Kitab Nikah. BAB I : TENTANG NIKAH – Hadits Ke-782

HADITS KE-782

وَعَنْهُ قَالَ :
( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَأْمُرُ بِالْبَاءَةِ , وَيَنْهَى عَنِ التَّبَتُّلِ نَهْيًا شَدِيدًا , وَيَقُولُ :
تَزَوَّجُوا اَلْوَدُودَ اَلْوَلُودَ إِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ اَلْأَنْبِيَاءَ يَوْمَ اَلْقِيَامَةِ ) رَوَاهُ أَحْمَدُ , وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ

وَلَهُ شَاهِدٌ :
عِنْدَ أَبِي دَاوُدَ , وَالنَّسَائِيِّ , وَابْنِ حِبَّانَ أَيْضًا مِنْ حَدِيثِ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ

Anas Ibnu Malik Radliyallaahu ‘anhu berkata:
Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan kami berkeluarga dan sangat melarang kami membujang.
Beliau bersabda:

"Nikahilah perempuan yang subur dan penyayang, sebab dengan jumlahmu yang banyak aku akan berbangga di hadapan para Nabi pada hari kiamat." Riwayat Ahmad.
Hadits shahih menurut Ibnu Hibban.

Hadits itu mempunyai saksi menurut riwayat Abu Dawud, Nasa’i dan Ibnu Hibban dari hadits Ma’qil Ibnu Yasar.

Isnad

Dalam sanad hadits Anas di atas terdapat perawi bernama Khalaf bin Khalifah yang reputasinya hanya dikenal sebagai seorang Shaduq (terpercaya) yang memiliki banyak kekeliruan (ikhtilath) di akhir hayatnya, sebagaimana disebutkan dalam Musnad.
Dan hadits tersebut diriwayatkan setelah masa (ikhtilath) itu.
Akan tetapi hadits tersebut memiliki penguat, yaitu hadits dari Ma’qil bin Yasar, yang redaksinya agak berbeda sedikit, "Sesungguhnya aku berbangga dengan banyaknya jumlah kalian di hadapan umat-umat".
Ibnu Hibban dan Al-Hakim menilai hadits tersebut shahih, dan Adz Dzahabi juga menyepakatinya.

Demikian juga hadits Abdullah bin ‘Amru bin Al-Ash dalam Musnad1 menjadi penguat hadits Anas di atas, sehingga hadits tersebut menjadi kuat dan shahih dalam hal anjuran untuk menikahi wanita yang subur dan penyayang.

Istilah-istilah Asing

Tabattul, yaitu terus membujang dan menyibukkan diri untuk beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala tanpa menikah.

Al-Wadud (penyayang), berasal dari kata al-Wudd yang berarti cinta dan kasih sayang.
Wanita yang Wadud berarti wanita yang memiliki rasa cinta dan kasih sayang yang sangat besar terhadap suaminya.
Hal itu dapat diketahui dari pergaulannya, pengakuan orang-orang di sekitarnya, kerabatnya, teman-temannya, pendidikannya dan lingkungan tempat ia tumbuh dan dibesarkan.

Al-Walud (subur), artinya banyak anak.
Hal itu dapat diketahui dari kerabat-kerabatnya jika ia masih seorang gadis, atau dari pengalamannya bersama suaminya jika ia seorang janda.

Istinbath

Hadits di atas berisi anjuran untuk menikahi wanita yang subur dan penyayang.
Subur dimaksudkan agar dapat melahirkan anak yang banyak.
Sedangkan penyayang merupakan sifat mulia yang melekat pada diri wanita shalihah.
Hadits tersebut juga menunjukkan keutamaan memiliki anak shaleh yang banyak.
Pada zaman dahulu, masyarakat Arab merasa bangga jika memiliki banyak anak.
Dalam Islam, kebiasaan tersebut didukung dengan anjuran memiliki anak yang banyak dan shaleh sebagaimana dalam hadits lain yang berbunyi, "Jika seseorang mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara", di antaranya adalah anak shaleh.

_________

1 Musnad Imam Ahmad 2/171-172, redaksinya:
“Nikahilah Ummahat al-Aulaad, sesungguhnya aku berbangga dengan banyaknya jumlah kalian pada hari Kiamat”








Video Pembahasan

Panggil Video Lainnya





Video

Panggil Video Lainnya
Iklan


Ikuti RisalahMuslim
               



Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta