HR. Bukhari: 1044 – Tentang Jama’ Shalat

Menjama’ shalat saat bepergian?

Hadits Sahih Riwayat al-Bukhari: 1044

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ إِلَى وَقْتِ الْعَصْرِ ثُمَّ يَجْمَعُ بَيْنَهُمَا، وَإِذَا زَاغَتْ صَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ رَكِبَ.

 

Dari Anas ibn Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:

Nabi ﷺ bila berangkat bepergian sebelum matahari condong, beliau mengakhirkan pelaksanaan shalat zuhur hingga waktu shalat ashar lalu menggabungkan (jama’) keduanya.
Dan bila (berangkat) setelah matahari condong, beliau melaksanakan shalat zuhur terlebih dahulu kemudian berangkat.

 

Pesan hadits yang disampaikan:

1. Menjama’ shalat adalah menggabungkan dua shalat di satu waktu.

2. Shalat yang bisa dijama’ adalah zuhur dengan ashar dan maghrib dengan isya.

3. Jama’ terbagi menjadi dua, jama’ taqdim yaitu mengerjakan shalat di waktu yang pertama (misal jama’ zuhur dan ashar, dikerjakan di waktu zuhur), dan jama’ ta’khir yaitu mengerjakan shalat di waktu yang kedua, seperti contoh dalam hadis riwayat Ibn Umar tersebut, (misal jama’ zuhur dan ashar, dikerjakan di waktu ashar)







Video Pembahasan

Panggil Video Lainnya





Video

Panggil Video Lainnya
Iklan


Ikuti RisalahMuslim
               



Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta