Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Kitab Kelengkapan. BAB III : TENTANG ZUHUD DAN WARA – Hadits Ke-1234

HADITS KE-1234

وَعَنِ اِبْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ:
قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ ) أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ

“Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam bersabda:
”Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut”(HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

Hadits Ibnu Umar (Di atas) memiliki syawahid/penguat di antaranya hadits Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu ‘anhuma dalam riwayat at-Tirmidzi walaupun sanadnya dhaif dari jalur Ibnu Luhai’ah, akan tetapi dengan syawahid

ليس منا من تشبه بغيرنا

“Bukan golongan kami yang menyerupai/meniru selain kami.”

Demikian juga dalam riwayat ahli sunan, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan an-Nasaai dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma

اللحد لنا والشق لغيرنا

Lahad (liang lahat yang bagian sisi arah qiblatnya ada cekungan untuk menempatkan mayit)adalah untuk kita dan syaq (liang lahat yang cekungannya berada di tengah)adalah untuk selain kita(selain Islam).”

Demikian juga dari hadits Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu dalam riwayat Ahmad rahimahullah dan Ibnu Majah rahimahullah

اللحد لنا والشق لغيرنا” عند أحمد “أهل الكتاب”.

“Lahad adalah untuk kita (muslim) dan Syaq untuk selain kita” dalam riwayat Ahmad” (untuk) Ahli Kitab

Demikian juga banyak hadits, hadits yang umum maupun yang khusus, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

فصل ما بين صيامنا وصيام أهل الكتاب أكلة السحر رواه مسلم عن عبد الله بن عمرو بن العاص،

“Pembeda puasa kita dengan puasa ahli kitab (Yahudi dan Nashrahi) adalah makan sahur.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu ‘anhuma )

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang diriwayatkan di dalam Shahihain (Bukhari dan Muslim) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

إن اليهود والنصارى لا يصبغون فخالفوهم

“Sesungguhnya Yahudi dan Nashrani tidak mewarnai (dengan cara mencelup) pakaian mereka, maka selisihilah mereka.”

Dan makna seperti ini (menyelisihi orang kafir) terdapat dalam banyak hadits, yang mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita untuk menyelisihi dan berbeda dari orang kafir.
Zhahir sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam فهو منهم adalah apabila seseorang menyerupai orang kafir maka dia bersama dengan mereka dalam kekafirannya, ini adalah zhahir hadits tersebut dan ini dibawa kepada makna, kalau dia meniru mereka dalam seluruh perilaku mereka, atau meniru mereka dalam perkara-perkara yang menjadi kekhususan agama mereka yang menyebabkan seseorang keluar dari agama apabila menirunya.
Adapun kalau dia menyerupai/meniru orang kafir dalam sebagian perkara yang menjadi kekhususan mereka, maka hukumnya tergantung bentuk perbuatannya, apabila itu sebuah kemaksiatan maka itu adalah maksiat, apabila itu adalah sebuah kekafiran maka dia kafir.
Dan di dalam syariat Islam perkara-perkara ini memiliki tingkatan hukum yang berbeda-beda sesuai dengan bentuk tasyabuhnya dan hal-hal yang ditirunya.

Dan ini adalah bentuk penjagaan dan perlindungan terhadap kemurnian syariat, hal itu karena sumber keyakinan adalah dari hati, dan ini (larangan tasyabuh) memutuskan kecintaan antara seorang muslim dengan orang kafir.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لاَّتَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخَرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ … {22}

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka….”(QS.Al-Mujadalah: 22)

Pada asalnya adalah perintah untuk memutuskan kasih sayang dan kecintaan di dalam hati kepada seluruh orang kafir apa pun jenisnya (yahudi,nashrani, hindu, budha dll).
Akan tetapi karena syariat Islam datang untuk menutup jalan-jalan yang bisa menjerumuskan kepada hal-hal yang haram, dan sebesar-besar keharaman adalah mencintai mereka dalam urusan agama mereka, dan hal ini (mencintai orang kafir) bisa menyebabkan seseorang keluar dari agama, maka syariat Islam menutup jalan yang menjurus ke perkara ini.

Merupakan perkara yang mustahil bagi syariat Islam untuk mengharamkan Sesuatu, kemudian menghalalkan dan membolehkan jalan-jalan dan wasilah yang bisa menjerumuskan kepada keharaman tersebut.
Oleh sebab itu ketika Allah mengharamkan hal yang memabukkan yaitu khamr/minuman keras dari anggur, maka Allah mengaramkan segala sesuatu yang memabukkan dan menutup akal manusia.
Demikian juga ketika Allah mengharamkan riba, Dia mengharamkan seluruh muamalah yang menjurus kepada riba, walaupun secara zhahir bukan riba sebagaimana yang ditampakkan oleh para pelakunya.
Betapa banyak di zaman kita ini, akad-akad yang batil yang terjadi dalam dalam muamalah di bank-bank, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak tertipu dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari Allah.

Yang dianggap dalam sebuah akad adalah maksud dan tujuan serta hakikatnya, bahkan bisa jadi sebagian akad lebih buruk dari riba yang terang-terangan (walaupun secara lahiriyah itu tidak termasuk riba).
Karena mereka pada hakekatnya menipu Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ingin menipu Allah maka Allah membalas tipu daya mereka.
Mereka mengira telah selamat dari hal yang diharamkan dengan tipu daya mereka itu.
Oleh sebab itu Ayyub as-Sikhtiyani rahimahullah berkata:”Mereka menipu Allah, seperti menipu anak kecil, sendainya mereka melakukan hal itu (sesuatu yang haram), sebagaimana bentuknya (tidak membuat tipu muslihat dan rekayasa), niscaya dosanya lebih ringan bagi mereka.” Benarlah apa yang dikatakan okleh beliau rahimahullah, seandainya mereka melakukan riba yang jelas dan tidak membuat rekayasa, mereka seperti orang kafir dan orang munafik (maksudnya orang kafir jelas kekafirannya adapu orang munafik berpura-pura masuk islam padahal hatinya kafir).
Maka orang munafik lebih buruk dari orang kafir, demikian juga pelaku maksiat dari kalangan kaum muslimin yang mereka melakukan kemaksiatan kemudian merekayasa supaya seolah-olah perbuatan mereka adalah perbuatan yang dihalalkan, mereka lebih buruk dari pada seorang muslim yang melakukan kemaksiatan yang jelas maksiat dan tidak merekayasanya.
Karena yang pertama melakukan dosa dan berusaha menipu Allah dan yang kedua tidak demikian.
Dan maksudnya bukan berarti dia menampakkan kemaksiatan secara terang-terangan, akan tetapi maknanya adalah ketika dia melakukan kemaksiatan dia berkata:”Ini adalah halal, dan ini adalah adalah boleh.

Karena tujuan inilah Islam menutup perkara-perkara yang bisa menjurus ke hal-hal yang haram.
Ketika menyerupai dan meniru orang kafir (tasyabuh) dalam perilaku lahiriyah mereka adalah jalan terbesar yang menimbulkan kecintaan di dalam hati, maka Islam melarang tasyabuh dengan mereka di dalam perkara lahiriyah.
Larangan tasyabuh dengan mereka dalam seragam mereka, pakaian mereka dan hal-hal lain yang lebih besar lagi.
Oleh sebab itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إن اليهود والنصارى لا يصبغون، فخالفوهم

“Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak mencelup pakaian mereka (untuk mewarnainya), maka selisihilah mereka.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengatakan فاصبغوا/maka celuplah (untuk mewarnai), beliau dikaruniai Jawami’ul Kalim (kata yang pendek tapi maknanya luas), padahal kalau beliau mengucapkan hal itu maka sudah tecapai maksud beliau yaitu menyelisihi orang Yahudi dan Nashrani, karena kandungan perintah beliau adalah menyuruh para Sahabat mencelup pakaian sedangkan orang Yahudi dan Nashrani tidak melakukan hal itu, akan tetapi beliau hanya mengucapkan:”Maka selisihilah mereka”.

Maka maksud perintah dari Nabi adalah perintah untuk menyelisihi mereka, bukan sekedar perintah untuk mencelup (mewarnai) pakaian.
Karena itulah perintah untuk menyelisihi orang kafir dalam segala hal dan tingkah laku adalah tujuan syariat, oleh sebab itu beliau bersabda:

فخالفوهم

“Maka selisihilah mereka (Yahudi dan Nashrani)”.

Ini menunjukkan bahwa Syari’at menginginkan dari perintah untuk menyelisihi mereka adalah menyelisihi dalam segala hal dan tingkah laku mereka.

Kesimpulannya bahwa perkara tasyabuh dan perintah yang tegas untuk menyelisihi mereka adalah maksud yang diinginkan syariat.
Dan kalau kita melihat kondisi kaum muslimin sekarang ini, akan kita dapat banyak sekali gaya hidup orang kafir yang menjadi khas mereka ditiru oleh kaum muslimin.
Di antaranya adalah perayaan ulang tahun, perayaan tahun baru baik itu hijriyah maupun masehi, dan yang sebentar lagi datang adalah valentine.
Valentine adalah salah satu bentuk tasyabuh dengan perilaku orang kafir, tantang tasyabuhnya valentine silahkan baca www.alsofwah.or.id.

Sumber:

Syarah bulughul Maram oleh Syaikh Abdul Muhsin bin Abdullah az-Zamil, dari www.taimiah.org, diterjemahkan oleh Abu Yusuf Sujono


Bagi ke FB
Bagi ke TW
Bagi ke WA

Video


Load More

Sedekah

Apa itu Sedekah? Sedekah adalah pemberian seorang Muslim kepada orang lain secara sukarela dan ikhlas tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu. Sedekah lebih luas dari sekadar zakat maupun infak. Karena sedekah tidak hanya berarti mengeluarkan atau menyumbangkan harta. Namun sedekah mencakup segala amal atau perbuatan baik. Dalam sebuah hadis d … •

tahajud

Apa itu tahajud? ta.ha.jud tidur sambil berjaga agar siap melakukan salat tengah malam atau membaca Alquran; n salat sunah pada tengah malam, seusai tidur … • tahajjud

amal jariah

Apa itu amal jariah? perbuatan baik untuk kepentingan masyarakat yang dilakukan terus-menerus dan tanpa pamrih; perbuatan sosial … • sedekah jariyah, jariyah

Hadits Shahih

Ayat Alquran Pilihan

Apa kamu menduga akan dapat masuk surga padahal belum nyata bagi Allah orang yang berjihad diantara kamu orang-orang yang sabar.
QS. Ali ‘Imran [3]: 142

Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu,
dan bertakwalah kepada Allah & ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya.
Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.
QS. Al-Baqarah [2]: 223

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman:
“Hendaklah mereka menahan pandanganya,
dan memelihara kemaluannya,
yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka,
sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.
QS. An-Nur [24]: 30

Telah kafirlah orang yang berkata
“Allah ialah Al-Masih putera Maryam”,
padahal Al Masih berkata
“Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku & Tuhanmu”
Sungguh orang yang persekutukan-Nya, Allah haramkan kepadanya surga, dan tempatnya neraka
QS. Al-Ma’idah [5]: 72

Podcast

Doa

Soal & Pertanyaan

Pendidikan Agama Islam #4

Surah dalam Alquran yang mengatakan larangan untuk melakukan terlalu banyak, makan dan minum adalah … Setelah Yakin, dalam surah Al-A’raf ayat 26, pakaian terbaik ada di mata Allah Subhanahu Wa Ta`ala adalah … Aurat dari tubuh pria adalah mulai … Fungsi pakaian adalah … Kejujuran adalah karakteristik dari seorang Muslim, sementara berbohong atau ketidakjujuran adalah fitur dari orang …

Pendidikan Agama Islam #15

Mujahadah berasal dari bahasa Arab, yang berasal dari kata jahada, yang berarti …َبَارَكَ ٱلَّذِى نَزَّلَ ٱلْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِۦ لِيَكُونَ لِلْعَٰلَمِينَ نَذِيرًا Dalil di atas adalah nama-nama lain dari Alquran, yaitu إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ Dalil di atas adalah nama-nama lain dari Alquran, yaituSalah satu tokoh dalam kisah umat masa lalu yang dapat dipetik pelajaran sebagai teladan yang baik … Tujuan utama diturunkannya Alquran kepada umat manusia adalah …

Pendidikan Agama Islam #29

Sebagai perumpamaan orang yang mengajak berbuat baik, tetapi dirinya sendiri tidak melakukan adalah … Berikut kedudukan orang yang menuntut ilmu, kecuali … potongan ayat di atas terdapat pada Alquran surah … Ilmuan muslim yang dalam bidang kedokteran yang berasal dari Persia yaitu … Siapakah nabi yang lebih memilih ilmu daripada harta?

Kamus

Al Haqq

Apa itu Al Haqq? Allah itu Al-Haqq ◀ Artinya adalah Allah itu Maha Benar. Itu berarti bahwa segala bentuk ketetapan dan kehendak Allah pasti benar dan tidak mungkin salah. Setelah manusia digiring di padang mahsyar dengan membawa semua amal perbuatannya masing-masing, kemudian semua manusia akan berhadapan dengan Allah Yang Maha Benar. Dan semua manusia akan d … • Al-Haqq, Al-Haq, Al Haq

Zaid bin Khattab

Siapa itu Zaid bin Khattab? Zaid bin Khattab atau Zaid bin al-Khattab adalah Sahabat Nabi Muhammad dari golongan Muhajirin. Ia adalah kakak dari Umar bin Khatab, dan terlebih dahulu masuk Islam, ia merupakan keturunan Bani ‘Adi, suku Quraisy, dari kabilah Kinanah. Nasab Zaid bin al-Khatab bin Nafiel bin Abdul ‘Uzza bin Rayy … •

tasmik

Apa itu tasmik? tas.mik seruan samiall?hu liman hamidah dalam salat … •

Salman al-Farisi

Siapa itu Salman al-Farisi? Salman al-Farisi adalah sahabat Nabi Muhammad yang berasal dari Persia. Dikalangan sahabat lainnya ia dikenal dan dipanggil dengan nama Abu Abdullah. Biografi Sebagai seorang Persia ia menganut agama Majusi, tetapi ia tidak merasa nyaman dengan agamanya. Kemudian muncul pergolakan batin untuk mencar … • Salman Farsi, Salman Al-Farisi, Salman Al Farisi, Salman

Jin

Siapa itu Jin? Jin secara harfiah berarti sesuatu yang berkonotasi “tersembunyi” atau “tidak terlihat”. Bangsa Jin dahulu dikatakan dapat menduduki beberapa tempat dilangit dan mendengarkan berita-berita dari Allah, setelah diutusnya seorang nabi yang bernama Muhammad maka mereka tidak lagi bisa mendengarkannya karena ada barisan yang menjaga rahasia i … •

Perang Tabuk

Apa itu Perang Tabuk? Ekspedisi Tabuk , adalah ekspedisi yang dilakukan umat Islam pimpinan Muhammad pada 630 M atau 9 H, ke Tabuk, yang sekarang terletak di wilayah Arab Saudi barat laut. Latar Belakang Pada September 629, pasukan Islam gagal mengalahkan pasukan Bizantium dalam pertempuran Mu’tah. Banyak … • Pertempuran Tabuk, Ekspedisi Tabuk