Kitab Nikah. BAB I : TENTANG NIKAH – Hadits Ke-785

HADITS KE-785

وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ :
( عَلَّمَنَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم اَلتَّشَهُّدَ فِي اَلْحَاجَةِ :
إِنَّ اَلْحَمْدَ لِلَّهِ , نَحْمَدُهُ , وَنَسْتَعِينُهُ , وَنَسْتَغْفِرُهُ , وَنَعُوذُ بِاَللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا , مَنْ يَهْدِهِ اَللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ , وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ , وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَيَقْرَأُ ثَلَاثَ آيَاتٍ ) رَوَاهُ أَحْمَدُ , وَالْأَرْبَعَةُ , وَحَسَّنَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ , وَالْحَاكِمُ

Abdullah Ibnu Mas’ud berkata:
Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengajari kami khutbah pada suatu hajat:
(artinya = Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, kami meminta pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami.
Barangsiapa mendapat hidayah Allah tak ada orang yang dapat menyesatkannya.
Barangsiapa disesatkan Allah, tak ada yang kuasa memberinya petunjuk.
Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu hamba-Nya dan utusan-Nya) dan membaca tiga ayat.
Riwayat Ahmad dan Imam Empat.
Hadits hasan menurut Tirmidzi dan Hakim.

Isnad

Hadits tersebut datang dari jalur Abu Ishaq As-Sabi’i dari Abu Ubaidah dari Abdullah bin Mas’ud.
Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Nasai dari jalur Al-A’masy dari Abu Ishaq dar Abu Al-Ahwash dari Abdullah.
Di dalamnya terdapat dua musykilah:

Pertama, perbedaan riwayat.
Abu Ishaq meriwayatkannya dari Abu Ubaidah dari Abdullah dan dari Abu Al-Ahwash dari Abdullah.
Bagaimana ini?

Kedua, di dalam kedua isnad tersebut terdapat kelemahan.
Abu Ubaidah adalah putra Abdullah Ibnu Mas’ud.
Dia tidak pernah mendengar dari ayahnya.
Al-A’masy adalah tsiqoh mudallis dan tidak menyatakan mendengar secara terus terang.

Jawaban dari musykilah pertama adalah bahwa kedua jalur tersebut shahih dari dua sisi.
Imam Tirmidzi berkata, “Kedua hadits tersebut shahih, karena Israil menggabungkannya lalu berkata:
dari Abu Ishaq dari Abu Al-Ahwash dan Abu Ubaidah dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.”

Al-Hafizh Ibnu Rajab berkata, “Ini yang menjadi sandaran (dalil) para ulama bahwa riwayat orang yang sendirian dengan sanadnya adalah shahih, jika hadits tersebut juga diriwayatkan oleh orang banyak (jamaah).”

Diperkuat lagi bahwa Abu Ishaq adalah orang yang memiliki wawasan luas mengenai hadits.

Adapun jawaban terhadap kelemahan dalam kedua sanad tersebut adalah bahwa kelemahan tersebut sangat ringan, dan satu sama lain saling menguatkan.
Maka derajatnya naik menjadi hasan, sebagaimana yang dinyatakan oleh Tirmidzi.
Ditambah lagi bahwa hadits tersebut juga diriwyatkan oleh Abu Daud dan Thabrani dalam Al-Kabir dari jalur Abu Iyadh dari Ibnu Mas’ud secara marfu’.
Abu Iyadh adalah majhul, tapi riwayatnya sah sebagai mutaba’at.

Kesimpulannya bahwa hadits tersebut memiliki ‘illah yang tidak parah.

Mufrodat

Tasyahhud, maksudnya khutbah.
Disebut demikian karena khutbah mencakup tasyahhud.
Dan tasyahhud termasuk inti khutbah.

Hajat, artinya kebutuhan, yaitu sesuatu yang menjadi kebutuhan manusia.
Beberapa literatur menyebutkan bahwa hajat yang dimaksud dalam hadits ini adalah pernikahan.
Sebagian ulama ada yang tetap menganggap bahwa hajat di sini bersifat umum dan mencakup seluruh hajat manusia, tidak hanya pernikahan saja.

Tiga ayat.
Yang dimaksud tiga ayat sebagaimana disebutkan dalam riwayat Tirmidzi dan Nasa’i adalah sebagai berikut:

  1. An-Nisa 1:

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.
Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi.
Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.

  1. Ali Imran 102:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

  1. Al-Ahzab 70-71:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu.
Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.

Hukum

Hadits tersebut menunjukkan disunnahkannya khutbah dalam acara hajatan. Para ulama bersepakat mengenai hal ini.

Ibnu Qudamah berkata, “Khutbah tidaklah wajib menurut salah seorang ulama yang kami ketahui[1], kecuali Daud (Azh-Zhahiri), beliau mewajibkannya berdasarkan apa yang telah kami sebutkan,” maksudnya hadits Ibnu Mas’ud di atas.

Akan tetapi pendapat Daud tertolak berdasarkan hadits lain yang menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengesahkan beberapa akad tanpa menyertainya dengan khutbah.
Di antaranya adalah hadits wahibah (wanita yang menyerahkan dirinya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam).
Beliau bersabda kepada lelaki yang hendak menikahinya, “Aku nikahkan kamu dengan dia dengan (mahar) hafalan Quranmu,” tanpa berkhutbah apapun.
Dan kejadian semacam ini sangatlah banyak, tak perlu disebutkan satu-persatu di sini.

Kemudia kata “hajat” (kebutuhan) dalam hadits di atas secara umum memang mencakup seluruh hajat.
Akan tetapi para ulama menafsirkan kata itu dengan “pernikahan”.

Hadits-hadits yang menyebutkan tentang khutbah sangatlah beragam redaksinya.
Secara keseluruhan menunjukkan disunnahkannya membaca hamdalah, dua syahadat, dan beberapa ayat Al-Quran
[2].

Sebagian orang mengira bahwa khutbah Ibnu Mas’ud dalam hadits di atas bersifat wajib dalam setiap pembukaan kitab atau surat.
Dalam hal ini, mereka terkecoh dengan kata “hajat”.

Pendapat ini tentu saja tidak benar, dengan bukti sebagai berikut:

Pertama, surat-surat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang beliau kirim kepada para raja (Kaisar, Kisra, dll) tidak tercantum di dalamnya khutbah semacam ini.
Beliau hanya menulis basmalah saja.

Kedua, surat-surat yang dikirm oleh Khulafaurrasyidin juga tidak tercantum di dalamnya khutbah.

Ketiga, kitab-kitab karangan para ulama, baik dari kalangan ahli hadits maupun ahli fikih, juga tidak menyebutkan khutbah ini dalam pembukaannya.
Mereka hanya menyebutkan basmalah, hamdalah dan shalawat, tanpa tasyahhud (dua kalimat syahadat) dan tanpa ayat-ayat.
Sebagian ulama memang menyebutkan tasyahhud, akan tetapi tidak ada khutbah Ibnu Mas’ud, kecuali hanya dalam kitab Musykilul Aastsaar milik Ath-Thohawi dan beberapa kitab milik Ibnu Taymiyah.
Wallahu a’lam bis showab.


[1] Al-Mughni 6/536, Ibn Abidin 2/359, Minahul Jalil 2/5, Ad-Dasuqi 2/216, Mughnil Muhtaj 3/137-138.

[2] Keterangan lebih lanjut silahkan baca artikel berjudul “Khutbah Hajat Bukan Sunnah dalam Pembukaan Kitab dan Karangan” karya Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah (majalah As-Sunnah was Siroh vol.
11, diterbitkan secara khusus oleh Dar Al-Basyair).








Video Pembahasan

Panggil Video Lainnya





Video

Panggil Video Lainnya
Iklan


Ikuti RisalahMuslim
               



Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta