QS. Al Ahqaaf (Bukit-bukit pasir) – surah 46 ayat 29 [QS. 46:29]

وَ اِذۡ صَرَفۡنَاۤ اِلَیۡکَ نَفَرًا مِّنَ الۡجِنِّ یَسۡتَمِعُوۡنَ الۡقُرۡاٰنَ ۚ فَلَمَّا حَضَرُوۡہُ قَالُوۡۤا اَنۡصِتُوۡا ۚ فَلَمَّا قُضِیَ وَلَّوۡا اِلٰی قَوۡمِہِمۡ مُّنۡذِرِیۡنَ
Wa-idz sharafnaa ilaika nafaran minal jinni yastami’uunal quraana falammaa hadharuuhu qaaluuu anshituu falammaa qudhiya wallau ila qaumihim mundziriin(a);

Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata:
“Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”.
Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.
―QS. 46:29
Topik ▪ Jin ▪ Jin mendengarkan Al Qur’an ▪ Sifat surga dan kenikmatannya
46:29, 46 29, 46-29, Al Ahqaaf 29, AlAhqaaf 29, Al Ahqaf 29, AlAhqaf 29, Al-Ahqaf 29

Tafsir surah Al Ahqaaf (46) ayat 29

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Ahqaaf (46) : 29. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kepada Rasulullah ﷺ agar menyampaikan kepada orang-orang musyrik Mekah peristiwa tentang pertemuannya dengan sekelompok jin yang telah datang kepadanya untuk mendengarkan dan memperhatikan pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an.
Pada waktu mereka mendengarkan bacaannya, di antara mereka ada yang berkata kepada yang lain, “Dengarlah baik-baik bacaan Al-Qur’an ini agar dengan demikian kita dapat memusatkan perhatian kepada bacaan yang belum pernah kita dengar selama ini dan untuk menunjukkan sikap dan budi pekerti yang baik pada waktu mendengarkan pembacaan ayat Al-Qur’an yang mulia ini.” Setelah mereka selesai mendengarkan bacaan Al-Qur’an itu, mereka kembali kepada kaumnya untuk menyampaikan apa yang telah mereka dengarkan itu.
Dalam ayat ini diterangkan bahwa jin telah mendengarkan pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an dari Nabi ﷺ.
Bagaimana cara jin mendengarkan pembacaan itu dan bagaimana Nabi ﷺ memperdengarkannya tidak ada keterangan yang menerangkannya dengan jelas.
Demikian pula, tidak ada bukti-bukti nyata yang dapat dikemukakan dengan pasti adanya alam jin itu sendiri.
Adanya alam jin itu hanya didapat dari ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi ﷺ.
Maka kita sebagai umat Islam wajib mempercayai adanya jin itu, sebagaimana kita wajib mempercayai adanya malaikat, karena kepercayaan kepada adanya jin dan malaikat termasuk dalam keimanan kepada seluruh isi Al-Qur’an yang merupakan sumber pokok agama Islam.
Malaikat dan jin termasuk makhluk gaib, karena itu hanya Allah saja yang mengetahui dengan pasti tentang hakikat dan kejadiannya.
Seorang Muslim wajib percaya bahwa Nabi Muhammad pernah berhubungan dengan malaikat, seperti ketika menerima wahyu dan sebagainya.
Demikian pula seorang Muslim wajib percaya pula bahwa pada suatu waktu, ketika Rasulullah ﷺ masih hidup, beliau pernah berhubungan dengan jin, yaitu ketika membacakan ayat-ayat Al-Qur’an kepada mereka, dan waktu mereka mendengarkan dengan sungguh-sungguh, kemudian menyampaikan kepada kaumnya.

Mengenai hadis-hadis Rasulullah yang menerangkan pertemuan beliau dengan serombongan jin antara lain hadis di bawah ini: Masruq berkata, “Aku bertanya kepada Ibnu Mas’ud tentang siapa yang memberitahukan kepada Nabi Muhammad ﷺ akan kehadiran jin pada malam mereka mendengarkan bacaan Al-Qur’an,” beliau menjawab, “Yang memberitahukan kehadiran mereka ialah pohon kayu itu.”
(Riwayat Bukhari dan Muslim)

Pada hadis yang lain disebutkan sebagai berikut: ‘Alqamah berkata, “Aku bertanya kepada Ibnu Mas’ud, adakah salah seorang di antara kamu yang menyertai Rasulullah ﷺ pada malam pertemuannya dengan jin?”
Ibnu Mas’ud menjawab, “Tidak seorang pun di antara kami yang menyertainya.”
(Riwayat Ahmad, Muslim, dan At-Tirmidzi)

Ayat ini diturunkan ketika Rasulullah ﷺ dan para sahabat sedang menghadapi tantangan yang sangat berat dari kaum musyrik Mekah.
Setelah istri yang beliau cintai, Khadijah wafat, kemudian disusul dengan wafatnya paman beliau, Abu thalib, beliau merasa kehilangan orang-orang yang selama ini melindungi dan menolong beliau dari gangguan orang-orang Quraisy.
Sementara itu, ancaman dan gangguan orang Quraisy semakin bertambah.
Menghadapi keadaan semacam ini beliau pergi ke kota thaif dengan harapan akan mendapat perlindungan dan pertolongan dari Bani saqif.
Tetapi beliau tidak memperoleh apa yang diharapkannya, bahkan Bani saqif sendiri bertindak kasar dengan menyuruh budak-budak mereka mengusir dan melempari Rasulullah ﷺ sehingga kaki beliau luka dan berdarah.
Mereka memaksa Rasulullah ﷺ melarikan diri ke kebun ‘Utbah dan Syaibah.
Di sana beliau berlindung dari teriknya matahari.
Setelah beliau berdoa meminta pertolongan dari Allah, barulah budak-budak itu pergi.
Kemudian Rasulullah kembali ke Mekah.
Dalam perjalanan itu, beliau singgah di Nakhlah, suatu tempat di pinggir kota Mekah.
Beliau bermalam di sana.
Maka pada malam ketika beliau sedang salat dan membaca Al-Qur’an dalam salat itu, Allah mengerahkan tujuh pemuka jin untuk mendengarkan Nabi ﷺ membaca Al-Qur’an.
Beliau tidak mengetahui akan kedatangan jin dan beliau juga tidak mengetahui saat jin itu kembali ke tempatnya.
Dengan turunnya ayat ini barulah Rasulullah ﷺ mengetahui kedatangan jin itu.
Ayat ini diturunkan untuk menenteramkan hati Nabi dan para sahabatnya.
Tidak lama setelah itu, terjadilah peristiwa Isra’ dan Mi’raj.
Kedua peristiwa itu menambah kuat hati Nabi dan keyakinannya akan keberhasilannya menyampaikan risalah yang ditugaskan Allah kepadanya.

Ayat ini juga menerangkan bahwa jin memperhatikan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca Rasulullah, kemudian menyampaikan isi Al-Qur’an itu kepada kaumnya.
Dari peristiwa ini, dapat diambil kesimpulan bahwa seruan Rasulullah ﷺ itu tidak saja tertuju kepada seluruh manusia, tetapi juga ditujukan kepada jin, makhluk gaib yang tidak dapat diketahui hakikat dan keadaannya oleh manusia.
Hanya saja kita manusia tidak mengetahui kapan dan bagaimana caranya jin itu melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah.
Sebagian ahli tafsir mengambil kesimpulan berdasarkan ayat ini bahwa seandainya ada makhluk hidup yang berada di luar planet bumi ini, yang keadaannya seperti manusia, yaitu dapat berpikir, berbuat, dan berperasaan, maka risalah Muhammad ﷺ berlaku pula bagi mereka, dan kaum Muslimin wajib menyampaikannya kepada mereka sedapat mungkin.
Jin sebagai makhluk gaib wajib melaksanakan risalah Muhammad ﷺ dan tentulah makhluk lain yang tidak gaib dan sama dengan manusia lebih wajib lagi melaksanakan risalah Muhammad ﷺ.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Dan ingatlah, hai Muhammad, ketika Kami menghadapkan kepadamu sekelompok jin yang mendengarkan Al Quran.
Ketika mereka hadir saat Al Quran dibacakan, mereka berkata satu sama lain, “Diam dan dengarkan!” Dan Ketika telah selesai dibacakan, mereka cepat-cepat kembali kepada kaumnya untuk mengingatkan mereka agar tidak bersikap kafir dan mengajak mereka untuk beriman.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan) ingatlah (ketika Kami hadapkan) Kami cenderungkan (kepadamu serombongan jin) yaitu jin Nashibin dari negeri Yaman atau Jin Nainawi, jumlah mereka ada tujuh atau sembilan jin.

Nabi ﷺ ketika itu berada di lembah Nakhl sedang melakukan salat Subuh berjemaah dengan para sahabatnya.

Demikianlah menurut hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim (yang mendengarkan Alquran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaannya, lalu mereka berkata) sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain, (“Diamlah kalian”) untuk mendengarkan bacaannya.

(Ketika pembacaan telah selesai) ketika nabi selesai membaca Alquran (mereka kembali) pulang kembali (kepada kaumnya untuk memberi peringatan) artinya, mereka kembali setelah mendengarkan Alquran kepada kaumnya sebagai pemberi peringatan akan datangnya azab jika mereka tidak beriman kepada Nabi.

Mereka sebelum itu pemeluk agama Yahudi, lalu setelah mendengarkan bacaan Alquran mereka masuk Islam.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sufyan, telah menceritakan kepada kami Amr, bahwa ia pernah mendengar Iknmah menceritakan hadis berikut dari Az-Zubair sehubungan dengan firman Allah subhanahu wa ta'ala: Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur’an.
(Q.S. Al-Ahqaaf [46]: 29) Az-Zubair mengatakan bahwa kejadian ini di Nakhlah saat Rasulullah ﷺ sedang membaca Al-Qur'an dalam salat Isyanya.
hampir saja jin-jin itu desak-mendesak mengerumuninya.
(Q.S. Al-Jinn [72]: 19) Sufyan mengatakan bahwa sebagian dari jin-jin itu berdesakan dengan sebagian yang lainnya.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad secara munfarid.
Nanti akan disebutkan melalui riwayat Ibnu Jarir, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas r.a., bahwa mereka terdiri dari tujuh jin dari jin penduduk Nasibin.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Attan, telah menceritakan kepada kami Abu Uwwanah, dan telah menceritakan kepada kami Imam Al-Hafiz Abu Bakar Al-Baihaqi di dalam kitabnya yang berjudul Dalailun Nubuwwah, bahwa telah menceritakan kepada kami Abul Hasan Ali ibnu Ahmad ibnu Abdan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Ubaid As-Saffar, telah menceritakan kepada kami Ismail Al-Qadi, telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Abu Uwwanah, dari Abu Bisyr, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah membacakan Al-Qur'an kepada jin dan tidak pula beliau melihat mereka.
Rasulullah ﷺ berangkat bersama segolongan sahabatnya menuju pasar Ukaz.
Dan saat itu antara setan dan berita dari langit telah dihalang-halangi, karena langit telah dijaga oleh bintang-bintang yang menyala­ nyala yang melempari setan yang hendak mencuri-curi dengar dari berita langit, maka setan-setan pun kembali kepada kaumnya.
Maka kaumnya bertanya, "Mengapa kalian?"
Setan-setan itu menjawab, "Telah dihalang-halangi antara kami dan berita dari langit, dan dikirimkan bintang yang menyala-nyala mengejar kami." Kaumnya berkata, "Tiada yang menjadi penyebab kalian dihalang-halangi dari berita langit, melainkan telah terjadi sesuatu peristiwa.
Maka berangkatlah kalian ke belahan timur dan barat bumi, lalu carilah penyebab yang menghalang-halangi kalian dari berita langit itu!" Maka berangkatlah mereka menjelajahi belahan timur dan barat bumi untuk mencari orang yang menjadi penyebab yang menghalang-halangi mereka dari berita langit.
Serombongan jin berangkat menuju ke arah Tihamah yang saat itu Rasulullah ﷺ sedang berada di Nakhlah dalam perjalanannya menuju pasar 'Ukaz.
Rasulullah ﷺ sedang melakukan salat Subuh mengimami para sahabatnya.
Ketika jin-jin itu mendengar bacaan Al-Qur'an, maka mereka mendengarkannya, lalu mengatakan, "Demi Allah, inilah yang menjadi penyebab kalian dihalang-halangi dari berita langit." Dan ketika rombongan jin itu kembali kepada kaumnya, mereka berkata kepada kaumnya: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur'an yang menakjubkan (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya.
Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Tuhan kami (Q.S. Al-Jinn [72]: 1-2) Dan Allah subhanahu wa ta'ala menurunkan firman-Nya: Katakanlah (hai Muhammad), "Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya sekumpulan jin telah mendengarkan (Al Qur'an) " (Q.S. Al-Jinn [72]: 1) Dan sesungguhnya yang diwahyukan kepada Nabi ﷺ hanyalah menceritakan tentang ucapan jin kepada kaumnya.

Imam Bukhari telah meriwayatkan hadis ini dari Musaddad dengan lafaz yang semisal.
Imam Muslim meriwayatkannya melalui Syaiban ibnu Farukh, dari Abu Uwwanah dengan sanad yang sama.
Imam Turmuzi dan Imam Nasai telah meriwayatkannya di dalam kitab tafsir melalui hadis Abu Uwwanah.

Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad, telah menceritakan kepada kami Israil, dari Abu Ishaq, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a.
yang mengatakan bahwa dahulu jin dapat mendengarkan wahyu (mencuri-curi dengar dari berita langit), maka mereka mendengarkan satu kalimat, lalu mereka membubuhinya dengan sepuluh kalimat.
Maka apa yang mereka dengar itu adalah benar dan apa yang mereka tambahkan itu adalah batil.
Dan pada masa itu bintang-bintang masih belum dilemparkan kepada mereka.
Tetapi ketika Rasulullah ﷺ diutus, maka tidak sekali-kali seseorang dari mereka menempati tempat kedudukannya (di pengintaian), melainkan dilempar dengan panah yang berapi (bintang yang menyala-nyala) yang membakar semua yang dikenainya.
Lalu mereka melapor kepada pemimpin mereka, yaitu Iblis.
Maka Iblis berkata, "Ini tidak lain hanyalah karena ada sesuatu perkara yang terjadi." Lalu iblis menyebarkan bala tentaranya, dan tiba-tiba bala tentara iblis bersua dengan Nabi ﷺ yang sedang salat di antara kedua Bukit Nakhlah.
Lalu mereka mendatanginya, dan sepulang dari itu mereka menceritakan hal itu kepada iblis, lalu iblis berkata, "Itulah yang dimaksud dengan kejadian di bumi."

Imam Turmuzi dan Imam Nasai di dalam kitab tafsir masing-masing, bagian dari kitab sunnah masing-masing, telah meriwayatkan hadis ini melalui Israil dengan sanad yang sama.
Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ayyub, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Al-Aufi, dari Ibnu Abbas r.a.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Al-Hasan Al-Basri, bahwa sesungguhnya Nabi ﷺ tidak merasakan keberadaan mereka (jin-jin yang mendengarkan bacaannya) sebelum Allah subhanahu wa ta'ala menurunkan wahyu kepadanya yang menceritakan perihal mereka.

Muhammad ibnu Ishaq telah meriwayatkan dari Yazid ibnu Ruman dan Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi kisah keberangkatan Nabi ﷺke Taif, seruan Nabi ﷺ kepada mereka untuk menyembah Allah dan penolakan mereka terhadap seruannya.
Lalu disebutkan kisah ini dengan panjang lebar, antara lain disebutkan sebuah doa yang baik yang dipanjatkan oleh Nabi ﷺ, yaitu:

Ya Allah, sesungguhnya aku mengadu kepada Engkau lemahnya kekuatanku dan minimnya upayaku serta kecilnya diriku di mata orang lain (musyrik Mekah).
Wahai Yang Maha Pemurah di antara para pemurah, Engkaulah Tuhannya orang-orang yang lemah, Engkaulah Tuhanku, lalu kepada siapakah Engkau serahkan diriku?
Apakah kepada musuh yang jauh yang kelak akan menghinaku ataukah kepada teman yang dekat yang Engkau serahkan urusanku kepadanya?
Jika Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli tetapi pemaafan-Mu lebih luas bagiku.
Aku berlindung kepada cahaya Zat-Mu yang menerangi semua kegelapan dan dapat memperbaiki urusan dunia dan akhirat, Janganlah Engkau turunkan murka-Mu kepadaku atau Engkau timpakan kepadaku murka-Mu, dan hanya kepada Engkaulah memohon rida hingga Engkau rida, tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan-Mu.

Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi melanjutkan kisahnya, bahwa setelah Rasulullah ﷺ meninggalkan Taif, beliau menginap di Nakhlah, lalu membaca sebagian dari Al-Qur'an di malam itu, dan jin dari penduduk Nasibin mendengarkan bacaannya ini memang benar, tetapi perkataan Muhammad ibnu Ka'b dalam kisahnya ini yang menyebutkan bahwa sesungguhnya pendengaran bacaan Al-Qur'an yang dilakukan oleh jin adalah malam itu, masih perlu dipertimbangkan kebenarannya.
Karena sesungguhnya pendengaran yang dilakukan oleh jin adalah pada permulaan wahyu sebagaimana yang disimpulkan dari hadis Ibnu Abbas r.a.
yang telah disebutkan di atas, sedangkan keberangkatan Nabi ﷺ ke Taif adalah sesudah pamannya meninggal dunia, yaitu satu atau dua tahun sebelum hijrah, seperti yang telah ditetapkan oleh Ibnu Ishaq dan lain-lainnya.
Hanya Allah-Iah Yang Maha Mengetahui.

Abu Bakar ibnu Abu Syaibah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Az-Zubairi, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Asim, dari Zur, dari Abdullah ibnu Mas'ud r.a.
yang mengatakan bahwajin-jin itu turun menemui Nabi ﷺ yang saat itu sedang membaca Al-Qur'an di Lembah Nakhlah.
Ketika mereka mendengar bacaannya, mereka mendengarkan dengan penuh perhatian dan mengatakan kepada teman-temannya, "Diamlah!" Jumlah mereka adalah sembilan jin, yang salah satu dari mereka berupa zauba'ah (angin puyuh).
Maka Allah menurunkan firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya), lalu mereka berkata, 'Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).” Ketika pembacaan telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.
(Q.S. Al-Ahqaaf [46]: 29) sampai dengan firman-Nya: Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.
(Q.S. Al-Ahqaaf [46]: 32)

Riwayat ini beserta riwayat yang pertama yang diceritakan oleh Ibnu Abbas r.a.
menunjukkan pengertian bahwa Rasulullah ﷺ tidak merasakan kehadiran jin-jin itu dalam pertemuan kali itu.
Sesungguhnya mereka (jin-jin itu) hanya mendengarkan bacaannya saja, lalu mereka kembali kepada kaumnya.
Dan sesudah itu mereka mengirimkan delegasi mereka kepada Nabi ﷺ serombongan demi serombongan dan delegasi demi delegasi, sebagaimana yang akan diceritakan oleh sebagian dari riwayat dan atsar yang akan kami kemukakan kemudian.

Adapun mengenai hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim secara berbarengan dari Abu Qudamah alias Ubaidillah ibnu Sa'id As-Sarkhasi, dari Abu Umamah Hammad ibnu Usamah, dari Mis'ar ibnu Kidam, dari Ma'an ibnu Abdur Rahman yang menceritakan bahwa ia pernah mendengar ayahnya menceritakan kepadanya bahwa ia pernah bertanya kepada Masruq, "Siapakah yang memberitahukan kepada Nabi ﷺ kehadiran jin di malam mereka mendengarkan bacaan Al-Qur'an (Nabi ﷺ)?"
Masruq menjawab, "Aku telah mendengar ayahmu (yakni Ibnu Mas'ud r.a.) mengatakan bahwa yang mem­beritahukan kepada beliau ﷺ tentang kehadiran mereka (serombongan jin itu) adalah sebuah pohon (kurma)." Barangkali hal ini pada kejadian yang pertama, tetapi pada mulanya beliau ﷺ tidak merasakan kehadiran mereka hingga pohonlah yang memberitahukan kepada beliau tentang kehadiran mereka.
Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Dan barangkali hal ini terjadi pada sebagian pertemuan yang terakhir, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Imam Baihaqi mengatakan bahwa apa yang telah diceritakan oleh Ibnu Abbas r.a., tiada lain permulaan jin mendengar bacaan Rasulullah ﷺ dan mereka baru mengetahui keadaannya.
Pada kali itu beliau tidak membacakan Al-Qur'an kepada mereka dan tidak melihat mereka.
Sesudah itu datanglah undangan jin kepadanya, maka barulah beliau membacakan kepada mereka Al-Qur'an dan menyeru mereka kepada Allah subhanahu wa ta'ala sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat Abdullah ibnu Mas'ud r.a.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Daud, dari Asy-Sya'bi dan Ibnu Abu Zaidah, telah menceritakan kepada kami Daud, dari Asy-Sya'bi, dari 'Alqamah yang mengatakan bahwa aku bertanya kepada Abdullah ibnu Mas'ud r.a., "Apakah Rasulullah ﷺ membawa seseorang dari kalian di malam jin?"
Ibnu Mas'ud r.a.
menjawab, "Tiada seorang pun dari kami yang menemaninya, tetapi kami merasa kehilangan beliau di suatu malam di Mekah, maka kami mengatakan, 'Beliau diculik.' Aku merasa curiga, dan kami tidak dapat memikirkan apa yang harus kami perbuat."

Ibnu Mas'ud melanjutkan kisahnya, bahwa malam itu kami jalani dengan perasaan tidak menentu.
Dan ketika malam menjelang Subuh atau di waktu sahur, tiba-tiba kami melihat beliau ﷺ dalam kegelapan datang dari arah Hira.
Lalu kami berseru, "Wahai Rasulullah!" Kemudian kami menceritakan kepadanya perihal kecemasan kami terhadap beliau selama beliau tidak bersama kami.
Maka beliau ﷺ menjawab:

Sesungguhnya telah datang kepadaku utusan dari jin, maka aku temui mereka dan kubacakan (Al Qur'an) kepada mereka.

Kemudian Nabi ﷺ pergi dan memperlihatkan kepada kami bekas perapian mereka dan jejak-jejak mereka.

Asy-Sya'bi mengatakan bahwa para sahabat menanyakan kepada Rasulullah ﷺ mengenai makanan yang dikonsumsi jin.
Amir mengatakan bahwa mereka menanyakannya kepada Nabi ﷺ di Mekah, dan para jin itu berasal dari jin yang ada di Jazirah Arabia.
Maka Nabi ﷺ menjawab:
Setiap tulang (hewan) yang disebutkan nama Allah (saat menyembelihnya) yang dibuang dari tangan kalian dalam keadaan masih ada dagingnya, dan setiap kotoran atau tahi ternak kalian.
Lalu dalam sabda selanjutnya disebutkan: Maka janganlah kamu bersuci memakai keduanya (tulang dan kotoran hewan yang telah kering), karena sesungguhnya keduanya itu adalah makanan saudara-saudara kalian dari makhluk jin.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam kitab sahihnya, dari Ali ibnu Hajar, dari Ismail ibnu Aliyyah dengan sanad yang semisal.

Imam Muslim mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Musanna, telah menceritakan kepada kami Abdul A'la, telah menceritakan kepada kami Daud alias ibnu Abu Hindun, dari Amir yang menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada Ibnu Mas'ud r.a., "Apakah ada seseorang dari kalian (para sahabat) yang menemani Rasulullah ﷺ di malam jin?"
Ibnu Mas'ud r.a.
menjawab, "Tidak ada seorang pun dari kami yang menemaninya."

Ibnu Mas'ud r.a.
melanjutkan bahwa pada mulanya kami bersama Nabi ﷺ di suatu malam.
Tiba-tiba kami merasa kehilangan beliau, maka kami mencarinya di lembah-lembah dan lereng-lereng sekitar kami berada, hingga ada yang mengatakan bahwa beliau dibawa terbang dan ada pula yang mengatakan diculik.
Malam itu kami jalani dengan penuh kecemasan, dan pada pagi harinya tiba-tiba muncullah beliau dari arah Hira.

Maka kami berkata, "Wahai Rasulullah, kami merasa kehilangan engkau, dan kami telah mencari engkau kemana-mana, tetapi kami tidak menjumpai engkau.
Akhirnya kami jalani malam ini dengan penuh kegelisahan yang pernah dialami oleh suatu kaum." Beliau ﷺ bersabda:

Telah datang kepadaku undangan dari jin, maka aku berangkat bersama mereka dan aku bacakan kepada mereka Al-Qur’an.

Maka Rasulullah ﷺ membawa serta kami dan memperlihatkan kepada kami jejak mereka dan bekas perapian mereka.
Para sahabat bertanya kepada beliau ﷺ tentang makanan yang dikonsumsi oleh jin, maka beliau ﷺ menjawab:

Semua tulang hewan yang disebutkan nama Allah (saat menyembelihnya) yang berada di tangan kalian dalam keadaan masih ada dagingnya, dan semua kotoran atau tahi hewan ternak kalian.
Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda: Maka janganlah kalian beristinja (bersuci) dengan memakai keduanya, karena sesungguhnya keduanya adalah makanan saudara kalian.

Jalur lain diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud r.a.

Abu Ja'far ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ahmad ibnu Abdur Rahman, telah menceritakan kepadaku pamanku, telah menceritakan kepadaku Yunus, dari Az-Zuhri, dari Ubaidillah yang mengatakan bahwa sesungguhnya Abdullah ibnu Mas'ud r.a.
pernah mengatakan bahwa ia telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

Tadi malam aku semalamam membacakan Al-Qur'an kepada jin sambil berdiri di Al-Hujun.

Jalur lain, menyebutkan bahwa Abdullah ibnu Mas'ud ra di malam yang lain ikut bersama Rasulullah ﷺ di malam pertemuannya dengan jin.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ahmad ibnu Abdur Rahman ibnu Wahb, telah menceritakan kepada kami pamanku Abdullah ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab, dari Abu Usman ibnu Syabbah Al-Khuza'i, salah seorang ulama penduduk Syam yang telah menceritakan bahwa sesungguhnya Abdullah ibnu Mas'ud r.a.
pernah menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepada para sahabatnya ketika masih di Mekah:

Barang siapa di antara kalian yang ingin menghadiri urusan dengan jin malam ini, ia dapat ikut.

Maka tiada seorang pun dari mereka yang datang selain diriku (Ibnu Mas ud).

Ibnu Mas'ud melanjutkan kisahnya, "Lalu kami berangkat Ketika kami sampai di dataran yang palingtinggi di Mekah, maka Rasulullah ﷺ membuat garis dengan kakinya dan memerintahkan kepadaku untuk duduk di garis itu.

Kemudian Nabi ﷺ menjauh dariku dan mulai membaca Al-Qur'an Maka beliau dikerumuni oleh makhluk yang banyak sekali jumlahnya sehingga menghalang-halangi pandanganku untuk dapat melihat beliau ﷺ dan aku pun tidak dapat mendengar lagi suaranya.
Kemudian mereka bubar bagaikan kumpulan awan yang bergerak pergi sehingga hanya segolongan dari mereka (jin) yang masih ada bersama beliau.

Tetapi Rasulullah ﷺ terkejut dengan tibanya waktu fajar, lalu beliau pergi buang air di tempat yang lapang, setelah itu beliau mendatangiku dan bertanya kepadaku, 'Kemanakah rombongan jin itu?' Aku menjawab 'Itulah mereka, wahai Rasulullah,' lalu Rasulullah ﷺ memberi mereka tulang dan kotoran hewan yang telah kering sebagai bekal mereka Kemudian beliau melarang seseorang bersuci dengan memakai kotoran hewan yang telah kering atau tulang."

Ibnu Jarir meriwayatkan pula hadis ini dari Muhammad ibnu Abdullah ibnu Abdul Hakam, dari Abu Zar'ah dan Wahb ibnu Rasyid, dari Yunus ibnu Yazid Al-Aili dengan sanad yang sama.

Imam Baihaqi telah meriwayatkan hadis ini di dalam kitab Dala'il-nya melalui hadis Abdullah ibnu Saleh juru tulis Al-Lais, dari Yunus dengan sanad yang sama.
Ishaq ibnu Rahawaih telah meriwayatkan hal yang sama dengan hadis di atas, dari Jarir, dari Qabus ibnu Zabyan, dan ayahnya, dari Ibnu Mas'ud r.a., lalu disebutkan hal yang semisal dengan hadis di atas Al-Hafiz AbuNa'im telah meriwayatkannya melalui jalur Musa ibnu Ubaidah, dari Sa'id ibnul Haris, dari Abul Ma'la, dari Ibnu Mas'ud r.a., lalu disebutkan hal yang semisal dengan hadis di atas.

Jalur lain.
Abu Na’im mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Malik, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Ahmad ibnu Hambal, telah menceritakan kepadaku ayahku yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Affan dan Iknmah, keduanya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Mu'tamir, bahwa ayahnya menceritakan kepadanya bahwa telah menceritakan kepadaku Abu Tamimah, dari Amr, barangkali dia mengatakan Al-Bakkali Amr menceritakan kepadanya dari Abdullah ibnu Mas'ud r.a.
yang mengatakan, "Rasulullah ﷺ pernah membawaku serta pergi, hingga sampailah kami di suatu tempat, lalu beliau membuat sebuah garis di tanah sebagai pembatas untukku seraya bersabda:

'Tetaplah engkau berada di luar garis ini, janganlah engkau keluar darinya; karena sesungguhnya jika engkau keluar darinya, niscaya engkau akan binasa (mati)'.

Lalu disebutkan hadis dengan panjang lebar yang di dalamnya terdapat hal yang sangat aneh.

Jalur lain.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abdul Ala, telah menceritakan kepada kami Ibnu Saur, dari Ma’mar, dari Yahya ibnu Abu Kasir, dari Abdullah ibnu Amr ibnu Gailan As-Saqafi bahwa ia pernah bertanya kepada Abdullah ibnu Mas'ud r.a., "Aku mendengar berita bahwa engkau bersama Rasulullah ﷺ di malam delegasi jin." Ibnu Mas'ud menjawab, "Benar." Abdullah ibnu Amr ibnu Gailan bertanya, "Bagaimanakah ceritanya?"
Maka Abdullah ibnu Mas'ud menceritakan hadis ini dan menyebutkan bahwa Nabi ﷺ membuat pembatas untuknya berupa sebuah garis seraya bersabda:

Jangan kamu tinggalkan tempat ini!

Lalu ibnu Mas'ud r.a.
menyebutkan bahwa ia melihat sekumpulan debu yang berwarna hitam, lalu menutupi diri Rasulullah ﷺ dan kumpulan debu itu disingkirkannya sebanyak tiga kali.
Ketika waktu sudah dekat fajar, Nabi ﷺ mendatanginya dan bertanya, "Apakah engkau tidur?"
Aku menjawab, "Tidak, demi Allah, sesungguhnya aku berkali-kali berniat akan meminta tolong kepada orang lain, hingga aku mendengar engkau memukul mereka dengan tongkatmu seraya berkata, "Duduklah kalian!" Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

Seandainya kamu keluar dari garis ini, aku tidak dapat menjamin keselamatanmu bila ada sebagian dari mereka yang menyambarmu.

Kemudian Rasulullah ﷺ bertanya, "Apakah engkau melihat sesuatu?"
Aku menjawab, "Ya, aku melihat banyak kaum lelaki yang hitam mengenakan pakaian yang putih-putih." Rasulullah ﷺ bersabda:

Mereka adalah jin dari Nasibin, mereka meminta kepadaku perbekalan, maka aku beri mereka bekal dengan tulang yang menghalang-halangi (jalan) atau kotoran (kambing) atau kotoran (unta).

Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah itu dapat mencukupi kebutuhan mereka?"
Rasulullah ﷺ menjawab:

Sesungguhnya mereka tidaklah menemukan tulang, melainkan mereka menemukan daging padanya saat memakannya; dan tidaklah pula kotoran hewan, melainkan mereka menemukan padanya biji-bijian sebagaimana yang dimakan oleh hewan itu.
Maka jangan sekali-kali kalian bersuci saat selesai dari membuang air dengan tulang atau dengan kotoran (kambing yang sudah kering), atau dengan tahi (unta yang sudah kering).

Jalur lain.
Al-Hafiz Abu Bakar Al-Baihaqi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdur Rahman As-Sulami dan Abu Nasr ibnu Qatadah, bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad alias Yahya ibnu Mansur Al-Qadi, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah alias Muhammad ibnu Ibrahim Al-Busyanji, telah menceritakan kepada kami Rauh ibnu Saleh, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ali ibnu Rabah, dari ayahnya Abdullah ibnu Mas'ud r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ membawaku pergi, lalu bersabda:

Sesungguhnya segolongan jin berjumlah lima belas jin, mereka adalah anak-anak saudara dan anak-anak sepaman (di kalangan mereka) telah datang kepadaku tadi malam (meminta) agar aku mengajarkan Al-Qur'an kepada mereka.

Maka aku berangkat bersama beliau ﷺ ke suatu tempat yang dituju, lalu beliau membuat sebuah garis untukku dan menyuruhku duduk di dalam garis itu serta bersabda:

Janganlah kamu keluar dari garis ini.

Aku semalaman di dalam garis itu hingga Rasulullah ﷺ datang menemuiku bersamaan dengan datangnya waktu sahur, sedangkan di tangan beliau terdapat tulang yang masih terbungkus daging dan kotoran ternak yang telah kering, serta arang.
Lalu beliau ﷺ bersabda:

Apabila kamu pergi ke tempat buang air, janganlah kamu bersuci dengan memakai sesuatu pun dari benda-benda tadi.

Dan pada pagi harinya aku berkata, "Aku benar-benar akan memeriksa tempat Rasulullah ﷺ tadi malam, lalu aku pergi ke tempat itu dan kulihat padanya bekas tempat mendekamnya enam puluh ekor unta.

Jalur lain.
Imam Baihaqi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Al-Hafiz, telah menceritakan kepada kami Abul Abbas Al-Asam, telah menceritakan kepada kami Al-Abbas ibnu Muhammad Ad-Dauri, telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Umar, dari Asy-Syamir ibnur Rayyan, dari Abul Jauza, dari Abdullah ibnu Mas'ud r.a.
yang telah menceritakan bahwa ia pergi bersama Rasulullah ﷺ di malam pertemuannya dengan jin.
Hingga ketika sampai di Al-Hujun, beliau membuat garis untukku sebagai pembatas.
Kemudian beliau ﷺ maju menemui mereka (para jin), maka mereka pun berdesak-desakan mengerumuni Nabi ﷺ Lalu pemimpin mereka yang dikenal dengan nama Wazdan berkata, "Aku akan membubarkan mereka darimu." Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya aku tiada seorang pun yang dapat melindungiku dari Allah."

Jalur lain.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abu Fazzarah Al-Absi, telah menceritakan kepada kami Abu Zaid maula Amr ibnu Hurayyis, dari Ibnu Mas'ud r.a.
yang mengatakan bahwa di malam pertemuan dengan jin, Nabi ﷺ bersabda kepadanya: "Apakah kamu membawa air?"
Aku menjawab, "Aku tidak punya air, tetapi aku membawa wadah yang berisikan minuman perasan anggur.” Maka Nabi ﷺ bersabda, "Itu adalah buah yang baik dan air yang suci.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan Imam Turmuzi serta Imam Ibnu Majah melalui Ibnu Zaid dengan sanad yang sama.

Jalur lain.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Ishaq, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lalai'ah, dari Qais ibnul Hajjaj, dari Hanasy As-San'ani, dari Ibnu Abbas, dari Abdullah ibnu Mas'ud r.a.
yang mengatakan bahwa ia bersama Rasulullah ﷺ di malam pertemuannya dengan jin.
Lalu Rasulullah ﷺ bertanya, "Hai Abdullah, apakah engkau membawa air?"
Abdullah ibnu Mas'ud r.a.
menjawab, "Aku hanya membawa minuman perasan anggur di dalam wadahku." Nabi ﷺ bersabda, "tuangkanlah kepadaku," lalu beliau berwudu dengannya.
Setelah itu Nabi ﷺ bersabda: Hai Abdullah, ini adalah minuman dan penyuci.

Imam Ahmad meriwayatkan hadis ini secara munfarid(sendirian) melalui jalur ini; Imam Daruqutni telah meriwayatkan hadis ini melalui jalur lain dari Ibnu Mas'ud r.a.
dengan lafaz yang sama.

Jalur lain.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepadaku ayahku dari Maina, dari Abdullah r.a.
yang mengatakan bahwa ia bersama Rasulullah ﷺ di malam pertemuannya dengan delegasi jin.
Setelah pulang, Rasulullah ﷺ bernapas lega.
Maka aku bertanya, "Mengapa engkau?"
Beliau menjawab, "Telah diucapkan belasungkawa atas diriku, hai Ibnu Mas'ud."

Demikianlah yang kulihat di dalam kitab Al-Musnad secara ringkas.
Tetapi Al-Hafiz Abu Na'im telah meriwayatkannya di dalam kitab Dala'ilun Nubuwwah; untuk itu ia mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Ahmad ibnu Ayyub, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Ibrahim dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Malik, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Ahmad ibnu Hambal, telah menceritakan kepada kami ayahku, keduanya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, dari ayahnya, dari Maina, dari Ibnu Mas'ud r.a.
yang mengatakan bahwa aku bersama Rasulullah ﷺ di malam delegasi jin, lalu beliau bernapas, maka aku bertanya, "Mengapa engkau, ya Rasulullah?"
Beliau ﷺ menjawab: Telah diucapkan belasungkawa terhadap diriku, hai Ibnu Mas'ud.
Ibnu Mas'ud berkata, "Angkatlah seorang khalifah pengganti." Nabi ﷺ bertanya, "Siapa yang pantas?' Ibnu Mas'ud menjawab, "Abu Bakar." Nabi ﷺ diam, kemudian meneruskan perjalanan sesaat, lalu menarik napas lagi, dan aku bertanya, "Demi ayah dan ibuku yang menjadi tebusanmu, mengapa engkau, ya Rasulullah?' Beliau menjawab, "Telah diucapkan belasungkawa terhadap diriku, hai Ibnu Mas'ud." Aku berkata, "Kalau begitu, angkatlah seorang khalifah pengganti." Nabi ﷺ bertanya,' "Siapa?"
Aku menjawab, "Umar." Nabi ﷺ diam dan melanjutkan perjalanannya sesaat, lalu menarik napas lagi, maka aku bertanya "Mengapa engkau?"
Nabi ﷺ menjawab, "Telah diucapkan belasungkawa terhadap diriku." Aku berkata, "Kalau begitu, angkatlah khalifah pengganti." Nabi ﷺ bertanya, "Siapa?"
Aku menjawab, "Ali ibnu Abu Talib." Nabi ﷺ bersabda:

Ingatlah, demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam kekuasaan­Nya; sesungguhnya jika kalian menaatinya, niscaya kalian semua benar-benar akan masuk surga.

Hadis ini garib sekali dan sudah selayaknya bila tidak dikenal; dan bila diumpamakan bahwa hadis ini sahih, maka pengertian lahiriahnya menunjukkan bahwa peristiwa ini terjadi sesudah kedatangan mereka di Madinah kepada Rasulullah ﷺ, seperti yang akan kami jelaskan kemudian.
Karena sesungguhnya di masa itulah akhir dari urusan ini, yaitu setelah Mekah ditaklukkan dan manusia serta jin masuk ke dalam agama Allah dengan berbondong-bondong, dan turunlah firman-Nya:

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya.
Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat.
(An-Nasr: 1-3)

Surat inilah yang memberitahukan akan dekatnya masa kewafatan beliau, seperti yang disebutkan oleh Ibnu Abbas r.a.
dalam pendapatnya, lalu disetujui oleh khalifah Umar r.a.
Sehubungan dengan peristiwa ini ada sebuah hadis yang menerangkannya, yang akan kami sebutkan dalam tafsir surat yang bersangkutan.
Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Abu Na'im telah meriwayatkan pula hadis ini dari At-Tabrani, dari Muhammad ibnu Abdullah Al-Hadrami, dari Ali ibnul Husain ibnu Abu Burdah, dari Yahya ibnu Sa'id Al-Aslami, dari Harb ibnu Sabih, dari Sa'id ibnu Salamah, dari Abu Murrah As-San'ani, dari Abu Abdullah Al-Jadali, dari Ibnu Mas'ud r.a.
Di dalam riwayat ini disebutkan kisah tentang pengangkatan khalifah; sanad hadis ini garib dan teksnya aneh.

Jalur lain.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa' id, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah,dari Ali ibnu Zaid, dari Abu Rafi', dari Ibnu Mas'ud, bahwa Rasulullah ﷺ membuat lingkaran garis disekitarnya, dan tersebutlah bahwa seseorang dari jin itu besarnya sama dengan bayangan sebuah pohon kurma.
Lalu Nabi ﷺ bersabda kepadanya: Janganlah kamu tinggalkan tempat ini dan ajarilah mereka (jin-jin) itu Kitabullah.
Ketika Nabi ﷺ melihat sekumpulan ternak, yang menurut Ibnu Mas'ud seakan-akan itu adalah mereka (jin), dan Nabi ﷺ bersabda, "Apakah kamu membawa air?"
Aku menjawab, "Tidak." Nabi ﷺ bertanya, "Apakah kamu membawa perasan anggur?"
Aku menjawab, "Ya." lalu beliau berwudu dengannya.

Jalur lain yang mursal.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah At-Tabrani, telah menceritakan kepada kami Hafs ibnu Umar Al-Adni, telah menceritakan kepada kami Al-Hakam ibnu Aban, dari Ikrimah sehubungan dengan makna firman Allah subhanahu wa ta'ala: Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu.
(Q.S. Al-Ahqaaf [46]: 29) Ikrimah mengatakan bahwa mereka berjumlah dua belas ribu jin, yang datang dari Al-Mausul.
Maka Nabi ﷺ bersabda kepada Ibnu Mas'ud r.a., "Tunggulah aku hingga aku datang kepadamu," lalu beliau ﷺ membuat lingkaran garis dan bersabda, "Janganlah kamu tinggalkan tempat ini hingga aku kembali kepadamu." Ketika Ibnu Mas'ud r.a.
merasa takut dengan mereka, hampir saja ia beranjak dari tempat itu kalau tidak ingat akan pesan Nabi ﷺ Akhirnya ia menahan diri dan tidak meninggalkan tempat yang bergaris itu.
Dan seusainya Nabi ﷺ bersabda kepadanya: Seandainya engkau pergi, niscaya kita tidak akan bersua lagi sampai hari kiamat.

Jalur lain yang juga berpredikat mursal.

Sa'id ibnu Abu Arubah telah meriwayatkan dari Qatadah sehubungan dengan firman Allah subhanahu wa ta'ala: Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur'an.
(Q.S. Al-Ahqaaf [46]: 29) Telah diceritakan kepada kami bahwa mereka (jin) itu diberangkatkan untuk menemui Nabi ﷺ dari Nainawi.
Dan Nabi ﷺ bersabda (kepada para sahabatnya): Sesungguhnya aku diperintahkan untuk membacakan Al-Qur’an kepada jin, maka siapakah di antara kalian yang mau ikut denganku?
Mereka menundukkan kepalanya, lalu Nabi ﷺ menawari mereka dan mereka hanya menundukkan kepalanya, kemudian ketiga kalinya Nabi ﷺ menawari mereka tetapi mereka menundukkan kepalanya.
Maka seorang lelaki berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang itu (Ibnu Mas'ud) mau menemanimu," Maka Ibnu Mas'ud r.a.
saudara Huzail mengikutinya.
Nabi ﷺ sampai di sebuah lereng yang dikenal dengan nama Lereng Al-Hujun, lalu membuat garis lingkaran sekitar Ibnu Mas'ud r.a.
agar Ibnu Mas'ud tetap berada di dalamnya.
Ibnu Mas'ud r.a.
mengatakan bahwa lalu ia merasa takut dan melihat bayangan seperti burung elang berjalan (dalam jumlah yang banyak), dan ia mendengar suara kegaduhan yang keras, hingga ia merasa khawatir dengan keselamatan Nabi ﷺ, kemudian Nabi ﷺ terdengar membaca Al-Qur'an.
Ketika Rasulullah ﷺ kembali kepadanya, ia bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah suara ribut-ribut yang kudengar tadi?"
Rasulullah ﷺ menjawab: Mereka bersengketa sehubungan dengan kasus pembunuhan, maka diputuskan di antara mereka dengan benar (adil).

Hadis ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim.

Semua jalur yang telah disebutkan di atas menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ pergi menemui jin dengan sengaja, lalu membacakan (mengajarkan) Al-Qur'an kepada mereka, dan menyeru mereka untuk menyembah Allah subhanahu wa ta'ala Dan Allah mensyariatkan bagi mereka melalui lisan Nabi ﷺ semua ketentuan hukum yang diperlukan oleh mereka pada masa itu.

Dapat pula ditakwilkan bahwa pada permulaan kejadiannya mereka mendengar bacaan Al-Qur'an yang dilakukan oleh Nabi ﷺ, sedangkan beliau sendiri tidak menyadari kehadiran mereka, seperti yang disebutkan di dalam riwayat Ibnu Abbas r.a.
Kemudian sesudah itu mereka mengirimkan delegasinya kepada Rasulullah ﷺ, seperti yang disebutkan di dalam riwayat Ibnu Mas'ud r.a.

Adapun sahabat Ibnu Mas'ud r.a.
tidaklah bersama Rasulullah ﷺ saat beliau berbicara dengan jin dan menyeru mereka untuk menyembah Allah, melainkan ia berada jauh dari Nabi ﷺ Dan tiada seorang pun yang menemani Rasulullah ﷺ selain dia sendiri, sekalipun demikian ia tidak menyaksikan saat pembicaraan Rasulullah ﷺ dengan mereka .
Demikianlah menurut analisis yang dikemukakan oleh Imam Baihaqi.

Dapat pula ditakwilkan bahwa pada permulaannya beliau berangkat menemui mereka tanpa ditemani oleh seorang pun, baik Ibnu Mas'ud maupun yang lainnya, seperti yang tertangkap dari makna lahiriah hadis yang disebutkan dalam riwayat pertama melalui Imam Ahmad dan ada pada Im


Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Ahqaaf (46) Ayat 29

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah yang bersumber dari Ibnu Mas’ud bahwa ketika Nabi ﷺ membaca al-Qur’an di tengah kebun kurma, turunlah sembilan jin, diantaranya bernama Zauba’ah, untuk mendengarkan serta mengingatkan kawan-kawannya agar memperhatikan bacaan itu.
Ayat ini (al-Ahqaaf 29-31) menceritakan peristiwa tersebut.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Ahqaaf (46) Ayat 29

NAFAR
نَفَر

Arti lafaz nafar ialah sekumpulan manusia yaitu keluarga atau kerabat dari seseorang. Mereka membantu orang itu dalam menghadapi masalah dan peperangan. Jumlahnya adalah antara tiga hingga sepuluh orang.

Lafaz nafiir juga mempunyai arti yang hampir sama, namun ia lebih umum dan lebih banyak. Semua orang, baik keluarga ataupun bukan datang menolong dan membantu orang lain. Ada juga yang mengatakan, lafaz nafiir adalah bentuk jamak dari lafaz nafar

Lafaz nafar diulang empat kali dalam Al Qur’an, yaitu dalam surah:
-At Taubah (9), ayat 122;
-Al Kahfi (18), ayat 34
-Al Jinn (72), ayat 1;
-Al Ahqaf (46), ayat 29.

Dalam surah At Taubah (9), ayat 122, Allah memerintahkan sebahagian orang dari suatu kelompok kaum beriman (nafara min kulli fariiqah) untuk mendalami pengetahuan agama. Allah melarang semua kaum itu pergi berperang melawan musuh. Sebaliknya sekelompok orang yang belajar itu nantinya dapat memberi peringatan kepada kaum mereka apabila mereka telah kembali.

Sedangkan dalam surah Al Kahfi (18), ayat 34 menceritakan tentang seorang kafir yang mempunyai dua kebun yang subur. Dia sangat sombong dengan harta dan pengikutpengikutnya yang bertugas menjaga dirinya dan juga kebunnya. Dia juga menganggap kebunnya itu akan kekal dan tidak akan rusak, sehingga dia berkata kepada seorang yang beriman, “Hartaku lebih banyak dari hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat”

Imam Al Qurtubi menerangkan makna nafar di sini ialah sekumpulan orang yang kurang dari sepuluh yang terdiri dari para pengikut, pembantu dan anak. Namun, anggapan orang itu salah karena tidak lama kemudian, kedua kebunnya hancur ditimpa azab Allah.

Lafaz nafar yang terdapat dalam surah Al Jinn (72), ayat 1 dan surah Al Ahqaf (46), ayat 29 dikaitkan dengan bangsa jin. Dalam kedua ayat ini diceritakan, sekumpulan jin dari satu kaum bangsa jin tertentu, ada yang mau mendengar Al Qur’an, mengimaninya dan mengajarkannya kepada kaum mereka. Menurut riwayat Ibn Mas’ud, sekumpulan jin ini mendengar bacaan Al Qur’an yang dilantunkan oleh Rasulullah semasa beliau berada di daerah Nakhlah sekembali dari Taif pada tahun ke sepuluh kenabian. Jumlah mereka ialah sembilan jin. Kemudian mereka diperintahkan oleh nabi supaya menyebarkan Islam kepada bangsa mereka

Sedangkan lafaz nafiir disebut sekali saja di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah Al Israa (17), ayat 6. Dalam ayat ini diceritakan, setelah Bani Israil melanggar perintah-perintah Allah yang terdapat dalam Taurat, Allah menghancurkan mereka sehingga mereka dikuasai oleh pemimpin yang bengis dan kejam. Namun, sesudah Bani Israel bertaubat, Allah memberi anugerah kepada mereka dengan mengembalikan kekuasaan kerajaan kepada mereka, harta yang berlimpah dan juga anak yang banyak (aktsara nafiira) yaitu “jumlah yang besar melebihi jumlah tentara musuh,” Sehingga semasa tentara Bani Israil dipimpin oleh Thalut, mereka berhasil mengalahkan tentara Jalut, malah Jalut berhasil dibunuh oleh Nabi Daud.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:584-585

Informasi Surah Al Ahqaaf (الَأحقاف)
Surat Al Ahqaaf terdiri atas 35 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Jaatsiyah.

Dinamai “Al Ahqaaf” (bukit-bukit pasir) dari perkataan “Al Ahqaaf” yang terdapat pada ayat 21 surat ini.

Dalam ayat tersebut dan ayat-ayat sesudahnya diterangkan bahwa Nabi Hud ‘alaihis salam telah menyampaikan risalahnya kepada kaumnya di “Al Ahqaaf” yang sekarang dikenal dengan Ar Rub’ul Khaali, tetapi kaumnya tetap ingkar sekalipun mereka telah diberi peringatan pula oleh rasul-rasul yang sebelumnya.
Akhimya Allah menghancurkan mereka dengan tiupan angin kencang.
Hal ini adalah sebagai isyarat dari Allah kepada kaum musyrikin Quraisy bahwa mereka akan dihancurkan bila mereka tidak mengindahkan seruan Rasul.

Keimanan:

Dalil-dalil dan bukti keesaan Allah dan bahwa penyembah-penyembah berhala adalah sesat
orang-orang mu’min akan mendapat kebahagiaan dan orang-orang kafir akan diazab
risalah Nabi Muhammad ﷺ tidak hanya terbatas kepada umat manusia saja, tetapi juga kepada jin.

Hukum:

Perintah kepada manusia supaya patuh kepada ibu bapa, memuliakannya dan mengerjakan apa yang diridhai Allah terhadapnya dan larangan menyakiti hatinya.

Kisah:

Kisah Nabi Hud a.s, dan kaumnya.

Lain-lain:

Orang yang mementingkan keni’matan hidup duniawi saja akan merugi kelak di akhirat
orang-orang yang beriman kepada Allah dan beristiqamah dalam kehidupannya tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak bersedih hati.

Ayat-ayat dalam Surah Al Ahqaaf (35 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Ahqaaf (46) ayat 29 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Ahqaaf (46) ayat 29 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Ahqaaf (46) ayat 29 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Ahqaaf - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 35 & Terjemahan


Gambar

no images were found



Statistik Q.S. 46:29
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Ahqaaf.

Surah Al-Ahqaf (Arab: الأحقاف ,"Bukit-Bukit Pasir") adalah surah ke-46 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Makkiyah yang terdiri atas 35 ayat.
Dinamakan al-Ahqaf yang berarti Bukit-Bukit Pasir diambil dari kata al-Ahqaf yang terdapat pada ayat 21 surah ini.
Dalam ayat tersebut dan ayat-ayat sesudahnya diterangkan bahwa Nabi Hud telah menyampaikan risalahnya kepada kaumnya di al-Ahqaf yang sekarang dikenal dengan ar-Rab'ul Khali, tetapi kaumnya tetap ingkar sekalipun mereka telah diberi peringatan pula oleh rasul-rasul yang sebelumnya.
Hingga akhirnya Allah menghancurkan mereka dengan tiupan angin kencang.
Hal ini adalah sebagai isyarat dari Allah kepada kaum musyrikin Quraisy bahwa mereka akan dihancurkan bila mereka tidak mengindahkan seruan Rasul.

Nomor Surah 46
Nama Surah Al Ahqaaf
Arab الَأحقاف
Arti Bukit-bukit pasir
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 66
Juz Juz 26
Jumlah ruku' 4 ruku'
Jumlah ayat 35
Jumlah kata 648
Jumlah huruf 2668
Surah sebelumnya Surah Al-Jasiyah
Surah selanjutnya Surah Muhammad
4.6
Ratingmu: 4.4 (10 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta