QS. Al Ahqaaf (Bukit-bukit pasir) – surah 46 ayat 25 [QS. 46:25]

تُدَمِّرُ کُلَّ شَیۡءٍۭ بِاَمۡرِ رَبِّہَا فَاَصۡبَحُوۡا لَا یُرٰۤی اِلَّا مَسٰکِنُہُمۡ ؕ کَذٰلِکَ نَجۡزِی الۡقَوۡمَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ
Tudammiru kulla syai-in biamri rabbihaa fa-ashbahuu laa yura ilaa masaakinuhum kadzalika najziil qaumal mujrimiin(a);

yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka.
Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.
―QS. 46:25
Topik ▪ Maksiat dan dosa ▪ Menyiksa pelaku maksiat ▪ Sifat surga dan kenikmatannya
46:25, 46 25, 46-25, Al Ahqaaf 25, AlAhqaaf 25, Al Ahqaf 25, AlAhqaf 25, Al-Ahqaf 25

Tafsir surah Al Ahqaaf (46) ayat 25

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Ahqaaf (46) : 25. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini, Allah memperingatkan orang-orang musyrik Mekah bahwa Dia telah menimpakan azab yang amat dahsyat kepada kaum ‘Ad.
Demikian dahsyatnya azab itu sehingga apa saja yang dilanda oleh azab berupa angin amat dingin yang bertiup dengan keras itu, pasti hancur.
Mereka mati bergelimpangan.
Rumah-rumah dan bangunan-bangunan runtuh, barang-barang beterbangan, pohon-pohon kayu tumbang.
Tidak ada yang kelihatan lagi, kecuali puing-puing dan tempat tinggal mereka yang telah berserakan.
Azab yang seperti itu juga telah menimpa kaum-kaum yang lain, seperti kaum Samud, kaum Lut, dan kaum Syuaib.
Semua mereka itu adalah orang-orang yang ingkar dan durhaka kepada Allah.
Seandainya kaum Quraisy tetap ingkar, mereka akan ditimpa azab seperti itu pula.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Maka datanglah azab kepada mereka dalam bentuk awan.
Ketika mereka melihat awan terbentang di ufuk menuju ke lembah-lembah mereka, mereka berkata, “Inilah awan yang akan membawa hujan dan kebaikan bagi kita.” Lalu dikatakan kepada mereka, “Bukan! Itu adalah siksaan yang kalian minta untuk disegerakan:
angin yang membawa azab yang pedih dan menghancurkan segala sesuatu atas perintah Sang Pencipta.” Angin itu pun menghancurkan mereka semua hingga tak ada yang tersisa kecuali tempat tinggal mereka saja.
Demikianlah balasan yang Kami berikan kepada orang-orang yang melakukan dosa seperti mereka.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Yang menghancurkan) yang membinasakan (segala sesuatu) yang dilewatinya (dengan perintah Rabbnya) dengan seizin-Nya, maksudnya angin itu dapat membinasakan segala sesuatu yang dikehendaki-Nya untuk dibinasakan.

Akhirnya binasalah kaum laki-laki dan wanita serta anak-anak mereka berikut dengan harta bendanya, semuanya terbawa terbang oleh angin yang besar itu antara langit dan bumi dalam keadaan tercabik-cabik.

Kini yang tertinggal dalam keadaan selamat adalah Nabi Hud beserta orang-orang yang beriman kepadanya (maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali bekas-bekas tempat tinggal mereka.’ Demikianlah) sebagaimana Kami memberikan balasan kepada kaum Hud (Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa”) selain mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

(Bukan), bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih.
(Q.S. Al-Ahqaaf [46]: 24)

Itu adalah azab yang kalian inginkan melalui perkataan kalian, “Datangkanlah azab itu kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.”

yang menghancurkan segala sesuatu.
(Q.S. Al-Ahqaaf [46]: 25)

Yakni azab tersebut akan menghancurkan segala sesuatu yang ada di negeri mereka yang berhak untuk dihancurkan.

dengan perintah Tuhannya.
(Q.S. Al-Ahqaaf [46]: 25)

yang dengan seizin Allah subhanahu wa ta’ala untuk menghancurkan negeri mereka, semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat yang lain:

angin itu tidak membiarkan satu pun yang dilandanya, melainkan dijadikannya seperti serbuk.
(Q.S. Adz-Dzariyat [51]: 42)

Yaitu seperti sesuatu yang lapuk.
Karena itulah disebutkan dalam firman berikutnya:

maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka.
(Q.S. Al-Ahqaaf [46]: 25)

karena semuanya telah binasa, tanpa ada seorang pun dari mereka yang hidup.

Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.
(Q.S. Al-Ahqaaf [46]: 25)

Yakni demikianlah hukuman Kami terhadap orang yang mendustakan rasul-rasul Kami dan menentang perintah Kami.

Dalam sebuah hadis disebutkan kisah mereka, hadisnya garib sekali dan termasuk salah satu hadis yang berpredikat garib lagi tersendiri.

Imam Ahmad mengatakan telah menceritakan kepada kami Zaid ibnul Habbab, telah menceritakan kepadaku Abul Munzir alias Salam ibnu Sulaiman An-Nahwi yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Asim ibnu Abun Nujud, dari Abu Wa’il, dari Al-Haris Al-Bakri yang menceritakan bahwa ia pergi untuk mengadu kepada Rasulullah ﷺ tentang Al-Ala ibnul Hadrami.
Dalam perjalanannya ia bersua dengan seorang nenek-nenek dan kalangan Bani Tamim, yaitu Rabzah.
Nenek-nenek itu tidak mampu lagi meneruskan perjalanannya.
Maka ia berkata kepadaku (Q.S. Al-Haris Al-Bakri), “Hai hamba Allah, sesungguhnya aku mempunyai suatu keperluan dengan Rasulullah ﷺ, maka sudikah engkau menyampaikan­nya kepada beliau ﷺ?”
Maka aku menaikkannya ke unta kendaraanku dan kuantarkan ia ke Madinah, yang saat itu Masjid Nabawi kelihatan penuh dengan banyak orang.
Tiba-tiba kelihatan sebuah panji berwarna hitam berkibar lalu kelihatan sahabat Bilal r.a.
menyandang pedangnya berada di hadapan Rasulullah ﷺ Lalu aku bertanya, “Ada apa dengan orang-orang banyak ini?”
Mereka menjawab, “Rasulullah ﷺ akan mengirimkan Amr ibnul As r.a.
bersama pasukan kaum muslim ke suatu tujuan.”

Al-Haris melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia masuk ke dalam rumah atau kemah Rasulullah ﷺ Sebelumnya ia meminta izin untuk bersua dengan beliau, kemudian diberi izin.
Lalu masuklah ia dan mengucapkan salam.
Maka Rasulullah ﷺ bertanya, “Apakah antara kamu dan Bani Tamim terdapat sesuatu (permusuhan)?”
Aku (Q.S. Al-Haris) menjawab, “Ya, dan kami beroleh kemenangan atas mereka.
Dan di tengah jalan saya bersua dengan seorang nenek-nenek dari Bani Tamim yang tidak mampu meneruskan perjalanannya, lalu ia meminta kepadaku untuk membawanya ke hadapan engkau, sekarang dia berada di depan pintu.” Lalu nenek-nenek itu diizinkan untuk masuk, maka masuklah nenek-nenek itu.

Lalu aku berkata, “Wahai Rasulullah, sudilah kiranya engkau membuatkan pembatas antara kami dan Bani Tamim.
Jika engkau berkehendak, maka buatkanlah padang sahara sebagai pembatasnya.” Maka dengan serta merta nenek-nenek itu emosi dan bangkit seraya berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diinginkan oleh orang yang memintamu dengan mendesak ini?”

Al-Haris melanjutkan kisahnya, maka aku menjawab, “Sesungguhnya nasibku sekarang adalah yang seperti dikatakan oleh pepatah masa dahulu, ‘serigala berbulu domba.’ Sesungguhnya aku membawa nenek-nenek ini tanpa menyadari bahwa dia adalah musuhku, kukira dia temanku, aku berlindung kepada Allah dan rasul-Nya bila nasibku menjadi seperti utusan kaum ‘Ad.”

Rasulullah ﷺ bertanya kepadaku, “Bagaimanakah kisah utusan kaum ‘Ad itu?”
Padahal beliau ﷺ lebih mengetahui kisah tersebut daripada dia, tetapi beliau mendesaknya agar menceritakan kisah itu.
Maka ia menjawab, bahwa sesungguhnya kaum ‘Ad mengalami musim paceklik yang berkepanjangan, lalu mereka mengirimkan seorang utusan yang dikenal dengan nama Qil.
Qil dalam perjalanannya bersua dengan Mu’awiyah ibnu Bakar, lalu Qil tinggal padanya selama satu bulan.
Mu’awiyah memberinya minuman Khamr dan menghiburnya dengan dua orang penyanyi yang dikenal dengan julukan Jarradatain.

Setelah berlalu masa satu bulan, Qil berangkat menuju Bukit Mahrah, lalu berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku datang bukan kepada orang sakit yang memerlukan pengobatan dariku, tidak pula kepada tawanan yang perlu aku tebus.
Ya Allah, berilah kaum ‘Ad hujan selama Engkau akan memberi mereka hujan.”

Maka berlalulah iringan awan hitam, lalu ada suara yang berseru dari dalam awan tersebut, “Pilihlah!” Maka Qil mengisyaratkan tangannya ke arah suatu kumpulan awan yang berwarna hitam pekat.
Kemudian diseru dari arah awan, “Terimalah awan ini dalam rupa debu dan angin yang sangat kuat, yang tiada menyisakan seorang manusia pun dari kaum ‘Ad dapat hidup.”

Perawi melanjutkan kisahnya, bahwa menurut berita yang sampai kepadaku tiadalah kadar angin yang dikirimkan kepada mereka melainkan sebesar lubang cincinku, dan mereka semuanya binasa.

Abu Wa’il mengatakan bahwa lalu Nabi ﷺ membenarkan kisah tersebut.
Dan tersebutlah apabila mereka mengirimkan delegasi yang terdiri dari seorang wanita dan seorang laki-laki, mereka mengatakan, “Janganlah kamu seperti delegasi (utusan) kaum ‘Ad.”

Hadis ini diriwayatkan pula oleh Imam Turmuzi, Imam Nasai, dan Imam ibnu Majah, sebagaimana yang telah disebutkan di dalam tafsir surat Al-A’raf.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Harun ibnu Ma’ruf, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepada kami Amr, bahwa Abun Nadr pernah menceritakan hadis berikut dari Sulaiman ibnu Yasar, dari Aisyah r.a.
yang mengatakan bahwa ia belum pernah melihat Rasulullah ﷺ bilamana tertawa kelihatan langit-langitnya, sesungguhnya tertawa beliau hanyalah tersenyum.
Siti Aisyah r.a.
mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ apabila melihat mendung atau angin yang besar, maka terlihat ada perubahan pada roman muka beliau.
Lalu Siti Aisyah bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang-orang merasa gembira bila mereka melihat awan karena adanya harapan akan turun hujan.
Tetapi aku amati apabila engkau melihatnya, ada perasaan kurang senang di wajahmu.” Maka Rasulullah ﷺ menjawab:

Hai Aisyah, saya merasa khawatir bila di dalam awan itu terdapat azab, karena ada suatu kaum yang telah diazab melalui angin yang besar (awan), kaum itu melihat kedatangan azab tersebut, lalu mereka mengatakan, ‘Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.”

Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkan hadis ini melalui Ibnu Wahb.,

Jalur lain.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman, dari Sufyan, dari Al-Miqdam ibnu Syuraih, dan ayahnya, dari Aisyah r.a.
yang mengatakan bahwa sesungguhnya Rasulullah ﷺ apabila melihat awan muncul di cakrawala langit dan arah mana pun, beliau meninggalkan pekerjaannya.
Dan jika beliau berada di dalam salatnya, mengucapkan doa berikut:

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari keburukan yang terkandung di dalam awan ini.

Dan jika ternyata awan itu hilang, maka beliau memuji kepada Allah subhanahu wa ta’ala Jika hujan turun, maka beliau membaca doa:

Ya Allah, (jadikanlah hujan ini) hujan yang bermanfaat.

Jalur lain.
Imam Muslim di dalam kitab sahihnya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar At-Tahir, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Ibnu Juraij menceritakan hadis berikut kepadanya dan Ata ibnu Abu Rabah, dari Aisyah r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bila ada angin bertiup sangat kuat, beliau mengucapkan doa berikut:

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebaikannya dan kebaikan yang ada padanya serta kebaikan dari apa yang Engkau kirimkan melaluinya.
Dan aku berlindung kepada Engkau dari keburukannya dan keburukan yang ada padanya serta keburukan dari apa yang Engkau kirimkan melaluinya.

Siti Aisyah r.a.
melanjutkan kisahnya, bahwa apabila langit mendung, roman muka beliau berubah dan melangkah keluar dan masuk serta mondar-mandir.
Dan apabila turun hujan, barulah beliau merasa tenang.
Hal itu diketahui oleh Siti Aisyah r.a., lalu ia menanyakan kepada beliau tentang sikapnya itu.
Maka beliau ﷺ menjawab:

Hai Aisyah, barangkali hal itu seperti apa yang dikatakan oleh kaum ‘Ad, “Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka, ‘Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami’ (Q.S. Al-Ahqaaf [46]: 24)

Kami telah menyebutkan kisah binasanya kaum ‘Ad dalam tafsir surat Hud secara lengkap sehingga tidak perlu diulangi lagi.

Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdan Ibnu Ahmad, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Zakaria Al-Kufi, telah menceritakan kepada kami Abu Malik ibnu Muslim Al-Mala’i, dari Mujahid dan Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Allah tidak membukakan angin terhadap kaum ‘Ad kecuali hanya semisal dengan lubang tempat cincin.
Kemudian angin itu dikirimkan menuju daerah pedalaman mereka, lalu ke daerah perkotaan mereka.
Dan ketika penduduk perkotaan melihat datangnya angin itu (yang berupa awan hitam), mereka mengatakan, “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami sedang menuju ke lembah-lembah kami.” Sedangkan penduduk pedalaman telah berada di dalam angin itu (terbawa terbang), lalu mereka ditimpakan kepada penduduk perkotaan hingga semuanya binasa.
Angin itu memporak-porandakan kantung-kantung tempat mereka berada sehingga keluarlah angin itu dari celah-celah pintu-pintu tempat mereka.
Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.


Informasi Surah Al Ahqaaf (الَأحقاف)
Surat Al Ahqaaf terdiri atas 35 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Jaatsiyah.

Dinamai “Al Ahqaaf” (bukit-bukit pasir) dari perkataan “Al Ahqaaf” yang terdapat pada ayat 21 surat ini.

Dalam ayat tersebut dan ayat-ayat sesudahnya diterangkan bahwa Nabi Hud ‘alaihis salam telah menyampaikan risalahnya kepada kaumnya di “Al Ahqaaf” yang sekarang dikenal dengan Ar Rub’ul Khaali, tetapi kaumnya tetap ingkar sekalipun mereka telah diberi peringatan pula oleh rasul-rasul yang sebelumnya.
Akhimya Allah menghancurkan mereka dengan tiupan angin kencang.
Hal ini adalah sebagai isyarat dari Allah kepada kaum musyrikin Quraisy bahwa mereka akan dihancurkan bila mereka tidak mengindahkan seruan Rasul.

Keimanan:

Dalil-dalil dan bukti keesaan Allah dan bahwa penyembah-penyembah berhala adalah sesat
orang-orang mu’min akan mendapat kebahagiaan dan orang-orang kafir akan diazab
risalah Nabi Muhammad ﷺ tidak hanya terbatas kepada umat manusia saja, tetapi juga kepada jin.

Hukum:

Perintah kepada manusia supaya patuh kepada ibu bapa, memuliakannya dan mengerjakan apa yang diridhai Allah terhadapnya dan larangan menyakiti hatinya.

Kisah:

Kisah Nabi Hud a.s, dan kaumnya.

Lain-lain:

Orang yang mementingkan keni’matan hidup duniawi saja akan merugi kelak di akhirat
orang-orang yang beriman kepada Allah dan beristiqamah dalam kehidupannya tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak bersedih hati.

Ayat-ayat dalam Surah Al Ahqaaf (35 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Ahqaaf (46) ayat 25 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Ahqaaf (46) ayat 25 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Ahqaaf (46) ayat 25 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Ahqaaf - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 35 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 46:25
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Ahqaaf.

Surah Al-Ahqaf (Arab: الأحقاف ,"Bukit-Bukit Pasir") adalah surah ke-46 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Makkiyah yang terdiri atas 35 ayat.
Dinamakan al-Ahqaf yang berarti Bukit-Bukit Pasir diambil dari kata al-Ahqaf yang terdapat pada ayat 21 surah ini.
Dalam ayat tersebut dan ayat-ayat sesudahnya diterangkan bahwa Nabi Hud telah menyampaikan risalahnya kepada kaumnya di al-Ahqaf yang sekarang dikenal dengan ar-Rab'ul Khali, tetapi kaumnya tetap ingkar sekalipun mereka telah diberi peringatan pula oleh rasul-rasul yang sebelumnya.
Hingga akhirnya Allah menghancurkan mereka dengan tiupan angin kencang.
Hal ini adalah sebagai isyarat dari Allah kepada kaum musyrikin Quraisy bahwa mereka akan dihancurkan bila mereka tidak mengindahkan seruan Rasul.

Nomor Surah 46
Nama Surah Al Ahqaaf
Arab الَأحقاف
Arti Bukit-bukit pasir
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 66
Juz Juz 26
Jumlah ruku' 4 ruku'
Jumlah ayat 35
Jumlah kata 648
Jumlah huruf 2668
Surah sebelumnya Surah Al-Jasiyah
Surah selanjutnya Surah Muhammad
4.8
Ratingmu: 4.8 (20 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim