآئِرُ مِنۡ رَّبِّکُمۡ ۚ فَمَنۡ اَبۡصَرَ فَلِنَفۡسِہٖ ۚ وَ مَنۡ عَمِیَ فَعَلَیۡہَا ؕ وَ مَاۤ اَنَا عَلَیۡکُمۡ بِحَفِیۡظٍ
Qad jaa-akum bashaa-iru min rabbikum faman abshara falinafsihi waman ‘amiya fa’alaihaa wamaa anaa ‘alaikum bihafiizhin;

Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang, maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri, dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya.
Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara(mu).
―QS. 6:104
Topik ▪ Takdir ▪ Manusia antara memilih dan dipaksa ▪ Aneka ragam tumbuhan
6:104, 6 104, 6-104, Al An ‘aam 104, AlAnaam 104, Al Anaam 104, Al Anam 104, AlAnam 104, Al An’am 104

Tafsir surah Al An 'aam (6) ayat 104

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al An ‘aam (6) : 104. Oleh Kementrian Agama RI

Setelah itu Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan kepada kaum Muslimin bahwasanya tanda-tanda bukti kebenaran dan dalil-dalil yang kuat telah datang kepada mereka dari pada-Nya.
Tanda-tanda bukti kebenaran dan dalil-dalil yang kuat itu dapat diketahui oleh mereka baik berupa tanda-tanda kekuasaan Allah di jagat raya maupun petunjuk Allah yang diberikan kepada mereka dengan perantaraan Nabi Muhammad ﷺ.
berupa wahyu.
Kedua bukti itu dapat memperkuat keyakinan mereka tentang adanya Allah.
Sesudah itu Allah subhanahu wa ta’ala menandaskan bahwa barangsiapa yang dapat melihat kebenaran dengan jalan memperhatikan kedua bukti itu, dan meyakini adanya Allah serta melakukan amal yang baik, maka manfaat dan semuanya itu adalah untuk dirinya sendiri.
Akan tetapi sebaliknya barangsiapa yang tidak mau melihat kebenaran atau berpura-pura tidak mengerti, maka akibat buruk dari sikapnya itu akan menimpa dirinya sendiri.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Barangsiapa mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri.
(Q.S Fussilat: 46)

Di akhir ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ.
untuk mengatakan kepada kaumnya bahwa Muhammad ﷺ sekali-kali bukanlah pemelihara mereka, yakni Nabi Muhammad sekali-kali tidak ditugaskan mengawasi amal-amal mereka dan tidak dapat membuat mereka menjadi mukmin.
Dia hanyalah seorang utusan Allah yang ditugaskan untuk menyampaikan wahyu yang telah diterimanya.
Sebenarnya yang mengawasi amal mereka ialah Allah subhanahu wa ta’ala Dia mempunyai pengawasan yang tidak terbatas terhadap semua amal mereka baik yang mereka lakukan secara terang-terangan ataupun yang mereka lakukan secara sembunyi-sembunyi.
Semua amal-amal itu akan diberi balasan yang setimpal.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Katakan, wahai Muhammad, kepada umat manusia, “Alasan-alasan dan keterangan-keterangan yang jelas dalam Al Quran dari Tuhan Pencipta dan Penguasa urusan kalian, telah datang membawa sinar kebenaran.
Barangsiapa menerima dan mengambil manfaat dari keterangan-keterangan itu, maka manfaatnya akan kembali kepada dirinya sendiri.
Aku tidak diutus untuk menjaga kalian! Aku hanya seorang rasul pembawa pesan-pesan Tuhan kepadamu.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

Katakanlah olehmu hai Muhammad kepada mereka (Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti-bukti) hujah-hujah (dari Tuhanmu, maka siapa melihat) bukti-bukti kebenaran itu, lalu ia mau beriman kepadanya (maka manfaatnya bagi dirinya sendiri) sebab pahalanya dia sendirilah yang merasakannya sebagai imbalan dari maunya dia melihat bukti-bukti itu (dan siapa buta) tidak mau melihat kebenaran itu sehingga ia menjadi sesat (maka kemudaratannya kembali kepada dirinya) yakni malapetaka dari kesesatannya itu.

(Dan aku, Muhammad, sekali-kali bukanlah pemeliharamu) yang selalu mengawasi amal perbuatanmu karena sesungguhnya aku ini hanyalah seorang pemberi peringatan.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Katakan wahai Rasul kepada orang-orang musyrikin :
Telah datang kepada kalian bukti-bukti nyata yang dengannya kamu melihat hidayah dari kesesatan yang di kandung oleh al-Qur an yang dibawa oleh Rasul.
Barangsiapa yang mengetahui bukti-bukti tersebut dan beriman kepada petunjuknya, maka manfaatnya kembali kepada dirinya.
Namun barangsiapa yang tidak melihat hidayah tersebut setelah hujjah tegak atasnya maka dia telah melakukan kejahatan atas dirinya sendiri.
Aku bukan penanggung jawab dan penghitung atas amal-amal perbuatan kalian, akan tetapi aku hanya seorang penyampai.
Alah membimbing siapa yang Dia kehendaki dan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki sesuai dengan ilmu dan hikmah-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Yang dimaksud dengan istilah basair ialah bukti-bukti dan hujah-hujah yang terkandung di dalam Al-Qur’an dan semua yang disampaikan oleh Rasulullah ﷺ

…maka barang siapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri

Ayat tersebut semakna dengan ayat lain, yaitu:

Barang siapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri, dan barang siapa yang sesat, maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri.
(Al Israa’:15)

Karena itulah dalam surat ini disebutkan:

…dan barang siapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudaratannya kembali kepadanya.

Setelah disebutkan basair, yakni bukti-bukti dan hujah-hujah, lalu disebutkan:

…dan barang siapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudaratannya kembali kepadanya.

Artinya, sesungguhnya akibat buruknya akan menimpa dirinya sendiri, sama halnya dengan yang disebutkan di dalam firman lain:

Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.
(Al Hajj:46)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara (kalian).

Yakni bukan sebagai pemelihara, bukan pula sebagai pengawas, melainkan semata-mata sebagai penyampai, dan Allah menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya dan menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya.


Informasi Surah Al An 'aam (الانعام)
Surat Al An’aam (binatang ternak:
unta, sapi, biri-biri dan kambing) yang terdiri atas 165 ayat, termasuk golongan surat Makkiyyah, karena hampir seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Mekah dekat sebelum hijrah.

Dinamakan Al An’aam karena di dalamnya disebut kata “An’aam” dalam hubungan dengan adat istiadat kaum musyrikin, yang menurut mereka binatang­ binatang temak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Juga dalam surat ini disebutkan hukum-hukum yang berkenaan dengan binatang ternak itu.

Keimanan:

Bukti-bukti keesaan Allah serta kesempumaan sifat-sifat-Nya
kebenaran kena­bian Nabi Muhammad ﷺ
penyaksian Allah atas kenabian Ibrahim, Ishaq, Ya’ qub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun, Zakaria, Yahya, ‘Isa, Ilyas, Alyasa’, Yunus dan Luth
penegasan tentang adanya risalah dan wahyu serta hari pembalasan dan hari kebangkitan kepalsuan kepercayaan orang-orang musy­rik dan keingkaran mereka terhadap hari kiamat.

Hukum:

Larangan mengikuti adat istiadat yang dibuat-buat oleh kaum Jahiliyah
makanan yang halal dan yang haram
wasiat yang sepuluh dari Al Qur’an
tentang tauhid keadilan dan hukum-hukum
larangan mencaci maki berhala orang musyrik karena mereka akan membalas dengan mencaci maki Allah.

Kisah:

Kisah umat-umat yang menentang rasul-rasul
kisah pengalaman Nabi Muhammad ﷺ dan para nabi pada umumnya
cerita Nabi Ibrahim a.s. membimbing kaum­ nya kepada tauhid.

Lain-lain:

Sikap kepala batu kaum musyrikin
cara seorang nabi memimpin umatnya
bi­dang-bidang kerasulan dan tugas rasul-rasul
tantangan kaum musyrikin untuk melemahkan rasul
kepercayaan orang-orang musyrik terhadap jin, syaitan dan malaikat
beberapa prinsip keagamaan dan kemasyarakatan
nilai hidup duniawi.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-An-'aam (6) ayat 104 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-An-'aam (6) ayat 104 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-An-'aam (6) ayat 104 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-An-'aam - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 165 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 6:104
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al An 'aam.

Surah Al-An'am (bahasa Arab:الانعام, al-An'ām, "Binatang Ternak") adalah surah ke-6 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 165 ayat dan termasuk pada golongan surah Makkiyah, karena hampir seluruh ayat surah ini diturunkan di Mekkah sebelum hijrah.
Dinamakan Al-An'am (hewan ternak) karena di dalamnya disebut kata An'am dalam hubungan dengan adat-istiadat kaum musyrik, yang menurut mereka binatang-binatang ternak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka.
Dalam surah ini juga dikemukakan hukum berkenaan dengan hewan ternak tersebut.

Dalam surah al-An'am ini, terdapat do'a Iftitah yang disunnahkan untuk membacanya dengan tidak bersuara.
Doa ini dibaca pada saat setelah takbir dan sebelum bacaan surah Al-Fatihah.
Sebagian ayat-ayat yang dibaca adalah ayat 79 dan 163.

Nomor Surah6
Nama SurahAl An 'aam
Arabالانعام
ArtiHewan Ternak
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu55
JuzJuz 3 (ayat 1-91),
juz 4 (ayat 92-200)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat165
Jumlah kata3055
Jumlah huruf-
Surah sebelumnyaSurah Al-Ma'idah
Surah selanjutnyaSurah Al-A’raf
4.8
Ratingmu: 4.6 (28 orang)
Sending







Pembahasan ▪ surat 6 ayat 104

Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di  







Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta