Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Ad Dukhaan (Kabut) – surah 44 ayat 37 [QS. 44:37]

اَہُمۡ خَیۡرٌ اَمۡ قَوۡمُ تُبَّعٍ ۙ وَّ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ؕ اَہۡلَکۡنٰہُمۡ ۫ اِنَّہُمۡ کَانُوۡا مُجۡرِمِیۡنَ
Ahum khairun am qaumu tubba’in waal-ladziina min qablihim ahlaknaahum innahum kaanuu mujrimiin(a);
Apakah mereka (kaum musyrikin) yang lebih baik atau kaum Tubba‘, dan orang-orang yang sebelum mereka yang telah Kami binasakan karena mereka itu adalah orang-orang yang sungguh berdosa.
―QS. Ad Dukhaan [44]: 37

Are they better or the people of Tubba’ and those before them?
We destroyed them, (for) indeed, they were criminals.
― Chapter 44. Surah Ad Dukhaan [verse 37]

أَهُمْ apakah mereka

Are they
خَيْرٌ lebih baik

better
أَمْ atau

or
قَوْمُ kaum

(the) people
تُبَّعٍ Tubba’

(of) Tubba
وَٱلَّذِينَ dan orang-orang yang

and those
مِن dari

before them? *[meaning includes next or prev. word]
قَبْلِهِمْ sebelum mereka

before them? *[meaning includes next or prev. word]
أَهْلَكْنَٰهُمْ Kami telah membinasakan mereka

We destroyed them,
إِنَّهُمْ sesungguhnya mereka

indeed, they
كَانُوا۟ adalah mereka

were
مُجْرِمِينَ orang-orang yang berdosa

criminals.

Tafsir

Alquran

Surah Ad Dukhaan
44:37

Tafsir QS. Ad Dukhaan (44) : 37. Oleh Kementrian Agama RI


Kemudian Allah mengingatkan mereka pada kaum yang telah ditimpa malapetaka dan azab Allah, karena mereka durhaka dan tidak mengindahkan seruan para rasul yang diutus kepada mereka.
Hendaklah mereka menjaga diri mereka, jangan sampai Allah mengazab mereka seperti yang telah dialami kaum yang terdahulu itu, Allah menyatakan bahwa keadaan mereka tidaklah lebih baik dari kaum Tubba’.


Sahl bin Sa’d berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda:
Janganlah kalian mencela Tubba’ karena dia sudah masuk Islam.
(Riwayat Ahmad)


Tubba’ adalah sebutan bagi raja-raja Himyar di Yaman.

Kaumnya disebut kaum Tubba’.
Mereka berbuat dosa yang melampaui batas sehingga negeri mereka dihancurkan Allah.

Namun sebahagian kaumnya masih hidup mengembara ke negeri-negeri sekitarnya.
Pada mulanya mereka adalah kaum yang mempunyai kemampuan dan ilmu yang cukup tinggi serta mempunyai balatentara yang cukup kuat.

Kalau dibandingkan dengan orang Tubba’, orang-orang kafir Mekah jauh ketinggalan dari orang Tubba’.
Allah menyatakan bahwa orang-orang kafir Mekah itu tidak lebih baik keadaannya dari kaum ‘Ad dan Samud.

Kedua kaum ini juga dibinasakan Allah karena kesombongan dan pengingkaran mereka terhadap adanya hari kebangkitan.


Pada akhir ayat ini, Allah menandaskan bahwa pada umat-umat terdahulu itu telah berlaku sunatullah.

Mereka semua dibinasakan karena mereka telah tenggelam dalam lumpur kemaksiatan.
Kejadian itu seharusnya menjadi pelajaran bagi orang-orang kafir Mekah seandainya mereka mau mengambil pelajaran.
Dalam ayat yang lain, Allah menegaskan sunah-Nya ini.
Allah ﷻ berfirman:

سُنَّةَ اللّٰهِ فِى الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللّٰهِ تَبْدِيْلًا

Sebagai sunatullah yang (berlaku juga) bagi orang-orang yang telah terdahulu sebelum(mu), dan engkau tidak akan mendapati perubahan pada sunnah Allah. (al-Ahzab [33]: 62)

Tafsir QS. Ad Dukhaan (44) : 37. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Apakah orang-orang kafir Mekah lebih kuat, lebih berkuasa dan lebih segalanya, atau kaum Tubba’ dan orang-orang sebelum mereka?
Orang-orang musyrik kaummu, Muhammad, tidak lebih kuat dari mereka.
Mereka yang lebih kuat itu telah Kami musnahkan di dunia akibat sikap kafir dan perbuatan dosa mereka.


Maka hendaknya orang-orang musyrik kaummu itu mengambil pelajaran dari mereka.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Apakah orang-orang musyrik itu lebih baik ataukah kaum Tubba’ Al-Himyari dan umat yang kafir kepada Allah sebelum mereka?
Kami membinasakan mereka karena kedurhakaan dan kekufuran mereka.
Tidaklah orang-orang musyrik itu lebih baik dari mereka sehingga Kami layak memaafkan dan tidak membinasakannya, sedangkan mereka kufur kepada Allah.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:


Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,


("Apakah mereka yang lebih baik ataukah kaum Tubba’") Tubba’ adalah seorang nabi atau seorang yang saleh


(dan orang-orang yang sebelum mereka) umat-umat sebelum mereka


(Kami telah membinasakan mereka) karena kekafiran mereka.
Makna ayat, bahwasanya orang-orang musyrik itu tidaklah lebih kuat daripada mereka, dan ternyata mereka pun telah dibinasakan


(karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berdosa.)

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Allah subhanahu wa ta’ala mengingkari perbuatan orang-orang musyrik yang ingkar terhadap hari berbangkit dan hari kemudian.
Mereka berkeyakinan bahwa tiada kehidupan itu melainkan hanya kehidupan di dunia ini, dan tiada kehidupan lagi sesudah mati, tiada hari berbangkit, dan tiada hari pembalasan.
Mereka mengatakan demikian dengan beralasan bapak moyang mereka telah tiada, ternyata mereka tidak kembali lagi, dan jika hari berbangkit itu benar,

maka datangkanlah (kembali) bapak-bapak kami jika kamu memang orang-orang yang benar.
(QS. Ad-Dukhaan [44]: 36)

Ini adalah alasan yang batil dan alibi yang kacau serta tidak benar, karena sesungguhnya hari berbangkit itu hanya terjadi pada hari kiamat dan bukan di kehidupan dunia, bahkan terjadi hari berbangkit itu justru sesudah usia dunia habis dan lenyap, lalu Allah mengulangi penciptaan mereka dalam ciptaan yang baru.
Dan dia menjadikan orang-orang yang zalim untuk menghuni neraka Jahanam sebagai umpannya.
Hal ini terjadi di hari ketika kamu sekalian menjadi saksi atas umat manusia dan Rasul pun menjadi saksi atas kalian.

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala mengancam mereka dan memperingatkan mereka terhadap azab-Nya yang tidak dapat ditolak, seperti yang telah menimpa orang-orang yang serupa dengan mereka di masa dahulu dari kalangan orang-orang yang mempersekutukan Allah lagi ingkar kepada hari berbangkit.
Sebagai contohnya ialah kaum Tubba, yaitu kaum Saba‘, Allah telah membinasakan mereka, merusak negeri mereka, serta menjadikan mereka bercerai berai di berbagai negeri di luar negeri mereka, seperti yang telah diterangkan di dalam tafsir surat Saba‘.
Mereka adalah kaum musyrik yang mula-mula ingkar kepada adanya hari kemudian.

Demikian pula dalam surat Ad-Dukhan ini, orang-orang musyrik diserupakan dengan kaum Tubba’;
dan mereka pun dahulunya adalah orang-orang Arab dari Qahtan, sebagaimana orang-orang musyrik Mekah pun adalah orang-orang Arab dari ‘Adnan.

Dahulu orang-orang Himyar (yakni kaum Saba‘) bila mengangkat seorang raja untuk mereka, mereka menjulukinya dengan gelar Tubba’, seperti dikatakan Kisra bagi Raja Persia, Kaisar bagi Raja Romawi, Fir’aun bagi Raja Mesir, Negus bagi Raja Habsyah, dan julukan-julukan lainnya yang berlaku di kalangan tiap bangsa.

Tetapi telah disepakati di kalangan ahli sejarah bahwa sebagian dari para Tubba’ ada yang keluar dari negeri Yaman dan menjelajahi berbagai negeri hingga sampai di Samarkand.
Di tanah pengembaraan ia mendirikan kerajaan hingga kerajaannya kuat dan pengaruhnya besar, begitu pula bala tentaranya, kerajaannya luas, dan rakyatnya banyak.
Dialah yang membangun kota Hirah.

Telah disepakati pula bahwa dia dalam perjalanannya melalui kota Madinah, yang hal ini terjadi di masa Jahiliah.
Lalu ia bermaksud akan memerangi penduduknya, tetapi penduduk Madinah mempertahankan dirinya dan memerangi mereka di siang hari, sedangkan di malam harinya penduduk Madinah menjamu mereka.
Akhirnya raja itu malu terhadap penduduk Madinah dan akhirnya dia tidak lagi memerangi mereka.

Raja itu membawa serta dua orang pendeta Yahudi yang pernah menasehatinya, keduanya menceritakan kepada rajanya bahwa tiada cara baginya untuk menaklukkan kota Madinah ini, karena sesungguhnya kota ini kelak akan dijadikan tempat hijrah nabi akhir zaman.
Maka si raja meneruskan perjalanannya, dan membawa serta’kedua pendeta Yahudi itu ke negeri Yaman.

Ketika raja itu melewati Mekah, ia berkehendak akan merobohkan Ka’bah, tetapi kedua pendeta Yahudi itu melarangnya melaksanakan niatnya itu.
Keduanya menceritakan kepadanya kebesaran dari Ka’bah itu, bahwa Ka’bah tersebut dibangun oleh Ibrahim kekasih Allah, dan kelak di masa mendatang Ka’bah akan mempunyai kedudukan yang besar di masa nabi yang akan diutus di akhir zaman nanti.
Akhirnya si Raja itu menghormatinya, dan melakukan tawaf di sekelilingnya dan memberinya kain kelambu, hadiah-hadiah, dan berbagai macam pakaian.
Kemudian ia kembali meneruskan perjalanannya menuju negeri Yaman, dia menyeru penduduk Yaman untuk beragama Yahudi sama dengan dirinya.
Di masa itu agama yang tersebar adalah agama nabi Musaalaihis salam Di negeri Yaman terdapat sebagian orang yang mendapat hidayah sebelum Al-Masih diutus.
Akhirnya sebagian penduduk Yaman masuk agama Yahudi mengikuti jejak rajanya.

Kisah ini secara panjang lebar diceritakan oleh Imam Muhamad Ibnu Ishaq di dalam Kitabus Sirah-nya.
Al-Hafiz Ibnu Asakir telah mengetengahkan biografi raja ini di dalam kitab tarikhnya.
Banyak peristiwa yang dikemukakan olehnya, sebagian di antaranya seperti yang telah disebutkan di atas dan sebagian lainnya yang tidak kami sebutkan.
Ibnu Asakir mengatakan bahwa raja tersebut adalah Raja Dimasyq.
Disebutkan bahwa apabila memeriksa kudanya, maka dibariskan untuknya kuda-kuda dari kota Dimasyq sampai ke Yaman.


Kemudian Al-Hafiz ibnu Asakir mengetengahkan melalui jalur Abdur Razzaq dari Ma’mar dari Ibnu Abu Zi-b dari Al-Maqbari, dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi ﷺ yang telah bersabda:

Aku tidak mengetahui apakah hukuman had itu dapat membersihkan pelakunya (dari dosa yang dilakukannya) ataukah tidak?
Dan aku tidak mengetahui apakah Tubba’ itu dikutuk ataukah tidak;
dan aku tidak mengetahui apakah Zul Qarnain;
itu seorang nabi ataukah seorang raja?
Dan di dalam riwayat lain disebutkan:
(Aku tidak mengetahui) apakah Uzair itu seorang nabi ataukah bukan?

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim, dari Muhammad Ibnu Hamma Az-Zahrani, dari Abdur Razzaq.

Ad-Daruqutni mengatakan bahwa Abdur Razzaq meriwayatkan hadis ini secara munfarid (tunggal).
Kemudian Ibnu Asakir meriwayatkan melalui jalur Muhammad ibnu Kuraib, dari ayahnya, dari Ibnu Abbas r.a. secara marfu‘:

Aku tidak tahu, apakah Uzair seorang nabi ataukah bukan?
Dan aku tidak tahu apakah Tubba’ seorang yang dilaknat ataukah bukan ?

Kemudian Ibnu Asakir mengetengahkan riwayat yang melarang mencaci dan melaknat Tubba’, seperti yang akan diterangkan kemudian, Insya Allah.
Seakan-akan —hanya Allah Yang Maha Mengetahui— pada awalnya Tubba’ kafir, lalu masuk Islam dan mengikuti agama Musaalaihis salam di tangan pendeta-pendeta Yahudi di masa itu yang berada pada jalan kebenaran sebelum Al-Masih diutus.
Tubba’ ini sempat berhaji ke Baitullah di masa orang-orang Jurhum, dan memberinya kain kelambu dari sutra dan kain hibarah serta menyembelih kurban di dekatnya sebanyak enam ribu ekor unta;
Tubba’ ini menghormati dan memuliakan Ka’bah (Baitullah).
Sesudah itu ia kembali ke negeri Yaman.

Al-Hafiz Ibnu Asakir telah mengetengahkan kisahnya dengan panjang lebar melalui berbagai jalur dari Ubay ibnu Ka’b, Abdullah ibnu Salam, dan Abdullah ibnu Abbas r.a. juga Ka’bul Ahbar.


Kisah ini memang bersumber dari Ka’bul Ahbar—juga dari Abdullah ibnu Salam—yang predikatnya jauh lebih kuat, lebih besar, dan lebih ‘alim.
Dan hal yang sama telah diriwayatkan pula kisah mengenainya oleh Wahb ibnu Munabbih dan Muhammad ibnu Ishaq di dalam kitab Sirah-nya, seperti yang telah kita kenal.

Tetapi Al-Hafiz Ibnu Asakir pada sebagian konteks yang dikemukakannya sehubungan dengan autobiografi Tubba’ mengalami sedikit kekacauan karena dicampur dengan autobiografi orang yang datang sesudahnya (Tubba’) dalam masa yang cukup lama.
Karena sesungguhnya Tubba’ yang diisyaratkan di dalam Alquran ini kaumnya masuk Islam di tangannya, kemudian setelah ia wafat kaumnya kembali kepada kesesatan, yaitu menyembah berhala dan api.
Maka Allah mengazab mereka, sebagaimana yang disebutkan d"i dalam tafsir surat Saba*’.
Kami telah menceritakan kisahnya dengan panjang lebar dalam tafsir surat tersebut.

Sa’id ibnu Jubair mengatakan bahwa Tubba’ telah memberi kelambu pada Ka’bah dan Sa’id ibnu Jubair melarang orang-orang mencaci Tubba’.
Tubba’ yang ini adalah Tubba’ yang pertengahan, nama aslinya adalah As’ad alias Abu Kuraib ibnu Malyakrib Al-Yamani.
Para ahli sejarah menyebutkan bahwa dia menjadi raja kaumnya selama tiga ratus dua puluh enam tahun;
tiada seorang raja pun di Himyar yang masa pemerintahannya lebih lama daripada dia.
Dia meninggal dunia sebelum Nabi ﷺ diutus dalam kurun waktu tujuh ratus tahun sebelumnya.

Ibnu Abud Dunia telah meriwayatkan bahwa di masa Islam pernah dilakukan suatu penggalian terhadap sebuah kuburan kuno di kota Sana’ dan ternyata mereka menjumpai dua jenazah wanita yang keduanya masih utuh.
Di dekat kepala masing-masing terdapat lempengan perak yang ditulis dengan emas, menyebutkan bahwa ini adalah kuburan Huyay dan Tamis, yang menurut riwayat lain menyebutkan Huyay dan Tumadir;
keduanya adalah anak perempuan Tubba’ mereka berdua meninggal dunia dalam keadaan beragama Tauhid, yakni telah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Allah dan keduanya tidak pernah mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun.
Begitu pula yang dipegang teguh oleh orang-orang saleh yang ada di masanya hingga mereka meninggal.
Telah kami ceritakan pula di dalam tafsir surat Saba Syair Saba‘ mengenai hal tersebut.

Qatadah mengatakan, telah diceritakan kepada kami bahwa Ka’b pernah mengatakan tentang Tubba’ dia adalah seorang lelaki saleh.
Allah telah mencela perbuatan kaumnya, tetapi dia tidak dicela.
Dan Ka’b mengatakan bahwa Aisyah r.a. pernah mengatakan,
"Janganlah kalian mencela Tubba’, karena sesungguhnya dia adalah seorang yang saleh."

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar‘ah, telah menceritakan kepada kami Safwan, telah menceritakan kepada kami Al-Walid, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Lahi’ah, dari Abu Zar‘ah (Yakni Amr ibnu Jabir Al-Hadrami) yang telah mengatakan bahwa ia pernah mendengar Sahl ibnu Sa’d As-Sa’idi r.a. mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Janganlah kalian mencaci Tubba’, karena sesungguhnya dia adalah orang yang telah masuk Islam.

Imam Ahmad meriwayatkan hadis ini di dalam kitab musnadnya, dari Hasan ibnu Musa, dari Ibnu Lahi’ah dengan sanad yang sama.

Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Ali Al-Abar, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Muhammad ibnu Abu Barzah, telah menceritakan kepada kami Muammal ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Sammak ibnu Harb, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas r.a., dari Nabi ﷺ yang telah bersabda:
Janganlah kalian mencaci Tubba’, karena sesungguhnya dia adalah orang Islam.

Abdur Razzaq mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Ibnu Abu Zi-b, dari Al-Maqbari, dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
apakah Tubba’ seorang nabi ataukah bukan?

Dalam pembahasan terdahulu telah disebutkan melalui sanad ini dalam riwayat Ibnu Abu Hatim hal yang sama dengan apa yang diketengahkan oleh Ibnu Asakir, yaitu:
Aku tidak mengetahui apakah Tubba’ seorang yang dilaknat ataukah bukan?

Hanya Allah-lah yang Maha Mengetahui kebenarannya.
Ibnu Asakir telah meriwayatkan hal ini melalui jalur Zakaria ibnu Yahya Al-Madani, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas secara mauquf.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Imran alias Abul Huzail, telah menceritakan kepadaku Tamim ibnu Abdur Rahman yang mengatakan bahwa Ata ibnu Abu Rabbah pernah mengatakan:
Janganlah kalian mencaci Tubba’, karena sesungguhnya Rasulullah ﷺ telah melarang mencacinya.

Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Unsur Pokok Surah Ad Dukhaan (الدخان)

Surat Ad Dukhaan terdiri atas 59 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Az Zukhruf.

Dinamai "Ad Dukhaan" (kabut), diambil dari perkataan "Dukhaan" yang terdapat pada ayat 10 surat ini.

Menurut riwayat Bukhari secara ringkas dapat diterangkan sebagai berikut:
Orang-orang kafir Mekah dalam menghalang-halangi agama Islam dan menyakiti serta mendurhakai Nabi Muhammad ﷺ sudah melewati batas, karena itu Nabi mendo’a kepada Allah agar diturunkan azab, sebagairnana yang telah diturunkan kepada orang-orang yang durhaka kepada Nabi Yusuf yaitu musim kemarau yang panjang.

Do’a Nabi itu dikabulkan Allah, sampai orang-orang kafir memakan tulang dan bangkai, karena kelaparan.
Mereka selalu menengadah ke langit mengharap pertolongan Allah.
Tetapi tidak satupun yang mereka lihat kecuali kabut yang menutupi padangan mereka.

Akhirnya mereka datang kepada Nabi agar Nabi memohon kepada Allah supaya hujan diturunkan.
Setelah Allah mengabulkan do’a Nabi, dan hujan diturunkan, mereka kembali kafir seperti semula, karena itu Allah menyatakan bahwa nanti mereka akan diazab dengan azab yang pedih.

Keimanan:

Dalildalil atas kenabian Muhammad ﷺ.
▪ Huru-hara dan kehebatan hari kiamat.
▪ Pada hari kiamat hanya amalamal seseorang yang dapat menolongnya.
Azab dan penderitaan yang ditemui orang-orang kafir di akhirat serta nikmat dan kesenangan yang diterima orang-orang mukmin.

Kisah:

▪ Kisah Musa `alaihis salam dengan Fir’aun dan kaumnya.

Lain-lain:

▪ Permulaan turunnya Alquran pada malam lailatul Qadar.
▪ Orang-orang kafir hanya beriman kalau mereka ditimpa bahaya, kalau bahaya telah hilang mereka kafir kembali.
▪ Dalam penciptaan langit dan bumi itu terdapat hikmat yang besar.

Audio

QS. Ad-Dukhaan (44) : 1-59 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 59 + Terjemahan Indonesia

QS. Ad-Dukhaan (44) : 1-59 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 59

Gambar Kutipan Ayat

Surah Ad Dukhaan ayat 37 - Gambar 1 Surah Ad Dukhaan ayat 37 - Gambar 2
Statistik QS. 44:37
  • Rating RisalahMuslim
4.8

Ayat ini terdapat dalam surah Ad Dukhaan.

Surah Ad-Dukhan (bahasa Arab:الدخان) adalah surah ke 44 dalam Alquran.
Surah ini tergolong surat makkiyah yang terdiri atas 59 ayat.
Dinamakan Ad-Dukhan yang berarti Kabut diambil dari kata Ad-Dukhan yang terdapat pada ayat 10 surah ini.

Menurut riwayat Bukhari secara ringkas dapat diterangkan sebagai berikut: Orang-orang kafir Mekkah dalam menghalang-halangi agama Islam dan menyakiti serta mendurhakai Nabi Muhammad ﷺ
sudah melewati batas, karena itu Nabi berdoa kepada Allah agar diturunkan azab sebagaimana yang telah diturunkan kepada orang-orang yang durhaka kepada Nabi Yusuf yaitu musim kemarau yang panjang.
Doa Nabi itu dikabulkan Allah sampai orang-orang kafir memakan tulang dan bangkai karena kelaparan.
Mereka selalu menengadah ke langit mengharap pertolongan Allah.
Tetapi tidak satupun yang mereka lihat kecuali kabut yang menutupi pandangan mereka.

Akhirnya mereka datang kepada Nabi agar Nabi memohon kepada Allah supaya hujan diturunkan.
Setelah Allah mengabulkan doa Nabi dan hujan di turunkan, mereka kembali kafir seperti semula.
Karena itu Allah menyatakan bahwa nanti mereka akan diazab dengan azab yang pedih.

Nomor Surah44
Nama SurahAd Dukhaan
Arabالدخان
ArtiKabut
Nama lain
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu64
JuzJuz 25
Jumlah ruku’3 ruku’
Jumlah ayat59
Jumlah kata346
Jumlah huruf1475
Surah sebelumnyaSurah Az-Zukhruf
Surah selanjutnyaSurah Al-Jasiyah
Sending
User Review
4.4 (20 votes)
Tags:

44:37, 44 37, 44-37, Surah Ad Dukhaan 37, Tafsir surat AdDukhaan 37, Quran AdDukhan 37, Ad Dukhan 37, Ad-Dukhan 37, Surah Ad Dukhan ayat 37

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) – surah 7 ayat 2 [QS. 7:2]

Pada akhir surah yang lalu dijelaskan tentang turunnya Al-Qur’an, untuk apa ia diturunkan, perintah untuk mengikutinya, dan ancaman bagi orang yang mengabaikan tuntunannya. Surah ini diawali dengan me … 7:2, 7 2, 7-2, Surah Al A’raaf 2, Tafsir surat AlAraaf 2, Quran Al Araf 2, Al-A’raf 2, Surah Al Araf ayat 2

QS. Ash Shaffaat (Barisan-barisan) – surah 37 ayat 132 [QS. 37:132]

129-132. Dan karena kesabaran serta ketabahannya dalam menyampaikan agama tauhid, Kami abadikan untuk Nabi Ilyas suatu pujian yang mulia di kalangan orang-orang yang datang kemudian. dan Kami ucapkan … 37:132, 37 132, 37-132, Surah Ash Shaffaat 132, Tafsir surat AshShaffaat 132, Quran Al-Shaffat 132, AshShaffat 132, Ash Shafat 132, Ash Shaffat 132, Surah Ash Shaffat ayat 132

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Qada dan qadar termasuk rukun iman yang ke ...

Benar! Kurang tepat!

Ayat ke 5 dari surah al-Falaq yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
وَ مِنۡ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ

'dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.'
--QS. Al Falaq [113] : 5

Meja, kursi, manusia, hewan dan tumbuhan adalah merupakan salah satu cara mengenal Allah Subhanahu Wa Ta`ala melalui ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Al Falaq artinya ...

Benar! Kurang tepat!

Percaya kepada Allah dan Rasulnya termasuk rukun ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #23
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #23 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #23 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #16

Alquran adalah mukjizat terbesar bagi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di bawah ini merupakan bukti bahwa Alquran adalah mukjizat

Pendidikan Agama Islam #22

Takdir yang bisa diubah dinamakan … mubram muallaf mabrur muallaq muttafaqoh Benar! Kurang tepat! Karena rajin belajar maka Afit selalu

Pendidikan Agama Islam #27

Basmalah tertulis atau disebutkan sebanyak dua kali pada surah … at-Taubah an-Naml Hud Yusuf ar-Rahman Benar! Kurang tepat! Surah yang

Instagram