QS. Al Ahqaaf (Bukit-bukit pasir) – surah 46 ayat 20 [QS. 46:20]

وَ یَوۡمَ یُعۡرَضُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا عَلَی النَّارِ ؕ اَذۡہَبۡتُمۡ طَیِّبٰتِکُمۡ فِیۡ حَیَاتِکُمُ الدُّنۡیَا وَ اسۡتَمۡتَعۡتُمۡ بِہَا ۚ فَالۡیَوۡمَ تُجۡزَوۡنَ عَذَابَ الۡہُوۡنِ بِمَا کُنۡتُمۡ تَسۡتَکۡبِرُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ بِغَیۡرِ الۡحَقِّ وَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَفۡسُقُوۡنَ
Wayauma yu’radhul-ladziina kafaruu ‘alannaari adzhabtum thai-yibaatikum fii hayaatikumuddunyaa waastamta’tum bihaa fal yauma tujzauna ‘adzaabal huuni bimaa kuntum tastakbiruuna fiil ardhi bighairil haqqi wabimaa kuntum tafsuquun(a);

Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan):
“Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya, maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik”.
―QS. 46:20
Topik ▪ Zuhud ▪ Dunia merupakan tempat ujian ▪ Sifat ahli surga
46:20, 46 20, 46-20, Al Ahqaaf 20, AlAhqaaf 20, Al Ahqaf 20, AlAhqaf 20, Al-Ahqaf 20

Tafsir surah Al Ahqaaf (46) ayat 20

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Ahqaaf (46) : 20. Oleh Kementrian Agama RI

Setelah menerangkan bahwa setiap jin dan manusia akan memperoleh balasan yang adil dari-Nya, Allah menerangkan keadaan orang-orang kafir pada saat mereka dihadapkan ke neraka.
Allah memerintahkan kepada Rasulullah ﷺ agar menyampaikan kepada orang- orang kafir keadaan mereka ketika dibawa ke dalam neraka.
Kepada mereka dikatakan bahwa segala macam kebahagiaan dan kenikmatan yang diperuntukkan bagi mereka telah lengkap dan sempurna mereka terima semasa hidup di dunia.
Tidak ada satu pun bagian yang akan mereka nikmati lagi di akhirat.
Yang tinggal hanyalah kehinaan, kerendahan, azab pedih yang akan mereka alami sebagai pembalasan atas kesombongan, kefasikan, kezaliman, kemaksiatan, dan kekafiran yang mereka lakukan selama hidup di dunia.

Ayat ini memperingatkan manusia agar meninggalkan hidup mewah yang berlebih-lebihan, meninggalkan perbuatan mubazir, maksiat, dan menganjurkan agar kaum Muslimin hidup sederhana, tidak berlebih-lebihan menggunakan sesuatu sesuai dengan keperluan dan keadaan, dan disesuaikan dengan tujuan hidup seorang muslim.
Seandainya ada kelebihan harta, hendaklah diberikan kepada orang-orang miskin, orang-orang terlantar, dan anak yatim yang tidak ada yang bertanggung jawab atasnya, dan gunakanlah harta itu untuk keperluan meninggikan kalimat Allah.

Diriwayatkan oleh (Baihaqi dan lain-lain dari Ibnu ‘Umar bahwa ‘Umar melihat uang dirham di tangan Jabir bin ‘Abdullah, maka beliau berkata, “Uang dirham apakah itu?”
Jabir menjawab, “Aku bermaksud membeli sepotong daging yang sudah lama diidamkan oleh keluargaku.” ‘Umar berkata, “Apakah setiap kamu menginginkan sesuatu, lalu kamu beli?
Bagaimana pendapatmu tentang ayat ini?
Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniamu saja, dan kamu telah bersenang-senang dengannya?”
Dari riwayat di atas dapat kita tarik pelajaran bahwa ‘Umar bin al-Khaththab menasihati Jabir bin ‘Abdullah dengan ayat ini agar tidak terlalu menuruti keinginannya dan mengingatkan bahwa kesenangan dan kebahagiaan di dunia ini hanya bersifat sementara, sedangkan kebahagiaan yang abadi ada di akhirat.

Oleh karena itu, kita harus menggunakan segala rezeki yang telah dianugerahkan Allah dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan ketentuan yang digariskan agama.

Tentang hidup sederhana ini tergambar dalam kehidupan keluarga Rasulullah ﷺ sebagaimana disebutkan dalam hadis:

Diriwayatkan dari sauban, ia berkata, “Rasulullah ﷺ apabila akan bepergian, keluarga terakhir yang dikunjunginya adalah Fatimah.
Dan keluarganya yang lebih dahulu didatanginya apabila ia kembali dari perjalanan ialah Fatimah.
Beliau kembali dari Gazah (peperangan), lalu beliau datang ke rumah Fatimah, dan beliau mengusap pintu rumah dan melihat gelang perak di tangan Hasan dan Husein, beliau kembali dan tidak masuk.
Tatkala Fatimah melihat yang demikian, ia berpendapat bahwa Rasulullah ﷺ tidak masuk ke rumahnya itu karena beliau melihat barang-barang itu.
Maka Fatimah menyobek-nyobek kain pintu itu dan mencabut gelang-gelang dari tangan kedua anaknya dan memotong-motongnya, lalu kedua anaknya menangis, maka ia membagi-bagikannya kepada kedua anak itu.
Maka keduanya pergi menemui Rasulullah ﷺ dalam keadaan menangis, lalu Rasulullah ﷺ mengambil barang-barang itu dari keduanya seraya berkata, ‘Hai sauban, pergilah membawa barang-barang itu kepada Bani Fulan dan belikanlah untuk Fatimah kalung dari kulit lokan dan dua gelang dari gading, maka sesungguhnya mereka adalah keluargaku, dan aku tidak ingin mereka menghabiskan rezeki mereka yang baik sewaktu hidup di dunia ini.”
(Riwayat Ahmad dan (Baihaqi)

Hadis ini maksudnya bukan melarang kaum Muslimin memakai perhiasan, suka kepada keindahan, menikmati rezeki yang telah dianugerahkan Allah, melainkan untuk menganjurkan agar orang hidup sesuai dengan kemampuan diri sendiri, tidak berlebih-lebihan, selalu menenggang rasa dalam hidup bertetangga dan dalam berteman.
Jangan sampai harta yang dimiliki dengan halal itu menjadi sumber iri hati dan rasa dengki tetangga dan sahabat.
Jangan pula hidup boros, dan berbelanja melebihi kemampuan.
Ingatlah selalu bahwa banyak orang-orang lain yang memerlukan bantuan, masih banyak biaya yang diperlukan untuk meninggikan kalimat Allah.
Rasulullah ﷺ selalu merasa cukup bila memperoleh sesuatu dan bersabar bila sedang tak punya; makan kue jika ada kesanggupan membelinya, minum madu bila kebetulan ada, makan daging bila mungkin mendapatkannya.
Hal yang demikian itu menjadi pegangan dan kebiasaan hidup beliau.
Beliau selalu bersyukur kepada Allah setiap menerima nikmat-Nya.
Yang dilarang ialah memakai perhiasan secara berlebih-lebihan, bersenang-senang tanpa mengingat adanya kehidupan abadi di akhirat nanti.
Memakai perhiasan dengan tidak berlebih-lebihan dan tidak menimbulkan iri hati orang lain itu dibolehkan.
Allah berfirman:

Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah disediakan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik- baik?
Katakanlah, “Semua itu untuk orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, dan khusus (untuk mereka saja) pada hari Kiamat.
Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu untuk orang-orang yang mengetahui.

(Q.S. Al-A’raf [7]: 32)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Pada hari ketika orang-orang kafir dihadapakan ke neraka lalu dikatakan kepada mereka, “Kalian telah menghabiskan dan menikmati rezeki yang baik dalam kehidupan dunia.
Pada hari ini kalian akan dibalas dengan azab yang menghinakan, karena kalian telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan tidak taat kepada Allah.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan ingatlah hari ketika orang-orang kafir dihadapkan ke neraka) neraka diperlihatkan-Nya kepada mereka, kemudian dikatakan kepada mereka, (“Kalian telah menghabiskan) dapat dibaca Adzhabtum, A-adzhabtum atau Adzhabtum (rezeki kalian yang baik) dengan cara menghambur-hamburkannya demi kelezatan kalian (dalam kehidupan dunia kalian saja dan kalian telah bersenang-senang) bersuka-ria (dengannya, maka pada hari ini kalian dibalasi dengan azab yang menghinakan) atau azab yang mengerikan (karena kalian telah menyombongkan diri yaitu bersikap takabur (di muka bumi tanpa hak dan karena kalian telah fasik”) atau berbuat kefasikan padanya, maka karena itu kalian diazab.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan), “Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya.” (Q.S. Al-Ahqaaf [46]: 20)

Dikatakan hal tersebut kepada mereka sebagai kecaman dan cemoohan.

Dan sesungguhnya Amirul Mu’minin Umar ibnul Khattab r.a.
menjauhkan dirinya dari kebanyakan makanan dan minuman yang enak-enak dan tidak mau menyantapnya.
Dan ia mengatakan bahwa sesungguhnya ia merasa takut bila dirinya seperti orang-orang yang dicela dan dikecam oleh Allah subhanahu wa ta’ala melalui firman-Nya: Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya.
(Q.S. Al-Ahqaaf [46]: 20)

Abu Mijlaz mengatakan, bahwa sesungguhnya benar-benar banyak kaum yang kehilangan kebaikan-kebaikan yang mereka miliki semasa di dunia, lalu dikatakan kepada mereka: Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja).
(Q.S. Al-Ahqaaf [46]: 20)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik.
(Q.S. Al-Ahqaaf [46]: 20)

Maka mereka dibalasi dengan pembalasan yang sejenis dengan amal perbuatan mereka.
Maka sebagaimana mereka menyenangkan diri mereka sendiri dan bersikap sombong terhadap perkara yang hak tidak mau mengikutinya, dan mereka gemar mengerjakan perbuatan-perbuatan yang fasik dan durhaka, maka Allah subhanahu wa ta’ala membalas mereka dengan azab yang menghinakan.
Yaitu kehinaan, kerendahan, azab yang sangat menyakitkan lagi sangat pedih, dan penyesalan yang terus-menerus serta tempat tinggal di dasar neraka yang mengerikan.
Semoga Allah melindungi kita dari semua siksaan itu.


Kata Pilihan Dalam Surah Al Ahqaaf (46) Ayat 20

HUUN
هُون

Lafaz ini adalah mashdar dari lafaz haana, artinya kehinaan, kerendahan, keras, makhluk keseluruhannya, lemah.

Lafaz ini disebut 4 kali di dalam Al Qur’an, yaitu dalam surah:
-Al An’aam (6), ayat 93;
-An Nahl (16), ayat 59;
-Fushshilat (41), ayat 17;
-Al Ahqaf (46), ayat 20.

Pada surah Al An’aam, Fushshilat dan Al Ahqaf lafaz al huun dihubungkan dengan lafaz al-adzaab (azab dan siksaan).

Az Zujjaj berkata,
al ‘adzaabal huun adalah azab yang diberikan setelah mengalami kehinaan dan kelemahan yang sangat.”

Ibn Qutaybah berkata,
al huun artinya al hawaan iaitu kehinaan.”

As Suddi berkata,
‘adzaabal huun ialah siksaan yang menghinakan.”

Ibn Juraij berkata,
“ia bermakna azab yang hina di akhirat balasan atas perbuatan mereka

At Tabari berpendapat, ia bermakna siksaan api neraka yang menghinakan mereka, maka mereka merasakan kerendahan sehingga mereka mengetahui kelemahan diri mereka dan hina.

Asy Syawkani menafsirkan, pada saat ini kamu akan disiksa dengan kelemahan dan kerendahan sehingga kamu menjadi orang yang hina dan lemah selepas kamu berasa angkuh dan sombong.

Sedangkan dalam surah An Nahl ia dikaitkan dengan sikap orang kafir Quraisy yang merasa hina jika mendapat anak perempuan kerana menurut dakwaan dan mereka ia disandarkan kepada Allah.

Ibn Katsir menafsirkan jika ia dikekalkan maka ia menjadikan mereka berasa hina sehingga mereka tidak menjaganya dan mewarisinya.

Dalam Al Asas fit Tafsir, makna ayat ini adalah apa yang diberitakan kepada mereka berita gembira (dengan kelahiran seorang perempuan) menjadikan mereka merasa hina

Sayyid Qutub menegaskan, “akidah ilahiah yang bersumber dari Allah memuliakan manusia dengan diiringi kemuliaan itu kepada perempuan, Ia menyifatkannya sebahagian daripada diri manusia itu dan tidak ada perbedaan kedua bahagian yang mulia itu di sisi Allah (kecuali orang yang bertakwa, pen.).

Kesimpulannya, lafaz al huun bermakna kehinaan dan kerendahan.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:644

Informasi Surah Al Ahqaaf (الَأحقاف)
Surat Al Ahqaaf terdiri atas 35 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Jaatsiyah.

Dinamai “Al Ahqaaf” (bukit-bukit pasir) dari perkataan “Al Ahqaaf” yang terdapat pada ayat 21 surat ini.

Dalam ayat tersebut dan ayat-ayat sesudahnya diterangkan bahwa Nabi Hud ‘alaihis salam telah menyampaikan risalahnya kepada kaumnya di “Al Ahqaaf” yang sekarang dikenal dengan Ar Rub’ul Khaali, tetapi kaumnya tetap ingkar sekalipun mereka telah diberi peringatan pula oleh rasul-rasul yang sebelumnya.
Akhimya Allah menghancurkan mereka dengan tiupan angin kencang.
Hal ini adalah sebagai isyarat dari Allah kepada kaum musyrikin Quraisy bahwa mereka akan dihancurkan bila mereka tidak mengindahkan seruan Rasul.

Keimanan:

Dalil-dalil dan bukti keesaan Allah dan bahwa penyembah-penyembah berhala adalah sesat
orang-orang mu’min akan mendapat kebahagiaan dan orang-orang kafir akan diazab
risalah Nabi Muhammad ﷺ tidak hanya terbatas kepada umat manusia saja, tetapi juga kepada jin.

Hukum:

Perintah kepada manusia supaya patuh kepada ibu bapa, memuliakannya dan mengerjakan apa yang diridhai Allah terhadapnya dan larangan menyakiti hatinya.

Kisah:

Kisah Nabi Hud a.s, dan kaumnya.

Lain-lain:

Orang yang mementingkan keni’matan hidup duniawi saja akan merugi kelak di akhirat
orang-orang yang beriman kepada Allah dan beristiqamah dalam kehidupannya tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak bersedih hati.

Ayat-ayat dalam Surah Al Ahqaaf (35 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Ahqaaf (46) ayat 20 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Ahqaaf (46) ayat 20 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Ahqaaf (46) ayat 20 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Ahqaaf - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 35 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 46:20
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Ahqaaf.

Surah Al-Ahqaf (Arab: الأحقاف ,"Bukit-Bukit Pasir") adalah surah ke-46 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Makkiyah yang terdiri atas 35 ayat.
Dinamakan al-Ahqaf yang berarti Bukit-Bukit Pasir diambil dari kata al-Ahqaf yang terdapat pada ayat 21 surah ini.
Dalam ayat tersebut dan ayat-ayat sesudahnya diterangkan bahwa Nabi Hud telah menyampaikan risalahnya kepada kaumnya di al-Ahqaf yang sekarang dikenal dengan ar-Rab'ul Khali, tetapi kaumnya tetap ingkar sekalipun mereka telah diberi peringatan pula oleh rasul-rasul yang sebelumnya.
Hingga akhirnya Allah menghancurkan mereka dengan tiupan angin kencang.
Hal ini adalah sebagai isyarat dari Allah kepada kaum musyrikin Quraisy bahwa mereka akan dihancurkan bila mereka tidak mengindahkan seruan Rasul.

Nomor Surah 46
Nama Surah Al Ahqaaf
Arab الَأحقاف
Arti Bukit-bukit pasir
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 66
Juz Juz 26
Jumlah ruku' 4 ruku'
Jumlah ayat 35
Jumlah kata 648
Jumlah huruf 2668
Surah sebelumnya Surah Al-Jasiyah
Surah selanjutnya Surah Muhammad
4.9
Ratingmu: 4.3 (15 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Podcast

Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta