Kitab Nikah. BAB I : TENTANG NIKAH – Hadits Ke-786

HADITS KE-786

وَعَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه قَالَ :
قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمُ الْمَرْأَةَ , فَإِنْ اِسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ مِنْهَا مَا يَدْعُوهُ إِلَى نِكَاحِهَا , فَلْيَفْعَلْ ) رَوَاهُ أَحْمَدُ , وَأَبُو دَاوُدَ , وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ , وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ

وَلَهُ شَاهِدٌ :
عِنْدَ اَلتِّرْمِذِيِّ , وَالنَّسَائِيِّ ; عَنِ الْمُغِيرَةِ

وَعِنْدَ اِبْنِ مَاجَهْ , وَابْنِ حِبَّانَ :
مِنْ حَدِيثِ مُحَمَّدِ بْنِ مَسْلَمَةَ

Dari Jabir bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

"Apabila salah seorang di antara kamu melamar perempuan, jika ia bisa memandang bagian tubuhnya yang menarik untuk dinikahi, hendaknya ia lakukan." Riwayat Ahmad dan Abu Dawud dengan perawi-perawi yang dapat dipercaya.
Hadits shahih menurut Hakim.

Hadits itu mempunyai saksi dari hadits riwayat Tirmidzi dan Nasa’i dari al-Mughirah.

Begitu pula riwayat Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dari hadits Muhammad Ibnu Maslamah.

Isnad

Hadits Jabir di atas dishahihkan oleh Hakim sesuai standar Imam Muslim, dan diamini oleh Adz-Dzahabi.
Akan tetapi dikritik dari sisi perowi bernama Waqid bin Abdirrahman, dengan alasan bahwa perowi tersebut tidak diketahui (laa yu’rafu).

Jawabnya:
Waqid bin Amr, sebagaimana disebutkan dari dua jalur lain pada riwayat Ahmad dan Hakim, adalah seorang tsiqoh.
Al-Hafizh berkomentar, “Demikianah dia menurut Imam Syafii dan Abdur Razzak.”

Kedua, terdapat perowi bernama Muhammad bin Ishaq bin Yasar (Imam Al-Maghazi), dia seorang shaduuq (jujur) tapi mudallis.
Sedangkan dalam riwayat tersebut dia mengunakan kata ‘an (dari), dan tidak menerangkan bahwa ia ‘mendengar’.

Jawabnya:
hadits tersebut dikuatkan oleh syawahid lainnya.
Bahkan sebagiannya diriwayatkan oleh Imam Muslim.
Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Al-Fath pun menyatakan bahwa hadits tersebut hasan.

Adapun hadits Mughirah bin Syu’bah, Imam Tirmidzi meng-hasankannya.
Redaksinya seperti ini:
Ia (Mughirah) mengkhitbah seorang wanita, lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,
“Lihatah ia, karena yang demikian itu lebih dapat melanggengkan hubungan kalian berdua.”

Adapun hadits Muhammad bin Maslamah, di dalamnya terdapat Al-Hajjaj bin Arthaah, seorang dhaif mudallis.
Seluruh jalurnya tak ada yang selamat dari kritik.
Al-Baihaqi berkomentar, “Isnadnya diperselisihkan.
Sumbernya adalah Al-Hajjaj bin Arthaah.”

Akan tetapi hadits itu memiliki penguat dari syawahid.
Bahkan perowi dari kalangan Sahabat mencapai enam orang.

Hukum

Sejumlah hadits di atas secara jelas menunjukkan perintah kepada orang yang mengkhitbah, atau yang hendak mengkhitbah, untuk melihat calon pasangan yang hendak dikhitbah.

Para ulama bersepakat mengenai disunnahkannya nazhor (melihat calon pasangan) sebelum akad.
Alasannya adalah, bahwa perintah tersebut terjadi pada hal-hal yang secara asal dilarang (yaitu melihat bukan mahrom), maka hukum tersebut kembali pada asalnya, yaitu boleh.
Akan tetapi berdasarkan hadits Mughirah di atas, yaitu sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam,Lihatlah ia, karena hal yang demikian itu lebih dapat melanggengkan hubungan kalian berdua,” maksudnya lebih dapat menjadikan kalian berdua bersepakat, maka hadits tersebut menunjukkan istihbab (sunnah).

Hadits tersebut tidak menyebutkan batasan-batasan dalam nazhor.
Mayoritas ulama berpendapat bahwa diperbolehkannya nazhor hanya sebatas pada wajah dan dua telapak tangan saja.
Bahkan Ulama Hanabilah membatasi hanya pada wajah saja.
Wajah adalah tempat berkumpulnya kecantikan.
Sedangkan dua telapak tangan menunjukkan gemuk atau kurusnya badan.
Karena pada dasarnya melihat bukan mahrom adalah dilarang kecuali hanya sesuai kebutuhan (hajat), maka kebolehan ini dibatasi oleh hajat tersebut.
Maka selain itu hukumnya tetap haram.
Wallahu a’lam bis shawab.




Video

Panggil Video Lainnya
Iklan


Ikuti RisalahMuslim