QS. Ad Dukhaan (Kabut) – surah 44 ayat 10 [QS. 44:10]

فَارۡتَقِبۡ یَوۡمَ تَاۡتِی السَّمَآءُ بِدُخَانٍ مُّبِیۡنٍ
Faartaqib yauma ta’tiissamaa-u bidukhaanin mubiinin;

Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata,
―QS. 44:10
Topik ▪ Hari Kiamat ▪ Kedahsyatan hari kiamat ▪ Perintah untuk berfikir dan menghayati
44:10, 44 10, 44-10, Ad Dukhaan 10, AdDukhaan 10, AdDukhan 10, Ad Dukhan 10, Ad-Dukhan 10

Tafsir surah Ad Dukhaan (44) ayat 10

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ad Dukhaan (44) : 10. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ supaya bersabar menanti orang-orang kafir Mekah itu ditimpa kelaparan.
Pada saat itu pula mereka bila memandang ke atas, akan melihat di langit kabut tebal memenuhi angkasa.
Menurut kajian ilmiah mengenai peristiwa adanya Dukhan (kabut).
Nampaknya pada hari Kiamat nanti akan diawali dengan adanya benturan dahsyat antara bumi dengan benda-benda langit (planet atau asteroida lainnya).
Benturan ini diperkirakan akan menyebabkan berhamburannya material bumi maupun benda langit tadi dalam jumlah yang sangat-sangat besar.
Material tersebut berhamburan ke angkasa seperti awan debu (ad dukhan) dalam jumlah yang sangat besar.
Awan debu inilah yang kemungkinan akan meyelimuti atmosfer bumi sehingga sinar matahari tidak lagi menembus bumi, suhu akan turun drastis, akan terjadi kematian semua makhluk hidup.
Para ahli palaentologi (ahli masalah-masalah kepurbaan), termasuk para ahli paleogeologi (geologi-purba) maupun paleobiologi (biologi purba), mengemukakan teori punahnya spesies dinosaurus 66,4 juta tahun yang lalu, dengan mengemukakan suatu hipotesis yang dikenal dengan nama Asteroid Theory (Teori Asteroida).
Teori ini muncul setelah Walter Alvarez menemukan adanya konsentrasi iridium yang sangat tinggi dan tidak biasa (anomaly high concentration of iridium) pada rangkaian stratigrafik masa Cretaceous-Tertiary di Gubbio, Italia.
Konsentrasi iridium yang tidak normal ini, menimbulkan dugaan, bahwa iridium itu berasal dari benda-benda langit.
Punahnya spesies dinosaurus menurut Asteroid Theory ini terjadi oleh adanya benturan bumi dengan asteroida, yang mengakibatkan munculnya awan debu luar biasa yang menyelimuti bumi, sehingga menghalangi sinar matahari masuk, menurunkan suhu dan mematikan spesies hayati purba.
Teori ini didukung oleh tingginya kadar iridium di lokasi ditemukannya dinosaur.
Apakah ad-Dukhan pada ayat 10 ini juga disebabkan adanya benturan bumi dengan benda-benda langit, menjelang kiamat.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Maka tunggulah, hai Muhammad, ketika kabut turun menimpa mereka hingga mereka menjadi kurus dan lemah penglihatan.
Ketika itu, orang menyaksikan kabut yang amat tebal dan jelas di antara langit dan bumi.
Yang terdengar suaranya tanpa dapat dilihat.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata) maka kala itu bumi menjadi tandus kelaparan serta paceklik makin menjadi-jadi, sehingga karena memuncaknya keadaan, akhirnya mereka melihat seolah-olah ada sesuatu yang berupa kabut di antara langit dan bumi.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, mengancam mereka:

Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata.
(Q.S. Ad-Dukhaan [44]: 10)

Sulaiman ibnu Mahran alias Al-A’masy telah meriwayatkan dari Abud Duha alias Muslim ibnu Sabiti, dari masruq yang mengatakan bahwa kami memasuki masjid Kufah yang terletak di dekat pintu gerbang masuk ke Kindah.
Tiba-tiba ada seorang lelaki yang sedang menceritakan kepada teman-temannya tentang makna firman-Nya: hari ketika langit membawa kabut yang nyata.
(Q.S. Ad-Dukhaan [44]: 10) Tahukah kalian apakah yang dimaksud dengan dukhan (kabut) itu?
Kabut itu akan datang menjelang hari kiamat, lalu menimpa pendengaran dan penglihatan orang-orang munafik, sedangkan orang-orang mukmin hanya mengalami hal yang seperti pilek saja akibat kabut tersebut.
Masruq melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia menemui Ibnu Mas’ud r.a.
dan menceritakan kepadanya perkataan lelaki itu.
Saat itu Ibnu Mas’ud dalam keadaan berbaring, lalu ia terkejut dan duduk, kemudian berkata bahwa sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah befirman kepada nabi kalian: Katakanlah (hai Muhammad), “Aku tidak meminta upah sedikit pun kepadamu atas dakwahku; dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan.” (Q.S. Shaad [38]: 86) Sesungguhnya termasuk pengetahuan itu ialah bila seseorang mengatakan terhadap apa yang tidak diketahuinya, bahwa hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Aku akan menceritakan hal tersebut kepada kalian.
Sesungguhnya orang-orang Quraisy itu ketika menghambat agama Islam dan durhaka kepada Rasulullah ﷺ, maka Rasulullah ﷺ berdoa untuk memberi pelajaran kepada mereka agar mereka ditimpa paceklik seperti paceklik yang terjadi di masa Nabi Yusuf.
Maka mereka pun tertimpa kepayahan dan kelaparan sehingga terpaksa mereka memakan tulang belulang dan bangkai.
Dan mereka menengadahkan pandangannya ke langit, maka tiada yang mereka lihat kecuali hanya kabut.

Menurut riwayat lain, seseorang dari mereka bila melihatkan pandangannya ke langit (mengharapkan hujan), maka dia melihat antara dia dan langit sesuatu yang seperti kabut karena kepayahan yang dialaminya akibat kelaparan.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata, yang meliputi manusia.
Inilah azab yang pedih.
(Q.S. Ad-Dukhaan [44]: 10-11) Maka Rasulullah ﷺ di datangi dan dikatakan kepadanya, “Ya Rasulullah, mohonkanlah hujan kepada Allah buat Mudar, karena sesungguhnya mereka telah binasa (akibat paceklik ini).” Maka Rasulullah ﷺ memohon hujan untuk mereka, dan mereka pun diberi hujan, lalu turunlah firman-Nya: Sesungguhnya (kalau) Kami akan melenyapkan siksaan itu agak sedikit, sesungguhnya kamu akan kembali (ingkar).
(Q.S. Ad-Dukhaan [44]: 15)

Ibnu Mas’ud r.a.
mengatakan bahwa lalu azab itu dilenyapkan dari mereka; dan ketika keadaannya sudah pulih menjadi makmur, maka mereka kembali kepada keadaannya yang semula, yaitu mengingkari kebenaran.
Lalu Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya: (Ingatlah) hari (ketika) Kami menghancurkan mereka dengan hantaman yang keras.
Sesungguhnya Kami adalah Pemberi balasan (Q.S. Ad-Dukhaan [44]: 16)

Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa hal ini terjadi dalam Perang Badar.
Selanjutnya Ibnu Mas’ud r.a.
mengatakan bahwa telah berlalu lima peristiwa, yaitu Dukhan, Rum, Al-Qamar, Al-Batsyah, dan Al-Lizam.

Hadis ini diketengahkan di dalam kitab Sahihain.

Iman Ahmad meriwayatkan hadis ini di dalam kitab musnadnya, dan hadis ini pada Imam Turmuzi dan Imam Nasai tertera pada kitab tafsir masing-masing.
Dan Jarir serta Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya pula melalui berbagai jalur dari Al-A’masy dengan sanad yang semisal.

Ibnu Mas’ud r.a.
dalam tafsirnya sehubungan dengan ayat ini yang mengatakan bahwa peristiwa Dukhan telah berlalu, sependapat dengan pendapat yang dikemukakan segolongan ulama Salaf, seperti Mujahid, Abul Aliyah, Ibrahim An-Nakha’i, Ad-Dahhak dan Atiyyah Al-Aufi pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ja’far ibnu Musafir, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnul Hassan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman Al-A’raj sehubungan dengan makna firman-Nya.
Hari ketika langit membawa kabut yang nyata.
(Q.S. Ad-Dukhaan [44]: 10) Bahwa peristiwa ini terjadi pada hari jatuhnya kota Mekah.

Pendapat ini gharib sekali, bahkan munkar.

Ulama lainnya mengatakan bahwa peristiwa Dukhan masih belum terjadi, bahkan Dukhan merupakan salah satu pertanda hari kiamat, sebagai mana yang disebutkan terdahulu melalui hadis Abu Sarihah alias Huzaifah ibnul Usaid Al-Gifari r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ muncul menuju ke arah kami dari ‘Arafah, sedangkan kami saat itu sedang membicarakan tentang hari kiamat.
Maka beliau bersabda:

Hari kiamat tidak akan terjadi sebelum kalian melihat sepuluh tanda (yang mengawalinya), yaitu terbitnya matahari dari arah barat, Dukhan (kabut), Dabbah (binatang melata), keluarnya ya-juj dan Ma-juj, munculnya Isa putra Maryam dan Dajjal: terjadinya tiga kali gempa hebat, satu kali gempa di timur, satu kali gempa di Barat, dan satu kali lagi gempa di Jazirah Arabia; dan munculnya api dari daerah pedalaman ‘Adn yang menggiring manusia —atau menghimpunkan manusia— api itu ikut menginap bersama mereka di tempat mereka menginap, dan ikut istirahat bersama mereka di tempat mereka istirahat.

Hadis ini diketengahkan oleh Imam Muslim secara tunggal di dalam kitab sahihnya.
Dan di dalam kitab Sahihain disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ berkata kepada Ibnu Sayyad:

“Sesungguhnya aku sekarang menyembunyikan sesuatu terhadapmu” Ibnu Sayyad menjawab, “Itu adalah Ad-Dukh,” (Belum lagi Ibnu Sayyad merampungkan ucapannya) Rasulullah ﷺ memotongnya, “Terhinalah kamu, kamu tidak akan dapat melampaui takdirmu (kedudukanmu).
Rasulullah ﷺ menyembunyikan terhadapnya firman Allah subhanahu wa ta’ala: Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata (Q.S. Ad-Dukhaan [44]: 10)

Di dalam hadis ini terkandung pengertian yang menunjukkan bahwa peristiwa yang dimaksud masih dinanti-nantikan kedatangannya.
Ibnu Sayyad mengetahui peristiwa itu melalui cara tenung dan mengatakannya melalui lisan Jin; Jadi jinlah yang mengajarkan kepadanya kalimat itu, karena itulah Ibnu Sayyad mengatakannya bahwa peristiwa tersebut adalah Ad-Dukh, yakni Dukhan.
Dan pada saat itu juga Rasulullah ﷺ segera mengetahui cara yang dipakai oleh Ibnu Sayyad, bahwa ia memakai cara setan.
Maka beliau ﷺ segera memotongnya melalui sabdanya: Terhinalah engkau, engkau tidak akan dapat melampaui kedudukanmu.

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan:

telah menceritakan kepadaku Isam ibnu Rawwad ibnul Jarrah, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Abu Sa’id As-Sauri, telah menceritakan kepada kami Mansur ibnu Mu’tamir, dari Rab’i ibnu Hirasy yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Huzaifah ibnul Yaman r.a.
mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Sesungguhnya mula-mula pertanda (kiamat) ialah Dajjal, turunnya Isa Putra Maryam ‘alaihis salam, api yang keluar dari pedalaman ‘Adn, yang tampak jelas; api itu menggiring manusia ke tempat Mahsyar dan ikut istirahat bersama mereka di tempat mereka beristirahat, dan munculnya Dukhan (kabut) Huzaifah r.a.
bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan Dukhan itu?”
Rasulullah ﷺ menjawab dengan membacakan firman-Nya: Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata, yang meliputi manusia.
Inilah azab yang pedih (Q.S. Ad-Dukhaan [44]: 10-11) Kabut tersebut memenuhi semua kawasan yang ada di belahan timur dan belahan barat; tinggal selama empat puluh hari empat puluh malam.
Adapun orang mukmin hanya mengalami seperti terserang pilek akibat pengaruh kabut itu.
Sedangkan orang kafir mengalami seperti orang yang mabuk; kabut itu keluar dari lubang hidungnya, kedua telinganya, dan dubur (liang anus) nya.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa sekiranya hadis ini sahih, tentulah menjadi dalil yang menyelesaikan perbedaan pendapat dan sesungguhnya ia tidak mau menyaksikan kesahihannya karena Muhammad ibnu Khalaf Al-Asqalani telah menceritakan kepadanya bahwa ia pernah bertanya kepada Ibnu Rawwad mengenai hadis ini, “Apakah engkau mendengarnya dari Sufyan” Ibnu Rawwad menjawab, “Tidak.” Muhammad ibnu Khalaf bertanya lagi, “Apakah engkau membacakan hadis itu terhadapnya” ia menjawab, “Tidak.” aku bertanya lagi kepadanya “Apakah dibacakan kepadanya hadis ini, sedangkan kamu menghadirinya, lalu ia mengakui hadis itu?
Ia menjawab, “Tidak.” aku bertanya, “Lalu dari manakah engkau mendapatkan hadis ini?”
Ibnu Rawwad menjawab, “Suatu kaum datang kepadaku, lalu mereka mengemukakan hadis ini kepadaku, dan mereka mengatakan kepadaku bahwa mereka mendengar hadis ini dariku.
Kemudian mereka membacakannya kepadaku, setelah itu mereka pergi dengan membaca hadis ini, dan mereka mengatakan bahwa mereka menceritakannya dariku.” Demikianlah menurut apa yang dikatakan oleh Muhammad ibnu Khalaf Al-Asqalani, atau hal yang semakna dengan kisah ini.

Ibnu Jarir dalam analisisnya terhadap hadis ini cukup jeli dan baik, karena sesungguhnya dengan sanad seperti ini, berarti hadis ini adalah hadis maudu’ (buatan).
Dan Ibnu Jarir banyak menyerang dan mengecam konteks-konteks yang telah dikemukakan olehnya (Ibnu Rawwad) di berbagai tempat sehubungan dengan tafsir ini: di dalamnya terdapat banyak hal yang mungkar (diingkari), terlebih lagi dalam tafsir surat Bani Israil dan riwayat mengenai Masjidil Aqsa.
Hanya Allah-lah yang Maha Mengetahui.

Ibnu Jarir mengatakan pula, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Auf, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ismail ibnu Iyasy, telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepadaku Damdam ibnu Zur’ah dari Syuraih ibnu ubaid, dari Abu Malik Al-Asy’ari r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Sesungguhnya Tuhan kalian telah memperingatkan tiga perkara kepada kalian, yaitu Dukhan (kabut) yang mengenai orang mukmin seperti penyakit pilek dan mengenai orang kafir yang menjadikannya kembung hingga kabut itu keluar dari semua lubang tubuhnya.
Kedua ialah munculnya hewan dan yang ketiga ialah munculnya Dajjal.

Diriwayatkan juga oleh At Thabrani dari Hasyim bin Yazid, dari Muhammad bin Ismail bin Ayyas, dengan sanad yang sama, dan Sanad ini Jayyid.

Ibnu Abi Hatim berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Zur’ah, menceritakan kepada kami Shafwan, menceritakan kepada kami Al-Walid, telah menceritakan kepada kami Khalil dari Al-Hasan, dari Abu Sa’id Al-Khudri r.a, bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Dukhan (kabut) mengguncangkan manusia, tetapi bagi orang mukmim hanya mengalami hal seperti penyakit pilek, sedangkan orang kafir menjadi kembung karenanya sehingga kabut keluar dari semua lubang yang ada pada tubuhnya.

Sa’id ibnu Abu Arubah meriwayatkan hadis ini dari Qatadah, dari Al-Hasan dari Abu Sa’id Al-Khudri r.a, secara mauquf.
Sa’id ibnu Auf meriwayatkan hal yang semisal dari Al-Hasan.

Ibnu Abu Hatim.
mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Saleh ibnu Muslim, telah menceritakan kepada kami Israil, dari Abu Ishaq, dari Al-Haris dari Ali r.a.
yang mengatakan bahwa pertanda (hari kiamat) berupa Dukhan (kabut) masih belum terjadi.
Kabut itu mengenai orang mukmin bagaikan penyakit pilek, tetapi orang kafir menjadi kembung karenaya hingga menembusnya.

Ibnu Jarir meriwayatkan melalui Al-Walid ibnu Jami’, dari Abdul Malik ibnul Mugirah, Abdur Rahman ibnus Sulaimani, dari Ibnu Umar r.a.
yang mengatakan bahwa (kelak sebelum kiamat) muncul Dukhan (kabut) dan melanda orang mukmin bagaikan penyakit pilek, dan kabut itu memasuki semua lubang tubuh orang kafir dan orang munafik sehingga seperti kepala yang dipanggang di atas bara yang panas.

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ya’kub telah menceritakan kepada kami Ibnu Aliyyah, dari Ibnu Juraij, dari Abdullah ibnu Abu Mulaikah yang mengatakan bahwa pada suatu hari ia pergi mengunjungi Ibnu Abbas r.a.
Maka Ibnu Abbas berkata, “Tadi malam aku tidak dapat tidur sampai pagi hari.” Aku bertanya, “Mengapa?”
Ibnu Abbas menjawab, “Telah muncul bintang yang berekor, maka aku merasa khawatir bila itu pertanda munculnya Dukhan (kabut), hingga aku tidak dapat tidur semalaman sampai pagi hari.”

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dari ayahnya, dari Ibnu Umar, dari Sufyan, dari Abdullah ibnu Abu Yazid, dari Abdullah ibnu Abu Mulaikah, dari Ibnu Abbas, lalu disebutkan hal yang semisal.
Sanad riwayat ini memang sahih sampai kepada Ibnu Abbas r.a.
ulama umat ini dan penerjemah Al-Qur’an.

Hal yang sama telah dikatakan oleh orang-orang yang sependapat dengan Ibnu Abbas dari kalangan sahabat dan tabiin, juga hadis-hadis marfu’ dalam kitab-kitab sahih dan hasan serta hadis lainnya yang diketengahkan oleh mereka.
Di dalamnya terkandung dalil yang jelas dan dapat diterima, menyatakan bahwa Dukhan merupakan salah satu pertanda yang masih ditunggu-tunggu kedatangannya.
Selain itu pengertian lahiriah ayat sependapat dengan ini, karena Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

Maka tunggulah ketika langit membawa kabut yang nyata.
(Q.S. Ad-Dukhaan [44]: 10)

Yakni kabut yang nyata lagi jelas dapat dilihat oleh setiap orang.
Tetapi menurut tafsir yang dikemukakan oleh Ibnu Mas’ud r.a, sesungguhnya kabut itu hanyalah berasal dari ilusi, yang terlihat oleh mereka akibat kelaparan dan kepayahan yang menimpa mereka.
Demikian pula apa yang disebutkan dalam firman berikutnya:

yang meliputi manusia.
(Q.S. Ad-Dukhaan [44]: 11)


Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Ad Dukhaan (44) Ayat 10

Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari Ibnu Mas’ud bahwa ketika kaum Quraisy durhaka kepada Nabi ﷺ, beliau berdoa agar mereka mendapat kelaparan umum seperti kelaparan yang pernah terjadi pada zaman Nabi Yusuf.
Alhasil mereka menderita kekurangan , sampai-sampai mereka pun makan tulang.
(Setelah keadaan itu lama berlangsung) orang-orang melihat ke langit dengan harapan melihat tanda-tanda akan turun hujan.
Maka Allah menurunkan ayat ini (ad-Dukhaan: 10) sebagai ejekan atas perbuatan mereka.
Kemudian mereka menghadap Nabi ﷺ untuk meminta bantuan.
Mereka berkata: “Ya Rasulullah.
Mohonkanlah hujan bagi kami (kaum Mudlar), karena kami sudah sangat menderita.” Maka Rasulullah ﷺ berdoa agar diturunkan hujan.
Akhirnya hujanpun turun.
Maka turunlah ayat selanjutnya (ad-Dukhaan: 15) yang menegaskan bahwa mereka akan kembali sesat.
Setelah mereka memperoleh kemewahan, merekapun kembali pada keadaan semula.
Maka turunlah ayat selanjutnya (ad-Dukhaan: 16) yang menegaskan bahwa mereka akan mendapat siksa Allah yang keras.
Dalam riwayat tersebut dikemukakan bahwa siksaan itu akan turun di waktu perang Badr.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Ad Dukhaan (44) Ayat 10

DUKHAAN
دُخَان

Lafaz dukhaan berasal dari lafaz dakhana bermakna apa yang naik dari api berupa bahagian kecil yang dinyalakan dan ia tidak membakar, kabut dan asap.

Lafaz ini disebut dua kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Fushshilat (41), ayat 11;
-Ad Dukhaan (44), ayat 10.

Ad Dukhaan di dalam Al Qur’an memiliki dua makna:

Pertama, bermakna kabut yang darinya tercipta langit dan bumi sebagaimana yang terdapat dalam surah Fushshilat.

Ibnu Katsir berkata,
Ad dukhaan adalah uap air yang naik dan darinya bumi diciptakan.”

Dalam Tafsir Al Kasysyaf dikatakan, ‘Arasy Nya di atas air sebelum diciptakan langit dan bumi lalu dikeluarkan dari air itu kabut sehingga naik ke atas dan berada di atasnya. Air tadi dikeringkan dan ia menjadi bumi kemudian dipecahkan Nya sehingga menjadi bumi yang banyak. Sedangkan langit diciptakan dari kabut yang naik.

Kedua, bermakna awan tebal sebagai azab bagi orang kafir dan tanda datangnya hari kiamat seperti yang terdapat dalam surah Ad Dukhaan.

Al Qurtubi berkata,
“Terdapat tiga pendapat mengenai makna ad dukhaan dalam ayat surah Ad Dukhaan yaitu :

– Ali, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Abu Hurairah, Zaid bin Ali, Al Hasan, Ibnu Mulaikah dan lainnya berpendapat, ia adalah salah satu tanda datangnya hari kiamat yang belum tiba. Berada di bumi selama 40 hari yang me­nutupi diantara langit dan bumi. Bagi orang yang beriman, ia menimpanya seperti orang yang terkena penyakit salesema. Sedangkan bagi orang kafir dan fajir, ia masuk kedalam telinga, mulut dan kepala mereka dan menjadi seperti orang gila atau mabuk dan memanggang” serta menyekat pernafasan mereka. ltu adalah kesan api neraka pada hari kiamat.

Dalam Sahih Muslim, dari Abi At Tufail dari Hudzaifah bin Usid Al Ghiffari katanya, “Nabi Muhammad melihat kami sedang bermuzakarah lalu beliau bertanya, ‘Apa yang sedang kamu bicarakan ?” Kami menjawab, “Kami bermuzakarah tentang hari kiamat” Beliau bersabda, “Tidak akan datang hari kiamat sehingga kamu melihat sepuluh tanda-tandanya yaitu, ad dukhaan (asap kabut yang tebal), Dajjal, dabbah. (hewan melata), matahari terbit dari barat, turunnya (Isa bin Maryam, keluar­nya Ya’juj dan Ma’juj, tiga gerhana yaitu gerhana di Timur, Barat dan negeri Arab. Terakhir, keluarnya api dari negeri Yaman yang mengusir penduduknya dari kediaman mereka.

– Ibnu Mas’ud mengatakan, ia bermakna apa yang menimpa kaum Quraisy dari kelaparan karena doa Rasulullah, sehingga seorang lelaki melihat asap tebal antara langit dan bumi. Diriwayatkan oleh Al Bukhari hadits dari Abdullah bin Mas’ud. Beliau berkata,
“Hal ini terjadi disebabkan kaum Quraisy ingin berbuat jahat kepada Nabi Muhammad, lalu nabi ber­doa atas mereka agar mereka ditimpa musim kemarau dan kelaparan seperti yang menimpa pada zaman Nabi Yusuf dan mereka pun meng­alami musim kemarau dan kelaparan sehingga memakan tulang-tulang dan ketika seorang dari mereka me­noleh ke langit maka terlihat asap tebal (dukhaan) antara langit dan bumi.

– Abd Rahman Al A’raj berpendapat, ia bermaksud Fathul Makkah ketika langit diselubungi debu dan awan tebal. Al Qurtubi berkata,
“Apabila terjadi ia dikhususkan kepada orang musyrik Makkah dan apabila ia bermaksud tanda-tanda hari kiamat, maka ia adalah umum dan berita bagi keadaan yang berlaku pada masa hadapan.

Lafaz ad dukhaan juga adalah salah satu nama surah yang ke 44 menurut urutan di dalam Al Qur’an yang terdiri dari 59 ayat ke­ seluruhannya dan diturunkan di Makkah kecuali ayat 5 yaitu :

أَمْرًا مِّنْ عِندِنَآۚ إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ

Terdapat riwaat yang me­nyebut berkenaan kelebihan surah ini:

– Diriwayatkan oleh At Tirmidzi” hadis dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, katanya Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang membaca “Haa miim ad dukhaan” pada malam hari maka 70000 malaikat akan memohonkam ampunan baginya”
– Diriwayatkan secara marfu’ oleh Ats Tsa’labi hadits dari Abu Hurairah Nabi Muhammad bersabda, “Barangsiapa yang membaca Ad Dukhaan pada malam Jum’at, dosanya akan diampuni.”
– Diriwayatkan dalam Musnad Ad Darimi hadits dari Abi Rafi’, katanya, “Barang siapa yang membaca Ad Dukhaan pada malam Jum’at dosanya akan di­ ampuni dan dikawinkan dengan bidadari.”
– Diriwayatkan dari Abu Umamah, katanya, aku mendengar nabi Muhammad bersabda, “Barang siapa yang membaca “hamim ad dukhaan” pada malam Jum’at, Allah membangun bagi­nya rumah di dalam syurga.”

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:230-232

Informasi Surah Ad Dukhaan (الدخان)
Surat Ad Dukhaan terdiri atas 59 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Az Zukhruf,

Dinamai “Ad Dukhaan” (kabut), diambil dari perkataan “Dukhaan” yang terdapat pada ayat 10 surat ini.

Menurut riwayat Bukhari secara ringkas dapat diterangkan sebagai berikut:
Orang-orang kafir Mekah dalam menghalang-halangi agama Islam dan menyakiti serta mendurhakai Nabi Muham­ mad ﷺ sudah melewati batas, karena itu Nabi mendo’a kepada Allah agar diturunkan azab, sebagairnana yang telah diturunkan kepada orang-orang yang durhaka kepada Nabi Yusuf yaitu musim kemarau yang panjang.
Do’a Nabi itu dikabulkan Allah, sampai orang-orang kafir me­makan tulang dan bangkai, karena kelaparan.
Mereka selalu menengadah ke langit mengharap pertolongan Allah.
Tetapi tidak satupun yang mereka lihat kecuali kabut yang menutupi padangan mereka.

Akhirnya mereka datang kepada Nabi agar Nabi memohon kepada Allah supaya hujan di­ turunkan.
Setelah Allah mengabulkan do’a Nabi, dan hujan diturunkan, mereka kembali kafir seperti semula karena itu Allah menyatakan bahwa nanti mereka akan diazab dengan azab yang pedih.

Keimanan:

Dalil-dalil atas kenabian Muhammad s.a.w .
huru-hara dan kehebatan hari kiamat
pada hari kiamat hanya amal-amal seseorang yang dapat menolongnya
azab dan penderitaan yang ditemui orang-orang kafir di akhirat serta ni’mat dan kesenang­ an yang diterirna orang-orang mu ‘min.

Hukum:

Tidak ada pembahasan hukum yang spesifik dalam surat ini.

Kisah:

Kisah Musa a.s. dengan Fir’aun dan kaumnya.

Lain-lain:

Permulaan turunnya Al Qur’an pada malam lailatul Qadar
orang-orang kafir ha­nya berirnan kalau mereka ditimpa bahaya, kalau bahaya telah hilang mereka kafir kembali
dalam penciptaan langit dan bumi itu terdapat hikmat yang be­sar.

Ayat-ayat dalam Surah Ad Dukhaan (59 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Ad-Dukhaan (44) ayat 10 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Ad-Dukhaan (44) ayat 10 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Ad-Dukhaan (44) ayat 10 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Ad-Dukhaan - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 59 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 44:10
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Ad Dukhaan.

Surah Ad-Dukhan (bahasa Arab:الدخان) adalah surah ke 44 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surat makkiyah yang terdiri atas 59 ayat.
Dinamakan Ad-Dukhan yang berarti Kabut diambil dari kata Ad-Dukhan yang terdapat pada ayat 10 surah ini.

Menurut riwayat Bukhari secara ringkas dapat diterangkan sebagai berikut: Orang-orang kafir Mekkah dalam menghalang-halangi agama Islam dan menyakiti serta mendurhakai Nabi Muhammad s.a.w.
sudah melewati batas, karena itu Nabi berdoa kepada Allah agar diturunkan azab sebagaimana yang telah diturunkan kepada orang-orang yang durhaka kepada Nabi Yusuf yaitu musim kemarau yang panjang.
Doa Nabi itu dikabulkan Allah sampai orang-orang kafir memakan tulang dan bangkai karena kelaparan.
Mereka selalu menengadah ke langit mengharap pertolongan Allah.
Tetapi tidak satupun yang mereka lihat kecuali kabut yang menutupi pandangan mereka.

Akhirnya mereka datang kepada Nabi agar Nabi memohon kepada Allah supaya hujan diturunkan.
Setelah Allah mengabulkan doa Nabi dan hujan di turunkan, mereka kembali kafir seperti semula.
Karena itu Allah menyatakan bahwa nanti mereka akan diazab dengan azab yang pedih.

Nomor Surah 44
Nama Surah Ad Dukhaan
Arab الدخان
Arti Kabut
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 64
Juz Juz 25
Jumlah ruku' 3 ruku'
Jumlah ayat 59
Jumlah kata 346
Jumlah huruf 1475
Surah sebelumnya Surah Az-Zukhruf
Surah selanjutnya Surah Al-Jasiyah
4.5
Ratingmu: 4.9 (21 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta